bc

My Accidentally Perfect Husband

book_age18+
12
FOLLOW
1K
READ
drama
tragedy
sweet
city
like
intro-logo
Blurb

Tabrakannya menghancurkan motornya. Cintanya menghancurkan tembok pelindungnya.

Sebuah kecelakaan mempertemukan Stella, putri semata wayang yang manja, dengan Rudy, seorang perantau tangguh. Di bawah satu atap, rasa bersalah berubah menjadi kedekatan, dan kedekatan berkembang menjadi rasa yang dilarang.

Saat gairah mereka terbongkar, satu-satunya jalan adalah kejujuran. Beranikah Stella mengakui perasaannya yang sesungguhnya? Mampukah Rudy memikul tanggung jawab atas cinta yang lahir dari musibah?

Takdir di Jalan Ahmad Yani - Di mana sebuah kecelakaan bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan cinta yang penuh gairah, tekad, dan kejutan.

chap-preview
Free preview
DETAK YANG TERPOTONG
Hawa pagi yang masih mengantuk di kota Surabaya terasa lembap di kulit. Rudy (26 tahun) sudah membuka matanya sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Kebiasaan yang terpola setelah hampir enam tahun membagi hidupnya antara kantor, kampus, dan gym. Dia menarik napas dalam-dalam, merasakan otot-otot punggungnya yang masih sedikit kaku setelah sesi angkat beban semalam. Di cermin kamar kosnya yang sederhana, pantulan sosok pria dengan bahu bidang dan tubuh berotot membuatnya tersenyum kecil. Itu adalah monumen dari setiap tetes keringat di gym, pelampiasan sempurna bagi segala penatnya. "Gym holic," begitu teman-teman kampus dan kantornya menjulukinya. Baginya, gym bukan sekadar hobi, tapi kebutuhan. Sebuah ritual untuk menjaga keseimbangan di tengah hiruk-pikuk kehidupannya yang dijalani dengan gear tinggi. Dia menyambar helm dan jaket motornya. Motor Ninja 250RR yang menjadi kebanggaannya—dibeli tunai dari setiap keringat dan lembur—sudah menunggu di depan. Motor itu adalah simbol perjuangannya; anak desa kecil dari Sumatera Barat yang berusaha mencicipi mimpi metropolitan. Di tas ranselnya, seragam kantor bersanding dengan buku akuntansi keuangan menengah untuk kuliahnya di sebuah PTS ternama di Surabaya, tempat dia kini duduk di semester 6. "Hari ini ada senam pagi di kantor, harus cepat," gumamnya pada diri sendiri, mengecek jam yang sudah menunjukkan pukul 6.45. Dia terlambat. Semalam, tugas kuliah tentang analisis laporan keuangan menyita waktu hingga larut. Rasanya kepala baru menyentuh bantal, sudah harus bangun lagi. Lalu lintas pagi itu mulai padat. Rudy menyusuri jalanan dengan lihai, mengendalikan Ninjanya dengan keyakinan seorang yang sudah akrab dengan setiap belokan dan polisi tidur di rutenya. Helm full-face menutupi wajahnya, tapi mata waspada di balik kacanya menyapu setiap kemungkinan bahaya. Pikirannya, bagaimanapun, terbagi. Antara menyusun strategi presentasi di kantor nanti dan mengingat-ingat rumus akuntansi yang harus dia kuasai untuk ujian minggu depan. Sampailah dia di Jalan Ahmad Yani, arteri utama kota yang selalu menjadi tantangan di pagi hari. Lampu lalu lintas, klakson, dan kendaraan yang saling sikut menciptakan simfoni chaos yang biasa. Rudy tetap fokus, kecepatannya dijaga dalam batas wajar meski hati sudah tak sabar. Tiba-tiba, dari sebuah jalan kecil di sebelah kanan, sebuah mobil sedan berwarna silver menyembul seperti anak panah yang dilepaskan dari busur. Ia meluncur dengan cepat, seolah tak peduli dengan arus lalu lintas di jalur utama. Rudy membelalak. Waktu seakan melambat. "AWAS!" teriaknya dalam hati, yang tak sempat keluar menjadi suara. Tangannya refleks meremas tuas rem depan dan menginjak rem belakang. Ban motornya menjerit kesakitan, mengeluarkan bau karet terbakar yang menusuk hidung. Tapi jarak sudah terlalu dekat. Tubuhnya terlempar ke depan, momentum yang tak terbendung. Braak! Suara keras yang mengerikan menghantam telinganya. Rudy merasakan tubuhnya menghantam bodi mobil itu dengan dahsyat sebelum terpelanting seperti boneka kain. Dunia berputar-putar. Dia melihat langit kelabu, lalu aspal yang menghampar, dan kembali lagi ke langit. Ada rasa panas yang menyala-nyala di lengannya, di kakinya, dan di kepalanya. Sebuah rasa sakit yang tajam dan dalam, seperti sesuatu yang vital dalam dirinya pecah. Dia mencoba mengangkat kepala, tapi lehernya terasa seperti bebatuan. Pandangannya mulai kabur, diselimuti kabut hitam yang perlahan menjalar dari tepian matanya. Suara klakson dan teriakan orang-orang terdengar sayup, seperti datang dari ujung terowongan yang panjang. Tidak..., pikirnya lemah, sisa-sisa kesadaran yang masih bertahan. Kantor... kuliah... gym... Sebelum kegelapan sepenuhnya menyelimuti, ada satu bayangan terakhir yang terpikir: wajah ibunya di kampung, dengan senyumnya yang hangat. Lalu, semuanya lenyap. Sunyi. Rudy pun tak bergerak, terbaring di aspal Jalan Ahmad Yani dengan luka yang mengucurkan darah, dikelilingi oleh orang-orang yang panik dan suara sirene yang semakin mendekat.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Trapped in My Future Boss

read
3.4K
bc

Menyala Istri Sah!

read
4.5K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
20.9K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.8K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
54.3K
bc

Desahan Sang Biduan

read
56.7K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
16.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook