Sebuah Hukuman

1517 Words
“Terima kasih atas tumpangannya, sir.” ucap Gania selepas ia turun dari sepeda dengan tangan yang tercekal sedari ia turun dari sepeda. Raka tersenyum senang dan dengan senang hati melepaskan cekalan tangannya membuat Gania mendengus kesal. Ia masih punya sopan santun hanya sekedar untuk mengucapkan terima kasih, akan tetapi orang di hadapannya ini telah melecehkan tindakan sopan santunnya.  “Sebaiknya kau cepat kembali ke rumah anda, sir.” Usir Gania secara halus, berharap gurunya pergi dengan membawa sepedanya memasuki rumah yang berada di samping rumah kakeknya. “Kamu mengusir gurumu sendiri?” tanya Raka tak percaya dengan apa yang ia dengar, matanya memicing menatap Gania meminta penjelasan. Dan Gania mengangguk, namun secepat kilat berubah menjadi gelengan membuat Raka benar-benar murka terhadap muridnya itu. “Gania, kamu benar-benar murid keterlaluan, tunggu saja pemberitahuan hukumanmu di sekolah besok pagi!” ucap Raka dengan nada sedikit bentakan. Gania kalangkabut mendengar ancaman dari Raka, dengan segera ia menahan Raka yang hendak berbalik menuju rumahnya dan memohon dengan sangat mengiba karena dirinya benar-benar tidak menyukai apa yang namanya hukuman, meskipun Gania akui kali ini ia yang bersalah karena sudah bersikap tidak sopan yang beberapa detik lalu ia junjung tinngi dan ia banggakan. “Sir, jangan … anda tahu, aku hanya bercanda. Tolong jangan beri aku human apapun. Aku mohon, maafkan aku, sir. Tuan Guru, tolong maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi, aku mohon.” “Menyingkir dari jalanku!” bentak Raka karena tubuh Gania telah menghalangi jalannya untuk pulang. “Sir, apa anda tega kepada saya?” lirih Gania dengan pandangan mengiba. Namun Raka sama sekali tidak memperdulikan dan tetap melanjutkan jalannya melewati Gania yang kini menunduk lemah. “Salah dirimu sendiri!” tekan Raka setelah ia berada di depan pintu pagar rumahnya dengan nada kesal yang kentara.   *****   “Arghh… mama, tolong Gania.” lirih Gania penuh frustasi, dirinya kini tengah berbaring tak nyaman di atas kasur karena pikirannya masih mengingat akan perkataan gurunya siang tadi. Gania tahu bahwa Raka merupakan sosok kejam yang tak tanggung-tanggung untuk menghukum muridnya, apalagi terhadap murid baru seperti dirinya. Gania mencoba memejamkan mata berharap bayangan mamanya akan mucul dalam bayangannya, namun keberadaan mamanya yang sedang menonton televisi bersama ayahnya di kamar mereka membuat Gania sontak kembali membuka matanya. ‘Apa aku baru saja bermimpi sekilas?’ pikir Gania ragu, kemudian ia kembali memejamkan mata dan kembali memikirkan kedua orang tuanya. Dan lagi, ia kembali dapat melihat interaksi kedua orang tuanya di rumah saat ini dengan mata tertutupnya. Gania bangun dari tidurannya, kemudian ia bangkit dan berjalan keluar menurui tangga untuk menemui neneknya di kamar. “Nenek, apa nenek sudah tidur?” tanya Gania dengan tangan yang mengetuk pintu kamar berulang kali. Namun taka da sahutan disana, menandakan bahwa sang pemilik kamar sudah tidur dengan nyaman. Dengan lesu Gania kembali menaiki tangga menuju kamarnya. Kembali ia baringkan tubuhnya sembari menatap langit-langit kamar yang terbuat dari bilik putih. Gania mencoba membenarkan firasat mengenai keanehan dirinya itu, ia pun mulai menutupkan mata lagi sembari memikirkan orang tuanya yang jauh disana. Terlihat dengan jelas kini orang tuanya sedang berbaring di atas tempat tidur, Gania dapat memastikan bahwa mamanya itu tengah menangis di dalam pelukan ayahnya. “Aku ingin melihat Gania, kita kembali ke rumah ayah, ya? Aku merindukan putriku.”  Terlihat mamanya tengah mengiba sembari menatap ayahnya yang terlihat enggan membahas hal terrsebut. “Tidak bisa sayang, penjagaan batas wilayah semakin diperketat setelah bocornya data koneksi disana. Aku tidak bisa melakukan apapun lagi karena kuasaku tidak berpengaruh sama sekali saat ini.” “Lalu, kapan aku bisa bertemu dengan anakku? Tolong kamu kirimkan aku untuk pulang ke rumah ayah. Aku merindukannya, kau tidak mengerti perasaanku!” “Aku mengerti sayang, tapi rumah kamu disini, aku tidak akan mengizinkan kamu untuk pergi meninggalkanku. Akupun sama merindukan anak kita, tapi dengan cara ini kita sama-sama akan aman. Aku sudah mencapai titik puncak untuk menduduki kursi anggota dewan keamanan. Keamanan kita akan terjamin disini, begitupun dengan anak kita, kita semua akan aman, sayang. Percayalah.” “Tapi nyawa anak kita akan menjadi taruhannya.” lirih sang ibu setelah isak tangisnya sedikit mereda. “Nyawaku pun sama-sama dipertaruhkan saat ini, tolong jangan memperumit semunya lagi, aku berusaha demi kalian seutuhnya. Gania akan aman jika kamu bisa merelakannya tinggal bersama kakek, itupun hanya lima tahun, setelah itu Gania akan kembali bersama kita. Kamu harus sabar, jangan terlalu sedih. Disana, Gania akan ikut merasa sedih jika mamanya terus menangis seperti ini.” Gania perlahan membuka matanya, beriringan dengan aliran air mata dari sudut matanya yang basah, Gania terisak mendengar penderitaan serta perjuangan ayahnya untuk mencari perlindungan ditengah-tengah kerusuhan yang terjadi. “M-mmaaf …” lirih Alisha seraya menyusupkan wajahnya di balik bantal yang ia gunakan untuk menghalangi wajahnya.   *****   Mala mini Raka sama sekali belum bisa memejamkan matanya, apalagi setelah telinganya mendengar seseorang tengah menangis sedih yang Raka sendiri tahu siapa pemilik suara tangis itu. Dengan gusar Raka bangkit dari tidurannya dan berjalan keluar kamar menuju dapur di bawah untuk menenangkan pikirannya dengan meminum segelas air putih. “Apa aku sudah sangat keterlaluan kepada gadis itu?” tanya Raka yang dilayangkan kepada dirinya sendiri. Dirinya beranggapan bahwa suara tangisan Gania disebabkan ucapannya tadi siang yang akan memberikan hukuman kepada gadis itu karena sudah bersikap tidak sopan kepadanya. Secepat kilat Raka menggeleng, mengenyahkan pemikiran itu. “Itu pantas untuk dirinya yang sudah kurang ajar kepadaku.” gumam Raka meyakinkan dirinya sendiri. Dengan rakus Raka meneguk minumannya hingga habis, dengan kasar ia simpan kembali gelas cangkir itu ke atas meja, membiarkannya hingga pagi nanti untuk dibersihkan oleh Arkan yang sudah menjadi tugasnya di rumah ini.   ****   “Apa kau sudah mendapatkan informasi yang aku inginkan?” tanya seorang pria besar yang duduk di kursi kekuasaannya dengan begitu angkuh. “Sudah tuan, anak itu bekerja dengan cepat dan sangat baik.” jawab seorang pria di hadapannya tengah berdiri sembari menundukkan kepala setelah menyerahkan sebuah dokumen ke atas meja besar. “Dan, saya mendapatkan sebuah informasi dari tentara keamanan di perbatasan,” ucap Pria itu dengan hati-hati, menanti reaksi dan tuannya sebelum ia melanjutkan. “Lanjutkan!” titahnya dengan penasaran yang segera pria itu laksanakan. “Mereka menangkap dari kamera pengintai terdapat seseorang yang datang ke titik kejadian dan membawa sebuah benda yang diyakini itu adalah ponsel, dan setelah kami perjelas kembali, nampak laki-laki tersebut adalah seorang wakil dan juru bicara desa yang disegani.” Penjelasan itu ditanggapi dengan kediam oleh pria itu, namun pikirannya mencerna setiap ucapan yang dilontarkan tangan kanannya. Kembali dirinya menatap dokumen itu dan meraihnya. “Berikan upah lebih kepada keluarganya karena telah bekerja dengan baik. Dan perketat pengawasan disetiap daerah, beritahukan kepada masyarakat untuk menjaga diri. Kita akan segera melakukan agresi dari timur, p*****n dengan semua perjanjian itu, mereka telah berani-beraninya berkhianat di belakang kita.” “Baik, Mr.” pria yang menjadi bawahannya itu pergi meninggalkan ruangan, menyisakan pria penuh kuasa itu sendirian ditemani dengan lembaran kertas dokumen yang sedang ia buka dan membacanya perlahan. “Sepertinya kalian benar-benar sedang mempermainkanku.” gumam pria itu dengan geraman kejamnya seraya membanting kertas dokumen yang sebelumnya tekah ia remas hingga membentuk gumpalan ke lantai.   *****   “Sir, anda benar-benar akan menghukum saya?” tanya Gania dengan lesu di hadapan Raka  yang sudah menaiki sepedanya. Gania hendak menaiki sepeda Raka di belakang melihat Raka tidak merespon ucapannya. “Siapa yang menyuruh kamu untuk menaiki sepedaku?” tanya Raka dengan nada sinisnya. Gania menatap Raka dengan mulut terbukanya, ia beberapa kali mengerjapkan matanya memastikan dengan benar ucapan Raka barusan. “Huh, ya sudah.” ucap Gania sedikit kecewa seraya meninggalkan Raka yang masih terdiam.  “Hei, siapa yang menyuruhmu untuk pergi?!” Raka berseru dengan sedikit bentakan dalam nada bicaranya. “Lalu apa mau anda, sir?!” sedikit bentakan Gania ikut layangkan karena begitu kesal dengan sikap Raka pagi ini. “Kau berani membentakku, Gania?!” tekan Raka dengan rahang mengetat menahan emosi yang hendak keluar. “Tidak,” jawab Gania dengan wajah tak bersalahnya membuat Raka menggeram tertahan tak suka melihat Gania yang membangkang terhadapnya. “Bawa sepedanya.” titah Raka setelah ia menggeserkan tubuhnya menjadi duduk di jok belakang sepeda. “Anda bilang aku tidak boleh menaiki sepedanya.” “Aku mengatakan bahwa kamu tidak boleh naik sepeda hanya sekedar menumpang! Ada gunanya kamu membawa sepedanya karena aku selalu kelelahan membawa beban seberat kamu.” ujar Raka tak berperasaan, wajah Gania sudah memerah menahan malu dan tangisnya. Akhirnya setelah tarikan paksa di lengannya Gania menaiki sepeda dengan posisi Raka duduk di belakangnya. “Siapa yang lebih berat diantara kita berdua? Kenapa tidak berkaca diri, huh?” ucap Gania sembari menahan isakan yang akan keluar. “Cepatlah.” titah Raka dengan nada dinginnya, mencoba mengabaikan isakan yang mulai terdengar oleh telinganya. Akhirnya dengan terpaksa Gania menaiki sepeda dan mulai mengayuhnya dengan sekuat tenaga. Beberapa kali Gania hampir tersungkur jika saja kaki Raka tidak menapak dan menahan sepeda mereka. Jalanan yang bergelobang tak teratur membuat Gania sangat kesusahan melajukan sepedanya dan harus cermat dalam memilih jalan yang akan dilaluinya. Tak seperti Raka yang mengayuh sepeda sambil duduk, Gania terpaksa mengayuh sepeda seraya berdiri dikarenakan ia tak sanggup membawa beban seberat Raka yang sesekali mengarahkan jalannya dari belakang. “Belok ke kiri.” seru Raka saat mereka telah sampai di pertigaan jalan, Gania memutuskan untuk berhenti dan istirahat sejenak menetralkan nafasnya yang tak teratur. Gania kebingungan saat arah jalan yang biasa mereka gunakan untuk ke sekolah kali ini berbeda tak seperti yang Gania pikirkan. “Kenapa harus kesana? Bukankah kita harus lurus untuk sampai di sekolah?” tanya gadis itu seraya menunjuk jalan lurus di depannya yang masih berbatu dan bergelombang, berbeda dengan jalan yang mengarah ke timur yang hanya berlapis tanah merah yang licin dengan pepohonan tinggi dan besar di sisinya. “Sudah, jangan banyak bertanya. Ikuti saja arahanku!” bentakan Raka berhasil membuat Gania ketakutan dan segera mengikuti perkataan laki-laki itu, membawa sepedanya ke arah yang lebih jauh dari pemukiman dan tentunya bukan jalan menuju sekolah yang Gania pikirkan.                          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD