“Game? Apa maksudmu?” tanyaku.
Hilda adalah informan di game ini. Mungkinkah dia juga tahu bahwa dunia ini adalah latar dari sebuah game?
Gadis itu melangkah mundur lagi. Dia masih berusaha menghindari tatap mata denganku. Reaksinya yang seperti mengetahui sesuatu itu membuatku semakin curiga.
“Kamu pasti tahu sesuatu…” ujarku.
Hilda berusaha mengelak dengan menggelengkan kepalanya. Lalu saat akhirnya dia mencoba kabur, aku mencegahnya dengan meraih tangannya.
“Benar, kan? Kamu pasti tahu sesuatu. Atau jangan-jangan… kamu yang mengirimku ke dunia ini?” tuduhku.
Pelayan pribadiku itu akhirnya menengok menatapku. Menanggapi tuduhanku itu, dia berkali-kali menggelengkan kepalanya. Matanya yang terbelalak menunjukkan betapa takutnya dia.
“Andreas Y’ Taran!” Sang Raja berseru panik.
Gemuruh derap kaki kini menuju satu arah, yaitu portal teleportasi yang tadi kami gunakan. Ricauan panik orang-orang terdengar memenuhi bunker persembunyian kami. Berkatnya, kini perhatianku teralihkan dari Hilda.
Seperti yang lain, aku juga ikut mendekati portal tadi. Karena banyaknya orang yang berkerumun, aku dengan paksa menerobos kerumunan itu.
“Andreas…”
Napasku terasa tercekat ketika melihat sendiri bagaimana keadaan Andreas saat ini. Baju zirah yang dia pakai hancur berkeping-keping, wajah dan tubuhnya dipenuhi lebam, lalu yang paling parah adalah luka di perutnya yang cukup dalam. Dari keadaan itu, bisa ditebak separah apa pertarungan di atas sana.
Dua orang, termasuk aku memapahnya agar bisa duduk di tempat yang lebih nyaman. Sementara itu, Hilda mengambilkan air minum untuk Andreas minum. Setelah itu, dia juga kembali ke kamar kecil untuk mengambil kendi yang ada di sana untuk diisi air secara penuh dan membawanya ke mari.
“Minumlah dulu, Andreas.”
Ku bantu dia untuk minum, karena sepertinya Andreas sudah terlalu lelah untuk bergerak.
“Yang Mulia, saya sudah bawakan air. Sekarang saya membutuhkan beberapa kain bersih untuk mengelap darah di tubuh Tuan Taran. Saya hanya punya dua, jadi tidak cukup.” kata Hilda yang kemudian menaruh kendi itu di dekat kami.
“Apa ada seseorang yang mempunyai sapu tangan atau semacamnya?!” seruku agar semua orang mendengar.
Dari ekspresi mereka, nampaknya mereka ragu untuk mengeluarkan sapu tangan yang mereka bawa. Padahal beberapa orang sangat jelas sekali membawanya di saku baju mereka. Apa saat ini fashion dan rasa jijik lebih penting dari pada kemanusiaan?
“Ak… saya!”
Itu adalah suara Jean. Dari saku gaunnya, dia mengeluarkan sebuah sapu tangan bersulam bunga mawar.
Kebaikan itu malah datang dari orang yang tak terduga. Ku pikir malah Jean tidak membawanya.
“Kalau begitu, Ibu juga.” Sang Ratu juga mengeluarkan sapu tangannya.
“Terima kasih, semuanya. Sepertinya untuk saat ini sudah cukup.” ucapku.
Hilda mulai mencelupkan salah satu sapu tangan miliknya, lalu dia peras. Kemudian, ia mulai membersihkan luka-luka di wajah Andreas. Sama seperti Hilda, aku juga ikut melakukannya.
“Yang Mulia…” Andreas bergumam.
“Kau tenanglah dulu. Sebaiknya kau tidak banyak bergerak.” hardikku.
“Tapi, ini tentang Nona Arabella. Dia…” Andreas memaksa.
“Nona Arabella terluka parah.” lanjutnya.
Tangan Hilda yang sedang membersihkan wajah Andreas terhenti. Dia nampak begitu terkejut dengan berita yang disampaikan Andreas itu. Tidak dipungkiri, aku juga merasa heran. Karena, seharusnya hanya Arabella lah yang bisa menghentikan monster jelmaan Schwarlk itu.
“Lalu, dia ada di mana? Kenapa tidak bersama denganmu? Dan Nyonya Sheon?” tanyaku.
Air mata Andreas pun mengalir. Gemetar di badannya seakan mentransmisikan kekalutan, kesedihan, dan ketidakmampuan yang dia saksikan serta rasakan.
“Hhss… hiks… saya tidak tahu di mana Nona. Dia kehabisan mana untuk mengeluarkan sihir cahaya yang dia miliki. Lalu, dia pingsan dan terlempar. Saya tidak tahu lagi.. hhh…hhiksss.” jelasnya dengan terisak.
“Bukankah ada Prof. Myer dari menara sihir? Apa para penyihir itu belum juga datang?” tanyaku lagi.
Andreas menggeleng lemas.
“Menara sihir selatan memang menara sihir yang paling dekat dengan kerajaan kita, tetapi jarak terdekat itu juga tidak bisa ditempuh dalam satu hari.” jawab Raja.
Rupanya mereka juga belum datang. Ini pasti akan sulit.
Jika sesuai dengan peristiwa aslinya, seharusnya amukan Schwarlk ini berada di sekolah sihir. Jadi, setidaknya cukup banyak penyihir handal yang mampu menahan monster itu.
Namun, bukankah di istana ini juga banyak penyihir? Orang-orang di bunker ini juga sebagian besar bisa mengendalikan mana mereka. Kenapa tidak ada yang mau bergerak? Tidak mungkin kan, semuanya pemula sepertiku.
Sambil terus mengelap tubuh Andreas, aku dan Hilda terdiam. Banyak hal yang ada di pikiranku terkait dengan kejadian ini. Belum lagi masalah dengan Hilda yang belum selesai.
“Yang Mulia… saya akan mengaku.” kata Hilda.
“Saya akan mengaku, tapi sebelum itu… saya membutuhkan bantuan Yang Mulia.” lanjutnya.
Bantuanku? Memangnya apa yang ku bisa? Aku saja baru kemarin bisa mengeluarkan sihir. Jadi, bukannya sama saja dengan para pemula?
Menyadari rasa raguku, Hilda pun mengangkat wajahnya.
Selesai mengelap luka Andreas, Hilda melepas apronnya dan merobeknya menjadi beberapa bagian. Dia ikatkan helaian kain dari apronnya untuk menahan darah di perut Andreas yang terus keluar.
“Percayalah pada saya, Yang Mulia. Rencana saya ini pasti berhasil.” ujar Hilda penuh percaya diri.
Dia pun menegakkan badan, lalu membetulkan lekukan kain seragamnya. Hilda lalu menuntunku menuju lingkaran sihir.
“Pangeran, apa yang kau lakukan?” tanya Sang Raja.
Aku sejenak menghentikan langkah untuk menjawab, “Saya tidak tahu, tapi setidaknya harus ada yang melakukan sesuatu.”
Hilda sudah menungguku di atas lingkaran sihir. Aku pun segera menyusulnya.
“Apa manteranya sama seperti tadi?”
Hilda menjawab dengan sekali anggukan.
Ku hirup napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya. Baru setelah itu aku merapal,
“Wahai Sang Alam, nama saya adalah Rafael T’ Danique. Bawalah saya ke tempat portal ini menuju. Syddhuali hojoha il kovoya namal. Lagat yuo jurog hojoha il alikah parad ALERS!”
*
Kini kami telah kembali ke portal di arena latihan para prajurit istana. Keadaan di sini sudah sangat gawat. Pintu ruangan tempat portal berada yang tadinya masih baik-baik saja, kini hancur berantakan. Dan kami berdua bisa melihat langit di atas kami, karena atapnya roboh.
“Sekarang, apa yang harus ku lakukan?” tanyaku pada Hilda lagi.
“Kita harus mencari Nona Arabella terlebih dahulu.” sahutnya.
Ku ikuti kemauannya, meskipun sebetulnya aku belum terlalu percaya padanya. Dia sendiri masih tetap berdiri di tempat yang sama sambil memejamkan matanya.
“Di sana!” seru Hilda yang kemudian membuka mata dan berlari keluar. Aku pun ikut berlari di belakangnya tanpa bertanya apa pun. Karena, sepertinya dia melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku.
Aku juga ikut berhenti saat Hilda berhenti di sebuah reruntuhan bangunan.
“Apa Arabella ada di bawah renruntuhan ini?”
Hilda merespon, “Untungnya bukan. Nona ada di sisi sebaliknya.”
Dengan petunjuk itu, aku mengitari reruntuhan itu. Ku singkirkan juga beberapa balok bata yang menghalangi jalanku.
“Ketemu!” seruku.
Arabella yang tak sadarkan diri terlentang tak berdaya di depanku. Sesuai perkataan Andreas, dia memang kehabisan mana. Karena, aku sama sekali tidak bisa merasakan sihir apa pun darinya.
“Yang Mulia harus mentransfer mana Yang Mulia.”
“Caranya?”
Hilda memiringkan kepalanya dan menatapku heran.
“Yang Mulia jangan bercanda. Transfer mana itu materi pelajaran kelas dasar!” hardik Hilda.
“Aku serius tidak tahu. Bukannya kamu yang mengirimku ke sini? Harusnya tahu dong, kalau saya baru belajar sihir?” debatku.
“Siapa yang mengirim Yang Mulia ke mana? Bahkan, sebenarnya saya yang paling menderita karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan saya dan cerita game sialan ini!!”