Andreas lalu menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Baru setelah itu dia melanjutkan kata-katanya.
“Sebelum itu, saya ingin meminta maaf karena apa yang saya sampaikan bukan hal yang berkenan untuk Yang Mulia.”
Seperti prediksiku, hal ini tidak akan berakhir baik. Sayang sekali aku harus mempersiapkan telingaku untuk mendengarkan berita yang tidak kuinginkan ini.
“Pasukan sihir istana sudah menyebar ke seluruh wilayah siluman. Tetapi menurut laporan mereka, wilayah itu sepi tanpa ada satu siluman pun yang menampakkan diri.” jelas Andreas.
“Sepi? Lalu, bagaimana dengan tanggapan raja? Apa baginda sudah diberi tahu?” tanyaku.
Andreas menjawab, “Pimpinan para prajurit itu sudah melaporkannya pada baginda. Lalu, baginda meminta untuk menarik seluruh prajurit itu kembali.”
Oh, tidak... Aku yakin ini adalah bagian dari rencana para siluman itu.
“Apa baginda memberi perintah untuk menghentikan penyidikan?” tanyaku lagi.
“Benar, Yang Mulia. Baginda merasa bahwa menghilangnya para siluman itu adalah hal baik, karena artinya para siluman sudah menyerah.” jawab Andreas.
“Tetapi…” Andreas lanjut berkata, “Saya meyakini bahwa ini belum berakhir. Karena itu, Yang Mulia…”
Andreas tiba-tiba berlutut.
“Izinkan saya melakukan penyelidikan secara rahasia.” pintanya dengan lantang dan serius.
Mendengar itu, aku menyunggingkan salah satu ujung bibirku. Apa maksudnya rahasia?
“Rahasia? Bukankah semua tindakan pejabat istana harus di bawah kehendak raja? Seharusnya kau meminta izin pada raja, bukan padaku.” ucapku sinis.
Wajah Andreas nampak merah padam, terlihat dari telinganya. Mungkin dia merasa malu dan tidak suka disindir seperti itu. Tetapi, agaknya dia tidak marah, karena kepalanya masih tertunduk.
“Karena saya yakin Yang Mulia akan memberikan perubahan pada kerajaan ini.” ucapnya.
Alasan yang Andreas berikan belum bisa ku terima. Memang benar bahwa kerajaan ini tidak sepenuhnya sempurna, tetapi tidak perlu juga sampai melakukan suatu perubahan. Hanya saja untuk saat ini aku membutuhkan banyak informasi tentang dunia ini. Karena itu aku pun memutuskan untuk mendengarkannya.
“Saya tidak bermaksud untuk melakukan penghianatan pada raja maupun keluarganya. Tetapi, saya yakin Yang Mulia Putera Mahkota sendiri melihat bagaimana Baginda Raja selama sepuluh tahun kepemimpinannya.” tidak seperti sebelumnya, Andreas berkata dengan volume suara yang cukup lirih.
Entah telinga dan mulut siapa yang tertempel di sana, siapapun harus berhati-hati saat membicarakan para bangsawan. Terlebih jika sekelas keluarga kerajaan. Bahkan Rafael sendiri tidak bisa sembarangan menjawab.
“Karena kejadian kemarin, saya paham betul Yang Mulia tidak bisa percaya pada saya sepenuhnya. Tetapi, saya mohon Yang Mulia untuk tetap melanjutkan penyelidikan. Apakah Yang Mulia lupa bagaimana perlakuan jahat Nona Eliza pada Nona Arabella? Saya yakin Nona Eliza memiliki alasan melakukannya.”
Mendengar itu hampir saja aku tertawa. Kini aku tahu alasan Andreas sebenarnya, yang tidak lain adalah untuk meringankan hukuman untuk Eliza. Apanya yang demi kerajaan yang lebih baik? Apanya yang perubahan? Andreas… Andreas… badan sebesar itu, tetapi pikirannya masih polos dalam hal percintaan.
“Kamu tahu sendiri aku tidak memiliki kekuatan apa pun di istana ini. Jadi, sepertinya aku tidak bisa berbuat apa pun tentang permintaanmu itu.”
Andreas menggigit bibirnya sendiri, kemudian berkata, “Mohon maaf, Yang Mulia. Bukankah Yang Mulia Ibu Suri adalah pendukung Yang Mulia? Saya yakin beliau bisa membantu Yang Mulia. Saya yakin pengaruh beliau sama besarnya dengan baginda raja di negara ini.”
“Ibu Suri juga dari keluarga Vone, apa kau lupa?” tanyaku.
Saat ini Eliza Y’ Vone berstatus buronan. Wanita itu sudah pasti tidak mau anggota keluarga yang dia junjung tinggi selama ini dihukum setelah ditemukan. Apa lagi yang menjadikan Eliza sebagai terdakwa adalah Rafael sendiri.
Meskipun statusnya adalah Ibu Suri, Laura T’ Danique bukanlah sembarang orang yang akan tunduk pada raja. Seperti perkataan Andreas tadi, wanita itu memiliki pengaruh yang sama besarnya dengan raja. Bahkan karena itu, raja juga ingin menyingkirkannya dengan cara menjebak Eliza dan keluarganya. Dugaanku setelah keberadaan mereka tidak ditemukan, terpaksa raja menyerah karena akan sulit berkonfrontasi dengan Ibu Suri. Dia tidak memiliki persiapan yang matang.
Dari awal mungkin ini adalah cerita yang sulit untuk diubah. Meskipun aku berusaha mengubah cerita dengan mengirim prajurit untuk menyusul Eliza dan keluarganya, semua kejadian tetap berlangsung seperti cerita aslinya di game.
“Sudahlah, Andreas. Aku yakin baginda raja bukannya tidak akan melakukan apa pun.” ucapku.
Semoga saja apa yang ku bilang tadi memang benar. Kalau tidak, berarti terpaksa tragedi akan terjadi.
“Tapi, Yang Mulia.” Andreas masih berusaha membujukku.
“Lebih baik kau memeriksa gerak-gerik bangsa siluman yang ada di wilayah kita. Barang kali mereka mengikuti jejak siluman lainnya atau tidak. Atau jangan-jangan kalian juga sudah memeriksanya?”
Andreas menjawab, “Mohon maaf, saya sama sekali tidak mendapatkan laporan mengenai hal itu.”
Kerajaan ini maupun duniaku mungkin terlalu damai, sampai-sampai sering lengah dan hal seperti ini pun terlewati. Siluman di dunia ini tidak hanya tinggal di wilayah mereka. Beberapa dari ras mereka datang di dunia manusia sebagian sebagai b***k. Kalau nasib mereka sedikit beruntung, mereka bisa menjadi prajurit sewaan maupun pedagang kecil.
Kalau tidak salah, di antara lima target cinta Arabella ada satu orang yang berasal dari bangsa setengah siluman. Aku hanya ingat bagaimana fisiknya yang berbulu hitam dengan telinga anjing atau serigalanya. Sedangkan namanya, aku lupa karena cukup sulit diucapkan.
“Kalau begitu lakukan lah. Jika sudah ada laporan, kita akan lanjut ke langkah berikutnya.” perintahku.
“Bukankah ini terlalu membuang waktu, Yang Mulia. Secepatnya Eliza…”
Aku memotong kalimat Andreas dengan paksa, “Aku bilang selidiki dulu soal siluman yang ada di kerajaan." lanjutku "Oh iya, sekalian carikan aku seorang prajurit bayaran setengah siluman. Telinganya seperti anjing… serigala… hm… dan bulunya hitam.”
Andreas mengerutkan dahinya, lalu bertanya, “Apakah maksud Yang Mulia itu Schwarlk Brugman?”
“ITU DIA!!!” seruku dalam hati.
Nama prajurit bayaran yang sulit tiada tara itu terucap dengan lancar dari mulut Andreas. Sungguh orang tua mana yang memberi nama anaknya dengan nama sesulit dan seaneh itu. Tetapi berkat Andreas aku jadi teringat tentang latar belakang tokoh bernama Schwarlk Brugman ini. Mungkin ingatanku akan muncul jika mendengar nama para tokoh game ini. Sama saat seperti dengan Hilda.
“Iya! Maksudku dia. Bawa dia ke hadapanku, bagaimana pun caranya.” perintahku.
“Baik, Yang Mulia!” sahut Andreas yang kemudian beranjak dari ruangan ini.
Sekarang aku paham bagaimana mekanisme otakku di dunia ini. Kecuali beberapa orang yang aku ingat namanya, yang lainnya harus disebutkan namanya dulu. Baru setelah itu ingatan mereka akan muncul. Bahkan sepertinya aku mulai bisa menyebutkan nama aneh tadi.
“Sch..warl..k Brugman. Schwarlk Brugman. Yes! Bisa! Fyuh…” gumamku.
Karena terlena dengan keberhasilan kecilku itu, aku jadi lupa bahwa sekarang adalah jadwalnya Rafael untuk belajar. Suara ketukan pintu terdengar berkali-kali menunggu jawaban dariku.