“Aku punya puzzle. Apa kau mau bermain denganku?” ajak Aron tanpa basi basi membuat Olivia yang sedang menunggu sang Ibu di ujung tamanpun terkejut.
“Puzzle?”
“Iya puzzle. Kau tahu kan puzzle?”
Olivia menggeleng sebagai ungkapan tidak tahu tentang puzzle.
“Lalu apa yang biasa kau mainkan di rumahmu?”
“Saya bermain bola bekel dan juga engklek Tuan”
“Bola bekel? Engklek? Permainan macam apa itu” tanya Aron penasaran.
Tentu saja Aron yang kehidupnya bagaikan langit dan bumi dengan Olivia tidak akan tahu tentang hal semacam itu.
Bola bekel dan engklek adalah permainan tradisional sedangkan puzzle merupakan salah satu permainan modern yang dimainkan dengan cara menyusun potongan-potongan gambar atau simbol menjadi satu bagian yang utuh.
Meskipun ini permainan yang mudah didapat namun tak semua anak memilikinya.
~~~
"Bola bekel itu bisa dimainkan oleh dua orang tuan. Nanti kita suit dan yang menang bermain lebih dulu" tutur Olivia menjelaskan
Meski Aron tak paham dengan permainan tersebut namun ia mendengarkan dengan baik saat Olivia mencoba menjelaskan tentang permainan tersebut
“Hmm… Sepertinya menarik. Kapan-kapan ayo kita bermain bola bekel aku akan meminta ayah membelikannya nanti. Sekarang aku akan mengajarimu cara bermain puzzle. Ini sangat mudah” ungkap Aron dengan sikap dewasa.
Meski baru berusia dua belas tahun namun Aron tumbuh menjadi pribadi yang tenang dan berwibawa tidak seperti anak seusianya.
“Ngomong-ngomong berapa usiamu sekarang?”
“Delapan tahun Tuan”
“Oh, aku lebih tua empat tahun. Jangan panggil aku tuan. Saat hanya ada kita, kau boleh memanggilku kakak. Oke?” ucap Aron sembari menyusun pazzel gambar Mona Lisa.
“Iya Kak” jawab Olivia segera
Tampak senyuman tipis di sudut bibir bocah tampan itu saat mendengar Olivia memanggilnya kakak.
Tidak seperti tatapannya yang dingin dan sedikit angkuh, ternyata tuan muda Aron adalah orang yang ramah. Hal itu cukup membuat Olivia yang takut saat menatapnya seketika menjadi lega.
~~~
“Jadi kau akan bersekolah di sini?”
“Iya Kak”
“Kapan?”
“Kata ibu besok”
“Oh. Kalau nanti ada tugas yang belum kau pahami cari aku” tawar Aron sedikit bangga.
Tak hanya bermodal tampan, Aron memang memiliki IQ diatas rata-rata yaitu seratus tiga puluh delapan yang medandakan bahwa dia adalah seseorang yang sangat pintar secara intelektual.
“Apa kakak bisa berhitung sampai banyak?” tanya Olivia polos
“Aku ini sangat pintar Livia, kau tak perlu meragukanku” jawab Aron yang sebentar lagi akan naik ke kelas enam SD
“Baiklah kak”
“Aku juga jago bela diri. Kalau ada yang jahat padamu di sekolah beritahu aku” tutur Aron yang mencoba membuat Olivia terkesan.
“Kakak bisa berkelahi seperti di film kesukaan ayah?” tanya Olivia dengan mata yang berbinar
Mediang sang ayah memang sangat mengagumi sosok bernama Bruce Lee seorang aktor seni bela diri legendaris yang terkenal pada masanya
“Tentu saja bisa. Sekarang aku sudah memegang sabuk hijau”
“Kalau sabuk hijau berarti kakak sudah hebat?”
“Belum, masih ada satu tahap lagi. Tapi aku sudah bisa melindungimu. Jadi kalau ada yang macam-macam padamu segera beritahu aku. Mulai sekarang kau boleh bersandar padaku” ungkap Aron dengan gagah.
Bagaimana tidak, kepolosan dan lemah lembutnya Olivia entah mengapa membuat Aron kecil jadi ingin melindunginya.
~~~
Waktu berjalan begitu cepat. Olivia kecil sebentar lagi akan duduk di bangku sekolah dasar kelas enam
“Nak, bagaimana ujiannya?” seperti biasa Susi selalu menanyakan kegiatan Olivia di sekolah.
“Lancar Bu. Besok hari terakhir ujian”
“Terus libur ya” tanya Susi
“Iya. Mba Tia nanti mau ajak Livi jalan-jalan ibu”
“Ya sudah. Bilang masnya buat jemput adek nanti”
“Iya bu”
“Ah lupa, ada soal yang Livi kurang paham tadi. Livi mau tanya tuan muda dulu” ungkap Olivia segera membuka tas sekolahnya.
“Livi, tuan muda itu bukan temanmu. Meskipun tuan muda sangat baik dan selalu membantu tetap jangan membebaninya dengan terus meminta bantuan padanya. Kalau Livi tidak paham bisakan Livi bertanya pada guru di sekolah?” pungkas Susi menghentikan Olivia.
“Iya bu maafkan Livi”
“Tidak perlu minta maaf. Ibu hanya mengingatkan Livi bahwa dia tuan di rumah ini”
“Iya bu”
~~~
“Ayah dan Ibu sudah rundingkan. Setelah lulus nanti kamu akan lanjut sekolah ke luar negeri hingga kuliah di sana” ucap Rudi sang ayah.
“Dimana ayah?”
“Di Netherland. Semuanya sudah Mira persiapkan. Lusa kau sudah boleh berangkat” Mira adalah sekretaris pribadi Rudi sang ayah
“Tapi waktu kelulusan masih tiga hari lagi ayah”
“Sudah ayah bilang kan tadi semuanya sudah siap. Nanti kamu akan masuk asrama biar ayah lebih tenang” tegas Rudi pada anaknya
“Apa Aron bisa pamitan dulu dengan teman-teman ayah?”
“Hmm... ya sudah, boleh”
“Baik ayah” ucap Aron lalu berlalu meninggalkan ruang kerja ayahnya
~~~
“Bibi, dimana Olivia?” tanya Aron dengan napas sedikit terengah-engah
“Olivia lagi di tempat kakaknya tuan”
“Oh. Kapan kembali?”
“Liburannya masih ada dua minggu lagi tuan. Ada perlu apa tuan?”
“Tidak Bibi. Saya hanya mau mengambil buku pelajaran yang Olivia pinjam kemarin” Aron beralasan
“Buku yang mana tuan biar saya cari sebentar tuan”
“Nanti saja setelah Olivia kembali” pungkas Aron meninggalkan Susi.
Setelah mendengar dirinya akan dikirim untuk menempuh pendidikan di negara yang mereka sebut negara kincir angin itu, Aron lantas bergegas mendatangi Olivia dengan maksud menyampaikan berita tersebut.
Sayangnya pagi tadi Dani sang kakak telah menjemputnya untuk berlibur bersama dan memang setiap kali liburan sekolah Olivia selalu datang menemui kedua saudaranya.
~~~
“Tetap berkabar ya, nanti kita akan berkunjung ke sana” ucap Belinda pada Aron. Hari ini Aron melakukan perpisahan dengan tema-teman sekelasnya dan juga para guru di sekolah
“Ku dengar banyak gadis-gadis sexy di sana” ungkap Marko sembari mengedipkan mata
“Marko kau itu masih di bawah umur, jangan berpikir yang aneh-aneh” cegat Belinda kesal
“Im young and free Belinda”
“Justru selagi masih muda harus perbanyak ibadah biar kau tidak tersesat nantinya”
“Hah. Memang sulit punya sahabat yang soleha”
“Berisik” pungkas Aron pada Marko.
Marko adalah sahabat sekaligus sepupu Aron dari keluarga ibunya. Sedangkan Belinda adalah teman masa kecil Marko.
Mereka dipertemukan di kelas yang sama saat memasuki tahun pertama sekolah menengah atas dan kini berubah menjadi sekumpulan sahabat.
~~~
“Aron ada yang ingin ku katakan” bisik Belinda padanya
“Kenapa berbisik?”
“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu saja. Ayo tinggalkan Marko sebentar” pungkasnya yang melihat Marko tengah sibuk berfoto dengan para gadis dari kelas lain.
Marko memang terkenal playboy oleh teman-temannya. Memiliki jiwa bebas dan liar tidak seperti Aron yang tenang dan berwibawa