BAB 13

1354 Words
"Yu, lo tenang dulu, dia pasti baik-baik aja kok." Rio memberitahu kalau dokter sudah keluar memeriksa keadaan Raisa hanya saja mereka belum diperbolehkan masuk. "Lo mau liat keadaan abang Fairus dulu?" tanya Rijal mendapat pesan dari Ridho yang menjaga abang Raisa di kamar inap, Fairuz sudah siuman. "Nanti gue ke sana, gue tunggu Raisa sadar dulu. Udah lo hubungin keluarganya?" Alif menjawab kalau orang tua Raisa sedang dalam perjalanan. "Yaudah lo duduk aja dulu. Lo nggak mau obatin luka lo—'' "Jangan biarkan Arkan bebas dari penjara." Perkataan Rio terpotong oleh Yuda yang dendam terhadap perbuatan terkeji Arkan. Dia sudah mencobloskan Arkan beserta temannya ke sel. "Yu ..." lirih Rijal mengalihkan Yuda ke arahnya. "Ini di luar ta-ruhan lo, kan? Maksud gue lo nye-lamatin Raisa di luar taruhan lo. Atas perasaan lo sebagai seseorang yang ingin melindunginya atau seseorang ingin melindungi taruhannya," kata Rijal hati-hati, dia menyadari sekarang bukan waktu yang pas membicarakan itu tapi Rijal ingin memastikan bagaimana perasaan Yuda yang sebenarnya. Rijal akan merasa lega jika Yuda sudah berubah, itu artinya lelaki itu bisa memandang perempuan bukan sebagai boneka permainannya tetapi seseorang yang harus dilindunginya. "Lo benar-benar mau tau sekarang?" ucap Yuda menantang, "gue nggak pernah mengingkari perjanjian gue sendiri, bukan?" "Ber-arti lo—ini semua cuma karena taruhan?" kata Alif mencoba memastikan pendapatnya atas kalimat yang dilontarkan Yuda. Rio tampak terkejut, begitu juga dengan Rijal mengulas sedikit senyumnya lalu berujar. "Iya, lo masih Yuda dan tetap jadi Yuda," sahut Rijal menepuk bahu Yuda pelan. "Kalau begitu lo tunggu di sini nanti dia sadar langsung samperin, pura-pura khawatir aja. Gue ke kamar abang Fairus dulu." Rijal melenggang pergi merasa kecewa dengan jawaban Yuda. Alif pamit ingin menemui orang tua Raisa yang sudah sampai diparkir. Bayangan seseorang yang sedari tadi menguping di balik dinding dengan merekam melalui ponselnya tersenyum miring sambil berbalik menjauh dari koridor. Rio duduk dekat Yuda, memerhatikan seksama wajah Yuda yang babak belur. Dia sedang berusaha membaca perasaan Yuda yang sepertinya berbeda dari apa yang dikatakan lelaki itu. "Entah gue kepedean bakal jadi dokter psikolog atau—'' jeda Rio ketika Yuda akhirnya menoleh padanya. "Lo yang nggak bisa sembunyiin kebenarannya?" Alis Yuda menaut, Rio tersenyum puas memilih tidak melanjutkan perkataannya karena kedua orangtua Raisa bersama Fairus yang menghampiri mereka. "Bun, maafin abang nggak bisa jaga Raisa," sesal Fairus melihat Raisa yang terbaring di dalam sana melalui kaca pada pintu kamar inap. Bunda menggeleng, mengelus wajah Fairuz yang memar. "Apa dia mengingat itu lagi?" tanya Papa. "Abang nggak tau, Pa. Yuda yang membawa Raisa keluar dari ruang bawah tanah, katanya Raisa sempat memanggil nama abang. Abang yakin Raisa bukan manggil abang Fairus tapi abang Fuadi." Yuda saling menatap dengan Rio dan Ridho, penasaran dengan pembicaraan antara Ayah dan anak tersebut. "Pa, Raisa ban-g*n," ucap Bunda terbata menangkap gerak kelopak mata Raisa yang mencoba membuka matanya. Rijal mengambil alih untuk memanggil dokter, sebelumnya dia melirik ke arah Yuda dengan isyarat. "Sekarang waktunya lancarkan aksi lo!" Yuda tersenyum simpul mengangguk sebagai balasan. "Yu, sepertinya ini punya Raisa," bisik Ridho menyerahkan gantungan ponsel berbentuk bintang. "Ya, gue pilih bintang aja." "Kenapa? Bulan kan indah juga." "Ya, kedua-duanya indah. Nggak ada alasan spesifik sih cuma ini kan cuma pilihan, ya begitulah ... ketika sudah memilih a nggak bisa milih b, kan? Jadi beli nggak nih?" "Yaudah, iya lo ambil aja, gue bayar dulu." Yuda tersenyum mengenggam gantungan bintang tersebut. "Sorry, Raisa, pilihan gue a dan gue enggak bisa milih b lagi," gumam Yuda menatap pintu kamar inap Raisa.  -Hati perempuan mudah sekali tersentuh oleh kebaikan sekecil apa pun, tak terkecuali hati aku ini- *** "Kamu tidur aja dulu." Raisa menggeleng, menatap satu persatu temannya yang menjenguk dia. Ketika Raisa tersadar dia langsung meminta pulang ke rumah. Dan sudah sehari dia berada di rumah, belum diperbolehkan ke sekolah oleh Bunda. "Kalian kenapa enggak ganti baju dulu? Besok …." "Cek Gu, nanti ya nasehati kami. Ini makan dulu udah dikupasin," potong Bela menyuapi apel. "Ehkm, kami ke bawah dulu ya, tadi kata Tante udah dimasakin sayang kan kalau mubazir. Lo Yud, nggak apa-apa kan ditinggalin?" ucap Rijal memberi isyarat pada yang lain untuk meninggalkan kamar Raisa. "Kalau Yuda ngapain lo, lo teriak aja ya, Raisa," kata Kinta. Yuda menutup pintu kamar lantas berjalan mendekati Raisa. Menanyakan apakah ada yang diperlukan Raisa. "Mau turun juga?" Raisa mengangguk. "Yaudah, aku gendong, ya?" Raisa menepuk bahu Yuda berulang kali. "Udah ah, Yu, gue masih bisa jalan. Manggil lo gue aja, ah." "Kenapa? Kamu enggak suka? Tapi kok mukanya merah?" Raisa menatap Yuda diam, dia sudah berjanji untuk tidak bersikap buruk pada lelaki itu karena telah menolongnya. "Kenapa, sayang? Kamu marah?" Yuda membelai wajah Raisa yang masih menatapnya lekat. "Lo enggak apa-apa, kan?" tanya Raisa membuat Yuda menautkan alisnya. "Wajahmu masih memar, belum diobati?" Yuda tersenyum simpul, menarik tangan Raisa untuk membelai wajahnya. "Nah, begini pasti cepat sembuh." Raisa tersenyum pelan, dia bahkan tidak melepaskan tangannya dari genggaman Yuda. "Thanks, udah datang," gumam Raisa, "sorry, gue sering bersikap enggak baik sama lo tapi lo masih mau nyelematin gue." Raisa mencoba tertawa pelan. "Lo enggak laper?" alih Raisa mencoba menjauhkan dirinya dari Yuda yang membalasnya menatap lekat. "Gue laper nih, yuk turun!" ajak Raisa menarik tangan Yuda yang terkekeh sembari mengikuti Raisa. *** Raisa membalikkan badannya memasuki rumah setelah sekian menit berdiri di luar sejak mengantar kepulangan temannya. Langit kejinggaan pertanda malam akan segera tiba. "Raisa ...." Tangannya hendak memutar knop pintu ketika suara bazz yang dikenali memanggil namanya. Perlahan Raisa berbalik mendapati Yuda yang berjalan ke arahnya. "Kenapa, Yu? Ada yang tertinggal?" tanyanya setengah panik. Yuda membalas dengan cengingiran, mendekati Raisa lalu mengelus kepalanya lembut. "Aku cuma lupa bilang kalau besok aku jemput kamu." Raisa menautkan alis. "Jemput?" "Iya, kita pergi sekolah bareng. Bunda enggak bilang udah ngebolehin kamu?" Raisa menggeleng. Yuda menyuruh Raisa untuk masuk segera dan istirahat. "Enggak, aku tunggu kamu pulang beneran," tolaknya yang ingin menunggu Yuda menaiki motor dan berlalu dari rumahnya. "Kamu perhatian deh," goda Yuda membuat Raisa tersipu. "Udah berani manggil aku, kamu lagi," lanjutnya mendapat cubitan kecil di lengan. "Aww, iya-iya, aku pulang," ucap Yuda akhirnya menyerah lantas menaiki motor, menghilang dari pandangan Raisa yang masih setia berdiri di luar padahal sudah sejak dari lima menit lelaki asing yang tiba-tiba mengusik hidupnya itu pergi. "Sayang ayo masuk, udah malam ini!" teriakan lembut Bundanya dari dalam menggerakkan langkah Raisa untuk berbalik dan masuk ke dalam rumahnya. "Raisa!" "Apa lagi Yuda?" Raisa merasa bersalah ketika mendapati lelaki itu memandangnya dengan senyum miris. Bukan kehadirannya yang ditunggu melainkan orang lain. Dan dia sadar bahwa seharusnya hatinya tidak berharap lebih. "Maaf, Atha, gue pikir lo-tadi Yuda. Maaf," sesal Raisa mendapat anggukan kecil dari Atha. "Lo udah baikan?" tanya Atha mencoba memastikan keadaan Raisa yang bikin dia khawatir selama dua hari ini. Raisa mengajak Atha untuk masuk ke dalam agar mereka bisa berbincang lebih nyaman tapi Atha menolaknya karena malam sudah tiba. "Gue pulang aja, tadi lewat sini cuma mau mastiin lo baik-baik aja. Sorry, kemarin belum sempat jenguk, biasa masalah sekolah," akunya meski sebenarnya dia ingin sekali lebih lama mengobrol dengan Raisa. "Semoga besok lo udah bisa sekolah," pungkasnya meminta pamit untuk pulang. "Hati-hati," ujar Raisa mendapat anggukan dari Atha. Setelah memastikan kalau Atha sudah menghilang dari pandangannya dia masuk ke dalam rumah. "Gue bakal mundur demi kebahagiaan lo, Raisa tapi kalau dia nyakitin lo, gue orang pertama yang akan bikin dia terluka." Yuda calling. Seulas senyum mengembang di bibir Raisa. "Aku udah sampai kamu enggak perlu cemas ya, Sayang." Raisa melepaskan baju hangat lantas duduk di atas kasur. "Iya, syukurlah. Jangan lupa shalat maghrib." Suara helaan napas di seberang sana terdengar beberapa kali. "Kenapa, Yu? Belum bulan purnama, kan?" Tawa renyah Yuda menggelitik pendengaran Raisa. "Meski aku keliatan kebangetan premannya tapi lima waktu enggak boleh lupa." "Maaf." "Buat?" "Karena aku berpikiran buruk tentangmu." Yuda kembali tertawa. Di kamarnya dia menatap langit kamar. Sesuatu perasaan asing mengganjal di hatinya, mengingat suara Rijal tadi selepas pulang dari rumah Raisa. "Lo lihat gimana tatapan Raisa ke lo sekarang, sangat berbeda. Lo yakin masih mau ngelanjutinnya?" "Kenapa, Yu?" Yuda tak menjawab. "Yaudah aku tutup ya, nanti keburu habis maghribnya. Wassalamualaykum." Raisa bangkit masuk ke kamar mandi untuk berwudhu.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD