Sebagai NPC atau Non Player Character, peran Hilda tidak seperti para target yang ada di sekitar Arabella. Peran Hilda adalah untuk membantu Arabella untuk mendapatkan para target itu. Dia yang akan memberitahukan seberapa besar ketertarikan target pada Arabella. Selain informasi itu, Hilda juga memberikan informasi lainnya, seperti apa yang target sukai dan keberadaan target. Jadi, Arabella bisa lebih tahu apa yang sebaiknya dia lakukan.
Sisi ini lah yang menurutku mencurigakan. Bagaimana bisa Hilda yang hanya seorang pelayan istana bisa mengetahui semua itu? Masih bisa dipahami kalau dia hanya tahu keberadaan Rafael, tetapi dia juga tahu keberadaan dan informasi pribadi target yang lainnya.
Begitu selesai membersihkan wajah dan tubuhku, aku membunyikan bel di sebelah pintu untuk memanggil Hilda dan pelayan lainnya. Bagaimana pun aku masih perlu bantuan dalam memakai pakaian. Memang tidak serumit pakaian wanita, tetapi sebetulnya pakaian pria di kerajaan ini juga lumayan menyusahkan.
Tak lama setelah bunyi ‘kring’ terdengar, Hilda dan lainnya pun datang.
“Tolong pakaikan bajuku.” perintahku.
Hilda sejenak terdiam. Wajahnya menunjukkan bahwa dia bingung akan sesuatu. Sementara pelayan lain di belakangnya pun tidak terlalu berbeda. Mereka saling berpandangan satu sama lain.
Keheningan tidak berlangsung begitu lama. Mereka ambil bagian pakaian yang belum ku pakai, lalu memakaikannya di badanku.
Aku memperhatikan bagaimana mereka memakaikan bajuku agar nantinya aku bisa memakainya sendiri. Karena... aku lumayan malu di usiaku yang segini masih harus dipakaikan baju seperti bayi.
Begitu semua sudah rapi, mereka kembali undur diri dengan teratur. Tugas mereka berikutnya adalah membawakan sarapan untukku.
Sarapan datang dengan cukup cepat. Di kereta dorong yang para pelayan bawa terdapat beberapa makanan yang terlihat tidak terlalu menggugah selera. Telur goreng, sosis goreng, jamur goreng, tomat goreng… kenapa semuanya di goreng!?
Di antara semua makanan itu, mungkin yang tidak digoreng hanya roti panggang dan kacang-kacangan. Melihat semua itu membuatku mendengus kasar. Lidah Asia-ku sepertinya akan sulit menerima ini. Tapi berhubung sudah terlanjur dibawakan, terpaksa aku harus menerimanya.
Belum juga aku mengambil garpu dan pisau, seorang pelayan maju dan memakan sedikit bagian dari makanan-makanan itu. Satu persatu dia memotong dan memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Begitu selesai, dia kembali mundur.
“Kami sudah selesai memeriksanya dan memastikan bahwa hidangan ini aman. Silakan dinikmati, Yang Mulia.” ucap Hilda melaporkan.
Aku belum terbiasa dengan hidup seperti ini. Bahkan makanan pun tidak bisa langsung ku makan.
Sedikit-sedikit aku makan berbagai gorengan di atas meja itu. Tapi, baru gigitan pertama saja aku yakin tidak bisa menghabiskannya. Akhirnya, kutaruh kain lap di pahaku ke atas meja dengan malas.
"Tolong bawa ini lagi ke dapur." perintahku pada para pelayan.
Meski masih nampak heran, mereka tetap menjawab serentak, "Baik, Yang Mulia."
Baru setelah itu mereka membereskan makanan di mejaku dan menaruhnya kembali di troli dan membawanya keluar.
.
Orang berikutnya yang datang menghadapku adalah seorang pria tua berambut putih dengan pakaian tuksedo rapi berwarna hitam. Nama pria tua itu adalah Sebastian, kepala pelayan istana yang saat ini juga merangkap sebagai asisten Rafael. Selama Rafael berada di asrama sekolah sihir, dia lah yang mengatur segala keperluan di istana dan melaporkannya pada Rafael dan raja.
Gim ini memang terlalu klise. Sampai-sampai nama kepala pelayannya juga pakai yang paling umum di antara yang ter-umum. Entah sudah berapa komik, novel, anime, dan film yang menggunakan nama ‘Sebastian’ sebagai nama orang yang berprofesi sebagai kepala pelayan.
“Masuklah, Sebastian.” kataku.
Pria itu pun masuk. Di tangannya dia membawa sebuah buku berukuran sekitar A5 dengan sampul kulit warna coklat muda.
“Selamat pagi, Yang Mulia Putera Mahkota. Hamba membawakan jadwal Yang Mulia hari ini. Izinkan ham…”
Aku memotong kalimat Sebastian, “Berikan padaku jadwalnya. Akan k*****a sendiri.”
Entah kali berapa aku membuat orang lain terkejut pagi ini, tapi reaksi itu juga terjadi pada Sebastian.
“Baik, Yang Mulia.” katanya sambil menyerahkan buku di tangannya padaku.
Aku pun menerima buku itu dan k*****a satu per satu tulisannya. Seperti yang ku duga, hanya jadwal padat untuk seorang putera mahkota.
“Sebastian, bisa kau bawakan data-data para pekerja di istana ke ruang kerjaku? Aku sudah cukup lama tinggal di asrama sekolah, karena itu aku agak lupa dengan orang-orang yang ada di sini.” alasanku
Tanpa menanyakan apa pun, Sebastian menyanggupi, “Baik, Yang Mulia. Akan segera saya bawakan. Hamba pamit undur diri.”
“Ya.” balasku.
Setelah merapikan pakaianku, aku beranjak dari kamar tidur menuju ruang kerja Rafael yang berada tidak terlalu jauh. Untuk menuju ruangan itu, aku hanya perlu menempuh jarak puluhan langkah dan satu kali belokan. Kemudian, begitu ada pintu kayu besar berukiran bunga lili, itu lah ruangan kerja Rafael.
Ini adalah kali keduaku di sini, tapi aku masih merasa takjub melihatnya. Tidak hanya meja kerja, kursi dan sofa tamu saja, di sini juga terdapat banyak buku sihir dan pelajaran tentang tata negara. Selain itu, ada bilik untuk eksperimen sihir yang terhubung dengan ruang hampa sehingga jika melakukan sihir yang heboh tidak akan merusak apa pun.
Tetapi, yang membuatku tidak habis pikir adalah bahwa Rafael sama sekali tidak memanfaatkan fasilitas ini dengan baik. Di dalam game yang Jihan mainkan, ruangan ini hanya Rafael jadikan tempat nongkrong bersama Arabella dan teman-temannya setelah kelulusan. Sungguh sangat disayangkan.
Sebastian dan dua orang pelayan datang dengan membawa troli berisi tumpukan buku dan kertas. Mereka langsung kuminta masuk dan menaruhnya di sebelah meja kerja Rafael.
“Pelajaran dimulai pukul 9, bukan? Ini baru pukul 8, aku akan baca-baca di sini dulu. Tolong ditinggal saja.”
Sebastian dan para pelayan lainnya sambil membungkuk menjawab, “Baik, Yang Mulia.”
Mereka kemudian keluar dari ruangan meninggalkanku sendirian di ruangan ini. Aku pun tanpa membuang waktu langsung mencari data-data milik Hilda yang aku yakin ada di tumpukan buku yang tadi aku minta.
“Ya gusti… ini tuh datanya disusun berdasarkan apa, sih? Berantakan banget.” gumamku.
Kelihatannya sistem administrasi di kerajaan ini cukup jelek. Semua data disusun dengan tidak beraturan sehingga sulit dibaca. Mereka hanya memisahkan data sesuai divisinya, tetapi tidak diurutkan sesuai abjad maupun tahun bergabungnya. Setiap ada data baru, mereka tidak menggabungkannya dengan data orangnya, tetapi hanya dituliskan di lembaran buku baru. Tidak ada tabel maupun grafik juga yang bisa memudahkan untuk orang lain pahami. Ini membuatku kangen pada Excel yang super praktis dari duniaku.
Setelah hampir satu jam mencari data Hilda, yang kudapatkan hanyalah data-data yang sama dengan yang kudapat dari game. Tidak ada hal baru yang bisa kupelajari. Dan ujung-ujungnya, aku tutup lagi semua buku yang telah k****a.
‘Tok! Tok!’
“Mungkin guruku sudah datang.” Batinku.
“Yang Mulia, saya Andreas!” seru Andreas dari balik pintu.
Dari suaranya yang cukup keras, sepertinya apa yang ingin dia sampaikan cukup penting.
“Masuklah!” balasku lantang.
Pintu kemudian terbuka dan Andreas masuk dengan cukup tergesa. Pria berbadan besar itu menundukkan kepalanya, memberi salam padaku.
“Saya bermaksud untuk memberikan laporan tentang keluarga Duke Vone.” ucapnya.