Pesta Penyambutan

808 Words
“Livi, ambilkan lagi labu di ruang penyimpanan. Ah, kembalikan dulu sisa apel ini ke dalam" “Livi, bantu paman menata minuman ini ke depan” “Livi, apakah kau sudah menambahkan arangnya?” “Livi, bersihkan gelas-gelas ini dan susun dengan rapi” “Livi…," "Livi…,” Kediaman Rudi Bramansyah penuh dengan hiruk pikuk sedari pagi buta hingga sore ini. Olivia yang baru kembali dari sekolahpun langsung membantu para pekerja sana. Di samping itu, Tuan Rudi dan nyonya Widia sedang menjemput Aron di bandara. Acara penyambutan sekaligus perayaan kelulusan tuan muda Aron dirayakan dengan megah dan meriah. Pasalnya, tamu undangan yang akan datang nanti malam adalah orang penting berupa rekan bisnis dan kolega Rudi Bramansyah. Beberapa tamu undangan penting lainnya yang akan hadir juga bekerja di bagian pemerintahan. Bisa dibilang acara ini diadakan sebagai perkenalan singkat untuk calon pemimpin masa depan perusahaan raksasa Mega milik crazy rich Rudi Bramansyah ~~~ “Apakah persiapannya sudah selesai?” tanya Mira sekretaris pribadi Rudi. “Sudah nona Mira. Makanan dan dekorasi semua sudah selesai” ucap Nana sang kepala pekerja. “Kerja bagus. Sebentar lagi Tuan dan Nyonya akan tiba. Kalian boleh istirahat dan bersiap untuk nanti malam” “Baik nona Mira” Olivia yang berada di belakang mereka segera bergegas membawa bunga terakhir yang telah siap ia rangkai untuk dipanjang di halaman depan tempat acara dilangsungkan. Dengan perasaan aneh diikuti debaran jantung yang tak karuan, Olivia kembali ke kamar dan langsung membersihkan dirinya. “Tolong berhenti berdebar” ucap Olivia sambil menepuk-nepuk dadanya. ~~~ “Livi, kenapa bajumu ada dimana-mana nak?” tanya Susi saat melihat hampir semua baju dari lemari Olivia ada di luar. “Ibu, maaf tadi Livi sedang memilah baju untuk dikenakan tapi Livi bingung harus pilih yang mana” Teriak Olivia dari balik pintu kamar mandi. “Cukup pakai baju yang sopan dan nyaman nak” “Apa bu?” suara gemericik air menghalangi pendengaran Olivia. “Ibu bilang apa tadi bu?” Olivia segera keluar setelah menghentikan aktivitas mandinya. “Ibu bilang pakai baju yang sopan dan nyaman saja nak” “O..oh. Iya bu” “Ibu pergi dulu, para tamu sudah mulai berdatangan. Segera rapikan bajumu baru keluar” “Baik bu” “Hmm… Jadi aku harus memakai baju yang mana?” Mata Olivia tertuju pada dress putih dibalik tumpukan baju. “Baiklah sepertinya yang ini tidak buruk” ~~~ “Rudi, ini anakku Jovansca” ucap salah satu koleganya. “Oh hai. Aku banyak mendengar tentangmu Jovan” “Hallo pak. Selamat untuk Aron” “Ah, terima kasih. Anak itu sedang bersama sahabatnya. Ku dengar kau juga baru saja mendapat gelar phd mu” Dilain sisi ada Widia dengan para tamu yang di undangnya. “Widia, aku tak menyangka Belinda berteman baik dengan anakmu” ucap Jessica seorang istri pemilik toko perhiasan terkenal di Bolvia. Widia dan Jessica adalah teman semasa kuliah dulu. Mereka sama-sama mengambil jurusan fashion designer namun Jessica memilih untuk fokus pada aksesoris fashion saja. “Iya Jes. Aku juga baru tahu pas kau menggandeng Belinda di sisimu” “Dia anak yang baik dan penurut” puji Jessica pada Widia. “Hmm… Dulu hanya sekali bertemu dengannya saat mengantar Aron ke bandara. Lain kali aku akan meluangkan waktu untuknya” janji Widia pada Jessica. ~~~ “Wah bibi, ternyata acaranya sangat meriah” ucap Olivia kagum. Ini kali pertamanya Olivia menghadiri sebuah pesta para masyarakat golongan atas. “Iya. Semua yang datang pasti orang kaya” “Tentu saja, lihat gaun dan perhiasan mereka” “Wangi tubuh mereka sangat harum. Coba kau mendekat. Aku penasaran berapa harga parfum yang mereka kenakan” “Aku tak bisa berlama-lama di samping mereka. Saat melewati mereka, mereka semua membicarakan hal-hal yang tidak ku pahami" “Ahaha…” “Ehem… berhenti bergosip. Jangan berkumpul semuanya di sini” pungkas Nana kepala pekerja di kediaman itu. Mereka segera berpencar dan mencari kesibukannya masing-masing. ~~~ Setelah berpencar, Olivia yang sedikit bosan memilih untuk berdiri di pojok taman dan menyatap beberapa dissert yang ia bawa. “Wuah, para bibi di bagian dapur sangat hebat. Bagaimana bisa mereka membuat kue seenak ini?” ungkap Olivia kagum. Tanpa ia sadari di kejauhan sepasang mata terus memperhatikannya. Berbeda dengan kesan Aron saat pertama kali melihat Olivia dulu, kini Olivia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dengan mengenakan gaun putih tanpa motif yang panjangnya dua centi di bawah lutut membuat kaki jenjang mulus dan putih Olivia tampak begitu indah. Meski hanya menggunakan sepatu flat shoes seadanya, Olivia tetap memancarkan aura cantiknya. Seketika ada debaran hebat di d**a lelaki bertubuh jakung itu. Entah perasaan apa yang sedang ia rasakan, yang jelas di tengah keramaian matanya hanya tertuju pada Olivia. “Yah. Habis” gumam Olivia setelah menghabiskan dissert yang ia bawa. Karena masih ingin mencoba dissert yang lain, Olivia memutuskan untuk kembali ke tengah pesta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD