Sebuah Pertanda Jati Diri

2174 Words
Berada di dekat cahaya remang-remang dari lampu pijar yang menyala, Gania membuka isi tas yang belum sempat ia periksa setelah dikembalikan oleh gurunya. Gania menemukan buku pelajaran dan alat menulisnya masih utuh, namun satu benda yang sedarii tadi dicarinya tak diemukan di seluruh isi kantong dalam tasnya. Gania mencebik, apa laki-laki itu tidak membawa kembali ponselnya? Bukannya dirinya sudah mengingatkan agar ia tak lupa membawa ponselnya? Atau laki-laki itu sudah membawa ponselnya dan sengaja tidak mengembalikan ponsel itu kepadanya?  Gania melempar tasnya ke atas kasur dan ikut merebahkan diri di samping tasnya yang terbuka. Mencoba menutup mata, Gania merasa seseorang tengah memperhatikannya hingga membuat Gania kembali membuka mata. Akhirnya setelah memberanikan diri Gania keluar dari kamar bekas mamanya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya dengan membawa serta tas miliknya. Sebuah bayangan cahaya dari lampu pijar dapat Gania lihat dari sebuah ruangan tepat dari seberang kamar Gania. Merasa gelap, akhirnya Gania ikut menghidupkan sumbu dari lampu pijar yang sudah terdapat minyak tanah yang akan dihidupkan dengan korek api. Akhirnya Gania merasakan terang sekaligus rasa hangat yang terpancar dari lampu pijar tersebut. Gania mendudukkan dirinya di pinggiran kasur sembari memperhatikan sosok bayangan di seberang sana yang dapat Gania perlihat dengan jelas. Merasa tidak ada yang menarik akhirnya Gania merebahkan diri dan tidur menyamping sembari terus menatap sosok di balik kegelapan itu. “Sedang apa dia malam-malam begini belum tidur?” tanya Gania yang ditujukan kepada dirinya sendiri. Ia melihat bahwa di seberang sana, tepatnya di sebuah kamar Raka tengah duduk di atas kasur. Gania semakin memicingkan matanya guna memperjelas benda apa yang sedang dipegang oleh laki-laki itu. Matanya membulat seketika setelah matanya menangkap ponsel yang dicarinya tengah berada dalam genggaman tangan Raka. “Kenapa dia tak mengembalikannya kepadaku?” gumam Gania jengkel sembari terus menatap pergerakan Raka dari tempatnya berbaring. Hingga orang yang tengah Gania tatap tiba-tiba menolehkan kepalanya ke arahnya. Seketika Gania membalikkan badan dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Jantungnya terasa bertalu-talu di dadanya saat Gania hampir saja ketahuan. Gania tertegun, bukannya gorden kamarnya tertutup? Jadi Raka tak bisa melihatnya, dan juga keadaan kamarnya ini tidak begitu terang. Gania menghela nafas lega setelah mengusir pikiran-pikiran buruknya. Hingga kemudian ia teringat akan sesuatu, bukankah kamarnya dan kamar di seberangnya itu tertutup? Lantas kenapa matanya bisa menembus melihat seluruh isi ruangan di sana? Apakah ia mempunyai kekuatan super sehingga ia bisa melihat sesuatu dengan jarak pandang jauh? Ya, mungkin saja terjadi. Gania menggelengkan kepala guna mengusir pikiran-pikiran anehnya lagi. Mana ada orang di zaman sekarang mempunyai kekuatan seperti itu? Kalaupun iya ada, itu hanyalah mitos dari orang tua-orang tua zaman dulu. Merasa masih penasaran Gania kembali membalikkan tubuhnya dan mengintip dari selimutnya yang disingkap sedikit. Gadis itu menghela nafas kesal, laki-laki itu ternyata sudah membaringkan diri dan tertidur dengan lampu pijar yang telah dimatikan. Kemudian Gania menutup kembali selimutnya hingga ke ujung kepala dengan perasaan malu sendiri, kenapa seolah-olah ia telah mengintip seseorang? Gania menggelengkan kepala mencoba menampik kenyataan bahwa baru saja ia telah mengintip seseorang di balik selimutnya. Hingga beberapa detik kemudian Gania memejamkan mata erat ditemani cahaya lampu pijar hingga fajar menghampiri.   ******   Pagi harinya di ruang makan rumahTuan Danu, Gania tengah menunggu neneknya menyelesaikan masakannya. Pagi ini cukup berbeda bagi Gania karena ia belum melihat sosok kakeknya disana. Menurut Nyonya Diva, kakeknya itu sedang menengok kolam ikannya sebentar dan akan kembali sebelum sarapan rutin bersama dimulai. Gania yang tengah memainkan sumpit di tangannya teringat akan kejadian semalam dan kejadian-kejadiaan sebelumnya, merasa penasaran dan menginginkan sebuah jawaban, akhirnya Gania bertanya kepada neneknya berharap neneknya mengetahui apa yang tengah dialami oleh cucunya itu, “Nenek, Gania mau bertanya.” Nyonya Diva mengangguk sembari menaruh mangkuk makanan di atas meja. “Mau bertanya apa?” tanya Nyonya Diva yang telah mendudukkan diri di kursi sebelah kiri Gania dan memandang cucunya dengan serius karena dilihatnya bahwa cucunya itu akan menanyakan sesuatu yang serius dan penting. “Gania bingung nek,” ucap Gania yang ragu untuk mengatakannya. “Bingung kenapa? Coba kamu cerita dengan nenek.” “Ehm, sepertinya mata Gania bermasalah?” ucap Gania sedikit ragu, ia pun melihat neneknya yang tengah mengernyit bingung dan kembali bertanya kepada Gania. “Bermasalah bagaimana? Apa mata kamu sedang sakit?’ “Bukan nek, sudah beberapa kali mata Gania selalu melihat hal-hal yang di luar batas.” Gania berbisik dengan nada yang semakin membuat neneknya penasaran. “Seperti melihat hantu? Atau…” “Bukan nek, Gania bisa melihat ruangan kamar di seberang rumah.” sela Gania dengan cepat. “Apa?!” seru Nyonya Diva terkejut akan pernyataan cucunya. “Kamu, benar-benar sudah mengalaminya?” tanya Nyonya Diva seraya berbisik di hadapan Gania. Gania perlahan mengangguk kemudian menggeleng menatap neneknya yang tampak tersenyum senang. “Ada apa? Aku mendengar keributan disini?” seru Tuan Danu yang muncul dari pintu belakang, ia telah kembali dari kolam ikan setelah selesai memberi ternaknya pakan. “Cucu kita sudah besar.” pekik Nyonya Diva sembari menuntun Tuan Danu agar duduk di kursinya. “Cucu kita memang sudah besar.” ujar Tuan Danu dengan santai. “Maksudku, dia sudah menemukan jati dirinya.” bisik Nyonya Diva yang dapat didengar oleh Gania. Sementara orang yang tengah dibicarakan oleh kakek dan neneknya itu mengernyit tak paham ketika neneknya berkata demikian. “Jati diri?” gumam Gania dengan mata yang meneliti seluruh tubuhnya. “Maksud nenek?” Gania bertanya, namun tak terjawab karena suara ketukan di pintu depan. “Mereka sudah datang, sebaiknya kamu cepat cuci tangan.” titah Nyonya Diva kepada Gania yang sedikit melamun.   *****    ‘Jati diri?’ Benak Gania benar-benar terpenuhi oleh pertanyaan itu sekarang, dirinya sangat penasaran akan perkataan neneknya sebelum sarapan tadi. Seharusnya Gania kembali bertanya kepada neneknya, namun karena dirinya kini kembali bersekolah Gania harus menunda pertanyaan itu nanti. “Berhenti disini!” Gania sedikit terperanjat mendengar perintah tersebut, Gania kemudian melirik gurunya yang memasuki halaman rumahnya dan menyuruh Gania untuk menunggu. Gania menghela nafas, hari ini ia kembali bersekolah bersama gurunya, sebenarnya Gania enggan, namun karena ia tak cukup berani pergi sendiri, akhirnya Gania ikut mengekori setiap langkah Raka menuju sekolah mereka. Tak lama Gania menunggu, gadis itu melihat Raka keluar dari pagar rumahnya sembari mendorong sebuah sepeda tua. Gania terus saja memperhatikan sampai laki-laki itu berhenti di hadapannya. Raka menaiki sepedanya dengan Gania yang masih memperhatikan. Setengah berdecak Raka menarik lengan Gania mendekat dan menyuruhnya untuk ikut naik di belakang sana. “Kenapa tidak memberitahu kalau kamu punya sepeda seperti ini, sir? Setidaknya kemarin aku tidak akan terlalu kelelahan pergi ke sekolah.” Gania berucap setelah ia menyamankan duduknya diatas sepeda. Terdengar laki-laki di depannya mendengus kesal dan mulai melajukan sepedanya. “Ya, dan salahmu juga badanku semuanya terasa pegal.” Menyesal sekali Raka telah bersusah payah memperbaiki sepedanya di gudang sana hanya karena merasa iba kepada gadis itu. Ia pikir ia akan mendapatkan pujian dan ucapan beribu terima kasih karena telah bersusah payah berkorban untuk gadis itu, namun nayatanya hanya gerutuan serta protesan-lah yang ia dengar. “Salahmu karena menyuruhku menaiki pohon itu!” Gania berkata cukup keras di sebelah kanan kepala Raka membuat laki-laki itu sedikit meringis karena suara melengking itu. “Kalau begitu aku minta maaf, tapi tetap saja kamu yang salah!” ucap Gania melanjutkan, sedikit melembut kali ini cara bicara yang Gania lontarkan. Namun tetap saja membuat Raka mengernyit tak terima dengan perkataan Gania yang tak mau mengalah. “Heh?” Raka bergumam untuk memastikan perkataan Gania barusan, namun gadis itu ikut bergumam meng-iyakan perkataannya. Raka menggelengkan kepala mendengarnya, namun ia tak membalas karena tak ingin memperpanjang suasana perdebatan. Kembali laki-laki itu menghela nafas berat seraya mengayuh sepedanya lebih kuat dan ektra hati-hati, hingga kemudian seulas senyum di sudut bibirnya terbit, mengherankan orang-orang yang memandang dan berpapasan dengannya di jalan sana. ‘Setidaknya kata maaf telah terdengar meskipun aku yang tetap disalahkan.’   *****   “Laksanakan perintahku secepatnya! Kita satu langkah di belakang mereka.” Suara bentakan menggema di dalam sebuah ruangan luas yang dihadiri oleh beberapa orang ber-jas, satu persatu dari anggota mereka menunduk saat sang ketua berdiri dengan amarah dan menggertak mereka untuk melakukan seusatu yang membuatnya senang. “Baik, Mr. tapi, apakah kediaman ketua desa juga harus dipasang kamera pengintai?” ujar salah satu dari pria itu berkata dengan sedikit lantang dari balik meja setengah melingkar di depan ketuanya yang tengah diduduki. “Dia sentra desa itu, segala informasi akan masuk dan sampai disana. Lagi pula, Mr. Killer sudah mencurigai seseorang sebagai penyusup di rumah itu.” ucap sang ketua seraya mengusap-usap rahangnya yang sedikit berbulu. “Dia perkirakan seorang anak kecil, segera kalian selidiki dan cari tahu kebenarannya. Dan suruh agen 301 itu untuk mengetahuinya  secepat mungkin.” “Baik, Mr.” ucapan persetujuan serempak menggema di dalam ruangan dan menghilang seiring dengan kepergiannya sang ketua dari ruangan.   *****   “Sir, ini bahkan lebih parah dari yang sebelumnya.” Gania berkata dengan suara nafas yang berkejaran pertanda ia sudah mengeluarkan energinya terlalu berebihan. Di sela perjalanannya Gania mengusap bulir keringat yang jatuh di pelipisnya, tak lupa sebelah tangannya memegang sepeda dengan erat takut jika sepedanya akan terlepas dan lari ke bawah meninggalkannya. “Bahkan aku belum memulai pelajaran, tapi aku sudah mandi keringat.” Keluh Gania sembari kembali mengusap keringat yang meluncur di pelipis kanannya. Terus menerus mendengar keluhan gadis itu membuat Raka menghela nafas jengah dan mengeluarkan kalimat pertangguhan agar Gania mau lebih berusaha keras membawa sepedanya menuju sekolah. “Sepulang sekolah kamu bisa diam dengan nyaman menumpang dalam sepedaku jika kamu membawa sepedaku sampai di dalam sekolah.” “Jangan berbual, sir.” ucap Gania sedikit tak mempercayai perkataan gurunya. “Tidak.” “Baiklah.” ucap Gania lesu, namun dorongan pada sepedanya semakin bertambah hingga mendahului Raka di belakangnya. “Sir, anda membawa air minum?” tanya Gania setelah mereka sampai di halaman Sekolah Elvandora. Dengan membungkukkan punggungnya Gania mendongak dan melihat Raka yang melempar pandang ke arah tas rajut berbahan wol yang menggantung dalam besi sepeda. “Lain kali bawa sendiri air minummu. Setelah itu bawa tas milikku ke dalam ruanganku.” Raka memberi peringat diiringi sebuah perintah yang harus Gania patuhi karena laki-laki itu sudah pergi meninggalkannya bersama sepeda tuanya. Setelah sepeda milik gurunya tersimpan rapi Gania membawa tas rajut yang menggantung dan memberikannya kepada sang pemilik benda. Gania berjalan menuju ruangan Raka yang sudah ia ketahui sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di sekolah itu. Sebuah seruan hendak Gania layangkan ketika ia melihat punggung Raka yang hendak membuka pintu ruangannya, namun terlebih dahulu tersampaikan oleh sebuah suara lembut yang tak Gania ketahui siapa pemilik suara itu. “Tuan Guru, hari ini anda masuk kerja? Bukannya hari ini anda tidak memiliki kelas untuk mengajar?” gania mengernyit saat mendengar penuturan wanita yang menurutnya merupakan salah satu guru di sekolah ini. “Ada beberapa urusan penting yang harus saya kerjakan,” jawab Raka sedikit menoleh, hingga sudut matanya menangkap sosok Gania di kejauhan sana sedang berdiri menatapnya. “Hei, kemarikan tasku.” seru Raka menyentak Gania yang tengah melamun. Dengan segera Gania berjalan menghampiri dan menyerahkan tas rajut milik Raka ke tangan pemiliknya. “Maaf, sir.” ucap Gania dengan sedikit rasa bersalah dalam nada bicaranya. “Kamu boleh ke kelasmu.” Raka mempersilahkan Gania untuk pergi dari halaman depan ruang kerjanya. “Saya permisi,” ujar Raka kepada  Anggun, salah satu rekan kerjanya dengan mengangguk sopan lalu menutup pintu dengan rapat. Anggun tersenyum menatap pintu yang sudah tertutup kembali menelan sosok laki-laki yang telah ia kagumi sejak lama, hingga pandangannya tertuju ke arah punggung Gania yang terlihat menjauh dengan pandangan penasarannya, siapa anak itu?   ****   “Hei Gania!” seru Wendi dari arah luar kelas begitu ia melihat Gania duduk di bangkunya setelah ia mengintip dari kaca jendela. Wendi berlari menghampiri Gania dan duduk di bangku sebelah disusul dengan kedatangan Luna, Nara, dan seorang anak laki-laki bertubuh besar. Gania tersenyum ramah melihat teman-teman barunya kini berada di sekelilingnya dan terlihat sedang menunggu penjelasan darinya. “Aku baik-baik saja.” ungkap Gania seraya tersenyum hangat kea rah teman-temannya. “Maafkan kami yang tidak sempat menjengukmu,” Luna berucap dengan perasaan bersalah yang kemudian dianggukki oleh kedua teman lainnya. “Tak apa, lagi pula aku sudah sembuh, kan?” Gania benar-benar tak mempermasalahkan masalah kecil itu dan memakluminya. “Iya, sebenarnya…. Kami segan untuk berkunjung ke rumah Tuan Desa, karena biasanya hanya para orang tua yang memiliki kepentingan tertentu yang biasa berkunjung.” terang Wendi berharap agar mendapat pengertian lebih dari Gania. Gania akhirnya mengangguk agar mereka bisa menghembuskan nafas lega. “Kali ini kalian bisa berkunjung ke rumah kakekku, sesekali kita bisa bermain ataupun mengerjakan tugas disana, kakek pasti tidak akan melarang.” “Baiklah, kapan-kapan kita berkunjung, ya?” kata Wendi dengan pekikan senang. “Iya. Eh, ngomong-ngomong…” Gania berkata, ingin menyampaikan sesuatu mengenai keadaannya yang terasa berbeda. Namun diurungkannya karena merasa bahwa ia harus berpikir ulang kali sebelum mengatakannya kepada orang yang baru dikenalnya. “Kenapa?” tanya Luna dengan perhatian, namun Gania menggeleng dan memilih pertanyaan lain untuk mengalihkan pembicaraannya. “Apa materi pembelajaran hari ini?” “Oh, hari ini kita akan belajar materi perhitungan ditambah materi mengenang kisah masa lalu.” ujar Nara membuat Gania sedikit kebingungan akan apa yang disebutnya, akan tetapi Gania tetap menganggukkan kepala pertanda bahwa ia mengerti akan apa yang dimaksud.   ****   “Gania, kita pulang bersama?” tanya Wendi saat mereka tengah berada di luar gerbang sekolah setelah kegiatan pembelajaran selesai. Gania menoleh sesaat kemudian menatap ke depan dimana ia melihat Raka sudah berdiri di samping sepedanya tengah menunggu Gania, “Ehm, sebenarnya…” Gania menggantungkan kalimatnya karena merasa ragu dengan apa yang akan diucapkannya. “Hei, cepatlah!” Suara barito itu sedikit menyentak Gania dan teman yang berada di dekatnya membuat Gania mengelus dadanya pelan. Gania mendesah pelan lalu melirik teman-temannya yang ternyata sudah terlebih dahulu menatapnya untuk mendapatkan jawaban. “Kamu mengerti, sana pergi. Kaki kamu pasti belum sembuh total sehingga Tuan Desa menyuruh Tuan Guru Raka untuk membawamu pulang pergi ke sekolah menggunakan sepedanya.” jelas Luna memberi pengertian akan kondisi Gania kali ini. Gania mengangguk kaku, lalu berjalan menghampiri Raka dengan sedikit dorongan di punggungnya yang dilakukan oleh Wendi dan sesekali oleh Tera. “Hati-hati!” teriak teman-temannya setelah Gania menaiki sepeda dan melaju meninggalkan mereka. Gania tersenyum seraya mengangguk, tak lupa ia mengeratkan pegangannya disaat roda sepeda bergerak melalui batuan-batuan besar yang sangat mengganggu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD