Surat Cinta

1000 Words
“Livia, Olivia, Gooo….” teriakan Nesia menggema di seluruh lapangan membuat orang-orang di sekitarnya menatap dengan sinis. Hari ini adalah minggu terakhir pertandingan voli wanita karena sebentar lagi para pemain yang sebagian besar adalah siswa kelas tiga akan mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian akhir sekolah. Sekolah cinta kasih melawan sekolah International Bakti Jaya sebagai tuan rumah setelah Olivia dan teman-temannya mengalahkan sekolah lainnya hingga masuk ke babak final. Tak hanya dikenal akan kecantikan dan kesopanannya, dengan passing yang sangat baik Olivia selalu mengharumkan nama sekolahnya dalam pertandingan voli wanita sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama Olivia berperan sebagai Libero yaitu salah satu pemain inti dalam tim yang sering disebut sebagai defender atau pemain bertahan. ~~~ “Aku bingung dari mana energimu itu berasal Nesia” ucap Olivia pada supporter sejatinya itu. Pasalnya setiap mengikuti pembelajaran di kelas Nesia selalu tampak tidak bersemangat dan tak jarang absen dengan alasan sakit meski trik itu tidak bisa lagi ia lakukan setelah menginjak tahun terakhir di SMA “Hei inilah bukti cinta seorang sahabat. Kau tidak akan bisa menemukan sahabat seperti ini di dunia manapun” ucap Nesia seraya memberikan bolol minum pada Olivia “Baiklah sahabatku. Terima kasih” "Ayo pura-pura ke kantin aku ingin berkeliling sebentar mumpung kita di sini” “Untuk apa? Setelah ini kita masih ada satu babak lagi" “Sebentar saja Livia. Siapa tahu aku menemukan tulang rusukku di sini” “Astaga. Baiklah, aku izin dulu sebentar” pungkas Olivia pada sahabatnya ~~~ "Ugh! Para siswa di tempat ini semuanya tampan, aku sampai bingung harus memilih yang mana" keluh Nesia setelah berkeliling di sekolah yang mewah itu. Olivia di sampingnya hanya tersenyum melihat tingkah random sahabatnya “Hallo” ucap seorang siswi menghampiri mereka “Iya?” Jawab Olivia “Apa kita saling kenal?” pungkas Nesia sedikit ketus. “Ah. I-ini ada surat dari kakakku untukmu. Dia yang berdiri menggunakan jaket kulit dan sedang melihat ke arah sini” ucap gadis itu pada Olivia dan segera berlalu meninggalkan mereka. [Hai. Aku mengagumimu. Hubungi aku 0859*******] Isi surat yang Olivia terima. Olivia segera menatap balik siswa itu dan membungkuk dan meminta maaf lalu membuang surat kecil itu. ~~~ “Livi, apa tak ada satupun yang membuat hatimu bergetar? Ini surat cinta ke berapa yang kau terima? aku sampai tak bisa lagi menghitungnya” “Sudahlah, aku hanya ingin fokus belajar” ucap mereka bersama-sama. Bagaimana Nesia tidak menghapalnya, hanya kalimat itu yang Olivia ucapkan tiap kali ia menerima sebuah surat dari lawan jenisnya. “Olivia, kata orang saat sedang jatuh cinta kita bisa lebih semangat untuk belajar” “Nesia, kebanyakan yang ku dengar saat sedang jatuh cinta kita malah menjadi tidak fokus untuk belajar. Itulah mengapa para orangtua tak ingin anaknya berpacaran saat masih sekolah” *Percakapan dua orang sahabat yang belum pernah jatuh cinta “Begitukah?” tanya Nesia. Olivia mengangguk. Nesia memang sangat mudah untuk dipengaruhi. “Tapi, apa kau tidak kasihan pada mereka yang kau tolak?” “Nesia, aku malah lebih kasihan bila memberi harapan palsu pada mereka” ~~~ Kedua sahabat itu segera