Mencari Keberadaan Aron

738 Words
“Apa ini” tanya Aron saat Belinda menyodorkan sebuah kotak hadiah yang dibungkus dengan cantik “I-itu hadiah perpisahan” ungkap Belinda sedikit gugup. Baru kali ini Belinda berani menunjukan perasaannya “Harus dibuka sekarang?” tanya Aron acuh “Nanti” pungkas Belinda segera. Dibalik kata persahabatan Belinda telah jauh menyimpan rasa sukanya pada lelaki tampan yang terkesan dingin tersebut. Belinda takut bila mengutarakan perasaannya hubungan persahabatan mereka akan menjadi rusak karena memang sangat sulit mendekati seorang Aron Bramansyah. Hadiah yang ia berikan tidaklah mewah hanya sebuah sapu tangan dengan pesan singkat di dalamnya “Sahabatku Aron, ku harap kau selalu gunakan sapu tangan ini untuk mengingat persahabatan kita. Aku akan selalu merindukanmu di sini” Meski hanya sebuah sapu tangan, Belinda berharap ketulusannya dapat tersampaikan pada Aron. ~~~ “Bila rindu beritahu ibu. Hari itu juga Ibu akan langsung menjengukmu” ucap Widia sebelum berpisah dengan anaknya. “Cukup sebulan sekali ibu datang sesuai kesepakatan, nanti dikira aku anak manja bila ibu selalu berkunjung setiap saat” pungkas Aron mengingatkan ibunya. Aron memang tak terbiasa mengekspresikan perasaannya meski ia tahu ia pasti akan merindukan ibunya. “Jahat” sang ibu merajuk. Ini pertama kalinya Widia akan berpisah untuk waktu yang sangat lama dengan anak semata wayangnya tentu saja dia pasti akan merindukannya "Sudahlah kau ikuti saja apa maunya" "Ih, ayah mana paham hati seorang ibu" ucap Widia yang masih merajuk. Tak ada kekhawatiran memang karena sekolah yang mereka pilih sudah dipertimbangkan dari segala sisi hingga keamanan lingkungan disana dan meski Aron akan tinggal di asrama, Rudi tetap membawa beberapa bodyguard untuk memantau dan melindunginya dari kejauhan. “Hati-hati ya nak” ucap Rudi sambil menepuk pundak buah hatinya “Iya ayah” Ada Marko dan Belinda juga yang ikut mengantarnya di bandara ~~~ "Livi" gumam Aron sesaat setelah ia duduk pada kursi penumpang first class yang didampingi langsung oleh asisten dari pesawat tersebut. *Ladies and Gentlemen, welcome to this flight. Please fasten your seatbelt and put your seat in an upright position as we prepare for take off Aron tak begitu berat hati meninggalkan rumah dan sahabat serta kehidupannya di Bolvia. Hanya saja, ada perasaan yang tak terselesaikan ketika semua orang menerima salam perpisahan darinya namun tidak dengan Olivia. Kalimat 'Jangan lupakan aku' menjadi satu-satunya kalimat yang sangat ingin Aron ucapkan pada Olivia namun gadis mungil itu tak berada disana "Tuan Muda" panggil sang asisten menghentikan lamunanya "Iya?" "Maaf apa tuan ingin sesuatu?" "Tidak terima kasih. Aku hanya ingin beristirahat sekarang" "Baik. Selamat beristirahat" ~~~ *Dua minggupun berlalu. Olivia terbangun bersama langit biru yang begitu mempesona. Pagi yang cerah untuk menikmati indahnya bunga-bunga kepunyaan nyonya Widia. Biasanya diwaktu sekarang tuan muda tiba-tiba muncul dan mengejutkan Olivia lalu mereka akan bermain bersama. Olivia melayangkan pandangannya kesana kemari namun tua muda tersebut tak jua menunjukan batang hidungnya Olivia yang baru pulang kemaren sore langsung membentangkan tubuhnya di ranjang dan terlelap akibat kelelahan karena jarak tempat tinggal kakaknya memang jauh dan memakan waktu enam jam menggunakan jalur kereta agar bisa kembali di kediaman ini ~~~ “Ibu” panggil Olivia “Iya nak?” “Sudah tiga hari ini Livi tidak melihat tuan muda Aron” “Oh tuan muda sedang bersekolah di negara lain nak” "Negara lain? Apa tempatnya sangat jauh?" "Iya nak, sa-ngat jauh" Susi menerangkan. “Jadi tuan muda tidak akan kembali ibu?” Olivia bertanya lagi. “Tuan muda pasti kembali nak namun ibu tidak tahu kapan beliau kembali” mendengar hal itu Olivia hanya diam dan tak lagi bertanya. "Apa Livi sedih tuan muda pergi?" pertanyaan itu sontak membuat tangis Olivia pecah. Tentu saja setelah kehilangan ayahnya, lalu berpisah dari teman-teman lamanya di kampung dan sekarang Olivia kecil di hadapkan lagi dengan sebuah perpisahan yaitu kepergian teman bermainnya yaitu tuan muda Aron. Susi yang mengerti akan hal itu hanya bisa memeluk dan mencoba menenangkan anaknya "Sudah nangisnya nak" tanya Susi setelah beberapa saat membiarkan Olivia menangis "Sudah bu" “Bagaimana sekolahnya Livi? Apa ada tugas yang sulit nak?” Susi mencoba mencari topik pembicaraan “Belum ada bu” Olivia menjawab singkat “Ya sudah bila tidak ada. Livi tidur siang dulu sebentar nanti bangun ibu buatkan s**u hangat untuk Livi" "Baik ibu" jawab Olivia patuh Tahun demi tahun berlalu namun Aron tidak pernah sekalipun muncul di kediaman itu. Bahkan di hari besar sekalipun. Olivia kecil yang awalnya merindukan sosok tuan muda itu pun perlahan tumbuh tanpa menghiraukan lagi rasa rindu itu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD