["Bersandarlah padaku. Aku akan melindungimu"]
Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Olivia teringat akan janji Aron saat mereka masih kanak-kanak.
"Sepertinya aku memang sudah gila" ucap Olivia lalu membenturkan kepalanya di atas meja.
Meski frustasi dengan hal itu namun ada rasa bahagia yang tak bisa ia ungkapkan.
Jelas saja, semua kenangan tentang Aron satu per satu mulai muncul kembali membuat Olivia merasa seperti ada kumpulan bunga berwarna warni dan sangat indah keluar masuk menembus jantungnya.
~~~
"Pagi Livi" sapa Bili ketua kelasnya. Olivia yang masih menempelkan dahinya pada meja meresponi dengan mengangkat kedua jempolnya.
Suasana kelas masih tampak sepi. Waktu menunjukan pukul enam lewat dua puluh menit. Di kelas ini hanya ada Olivia dan Bili seorang.
Tidak seperti biasanya Olivia datang pagi-pagi buta karena pak Toto sedang ada urusan di luar jadi ia harus mengantarkan Olivia lebih pagi
Tadi malam para pekerja diberitahu secara pasti bahwa minggu depan tuan muda Aron akan kembali. Untuk itu, akan diadakan sebuah pesta penyambutan sekaligus acara perayaan untuk Aron yang telah menyelesaikan gelar Bachelornya di bidang arsitektur dan bisnis.
Aron juga menjadi lulusan terbaik di sana.
Jadi sekarang Olivia akan mengakhiri masa putih abu-abunya sedangkan Aron yang terkenal jenius itu akan kembali dan magang di perusahaan induk sang ayah, Rudi Bramansyah
~~~
"Hai Livi, hai Bili" sapa para siswa yang satu per satu telah hadir. Tak lama bunyi lonceng tanda jam pelajaran di mulai bergema di seantero sekolah
"Selamat pagi anak-anakku" sapa pak Didit wali kelas kece mereka
"Selamat pagi pak Didit" salam para siswa
"Pagi, pagi. Mari kita buka halaman empat puluh tiga"
“Ugh. Ayo fokus Olivia” gumamnya
“Hei, aku yakin kau sedang tidak bicara padaku. Kau kenapa?” bisik Nesia sahabat Olivia
“Tidak apa-apa” tulis Olivia pada halaman belakang buku catatannya karena tak ingin ketahuan berbincang di jam pembelajaran
“Kau tampak gusar. Apa kau sakit?”
“Tidak. Sudah jangan pedulikan aku”
“Kalau sakit ayo ke UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Sepertinya kepala juga sakit”
“Bukannya kau memang selalu sakit kepala tiap kali pelajaran matematika mulai?”
Mereka saling berbalas hingga membuat kertas itu menjadi penuh dengan coretan tulisan tangan
~~~
“Olivia, Nesia, apa yang sedang kalian lakukan disana?” tanya pak Didit mengagetkan mereka
“Maaf pak ada bagian yang tidak dipahami oleh Nesia pak” jawab Olivia yang langsung membuat Nesia mati kutuk disamping
“Nesia, bagian mana yang tidak kamu pahami nak?”
“A-anu e-e apa namanya tuh” jawab Nesia terbata-bata
“Apa bapak menjelaskan terlalu cepat nak?”
“I-iya itu pak. Terlalu cepat pak. Hehe”
“Baiklah bila bapak terlalu cepat dalam menjelaskan mohon ingatkan bapak ya”
"Baik pak" ucap para siswa
“Awas kau ya Livi” bisik Nesia yang sontak membuat Olivia tertawa dengan jahil