Kisah Malam

2143 Words
“Sir, bisakah anda membawa tas dan barang-barangku kembali?” pinta Gania yang teringat akan tas yang semalam Raka titipkan kepada salah satu warga desa. Perlahan Raka mengangguk lalu mearuh gelas berisi air putih di atas meja makan. Kini suasana ruang makan sudah sepi karena sebagian sudah pergi keluar untuk mengobrol, sementara Raka dan Gania baru saja selesai memakan sarapannya. “Untuk hari ini kamu bisa absen satu hari, aku akan mengatakannya kepada guru yang mengajar kelasmu hari ini.” “Ya, seharusnyaa begitu. Siapa yang menyebabkan kakiku terkilir begini?’ gerutu Gania sembari menunduk menatap kakinya di bawah meja makan. Raka yang mendengar gerutuan Gania hanya mendengus sembari meninggalkan Gania sendirian. Gania mengambil gelas miliknya kasar lalu meneguk minumannya hingga habis dengan mata yang terus mengintai pergerakan Raka hingga tubuh itu menghilang dari pandangannya. Gania menaruh kembali gelasnya dan berjalan perlahan ke depan untuk melihat kakek dan neneknya yang tengah berbincang di teras luar bersama Tuan Roey dan anak-anaknya. Sesampainya di ambang pintu depan, Gania melihat Raka dan juga Arka yang sudah beranjak berdiri dan berpamitan kepada orang tua yang berada disana dan pergi bersama membawa peralatan kerja masing-masing. “Nia, kamu seharusnya istirahat supaya kaki kamu cepat sembuh.” titah Kakek Danu setelah melihat cucunya berdiri tak jauh dari dirinya yang sedang duduk di kursi kayu. Tanpa  membantah Gania menganggukkan kepala sebelum berbalik dan berjalan menuju kamar yang biasa orang tuanya tempati yang dulunya merupakan kamar sang mama ketika masih gadis.   *****   “Aku masih terheran-heran kenapa gadis itu bisa berada di kamarmu, mas.” ujar Arka yang tengah memanggul sebuah karung di pundak kanannya dengan tangan kanan yang membawa cangkul, tampak sangat merepotkan namun Arka sudah terbiasa dalam membawa barang sekaligus secara bersamaan. “Tidak mungkin jika ia melompat menaiki kamarmu dengan kondisi kaki terkilir seperti itu.” Arka berkata sembar mengangguk-anggukkan kepala membenarkan ucapannya sendiri. “Diam, aku sudah menjelaskannya.” Raka sedikit menggeram di sela ucapannya. Sepertinya ia enggan membicarakan kejadian kemarin malam yang membuatnya malu di hadapan sang adik. “Tapi mengapa harus di kamarmu? Maksudku, rumah kita memiliki satu kamar kosong di bawah. Jadi kau tidak terlalu kelelahan membawa seorang gadis menaiki tangga hingga kemudian menidurkannya di atas ranjangmu yang bahkan aku belum pernah menyentuh…” “Bagaimana ayah tiba-tiba masuk ke kamar itu? Kamu tahu bahwa ayah sering tidur berpindah.” sela Raka dengan cepat dengan mata mendelik tajam ke arah Arka yang tengah belik menatap Raka dengan tenang. “Kamu bisa menguncinya dari luar mas.” ucap Arka dengan nada malas seolah ia enggan memberi tahu kepada Raka mengenai saran kecil yang menurutnya sangat bodoh jika Raka tidak memikirkannya. “Kenapa kamu terus menerus membicarakan kejadian yang sudah lalu? Mas tidak bisa lama-lama menanggapi ucapanmu. Mas akan terlambat jika berjalan bersamamu.” ujar sembari mempercepat langkah meninggalkan Arka yang tetap dengan ritme langkahnya yang santai. Arka mengedikkan bahunya tanda tak peduli, sudah biasa jika ia melihat sikap kasar dan tidak mau berbasa-basi khas sang kakak. Akhirnya Arka membelokkan langkahnya setelah ia sampai di sebuah lading yang sangat luas milik keluarganya, ialah yang dipercayakan oleh ayahnya untuk mengurus semua tanah miliknya, sementara sang kakak memilih mengabdi kepada sekolah milik ayahnya yang sudah lama terlantar lantaran ayahnya tak begitu mengurusi, Alhasil setelah Raka bertekad untuk membuka sekolah itu lagi, Raka menghrapkan bahwa warga Desa Wania memiliki pengetahuan dan pendidikan sekolah agar mereka tidak terlalu tertinggal dengan kehidupan yang terus maju dan berubah seiring dengan perkembangan teknologi. “Tuan Guru, bagaimana dengan kemejamu?” tanya suara lembut dari arah belakang sebelum Raka memasuki ruangan kerjanya. Raka menoleh sejenak lalu membuka sedikit pintu seraya menjawab, “Nodanya cukup sulit dihilangkan, tapi sekarang sudah bersih kembali, terima kasih sudah bertanya.” Raka mengangguk sebelum ia masuk dan menutup pintu ruang kerjanya meninggalkan sosok cantik yang memperlihatkan raut kecewa karena sikap rekan kerja sekaligus atasannya yang sulit diajak berinteraksi. “Bu Anggun, aku sedang mencarimu. Aku ingin menyerahkan lembaran tugas yang anda berikan kemarin.” sapa seorang anak laki-laki bertubuh gempal sembari mendekati guru mudanya dengan setumpuk kertas di kedua tangannya. Wanita yang bernama Anggun itu menoleh dan tersenyum manis saat melihat muridnya menyapa dengan senyum ceria di wajahnya. “Baiklah, tolong simpan di meja kerjaku. Dan biarkan aku membawa sebagian lembaran kerjanya.” ucap wanita itusambil membawa setengah dari lembaran yang dibawa anak laki-laki membuat semburat ceria di wajahnya semakin bertambah karena keramahan dari sang guru. Mereka pun pergi menuju sebuah ruangan yang tak jauh dari tempat mereka sebelumnya berdiri, diselingi percakapan dan tawa diantaranya membuat rasa nyaman tumbuh di hati setiap siswa yang melihat karena interaksi antara guru dan siswanya tercipta sangat baik.   *****   Sepulang dari sekolah, Raka menyempatkan diri ke tempat kemarin dimana dirinya bersama Gania bersembunyi di balik batu besar di pinggiran sungai. Dengan sedikit keengganannya Raka mencari ponsel Gania yang sialnya telah ia lemparkan ke atas tumpukan kotoran kerbau. Beruntungnya benda itu masih menancap di tengah-tengah kotoran kerbau yang sedikit mengering. Dengan menahan nafas Raka mulai menarik ponsel yang setengahnya masuk dalam kotoran itu. Ia kemudian memandang dengan mual ponsel yang meneteskan kotoran bagian dalam yang masih basah. Dengan cepat Raka berlari ke sisi sungai dan mulai mencelupkan sebagian ponsel yang kotor itu ke dalam air sungai, dirinya sibuk membersihkan ponsel milik Gania dengan tanpa mengikut campurkan kedua tangannya untuk ikut tercampur ke dalam air yang sudah tercampur kotoran kerbau. Raka mengernyit saat beberapa kotoran masih menempel di layar ponselnya membuat Raka melirik kea rah sekitar untuk mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menggosok kotoran tersebut. Raka kemudian menemukan tumpukan rumput kering dan mengambilnya sedikit untuk membersihkan kotoran di benda milik Gania. Setelah dirasa bersih, Raka mencium bau ponsel tersebut, ternyata baunya sudah menghilang, dengan segera Raka mengambil sapu tangan dari saku celana hitamnya dan mengelap ponsel tersebut hingga mengering. Raka kemudian berdiri dan pergi dari sana tanpa menyadari bahwa di seberang sungai sana terdapat sepasang mata menatap pergerakannya sedari tadi dengan senapan di tangannya.   *****   Sesampainya di desa, Raka menyempatkan diri mengunjungi rumah seorang pria tua yang kemarin malam Raka sempat menitipkan barang Gania kepadanya. Beruntungnya orang tersebut berada di rumah saat Raka datang berkunjung. Raka lantas pergi setelah mendapat barang yang dipintanya. Raka terlebih dahulu pergi ke rumahnya sebelu mengembalikan barang milik Gania. Di kamarnya, ia meneliti rupa benda pipih yang menjadi penyebab gaduhnya suasana desa akibat sinyal tak dikenal memasuki Desa Wania. Raka benar-benar tidak tahu bagaimana cara menghidupkan kembali ponsel yang mati itu, seingatnya saat ia melihat Gania melakukannya, gadis itu menekan tombol panjang di sebelah kanan layar. Raka pun mencoba melakukannya, akan tetapi layar ponsel tersebut masih menampilkan layar hitamnya. Raka kembali mencoba, namun tetap saja benda tersebut tidak bisa menyala. Dengan kesal Raka menaruh ponsel itu ke atas nakas setengah membantung lalu membuka kemejanya untuk diganti dengan sebuah kaos sebelum pergi ke rumah Tuan Danu. Raka sampai di depan rumah Tuan Danu, begitu Raka melihat, disana ia menangkap sosok Gania yang sedang duduk di kursi teras tengah menyendiri. Sepertinya gadis itu tengah menahan kantuk untuk tertidur karena berkali-kali kepalanya terantuk ke samping dan kembali terangkat seperti semula hingga berulang kali. Dengan langkah pelan Raka menghampiri Gania, tangannya kemudian terulur menyimpan tas milik Gania di atas meja dan berbalik badan hendak meninggalkan Gania tanpa membangunkan gadis itu. Namun nampaknya Gania terganggu dengan pergerakan Raka, mata gadis yang terpejam itu perlahan terbuka. Dengan pandangan yang mengabur Gania mencoba memperjelas dan menebak siapa orang yang berdiri memunggunginya. “Sir?’ seru Gania dengan suara serak seraya menegakkan tubuhnya. Raka membatalkan niatnya untuk pergi dari teras rumah Tuan Danu, ia kemudian melirik ke belakang dimana Gania tengah menatapnya menunggu laki-laki itu berkata. “Aku hanya mengembalikan tas milikmu.” ucap Raka sedikit kaku dan kembali membelakangi Gania sebelum ia benar-benar pergi dari sana. “Terima kasih.” seru Gania kembali sebelum Raka berbelok menuju rumahnya. “Ya.” jawab Raka sejenak menghentikan langkahnya.   *****   “Kakek akan kemana?” tanya Gania saat melihat kakeknya tengah bersiap akan pergi meskipun hari sudah malam. “Kakek akan berdiskusi bersama para warga, khususnya laki-laki untuk membahas mengenai penjagaan wilayah di rumah Induk.” ujar Tuan Danu sembari memakai jaket kulit usangnya di depan Gania bersama Nyonya Diva yang tengah membaca buku di ruang tengah. Gania menganggukkan kepalanya dan berseru kembali sebelum kakeknya keluar dari rumah, “Hati-hati, kakek.” “Ya.” jawab Tuan Danu diiringi dengan suara pintu tertutup. Setelah itu Gania kembali membaca buku di pangkuannya dengan bantuan cahaya lampu pijar di meja sampingnya. Lama Gania membaca buku hingga akhirnya matanya sudah mulai lelah dan mulai menutup buku. Kemudian mata Gania teralihkan kepada neneknya yang masih membaca buku dengan kacamata tua yang membingkai wajahnya. “Nek, kenapa nenek bisa betah tinggal disini?” tanya Gania setelah menyimpan bukunya di rak buku. Neneknya kemudian menoleh dan terkekeh mendengar pertanyaan neneknya itu. “Nenek tidak mempunyai alasan untuk bisa betah tinggal disini.” ucap Nyonya Diva dengan senyum sendu menatap Gania. Gania berdecak sembari memangku dagunya menggunakan kedua tangannya. “Disini tidak ada listrik, tidak ada internet, tidak ada televisi, tidak ada kamar mandi di dalam, Gania sendiri harus berpikir dua kali untuk bangun ke kamar mandi jika malam hari.” “Gania, terlalu banyak kenangan yang nenek dapatkan disini. Dilahirkan dan dibesarkan di desa kecil ini membuat nenek sangat betah dan nyaman tinggal disini, tidak peduli bahwa di luar sana terang dengan beribu kekuatan listrik, nyatanya nenek lebih senang menikmati terang dari lampu-lampu kecil ini, apalagi jika sudah berduaan dengan kakekmu, romantisme yang kami ciptakan melebihi film-film yang orang-orang buat.” bisik Nyonya Diva sembari terkikik geli membayangkan masa-masa yang sampai sekarang selalu menjadi kegiatan seru mereka berdua. Gania ikut tertawa dengan semburat merah di pipinya, ikut membayangkan jika Gania juga akan mengalami hal yang sama dengan sang kekasih di maa yang akan datang. Lalu kemudian Gania menggelengkan kepala saat dirasa ia terlalu banyak mengkhayal tentang kisah romantic yang sering kali ia tonton di film-film. “Nenek, kenapa mama bisa pergi ke kota dan bertemu ayah?” tanya Gania penuh keingin tahuan mengenai awal mula bertemunya sang mama dengan ayahnya semasa muda. Nenek Gania terdiam sejenak sebelum menandai bacaannya dan menutup buku dan mulai bercerita. “Waktu itu mama kamu pergi ke kota untuk meneruskan pendidikan, hubungan dua negara yang tenang membuat mama kamu mendapat peluan untuk belajar di luar sana. Tahun ke lima Amara belajar, dia datang pulang bersama seorang pria yang mengaku kekasih mama kamu. Nenek awalnya tidak tahu maksud kedatangan ayah kamu waktu itu, tapi satu hari sebelum keberangkatan mama kamu ke kota, ayah kamu mengutarakan niat utamanya dia datang kemari.” “Nenek sama kakek langsung menyetujuinya?” tanya Gania setelah mendengar setengah penjelasan neneknya. Nyonya Diva mengangguk semangat, namun selanjutnya diiringi gelengan sembari berkata, “Nenek menyetujuinya, tapi kakek kamu sedikit bimbang saat itu. Mungkin kakek kamu sudah mempunyai firasat mengenai konflik yang akan terjadi. Tapi pada akhirnya kakek menyetujui saat melihat kesungguhan yang diperlihatkan ayah kamu.” “Tapi satu tahun setelah pernikahan orang tua kamu, konflik mulai muncul, banyak kerusuhan terjadi. Tidak ada ujung permasalahan yang dapat diselesaikan dengan perdamaian. Akhirnya demi keselamatan masing-masing mereka menutup akses untuk keluar masuk wilayah kekuasaan mereka.” Gania menerawang ke masa lampau, hubungan mama dengan ayah bersama orang tua pasti rumit, namun sepertinya mama mau memperjuangkan pernikahannya hingga tetap bersama ayahnya meskipun harus jauh dari kedua orang tua. Malam semakin larut dan Gania masih menemani neneknya yang melanjutkan membaca buku setelah sedikit bercerita mengenai hubungan kedua orang tuanya. Berkali-kali Gania menyembunyikan keterkejutannya sekaligus rasa takut saat telinganya mendengar suara-suara gesekan benda yang terjatuh dari arah luar maupun belakang rumah. Gania benar-benar tak bisa tenang sebelum kakeknya pulang ke rumah. Dirinya sangat khawatir apalagi di rumah ini hanya ada dirinya dan neneknya seorang. “Nek, kapan kakek pulang?” tanya Gania berbisik, takut suaranya akan terdengar keluar dan mendatangkan sosok-sosok yang menakutkan bagi Gania. “Kakek sudah di depan.” ucap nenek Gania tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah dibacanya. Bukannya semakin tenang, Gania semakin ketakutan jika sesuatu terngah terjadi pada neneknya yang berbicara seolah-olah ia mengetahui keberadaan kakeknya padalah di luar sana begitu sepi dan tak terdengar langkah seorangpun. “Nenek, jangan bercanda.” ujar Gania sembari merapatkan tubuhnya ke sandaran kursi. Nyonya Diva yang sadarakan perkataannya barusan terdiam sejenak dan tersenyum menenangkan Gania yang sedang ketakutan. “Tidak apa-apa, kakek memang sudah berada di depan. Biarkan nenek memeriksanya.” “Nia ikut.” seru Gania sembari berjalan menempel dengan neneknya.  “Lihat, kakekmu sedang membuka sepatunya di teras.” beritahu neneknya sembari membuka pintu menghampiri Tuan Danu yang terduduk di atas kursi. Gania kemudian menegokkan kepala untuk melihat sang kakek dan menyingkir dari belakang tubuh neneknya sata matanya benar-benar melihat sosok kakeknya berada disana. “Gania kan enggak terlalu kedengaran, lagi pula kenapa kakek pergi lama sekali?” Gania sedikit merajuk kepada kakeknya yang ikut berdiri dan masuk ke dalam rumah. “Kenapa? Cucu kakek ketakutan huh?” tanya sang kakek seraya merangkul Gania yang berjalan di depan. “Enggak, nenek yang sangat ketakutan.” elak Gania sembari tersenyum menampakkan gigi rapinya ke hadapan sang kakek. “Benarkah? Setahu kakek nenek adalah wanita pemberani diantara wanita-wanita yang pernah kakek temui.” Gania mengangguk bersemangat menanggapi perkataan kakeknya. “Iya, sedari tadi nenek terus bertanya, dimana kakek? Dimana kakek? Kenapa lama sekali, begitu kek.” jawab Gania yang berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa yang dirinya sendirilah yang sedang ia bicarakan. Tuan Danu tertawa seraya melirik Nyonya Diva geli, sementara Nyonya Diva hanya menggelengkan kepala melihat cucunya tengah memutar balikkan fakta. “Sudah, lebih baik kamu tidur. Nenek sudah pusing mendengar rengekan kamu yang mengantuk tapi tidak berani tidur ke kamar.” Gania merengut tak suka saat neneknya mengatakan hal yang ingin disembunyikan kepada kakeknya, tapi kemudian ia tertawa menertawakan dirinya yang konyol dan memeluk kakek dan neneknya sebelum ia pergi ke kamar mamanya. “Selamat malam.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD