97. Teriakan Permata

1001 Words

Binar masih melanjutkan aksi merajuknya hingga mereka tiba di rumah makan. Saat suami membuka pintu belakang yang tepat di sampingnya, ia justru keluar dari pintu lain. Begitu juga saat di dalam rumah makan, memilih duduk di tempat lain meski sang suami sudah menarik kursi untuknya. Zean hanya bisa membuang napas berat, pasrah dengan sikap istri. "Makasih, Ayah." Zean tersenyum sembari mengusap kepala putrinya yang baru saja duduk di kursi yang ia tarik tadi. "Sama-sama, Sayang." Mendaratkan diri di antara anak dan suami. "Ata mau makan lontong, Ayah." "Gak pakai nasi?" "Sama nasi juga." "Emang bakal abis?" "Abis, Ayah." "Baiklah." Tak lama setelah memesan beberapa menu, makanan pun sudah tersaji di meja. "Ata mau cuci tangan dulu," ujar Permata sambil turun dari kursi. "Ay

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD