Borzoi adalah jenis anjing yang dikenal memiliki kecepatan lari yang tinggi. Secara umum ukuran badan untuk borzoi dewasa sekitar 80-an cm dengan berat badan bisa mencapai 50 kg. Aku cukup mengenal anjing jenis ini, karena temanku Miko memelihara borzoi. Beberapa kali aku juga diajak Miko untuk menonton lomba balap antar anjing. Jadi, aku juga tahu seberapa cepat borzoi itu.
Tidak hanya cepat, borzoi juga dikenal sebagai anjing yang tangkas dan kuat. Karena itu, pada awal abad ke-20 di Rusia, borzoi sering dimanfaatkan untuk memburu serigala.
Jadi, coba bayangkan seberapa hebatnya mahluk setengah siluman berwujud anjing borzoi. Jelas manusia serigala yang ada di novel-novel online populer itu tidak sebanding dengannya.
Kemudian sekarang, tepat di depanku berdiri seekor… seorang atau apapun itu, pokoknya ada borzoi raksasa di depanku. Saking besarnya, aku tidak perlu menunduk hanya untuk bertemu mata dengannya.
“Schwarlk! Kau sedang di depan Yang Mulia Putera Mahkota. Bukankah perbuatanmu tadi sangat tidak sopan?!” bentak Andreas.
“Apa manusia tak bisa melakukan hal selain mengatur?”
Setelah mengatakan itu, asap hitam mengepul mengelilingi tubuh Schwarlk. Aku yang selama di dunia modern sangat menghindari asap, langsung menutup hidung dan mulutku sebelum terbatuk-batuk karenanya.
Asap itu lama-lama susut diiringi dengan kemunculan seorang pria tinggi bertelinga anjing. Inilah Schwarlk yang aku kenal dari game. Rambut pendek berwarna hitam, gigi taring yang sedikit menyembul dari mulutnya, serta bola mata berwarna hijau itu sangat persis dengan yang ada di game. Begitu pula desain pakaian yang dia pakai.
Tapi, omong-omong soal baju, bukannya tadi dia tidak pakai baju? Apa asap tadi itu dia gunakan untuk menutupinya saat memakai baju? Kok praktis sekali?
“Dia adalah Schwarlk Brugman, prajurit bayaran setengah siluman yang Yang Mulia cari.” kata Andreas.
“Kerja bagus.” sahutku.
“Sekarang, apa bisa kalian tinggalkan aku dan Sch… Siwak? Maksudku Sch… Schew.” lanjutku yang masih saja kesulitan menyebut namanya.
Mendengar itu, Arabella yang tadinya menangis jadi terkikik.
“Ya ampun, Yang Mulia ternyata masih belum bisa menyebut nama Schew? Hihihi…” ledeknya sambil mengusap matanya yang sembab.
Apa wajar kalau aku merasa malu sekarang? Memangnya apa salahnya kalau aku kesusahan mengucapkan nama yang terdiri dari 8 huruf, tapi huruf vokalnya cuma satu? Padahal yang meledekku juga sepertinya tidak bisa menyebut nama borzoi raksasa itu.
“Ehem! Arabella, apa kau bisa bersama Andreas dulu? Aku mohon.” pintaku.
Senyum Arabella kembali mengembang. Agaknya mood gadis itu sudah cukup membaik. Dia pun menjawab, “Huft… terpaksa deh, harus ngalah dari Schew.”
“Kalau begitu, kami pamit undur diri dulu, Yang Mulia.” ujar Andreas.
Setelah menunduk memberi salam, Andreas keluar bersama Arabella. Dan kini tinggal aku dan Schwarlk yang ada di ruangan ini.
“Sekarang cepat katakan maumu. Aku tidak punya banyak waktu.”
Meskipun borzoi adalah anjing yang tergolong kalem, Schwarlk bukanlah karakter yang penyabar. Dia selalu digambarkan sebagai karakter yang mudah marah dan ter, tetapi selalu manis terhadap Arabella. Tentu sikap manisnya itu bukan tanpa alasan.
“Icana Berruz.”
Kemarahan di wajah Schwarlk berubah menjadi keterkejutan. Sudah ku duga, dia pasti tidak akan menyangka nama itu akan dia dengar kembali.
“Ba… bagaimana bisa kau…” Schwarlk melangkah mundur secara pelan.
“Bagaimana bisa aku lupa pada salah satu penjaga gerbang dunia siluman paling tangguh sepanjang zaman.” pujiku.
Ini dia salah satu hal yang membuat Schwarlk begitu dekat dengan Arabella. Gadis itu suka dan sering sekali memuji borzoi ini.
Lihat saja. Baru sedikit saja dipuji, ekornya sudah bergoyang-goyang.
Icana Berruz adalah nama Schwarlk Brugman di masa lampau. Dia adalah salah satu dari tiga penjaga gerbang dunia siluman yang hingga saat ini tidak ada satu pun manusia yang tahu di mana tempatnya. Dengan kata lain, dulunya dia adalah pengikut raja siluman yang sangat setia.
Saat perang antara manusia dan siluman terjadi ratusan tahun lalu, tubuh Icana tidak bisa bertahan dan akhirnya mati. Namun, dengan kematian tubuhnya itu bukan berarti jiwanya juga mati.
Saat tubuh bangsa siluman mati, arwahnya akan masuk ke dalam sebuah batu kecil yang dinamakan permata jiwa. Begitu pula Icana yang sudah kehilangan tubuhnya.
Suatu kali, permata jiwa milik Icana tanpa sengaja tertelan oleh seorang perempuan yang tengah hamil muda. Berkat perempuan itulah, kini Icana mendapatkan tubuh baru yang dinamai Schwarlk. Hanya saja, karena perempuan itu berasal dari bangsa manusia, kini Icana atau Schwarlk terpaksa hidup sebagai bangsa setengah siluman dan tidak bisa menggunakan kekuatannya secara penuh.
“Bukankah kita teman, Cana?”
Aku meniru cara temannya memanggil saat namanya masih Icana Berruz. Dari lubuk hati terdalam, aku sangat berharap sandiwaraku ini cukup meyakinkan. Karena ini satu-satunya cara agar aku bisa memanfaatkan mahluk setengah siluman ini.
“Izana… Zana apa kah itu kau?” tanya Schwarlk penuh harap.
Bingo!
Ternyata cukup mudah memancing Schwarlk. Segalak apa pun siluman borzoi, tetap akan kalah dengan kekuatan persahabatan. Namanya juga otome game, pasti tidak akan terlalu jauh konsepnya dari anime. Kkk…
“Tidak! Itu tidak mungkin! Bukankah permata jiwamu sudah hancur?” rupanya dia tidak sebodoh yang ku pikirkan. Dia masih ingat betul apa yang terjadi pada sahabatnya.
“Haa… Ini aku Cana. Kau harus percaya, atau ku beberkan ke semua orang bahwa kau mengompol saat bertemu raja siluman untuk pertama kali.”
Pipi Schwarlk memerah karena rasa malunya. Cerita ini juga muncul di ingatanku tentang Schwarlk. Ini adalah kenangannya bersama Izana dan Ilana, sahabatnya saat baru ditunjuk sebagai Cerberus, sang penjaga gerbang dunia siluman. Dengan ini, pasti dia akan lebih percaya pada ku.
“Tetapi, kenapa baru sekarang? Bukankah kita sudah berkali-kali bertemu? Jika aku tahu bahwa selama ini Rafael adalah dirimu, pasti… mm… mungking akan ku izinkan kau bersama Bella.”
Mau mengatakan kata ‘pasti’ saja dia merasa ragu-ragu. Mana mau dia, kalau ‘Bella’-nya diambil orang lain, walaupun itu sahabatnya sendiri.
“Kau pasti begitu menderita karena terlahir sebagai manusia. Mereka adalah mahluk yang sudah menyiksa kita semua. Termasuk yang membunuhmu, juga dari bangsa manusia.”
Suara Schwarlk terdengar begitu memilukan di telingaku. Rasa simpatinya pada Izana itu membuatku merasa bersalah.
“Aku tidak apa-apa, Cana. Bukankah kau juga menderita selama ini?”
Schwarlk mengangguk berkali-kali untuk mengiyakan.
Tiba-tiba tanpa memberi aba-aba, Schwarlk berjalan mendekatiku dan memelukku erat. Rasa rindunya pada Izana kini pecah menjadi tangis.
“HUUAAAAAA!!!!!” lolongnya dalam tangis.
Aku menepuk-nepuk pundak manusia borzoi itu pelan, agar dia merasa lebih tenang. Ini benar-benar membuatku merasa berdosa telah membohonginya. Tetapi, apa jadinya kalau aku bilang sekarang kalau aku cuma pura-pura?
Oh, tidak… aku masih sayang nyawa. Kalaupun aku mati betulan, setidaknya setelah aku menggugat pencipta game sialan ini.