Selayaknya orang yang baru bertemu dengan teman lama, Schwarlk yang kini kupanggil dengan Cana menceritakan semua pengalamannya selama tidak bertemu. Dari sana aku jadi lebih tahu bagaimana karakter Schwarlk sebenarnya serta kehidupannya.
Saat tubuh barunya baru keluar dari rahim sang Ibu, Schwarlk tidak langsung mengingat dirinya sendiri sebagai Icana. Karena, pikiran dari ‘jiwa sesungguhnya’ si bayi menghalanginya.
Kehidupannya saat kecil sebagai mahluk setengah iblis, tidak begitu menyenangkan. Jangankan lingkungannya, keluarganya pun tidak menginginkannya lagi begitu tahu bahwa Schwarlk memiliki darah iblis.
Sang ibu yang melahirkan Schwarlk dibuang oleh sang ayah karena dikira berselingkuh dengan iblis. Kemudian, karena kesedihan dan rasa marahnya, wanita itu melampiaskan semua kekesalannya pada Schwarlk yang tidak tahu apa-apa. Suatu hari dia pernah hampir saja dijual sebagai b***k oleh wanita itu, namun berhasil lolos. Dia pun kabur dari rumahnya. Anak kecil mana yang tahan diperlakukan seperti itu.
Akhirnya, Schwarlk pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari tebing. Saat kepalanya menyentuh tanah itu lah ingatan tentang Icana muncul.
Sejak itu, dia memutuskan menjadi prajurit bayaran. Karena, dengan begitu dia bisa membalas dendam pada para manusia yang menyiksanya. Hatinya yang begitu gelap sudah tidak bisa mempercayai manusia mana pun. Yang dia pikirkan di otaknya hanya membunuh, membunuh, dan membunuh.
“Harusnya lo bilang dari dulu, kalau lo itu Izana. Jadi kan, gue gak main terkam aja tadi hahahaha!”
Ya, dia juga semakin nyaman denganku. Bahkan sudah pakai bahasa ‘lo-gue’ segala.
“Sebenernya gue juga baru inget kemarin-kemarin. Maaf, ya.” aku melanjutkan sandiwaraku.
“Ya udah, lah! Santai aja! Yang penting kan kita udah kumpul lagi.” katanya sambil menepuk-nepuk pundakku.
“Oh, iya. Omong-omong lo bisa berubah jadi anjing lagi gak?” tanya Schwarlk.
Jelas tidak bisa, karena Rafael adalah manusia tulen. Tapi, aku sudah menyiapkan jawabannya.
“Lo kan tahu kalau waktu itu permata jiwa gue berantakan banget. Jadi, begitu lahir, gue udah susah jadi anjing lagi.”
“Oh…” tanggapnya sambil mantuk-mantuk.
“Terus… berhubung ingatan gue udah balik, gue mau minta tolong sesuatu ke lo.”
“Bisa lah, Sob. Ngomong aja sama gue!” katanya sambil mendengarkan dengan serius.
“Jadi… sebenernya gue pengin lo lebih lengket lagi sama Arabella.” pintaku.
Alis Schwarlk saling bertaut menunjukkan kebingungannya.
“Maksud lo gimana?”
Aku berusaha menjelaskan sesantai mungkin, “Fuuh… lo tahu kan rasanya gimana saat ingatan lo yang lama balik lagi? Semua perasaan gue sebagai manusia hampir hilang semuanya. Jujur, gue gak tahu masih ada rasa atau nggak sama Arabella.”
“Lo… serius?” tanyanya ragu.
Aku mengangguk, lalu berkata, “Makanya, gue pikir kalau ada lo di samping Arabella, dia gak akan begitu sedih walaupun udah gak sama gue.”
Schwarlk menghela napasnya kasar. Dia sangat menyukai Arabella, karena dia lah satu-satunya manusia yang tidak memandang rendah dirinya.
Dalam rute game-nya, diceritakan bahwa Arabella menyelamatkan dirinya saat dia terluka dan kehilangan kekuatannya. Sejak saat itu, dia tidak lagi memandang semua manusia itu sama. Karena ada Arabella yang berbeda di matanya.
“OK!” serunya, lalu lanjut berkata, “Tapi awas kalau lo minta balikan. Gak akan gue kasih!”
Sampai Agnes Mo bikin single dangdut juga gue gak akan mau balikan.
“Beres!” sahutku menyanggupi.
*
Setelah itu kami terus mengobrol hingga tanpa terasa satu jam telah berlalu. Tidak ku sangka, ternyata Schwarlk adalah orang yang cukup asik untuk diajak ngobrol.
Ketika kami masih asik berbincang-bincang, terdengar suara derap kaki yang mendekati ruangan ini. Pemilik derap kaki itu membuka pintu ruangan, dan menunjukkan dirinya.
Rupanya lagi-lagi Arabella yang datang. Saking tidak sabarnya menunggu, Arabella tahu-tahu sudah ada di depan pintu ruang kerjaku sambil berkacak pinggang.
“Kenapa sih, Yang Mulia mainnya sama Schew doank!? Arabella kan juga ingin ngobrol dengan Yang Mulia!” protes gadis itu.
Schwarlk yang kegirangan dengan kembalinya Arabella berubah kembali menjadi borzoi dan lari menuju Arabella.
“Bella!!” teriak Schwarlk.
“Schew! Aduh… jangan jilat-jilat! Arabella lagi mau ngobrol sama Yang Mulia, nih!” hardiknya.
Kalau dipikir-pikir ini sebenarnya adegan yang sangat m***m. Sekarang sih, memang bentuknya borzoi. Tapi, bagaimanapun Schwarlk kan memiliki tubuh manusia juga.
Setelah kedatangan Arabella, di belakangnya Andreas menyusul. Dia yang belum kuizinkan masuk ke dalam, tetap berdiri di ambang pintu.
“Masuklah, Andreas.” ujarku.
Untung saja di antara mereka bertiga, ada Andreas yang setidaknya paling waras.
“Baru saja saya mendapat laporan, Yang Mulia.” kata pria yang tidak pernah terlihat melepas baju besinya itu.
Aku melirik Schwarlk, seakan memberi kode agar dia membawa Arabella keluar lagi. Untungnya dia menangkap kode itu. Aku sangat bersyukur ada dua orang ini yang bisa kumanfaatkan agar gadis itu tidak terlalu menempel padaku.
“Bella, aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu. Ayo ikut!” seru Schwarlk sambil menarik hem rok Arabella.
“Tetapi, sekarang Arabella…”
Tadinya Arabella ingin menolak. Tetapi begitu melihat mata borzoi itu berkaca-kaca, gadis itu pun mengalah.
“Baiklah. Ayo kita main, Schew.”
Schwarlk begitu senang permintaannya dipenuhi. Dengan panduan darinya, Arabella akhirnya kembali keluar dari ruangan.
Dalam suasana yang sudah damai ini, aku pun mengalihkan fokusku pada laporan yang ingin Andreas sampaikan.
“Bagaimana laporannya?” tanyaku sambil berjalan untuk duduk di atas kursi kerjaku.
Andreas mulai bercerita, “Ini tentang para prajurit sihir yang dikirim untuk mencari keberadaan keluarga Vone.
Aku mengerutkan dahiku.
“Bukankah kalian telah menghentikan pencarian?”
Untuk apa melaporkan sesuatu yang sudah dihentikan?
“Memang benar, Yang Mulia. Mereka juga sudah kembali ke istana. Saya dan Arabella tadi sempat bertemu dengan mereka. Tetapi, ada sesuatu yang aneh.” jawabnya.
Kemudian, dia melanjutkan penjelasannya, “Tatapan mereka begitu kosong, seperti melamun. Dan mulut mereka terus bergerak menggumamkan sesuatu. Jadi, saya pun menyapa salah seorang prajurit sihir yang saya kenal.”
“Berkali-kali saya memanggilnya, tetapi dia tidak menghiraukan saya. Lalu, setelah saya dekati, dia berkata, “Kami tidak menemukan keluarga Vone di mana pun. Kami yakin mereka telah mati,” padahal saya tidak menanyakan hal itu sama sekali.”
“Keanehan yang lain juga dirasakan Nona Arabella.”
Ku kira dia cuma gadis manja yang memanfaatkan kecantikan dan keberuntungannya saja. Aku tidak tahu kalau gadis itu cukup peka.
“Seperti Yang Mulia sudah ketahui, sihir bayangan milik iblis tingkat tinggi adalah sesuatu yang sangat sulit dideteksi. Hanya orang yang memiliki sihir cahaya seperti Nona Arabella lah yang bisa merasakannya.”
Aku menyela penjelasan Andreas, “Jadi, maksudmu Arabella merasakan keberadaan sihir bayangan itu?”
Andreas mengangguk membenarkan.
“Benar, Yang Mulia. Jika diselidiki lebih lanjut bersama Nona, pasti keberadaan mereka akan segera kita ketahui. Bukankah Yang Mulia ingin menghukum Nona Eliza yang telah menyakiti Nona Arabella?”
Rupanya begitu pemahaman Andreas. Dia pikir aku mencari Eliza agar bisa menghukumnya. Yah… aku memang tidak memberitahukannya dengan jelas apa tujuanku yang sebenarnya.
“Sebaiknya Yang Mulia tanyakannya langsung pada Nona Arabella agar lebih yakin.” sarannya.
Ugh… tahu begitu, aku biarkan saja dulu dia di sini. Aku malas kalau harus memanggil Arabella lagi.