Menjadi bagian dari keluarga kerajaan bukan berarti bebas dari segala hal. Selain menjadi wakil rakyat, keluarga kerajaan harus melakukan pengabdian selama beberapa tahun. Dan sebelum itu, keluarga kerajaan perlu dibekali beberapa hal yang berguna di masa pengabdiannya itu.
Contohnya seperti Rafael yang sudah dipastikan akan masuk ke barisan prajurit sihir kerajaan. Rafael yang sudah lulus sekolah sihir tidak bisa langsung terjun ke lapangan terlebih dahulu, karena ada tuntutan bahwa seorang keluarga kerajaan harus menjadi seorang pemimpin. Karena itu lah beberapa guru ditunjuk untuk membantunya. Jelas ini menguntungkan bagiku yang tidak ingat tentang sihir yang digunakan oleh Rafael.
Ada tiga orang guru yang ditunjuk untuk mengajariku. Masing-masing mengajari sihir tingkat tinggi, strategi perang, dan ilmu politik. Seperti pada tokoh yang lainnya, begitu nama mereka disebut aku langsung ingat bagaimana karakter mereka di game. Mereka antara lain adalah Rowen N' Myer yang mengajarkan sihir tingkat tinggi, Marchioness Lacus Y' Sheon yang mengajarkan strategi perang, dan Marquiss Justine Y' Gada yang mengajarkan ilmu politik. Saat ini mereka baru saja selesai memperkenalkan diri mereka satu persatu.
"Saya sangat senang dan bangga dapat menjadi guru pribadi pangeran mahkota. Saya berjanji akan mengajarkan segala hal yang saya ketahui dengan baik." ujar Marchioness Sheon yang merupakan satu-satunya guru wanita yang mengajarkanku.
Sayup-sayup terdengar suara seseorang yang menahan tawa. Ku perhatikan Marquiss Gada sedikit memiringkan sudut bibirnya, bisa ku tebak tadi dia lah yang menahan tawa. Sebetulnya tanpa melihat pun aku sudah tahu ketidaksukaan Marquiss Gada kepada Marchioness Sheon. Karena di dalam ingatanku tentang mereka, terlihat jelas konflik yang terjadi di kemudian hari.
Dalam game diceritakan bahwa Marquiss Gada meremehkan Marchioness Sheon yang merupakan seorang prajurit wanita. Selain itu, dia juga menganggap bahwa ilmu tentang strategi perang tidaklah dibutuhkan di negara yang damai ini. Marquiss Gada pasti tidak akan menyangka bahwa justru Marchioness lah yang akan sangat berjasa untuk negara ini.
"Terima kasih, Marchioness. Saya sangat menantikan kuliah... mm... maksud saya kelas kita." sahutku.
Marquiss Gada yang sepertinya tidak suka dengan jawabanku pun berkata, "Di bawah ajaran kami, akan kami pastikan bahwa Yang Mulia Putera Mahkota akan berdiri kokoh dan menjadi pemimpin yang bijaksana. Mohon percayakan semua pada kami, Yang Mulia."
Di depan ku memang dia berkata seperti mewakili ketiganya, tetapi entah apa yang ada di kepalanya. Dia memang bukan orang jahat, hanya sedikit berpikiran sempit saja. Terkadang orang-orang seperti itu mungkin yang paling merepotkan, tetapi bukan berarti tidak bisa diajak bekerja sama. Semoga saja aku sanggup menghadapinya.
Sementara itu, Tuan Myer tak bersuara sedikit pu kecuali saat berkenalan tadi. Dalam game memang digambarkan bahwa salah satu pentolan menara sihir ini tidak terlalu banyak bicara. Tetapi, tidak ku sangka dia orang yang sediam ini. Bahkan sedari tadi dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Mengenai kelas, bukankah siang ini kelas saya dan Tuan Myer akan dimulai bukan? Apakah ada yang perlu saya persiapkan sebelumnya?" Aku bertanya untuk memancing agar dia berbicara.
"Tidak ada... Yang Mulia." jawabnya singkat.
As expected, but not really. Jadi penasaran bagaimana kelasnya berjalan nanti. Semoga saja aku tidak belajar sendiri. Karena saat ini dia adalah salah satu orang yang paling aku butuhkan.
Waktu perkenalan berjalan begitu saja. Kami berempat hanya membicarakan tentang jadwal kuliah dan gambaran kasar tentang apa yang akan dipelajari di kelas nanti. Selain itu, mulai sekarang aku tidak memanggil mereka dengan gelar, melainkan dengan sebutan 'Professor'. Mungkin ini terjemahan dari sebutan 'sensei' yang digunakan di game.
Lalu, kelas siang bersama Prof. Myer pun tiba. Dia yang datang tepat waktu nampak tak membawa bahan ajar apa pun di tangannya. Kupikir dia akan mengajar tanpa buku, karena dia adalah masternya master sihir. Tetapi, sudah tiga puluh menit ku tunggu, kelas tidak kunjung dimulai.
"Anu... Prof., kira-kira kapan kelas kita dimulai?"" Tanyaku.
Professor Myer yang sedari tadi diam saja sambil memperhatikanku lalu menjawab dengan kesal, "Aku sedang berkonsentrasi. Apa bisa kau diam sebentar?"
Woah! Selama dua hari aku menjadi Putera Mahkota, baru kali ini ada orang yang berbicara dengan nada seperti itu padaku. Bahkan raja saja masih tergolong lembut.
Professor Myer memiliki penampilan seperti anak muda seumuranku. Dia tinggi, berkulit halus tanpa kerutan, dan meskipun aku geli mengatakannya, dia cukup tampan. Meskipun dibandingkan para tokoh utama pria di game ini dia tidak ada apa-apanya, perlu ku akui dia lebih tampan dibandingkan tiga orang teman kuliahku. Tetapi, di balik penampilan mudanya itu, umurnya sudah lebih dari dua kali lipat umur sang raja. Artinya, dia sudah mengabdi di kerajaan ini selama tiga generasi. Pasti karena itu dia berani meninggikan suaranya padaku.
Pria itu mengetuk-etukkan jarinya di sandaran kursi tempat duduknya. Matanya yang memicing semakin menyipit di balik kacamata tebalnya. Aku biasa diperhatikan oleh orang-orang sekitarku, tetapi tidak pernah ada yang terang-terangan seperti ini.
"Ini sangat aneh..." gumamnya.
Tidak. Anda lah yang aneh, Prof. Karena terus-terusan melotot padaku tanpa berkata apa pun. Ingin sekali rasanya aku berkata begitu, tetapi aura di sekitarnya membuatku tidak berani.
"Kamu... bukan Rafael."
Ucapan Prof. Myer membuatku terkejut. Ku pikir tidak akan ada orang yang bisa mengetahui hal ini. Bahkan aku tidak yakin bahwa teori transmigrasi maupun reinkarnasi akan terlintas di otak orang-orang di dunia ini.
"Bagaimana bisa ini terjadi? Ini pasti sebuah pertanda buruk! Transmigrasi dari dunia lain hanya terjadi saat bencana besar akan terjadi!"
"Aku tidak ingin meyakininya. Tetapi berkali-kali aku mencoba melihat jiwa Yang Mulia, hasilnya teta sama saja! Aaaarrggghhh!!!"
Rupanya itu tujuannya memperhatikanku selama itu. Untuk melihat jiwa yang merasuki Rafael. Mata batinnya sebagai seorang penyihir pasti telah melihat sesuatu sedari awal. Tetapi, sebagian besar orang di dunia ini memiliki kekuatan sihir. Apakah keanehan di jiwa Rafael hanya bisa dideteksi oleh orang dengan kekuatan sihir tinggi seperti Prof. Myer? Dan kalau dia tahu, apakah dia akan memberitahu pada orang lain bahwa yang ada di tubuh ini bukanlah Rafael Sang Putera Mahkota, melainkan aku yang berasal dari dunia lain?
"Apa maksud Anda, Prof?"
Sementara waktu aku harus berpura-pura bodoh untuk mengetahui apa yang akan dia lakukan. Kalau sekarang aku mengaku, bisa saja sesuatu yang tidak ku inginkan justru terjadi.
Sekali lagi dia melirikku tajam. Kepanikan yang ada padanya begitu tersorot dari mata itu. Dia nampak begitu ketakutan, tetapi masih mencoba menyembunyikan rasa takut itu.
"Kamu... Tidak. Anda..." Prof. Myer mengubah sebutannya menjadi formal.
"Haa... saya tidak akan memberitahukan pada siapa pun tentang Anda, jadi Anda tidak perlu berpura-pura tidak tahu." lanjutnya.