Mentari pagi menyelinap masuk melalui jendela kamar. Hangat menyentuh pipi Binar yang masih tertidur pulas. Di sampingnya ada Zean yang tengah duduk dengan mata terbuka, menatap istri dengan perasaan campur aduk. "Ayah!'' "Sssttt ... jangan berisik." Zean menyilangkan jari telunjuk di bibit. Permata yang berada di pangkuan sang ayah, langsung menutup mulut. "Ata bicaranya pelan-pelan aja. Bingkai masih tidur," bisik Zean. Istri kembali tidak setelah melaksanakan sholat karena sakit kepala. "Bunda ngantuk, ya, Ayah?" "Iya." "Ata lapar, Ayah." "Ayo kita bikin sarapan. Ata turunnya pelan-pelan. Jangan berisik biar bunda gak kebangun." Pasangan ayah dan anak itu bicara saling berbisik. Perlahan kedua turun dari tempat tidur, bergantian dimulai dari Permata lalu ayahnya. "Ata mau jadi

