112. Kram Perut

1103 Words

"Sayang!" Zean dengan panik menghampiri. "Apa yang sakit?" "Sakit ... Perut aku, Mas." Binar perlahan berjongkok sambil memegangi perut yang terasa kram. Mungkin gejala datang bulan. Tetapi biasanya tidak sesakit ini. "Bunda ... Bunda kenapa?" Permata sudah bercucuran air mata ketika melihat ibunya tampak meringis kesakitan. Rasa marah sudah menguap entah ke mana. Kini justru merasa bersalah karena ibu seperti itu setelah ia bentak. "Bunda ...." Semakin terisak. Binar tidak menanggapi pertanyaan putrinya. Sibuk merasakan sakit tak terkira di perut bagian bawah. Zean menurunkan putrinya. "Ata jalan sendiri, ya. Ikutin Ayah. Ayah mau gendong bunda," ujarnya. Permata mengangguk sambil terus menangis. Takut terjadi apa-apa pada ibunya. "Ayo, Sayang! Mas bantu kamu ke mobil. Kita ke dokt

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD