Kelas sihir untuk hari ini sudah selesai. Selain mengobrol agar saling mengenal, Prof. Myer juga mengajarkanku cara untuk mengeluarkan sihir dasar. Tetapi, berhubung aku belum mahir dan hampir lepas kontrol, kelas akan dilanjutkan besok, setelah kelas bela diri dan strategi perang.
Prof. Myer dikenal sebagai karakter yang sedikit sombong dan terkadang menganggap orang lain berada di bawahnya. Secara terang-terangan dia memang tidak menunjukkannya, tetapi kalau mengikuti sifat aslinya dia pasti memendam rasa kesalnya. Karena, aku kesusahan dalam mengikuti kelasnya yang dia anggap spesial dan mudah itu.
“Yang Mulia.”
Mengetahui kelasku dengan Prof. Myer sudah selesai, Arabella masuk ke dalam ruang kerjaku tanpa mengetuk pintu. Penjaga di depan juga tidak menghalanginya. Aku sering melihat dia melakukannya di game, jadi kalau tiba-tiba ku larang akan jadi aneh.
Tanpa menunggu responku, Arabella langsung duduk di sebelahku dan merangkul lenganku dengan manja. Kepalanya dia sandarkan di bahuku dan sesekali dia mencium pipiku.
Jujur saja aku sangat risih diperlakukan begitu. Tapi karena malas, jadi aku biarkan saja. Aku sangat lelah saat ini. Mengeluarkan energi sihir, di luar dugaanku sangat menguras tenaga.
“Kok Yang Mulia diam aja, sih? Hm?”keluh gadis berambut pink itu sambil menoel-noel tanganku dengan genit. Pipinya yang ia gembungkan karena kesal terlihat cukup imut ku akui. Namun, belum cukup untuk bisa menggerakkan hatiku. Perempuan imut sama sekali bukan tipeku.
Mungkin aku akan dikatai terlalu narsisistik. Tetapi kenyataannya memang dengan wajahku yang seperti ini, sudah sering sekali aku menemui perempuan macam ini. Aku bukannya membenci perempuan dan kecenderungan seksualku juga masih sangat normal. Sayangnya dengan perempuan yang model begini, aku tidak begitu senang. Well, kalau dibandingkan dengan Jennie yang menembakku di kampus tempo hari sih, si Arabella ini masih mending.
“Arabella.”
Gadis yang baru saja ku panggil namanya itu menarik napasnya riang. Mulutnya yang sebelumnya menggembung, kini sudah kempes tergantikan oleh senyum.
“Aku sangat lelah. Bisa kau geser sedikit? Jangan membuatku gerah.” lanjutku.
Satu mili pun Arabella tidak geser dari tempatnya. Dia hanya mengangkat, lalu menjentikkan tangannya. Kemudian, seketika udara di ruangan ini pun menjadi lebih sejuk.
“Sekarang lebih sejuk kan, Yang Mulia?” dia menurunkan tangannya lagi dan semakin menempel padaku.
Aku tak bisa membalas kata-katanya, karena memang sekarang sudah lebih sejuk. Masa aku harus pasrah diglayuti begini?
“Maksudku bukan begitu…” ujarku.
“Hm?”
Tatapan matanya yang berkesan polos itu pasti yang menjerat Rafael dan yang lain. Bisa ku lihat bintang-bintang yang berkelap-kelip di bola matanya, yang seharusnya tidak mungkin ada di manusia normal. Apakah itu yang namanya filter kamera… maksudku mata orang yang sedang jatuh cinta? Dan karena aku sedang berada di dalam manusia yang naksir berat pada Arabella, filter itu juga masuk ke mataku.
“Kamu kan tahu aku baru selesai kelas sihir, tanganku agak sakit karena terlalu lama membawa grimoire.” alasanku.
Filter mata orang jatuh cinta itu semakin berkaca-kaca. Cahaya menyebalkan itu kini juga dikombinasikan dengan air mata yang terkumpul di pelupuk. Sekali digerakkan saja, air mata itu pasti akan jatuh.
“Hiks…” isak Arabella.
Nah, kaan…
“Kenapa Yang Mulia berdusta pada Arabella? Huu…”
“Hah?” kok bisa sekarang aku dituduh berbohong?
“Yang Mulia tidak pernah memakai grimoire saat melakukan sihir! Huee… Kenapa Yang Mulia begitu dingin pada Arabella…” tangis Arabella pecah.
Aku terpaku. Memang benar sih, Rafael tidak pernah terlihat menggunakan grimoire atau kitab sihir saat mempraktikan sihirnya. Masalahnya adalah aku saja tidak hapal mantera sihir. Dan satu-satunya cara agar aku ingat adalah dengan disebutkan atau membaca. Karena itu aku membawa grimoire. Selain itu, menurut Prof. Myer, grimoire akan meningkatkan kestabilan sihirku.
“A… ada yang perlu aku pelajari dari grimoire itu, makanya aku bawa.” dalihku.
Isak tangis Arabella tak juga berhenti. Aku tidak pernah menghadapi perempuan yang sedang menangis selain Jihan, jadi aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan untuk mendiamkannya. Kalau Jihan sih gampang saja, paling tinggal dikasih jajan mahal atau dibelikan otome game terbaru juga sudah diam.
“Bohong! Hiks… bahkan sekarang Yang Mulia tidak memelukku… hiks… padahal biasanya Yang Mulia yang selalu lebih dulu memeluk dan mencium Arabella. Tetapi, sedari kemarin sore, Yang Mulia begitu dingin pada Arabella. Hiks… Ini pasti karena Yang Mulia masih mencintai Nona Eliza. Huaaaa…”
Uwah… tangisnya malah semakin menjadi begini. Mana merembet ke persoalan Eliza. Dia juga minta dipeluk dan dicium segala. Duh… perempuan ini semakin merepotkan saja. Bagaimana aku bisa memeluk dan menciumnya, kalau aku saja tidak memiliki perasaan apa pun padanya.
“Be… begini Arabella…”
‘DUAKKK!!’
Ah… kalau tidak ada sihirnya, mungkin tewas sudah pintu ruangan ini. Jantungku juga terasa hampir copot karena dibuat kaget.
“GUK!!!”
Gonggongan anjing itu terdengar sangat tidak ramah. Dia juga menerkamku dan menggeram dengan penuh niat membunuh di sorot matanya. Kalau saja anjing ini berukuran kecil sih, akan mudah menghindar atau menyingkirkannya. Tetapi, anjing yang sepertinya dari jenis Borzoi ini begitu besar dan cukup seram.
“Schew! Hentikan!” seru Arabella sambil menarik anjing berukuran raksasa itu.
Dengan mudah, Arabella menyingkirkan anjing itu dariku. Dan kini anjing itu sedang menjilati air mata yang jatuh di pipi Arabella.
“Aduh, Schew… sudah ih, geli! Hahaha!”
Nampaknya perasaan Arabella sudah membaik. Anjing itu juga kini tidak seseram tadi. Namun, begitu borzoi itu menengok ke arahku, sorot matanya langsung berubah lagi.
“Jangan begitu, Schew! Kalian kan berteman.” ujar Arabella yang menyadari tatapan borzoi yang dia panggil dengan ‘Schew’ itiu.
“Aku tidak akan memaafkan orang yang sudah membuat Bella menangis.”
Aku tertegun saat menyadari bahwa kalimat itu terlontar dari mulut anjing raksasa itu. Takut? Jelas… siapa juga yang tidak merasa ngeri saat mengalami suatu hal yang secara sains tidak mungkin terjadi?
“Schwarlk!”
Andreas yang ngos-ngosan muncul dari balik pintu dan sedikit bersandar di sana. Begitu dia agak tenang, dia datang menghampiriku dengan langkah yang tergopoh-gopoh.
“Mohon maaf, Yang Mulia. Saya gagal menghalau Schwarlk Brugman. Apakah Yang Mulia baik-baik saja?” tanyanya dengan nada khawatir.
Schwarlk Brugman?
Aku alihkan pandanganku pada anjing borzoi hitam yang sedang bermanja-manja dengan Arabella.
“Tidak apa-apa, Andreas. Santai saja. Hahaha,” balasku sambil tertawa garing.
Apa itu Schwarlk Brugman yang tadi ku cari-cari?
Aku memang tahu bahwa Schwarlk Brugman, si prajurit bayaran setengah siluman juga bisa berwujud binatang. Tetapi, seingatku dia bukan dari jenis borzoi. Bukannya kalau berdasarkan ilustrasi game-nya, seharusnya dia lebih mirip husky?
Atau jangan-jangan animatornya tidak ahli dalam menggambar, sehingga bukannya borzoi, yang muncul di ilustrasi malah husky. Konspirasi macam apa ini?
Menyadari tatapanku, borzoi yang ternyata adalah Schwarlk Brugman itu balas melotot sambil menggeram.