- NO SWORDS -

1248 Words
Seperti saran Andreas, aku pun bermaksud ingin menanyakan pada Arabella tentang hal yang diceritakan Andreas. Tetapi, saat ku coba ingin menyapanya, si borzoi raksasa menghalangiku. Ekspresinya seolah berkata, “Bukannya lo yang bilang gak akan minta Arabella lagi?” Meskipun kini kami berteman, yang namanya ekspresi kemarahan siluman tetap saja menyeramkan untukku. Karena itu, sementara waktu aku akan mundur terlebih dahulu. Toh Arabella pasti akan mencariku lagi. Untuk saat ini, mungkin ada baiknya aku bersantai. Dua hari ini sungguh sangat melelahkan. Tidak hanya dengan berbagai permasalahan yang mendadak harus ku hadapi, aku juga harus mengatur pikiran dan hatiku yang belum bisa menerima bahwa aku terlempar ke dunia game ini. * Esok paginya, seperti biasa Hilda dan empat orang pelayan lainnya datang untuk membantuku bersiap. Karena pagi ini adalah kelas bela diri dan strategi perang, aku meminta mereka membawakan pakaian yang lebih ringan. Selain itu, aku juga meminta agar tidak dibawakan makanan lebih dulu, selain roti. Karena kini aku tahu bahwa koki di dapur istana hanya bisa memasak masakan yang digoreng. Bahkan roti yang ku makan saat ini pun dibuat dengan cara digoreng. Apa mereka tidak punya oven!? Sebastian nampak begitu cemas saat tahu bahwa aku hanya minta roti. Dia bertanya, “Apa Yang Mulia yakin? Yang Mulia akan banyak bergerak pagi ini, apa tidak sebaiknya makan yang lebih banyak lagi?” “Tidak apa-apa. Justru kalau pagi-pagi sudah makan gorengan, aku merasa akan semakin sulit bergerak.” jawabku sambil berganti baju yang dibantu oleh Hilda dan seorang pelayan lain. “Terima kasih.” ucapku begitu mereka selesai. Sebastian kemudian memberikan buku jurnal berisi jadwalku hari ini. Ku ambil dan k*****a satu persatu apa yang akan ku lakukan hari ini. Selain kelas bela diri bersama Marchioness Sheon, siang harinya juga ada kelas ilmu politik bersama Marquis Gada. Terbayang olehku perdebatan sengit antara dua orang ini di game. Semoga saja hari ini akan lancar-lancar saja. “Hilda,” panggilku. Dia menyahut, “Saya, Yang Mulia.” “Sekitar pukul setengah sembilan, bisa tolong kau bawakan air dan beberapa snack ke arena latihan?” pintaku. “Ba… baik, Yang Mulia. Akan saya laksanakan.” “Oh. Snack-nya jangan yang digoreng, ya. Bisa buah-buahan saja atau kacang juga tidak masalah.” tambahku. “Baik, Yang Mulia.” Di arena latihan, Marchioness Sheon sudah lebih dulu datang dan menungguku. Dia memang orang yang sangat disiplin dan penuh semangat. Pasti dia sudah datang dari pagi dan berlatih lebih dulu. “Selamat datang, Yang Mulia!” sapanya dengan penuh semangat. Suaranya yang keras itu seakan bergaung di arena yang katanya seluas 7 hektar ini. “Selamat siang, Nyonya Sheon. Apakah saya terlambat?” tanyaku. Wanita bertubuh kekar itu menggeleng sambil menepuk-nepuk pundakku. “Kelas kita baru mulai beberapa menit lagi. Saya sangat senang Yang Mulia memiliki semangat yang tinggi seperti ini. Saya harap ke depannya juga akan tetap semangat. Ahahahahahaha!” Waaii… ramai sekali orang ini. Padahal hanya dia yang berbicara, tetapi seakan ada puluhan suara. “Baiklah. Kita mulai saja pertarungan kita. Apa Yang Mulia sudah siap?” Marchioness Sheon mudur dan langsung memasang kuda-kudanya. Dengan tangan kanannya dia mengacungkan pedang kayunya dan tangan kirinya melempar satu pedang kayu lagi padaku. Tidak ada waktu bagiku untuk terkejut. Karena, aku tahu Marchioness Sheon akan segera menyerangku. Seperti yang sedang dia lakukan saat ini. Serangan bertubi-tubi dia lancarkan kepadaku yang sebetulnya tidak begitu pandai menggunakan pedang dengan style seperti Kendo. Wajar sih, namanya juga game Jepang. Jadi, bukannya permainan pedang seperti gladiator, melainkan permainan pedang seperti samurai. Tetapi, tidak begitu pandai bukan berarti tidak bisa. Aku pernah berlatih pedang beberapa kali dengan kakekku yang menguasai Kendo. Paling tidak dengan sedikit pengetahuan itu aku berusaha mengimbangi Sang Marchioness yang terkenal karena tubuh kekar dan rampingnya itu. “Apa kemampuan Yang Mulia hanya seperti ini? Lembek!” ledeknya sambil menyerangku lagi. Aku tidak bisa mengelak. Karena, memang kenyataannya seperti itu. Selama setengah jam lebih, wanita itu terus menyerangku dan aku hanya kewalahan menghindar tanpa menyerang balik. Beberapa kali serangannya mengena di badanku. Dan dari rasa sakit yang ku rasakan, bisa ku katakan bahwa dia sungguh-sungguh menyerangku. Dengan sekuat tenaga aku berusaha menghindar darinya. Begitu ada kesempatan, aku membuat jarak di antara kami. “Ada apa, Yang Mulia? Apa Yang Mulia mau menyerah sekarang? Hahahaha!” Selesai mengatur napas, aku pun melakukan yang seharusnya sedari tadi ku lakukan, yaitu membuang pedangku. Melihat perbuatanku, Marchioness Sheon terkejut. Tetapi tidak lama kemudian, dia juga ikut membuang pedangnya. “Ini permintaan Yang Mulia sendiri yang menginginkan pertandingan dengan tangan kosong. HIYAAAAAT!!!” Dengan sekali napas, lagi-lagi aku menghindari serangan Marchioness Sheon. Tetapi, aku yakin kali ini aku lebih beruntung. Karena, aku pasti bisa membalas serangannya. “Oh, boleh juga.” puji Sang Marchioness begitu aku berhasil melakukan serangan. Namun, serangan itu pun tidak mengenainya sama sekali. Tidak hanya offense-nya yang bagus, tetapi defense-nya pun kuat. Jadi, mau tidak mau aku juga harus lebih serius lagi. Karena, aku yakin bisa melayangkan satu serangan yang mengena di tubuhnya. Untuk itu, aku mencari celah. Dan celah itu adalah… SEKARANG! ‘BRUAKKK!!’ Ku banting Marchioness Sheon saat hendak meninjuku. Kini dia terlentang di tanah dan pertandingan pun berakhir. Suara riuh tepuk tangan mengitari kami berdua. Saat itu aku baru sadar bahwa pertandingan kami berdua tadi ditonton oleh para prajurit yang sedang melakukan latihan pagi. Marchioness juga ikut bertepuk tangan dengan wajah yang begitu puas. Sambil mengatur napas, aku merentangkan tanganku untuk membantu Marchioness Sheon bangun. Disambutnya tanganku itu, lalu ku tarik perempuan yang memiliki tinggi badan hampir setara denganku itu. “Saya baru tahu kalau Yang Mulia sangat terampil melakukan bela diri tangan kosong. Dan gerakan Yang Mulia tadi sangat unik. Saya baru pertama kali melihatnya. Hahahaha!” ujarnya sembari membersihkan badannya dari debu dan tanah. Begitulah. Aku memang tidak terampil dalam kendo, tetapi bukan berarti aku tidak menguasai ilmu bela diri lainnya. Di duniaku, sebenarnya aku adalah pemegang sabuk hitam pencak silat dan hampir menjadi atlet nasional. Jadi, kalau dikatakan gerakanku unik mungkin karena gerakan pencak silat itu memang unik. Bahkan adikku, Jihan pernah berkata pencak silat itu mirip seperti menari. “Saya hanya mengikuti apa yang diajarkan guru saya terdahulu.” jawabku merendah. “Wow! Guru Yang Mulia di sekolah juga mengajarkan bela diri? Tampaknya dia guru yang cukup hebat. Saya jadi ingin bertemu dengan beliau.” tanggapnya. Aku ingin mengatakan bahwa jurus yang tadi ku praktikan bukan diajarkan di sekolah. Tetapi setelah dipikir ulang, mungkin lebih baik membiarkannya berpikir begitu. Karena menjelaskan yang sebenarnya jauh lebih merepotkan. “Yang Mulia Rafael!” seseorang menyerukan namaku. Pemilik suara yang terdengar riang ini tidak salah lagi adalah Arabella. Begitu aku menengokkan kepalaku padanya, gadis itu melambaikan tangannya dan berlari ke arahku. “Yang Mulia, Arabella tadi lihat pertarungan Yang Mulia. Arabella tidak menyangka Yang Mulia sehebat itu. Ternyata Yang Mulia tidak hanya pandai dalam pertarungan sihir, pertarungan fisik pun bisa sehebat ini.” Matanya begitu berbinar-binar memancarkan rasa kagumnya. Aku yang dipuji seperti itu aku jadi sedikit malu. Sementara itu, Hilda berdiri di belakang Arabella membawa termos air dan sebuah keranjang. Dari ekspresi puasnya, dia pasti sengaja memberi tahu Arabella tentang keberadaanku. Saking sibuknya, aku jadi lalai dengan peran gadis ini di game. Kalau dia mengetahui sesuatu tentangku, pasti langsung diberitahukan pada Arabella. Kali ini, berhubung aku juga ada perlu dengan Arabella, masih ku maafkan dia. Aku masih harus menanyakan pada Arabella perihal prajurit yang ditemuinya kemarin. Jika semua info itu sudah ku dapatkan, aku harus segera memberi peringatan pada Hilda agar dia tidak seenaknya memberi informasi tentangku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD