Ini adalah dunia yang tidak aku ketahui. Banyak sifat orang-orangnya juga yang tidak ku ketahui. Bahkan di dunia asalku pun banyak orang yang berpura-pura dan sampai menjebak orang lain agar jatuh ke perangkapnya. Jadi, meskipun dia sudah berkata demikian, aku harus tetap berhati-hati.
"Saya sama sekali tidak paham dengan maksud Professor. Mohon maaf atas kebodohan murid ini." Kataku.
Guru sihir itu membuang napasnya dengan sedikit kasar.
"Yang Mulia, keberadaan Yang Mulia... maksud saya sosok yang ada di dalam raga Yang Mulia saat ini adalah orang yang akan membawa petaka sekaligus keberuntungan bagi negeri ini. Tetapi, informasi tentang Yang Mulia adalah hal yang menara sihir rahasiakan. Jadi, saya mohon percayalah bahwa saya tidak akan membocorkan rahasia apa pun tentang Yang Mulia saat ini." katanya meyakinkan.
Informasi yang dirahasiakan oleh menara sihir. Sepertinya hal ini tidak diceritakan dalam game. Apa ini tidak ada hubungannya dengan kebangkitan Arabella sebagai orang suci dan terbukanya segel Raja Siluman?
"Selain itu, bukankah Yang Mulia membutuhkan saya mengenai sihir dari dunia ini?" lanjutnya.
Dugaan Prof. Myer tepat sasaran. Memang saat ini aku membutuhkan seseorang untuk memberitahukanku tentang sihir. Memang sebelum pria berjubah hijau ini datang untuk kelas siangnya, aku sudah sedikit membaca-baca koleksi di ruangan ini. Tetapi agar lebih paham, aku tetap membutuhkan seorang guru.
"Huh... sepertinya saya tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Professor. Saya akui bahwa saya memang bukan Rafael. Tepatnya saya adalah Rafael, tetapi bukan Putera Mahkota Rafael T' Danique. Saya takjub. Bagaimana bisa Professor membuka identitas saya yang sebenarnya."
Aku pun mengaku. Lagi pula kalau dipikir-pikir, kalau dia memberi tahu orang lain pun akan sulit dipercaya. Karena seperti yang sudah ku bilang, tidak ada konsep transmigrasi dan reinkarnasi di dunia ini.
"Saya senang Yang Mulia percaya pada saya." ujarnya.
Saat ini Professor Myer sudah lebih tenang dari beberapa saat lalu. Mungkin ini sudah saatnya untuk menanyakan hal-hal yang dia sampaikan tadi.
"Sebelum kelas kita dimulai, apakah saya boleh menanyakan sesuatu?" tanyaku.
"Silakan, Yang Mulia." sahutnya.
"Tentang yang Professor katakan tadi tentang rahasia menara sihir, apakah saya boleh mengetahuinya?"
Seperti biasanya, aku bukanlah ahli berbasa-basi. Pertanyaan apa pun yang membuatku penasaran akan langsung aku ajukan tanpa menunda-nunda. Aku masih harus banyak belajar tentang hal ini.
"Tentu saja. Justru Yang Mulia wajib mengetahuinya." jawabnya.
Baru setelah itu dia menceritakan tentang informasi yang dia maksud.
Berdasarkan cerita Prof. Myer, keberadaanku di dunia ini memang sudah diramalkan sejak dulu. Semua itu tertulis di dalam relic berbahasa kuno yang disimpan oleh menara sihir selatan. Sayangnya yang tertulis dalam relic itu tidak begitu jelas. Karena itu, tidak ada seorang pun yang tahu kapan jiwa dari dunia lain itu akan datang dan pada siapa akan masuk. Selain itu, diramalkan pula bahwa kedatangan jiwa dari dunia lain sudah dipastikan akan bersamaan dengan suatu marabahaya. Tetapi, jiwa itu juga lah yang akan melenyapkan marabahaya itu.
"Apakah ini ada hubungannya dengan kebangkitan Raja Siluman?"
Penyerangan bangsa siluman di wilayah kerajaan ini adalah salah satu konflik utama dalam game "Oh, My Beautiful Shilla'. Jangan-jangan aku yang notabene adalah jiwa dari dunia lain ini lah yang seharusnya mengalahkan Raja Siluman, bukannya Arabella.
"Itu hanya awalnya saja." katanya sambil menggelengkan kepalanya.
Kemudian dia melanjutkan kata-katanya, "Sejujurnya menara sihir selatan tempat saya mengabdi juga tidak begitu tahu apa yang dimaksud dengan bencana. Dalam relic yang kami baca, tidak digambarkan bencana apa, melainkan hanya separah apa bencana yang akan terjadi."
"Apakah keparahan bencana itu sampai menghancurkan kerajaan ini?" tanyaku lagi.
Sekali lagi Prof. Myer menggeleng, lalu menjawab, "Kehancuran kerajaan ini tidak sebanding dengan bencana yang diramalkan."
Artinya akan ada bencana yang lebih besar dibandingkan dengan p*********n pasukan siluman.
"Lalu, hal terakhir dari ramalan itu menyatakan bahwa ada dua jiwa yang akan datang. Sementara ini, baru Yang Mulia lah yang saya temukan."
Aku hampir saja bernapas lega, karena berpikir bahwa bencana yang dimaksud masih lama terjadinya. Namun, Prof. Myer menambahkan.
"Untuk jiwa yang lainnya, saya belum bisa menemukannya. Tetapi jika satu sudah datang, bisa saja yang satunya juga sudah. Kita harus tetap waspada."
Tiba-tiba tenggorokanku mengering. Jujur saja aku tegang mendengarnya. Melihat ilustrasi p*********n raja siluman saja sudah semenyeramkan itu, apa lagi kalau skala yang lebih besar?
Untuk menenangkan diri, aku meraih segelas teh yang disiapkan di atas mejaku. Tanpa sengaja aku justru menyeruputnya sampai habis tak bersisa.
Begitu menaruh kembali cangkir teh ke meja, aku kembali bertanya, "Lalu, apa yang sebaiknya saya lakukan?"
Jawabnya, "Tidak ada. Yang Mulia hanya perlu mengikuti insting. Karena itu yang tertulis dalam relic."
KIni aku bisa memahami kenapa seorang gamer akut mengatakan bahwa kehidupan nyata adalah game busuk. Bagaimana bisa sebuah bencana yang sudah diramalkan tidak memiliki penanganan. Pedang legenda yang khusus misalnya, atau tiba-tiba diberikan kekuatan yang melimpah seperti di anime-anime itu.
"Yang Mulia adalah orang yang memiliki kekuatan sihir yang tinggi. Saya yakin sebelum bencana itu tiba, Yang Mulia bisa menjadi penyihir yang melampaui pimpinan menara sihir mana pun."
Mungkin maksud Prof. Myer mengatakan seperti itu adalah agar aku lebih bersemangat. Tetapi kenyataannya malah jadi tertekan begini.
"Percayalah pada saya! Saya adalah salah satu petinggi di menara sihir selatan. Tidak mungkin saya berdusta tentang hal sepenting ini pada Yang Mulia." Prof. Myer masih mencoba meyakinkanku.
Dari sorot matanya yang berbinar-binar, dapat kusimpulkan bahwa dia sangat berharap agar aku percaya padanya. Entah kenapa ini membuatku curiga bahwa ada hal lain yang masih dia sembunyikan. Apa lagi perubahan sikapnya yang lumayan berbanding terbalik dengan saat perkenalan pagi tadi.
Pagi tadi, dia lebih banyak diam dan volume suaranya juga tidak lantang. Lalu, saat dia datang lagi, aura suramnya juga masih cukup terasa. Bahkan sedikit tersirat bahwa dia tidak ingin memberikan hormatnya padaku. Aku padahal memaklumi hal itu, karena berdasarkan game memang seperti itu karakternya. Tetapi, tiba-tiba saja dia menunjukkan semangatnya dan berbicara formal padaku seolah itu adalah sebuah keharusan.
Ini sungguh membuatku pusing, karena banyak poin yang berbeda dengan di game. Padahal di game ditunjukkan betul mana yang baik dan mana yang jahat. Tetapi semua karakter game yang kutemui di sini justru menjadi abu-abu. Seolah mereka adalah manusia sungguhan yang selalu memiliki dua sisi dan berdiri di antara keduanya. Mereka tidak seperti karakter buatan manusia yang selalu mengikuti jalan cerita karangannya.