kembali dan Olivia masuk ke dalam tim untuk pertandingan terakhir "Wuuoohhhh" Teriakan dan sorakan dari supporter sekolah Cinta Kasih memenuhi seluruh lapangan ketika diumumkan bahwa mereka menang dengan selisih dua poin setelah sebelumnya terjadi deuce. Kemenangan ini menjadikan mereka sebagai juara bertahan selama tiga tahun berturut-turut. "Selamat anak-anak kalian bermain dengan sangat baik. Setelah ini kita akan merayakan dengan makan-majan bersama" ucap sang pelatih bangga. "Pak Didit aku juga ikut kan" bisik Nesia yang mengintilnya di belakangnya "Anak ini" "Hehe... makasih pak" Pak Didit tak bisa menolak. Meski bukan bagian dari tim namun Nesia selalu membantu pak Didit dalam hal akomodasi dan mengarahkan para supporter selama pertandingan berlangsung ~~~ “Hah. Akhirnya sebentar lagi ujian” ungkap Olivia setelah perkumpulan berakhir “Apa kau sudah menuntukan pilihanmu?” tanya Nesia pada pilihan universitas yang akan dipilih Olivia “Sudah” Olivia menjawab dengan mantap Menjadi seorang fashion designer adalah impian masa kecilnya sejak pertama kali Olivia melihat gaya busana nyonya Widia yang begitu elegan dengan wrap blous yang dipadukan dengan celana palazzo ditambah aksesoris yang minimalis membuat wanita paruh baya itu tampak begitu karismatik bagi Olivia. Ia bahkan berencana setelah lulus kuliah nanti ia akan melamar dan bekerja di perusahaan nyonya Widia yang baru-baru ini telah diakuisisi oleh perusahaan induk Mega milik Rudi Bramansyah. “Ah, aku sangat iri pada orang yang sudah tahu tujuan hidupnya mau kemana” ungkap Nesia pada Olivia “Hei semua ini hanya rencana, tak ada yang tahu akan masa depan. Bukannya waktu itu kau sudah mantap dengan pilihanmu jurusan informatika?” “Kau tahu sendiri mimpi ku selalu berubah-ubah. SD maunya jadi dokter hewan, SMP maunya jadi guru, sekarang informatika. Entah besoknya lagi apa. Sepertinya ada yang salah dengan jalan pikiranku” “Bukan. Kau hanya punya banyak impian saja. Coba pikirkan baik-baik hal yang benar-benar membuatmu bahagia saat kau mengerjakannya” "Ya nanti ku pikirkan" “Kau harus serius memikirkannya ya. Ujian sudah di depan mata. Aku hanya tidak ingin kau menyesal dengan pilihanmu nanti” “Terima kasih sahabatku. Baiklah akan kupikirkan dengan serius” ~~~ Setelah pulang membawa kemenangan, Olivia bergegas untuk memberitahu ibunya "Bibi kenapa banyak sekali tukang di ruang utama?" tanya Olivia yang melihat para tukang berlalu lalang membawa alat-alat dan furniture. Ada juga yang sedang memindahkan grand piano dari ruang santai kepunyaan nyonya Widia "Ooh, itu untuk persiapan tuan muda nanti" "Tuan muda? Tuan muda Aron maksudnya bi?" "Iya. Sebentar lagi tuan muda Aron pulang. Sudah sana ganti bajumu sepertinya ibumu sedang sibuk di taman" "Baik bibi" ~~~ "Tuan muda kembali?" ucap Olivia yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Masih mengenakan seragam lengkap, Olivia membaringkan diri lalu menutupi setengah wajahnya dengan bantal. Entah mengapa ia menjadi sangat bahagia dibandingkan dengan pengumuman kemenangan tadi. "Kira-kira seperti apa rupanya sekarang? Apa aku masih bisa langsung mengenalinya? Kali terakhir dia sudah jauh lebih tinggi dariku." Bayangan Olivia pada Aron yang kini sudah dewasa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD