- HILDA N' NINA -

1178 Words
Sebagai Hilda N’ Nina, tugasku di dunia ini adalah untuk menjodohkan Arabella dengan pria-pria yang ada di game ini. Itulah yang ku ingat saat pertama kali membuka mataku di dunia ini dan aku tidak bisa menolak atau mencoba keluar dari takdir. Bahkan game ini seolah tak mengijinkanku untuk mengingat siapa aku sebenarnya. Yang ku ingat hanyalah lingkungan dengan bangunan tinggi pencakar langit dan teknologi yang berbeda dengan tempat ini, serta aku yang sedang memainkan game ini dengan alat bernama komputer. Karena itu, aku tahu bahwa aku bukan berasal dari dunia ini. Untuk sekarang, aku sudah tidak peduli lagi apakah aku sudah mati atau masih hidup di alam sana. Karena, saat ini pun bukan kehidupan pertamaku di dunia ini. Awalnya aku sangat senang, karena terlempar di dunia game yang aku sukai. Tetapi, rasa takut mulai menghantuiku saat aku tak juga kembali ke dunia asalku meskipun satu cerita telah berakhir. Game ini memiliki 14 ending yang terdiri dari 5 happy ending dan 5 bad ending bersama masing-masing karakter yang dipilih, 1 harem ending dan 1 harem bad ending, satu netral ending, serta yang terakhir adalah secret ending. Selain harem ending dan secret ending, aku sudah pernah merasakan semuanya. Jadi, aku juga tahu seperti apa akhir cerita saat raja iblis berhasil menguasai dunia ini. Aku hanya bisa berharap tidak akan melihat semua itu lagi untuk ke sekian kalinya. Selain percakapan dengan tokoh yang tak banyak muncul di game, semua adegan dan dialog selalu berjalan sama. Karena itu, aku bisa menebak pria mana yang sedang Arabella incar. Namun, beberapa hari ini setelah pesta kelulusan sekolah, aku merasa ada yang aneh. Terutama dengan Yang Mulia Putera Mahkota yang kulayani. Keanehan itu adalah bahwa dia tidak lagi sok mesra dengan Nona Arabella kekasihnya. Padahal sebelumnya mereka seperti kertas dan lem, yang kalau sudah disatukan akan sulit dilepas. Lebih anehnya lagi, sekarnag dia tidak lagi bergerak sesuai dengan skenario di game. Akibatnya para karakter lain pun terpengaruh. “Yang Mulia Rafael pasti membenci Arabella.” Seperti biasa, gadis yang menyebut dirinya Arabella ini menceritakan keluh kesahnya padaku. Dari caranya bicara yang menggunakan sudut orang ke-3, dari awal aku sudah tahu bahwa dia mengincar Pangeran Rafael. Karena memang pangeran itu menyukai gadis yang sedikit kekanakan dan polos. “Saya pikir itu tidak mungkin. Itu pasti hanya perasaan Nona saja.” jawabku sekenanya. “Tapi, dia menampik tangan Arabella dan melihat Arabella dengan tatapan seperti ini.” Arabella mencontohkan bagaimana Rafael melihatnya. Dahinya dia kerutkan dan dia tarik ujung matanya agar lebih sipit. Saat itu, aku tentu saja ragu. Dari event pemutusan pertunangan dengan Nona Eliza Y’ Vone, seharusnya mereka hanya terus saling bermesraan hingga raja iblis bangkit. Aku sudah pernah menjalani kehidupan di rute Rafael sebelumnya. Jadi, aku tidak mungkin salah. “Setelah itu katanya Yang Mulia pergi ke tempat Nona Vone. Yang Mulia Rafael pasti ingin kembali pada Nona Vone.” keluh Arabella lagi. “Tenang saja, Yang Mulia mungkin hanya ingin mengurus pemutusan pertunangannya. Karena, itu kan tidak bisa diputuskan sembarangan.” Ku belai pundaknya yang turun karena merasa khawatir itu. “Semoga saja.” ucapnya. Arabella tidak pernah dan tidak bisa berbohong. Tetapi kalau aku tidak menyaksikannya sendiri, juga tidak begitu yakin. Hinga esok paginya saat aku hendak membangunkannya, sesuatu yang tak biasa mengejutkanku. Yang Mulia Putera Mahkota sudah lebih dulu bangun sebelum aku datang. Bukan berarti dia pemalas, tetapi Rafael adalah seseorang yang susah sekali bangun pagi. Bahkan dia sulit sekali dibangunkan. Keterkejutanku tidak berakhir di situ saja. Karena, setelahnya Rafael mengucapkan sebuah kata yang hampir tidak pernah dia ucapkan. “Tolong pakaikan bajuku.” pintanya. Di kerajaan ini, sebagai seorang bangsawan yang merupakan anggota keluarga raja, cukup wajar kalau dia hanya ‘memerintah’ bukan ‘meminta tolong’. Apa lagi kepada seorang pelayan. Kata tolong itu juga tidak muncul sekali saja. Dia juga mengucapkannya saat meminta kami membawa piringnya kembali ke dapur. Lalu, wajahnya yang biasanya sangat terlihat menikmati sarapan penuh minyak itu juga tidak ada. Justru dia nampak jijik dengan makanan di atas piring mewahnya. Sehari sejak saat itu pun berlalu. Seperti biasanya aku mengurus keperluan pagi Rafael, dan sikapnya yang berbeda itu pun terulang kembali. Ini sungguh membuatku curiga. “Hilda, Arabella ingin tahu di mana Yang Mulia Rafael berada.” Seperti biasa, Arabella mengucapkan permintaan yang sudah berulang kali ku dengar dalam game dan kehidupanku saat ini. Aku tahu di mana Rafael dan sedang apa dia, bahkan tanpa harus Rafael katakan pagi ini. Karena aku memiliki kemampuan sihir untuk mencari. Dengan itu lah aku memberi tahu Arabella di mana targetnya selama ini. Jika sudah diminta seperti itu oleh Arabella, biasanya sistem dalam dunia ini akan memaksaku untuk menggunakan sihir itu. Tetapi kali ini, aku sama sekali tidak merasakan paksaan itu. Karena ini, muncul sebuah harapan dalam pikiranku. Mungkin, sekarang aku sudah bisa bergerak dengan bebas tanpa terganggu oleh sistem aneh yang selama ini menahanku. Ku pikir, aku harus mencari tahu lebih dalam lagi. Karena itu, aku menjawab, “Kebetulan saya mau ke tempat Yang Mulia jam 9 nanti. Apa Nona mau ikut bersama saya?” Arabella segera mengiyakan ajakkanku. Jadi, kami pun pergi ke sana bersama. Namun, siapa yang tahu bahwa akan terjadi sebuah hal mengerikan setelahnya. Schwarlk Brugman, seorang manusia setengah iblis yang juga salah satu target cinta Arabella tiba-tiba mengamuk dan menjadi anjing borzoi hitam raksasa. Saat aku menjalani rute Schwarlk sebelumnya, borzoi hitam raksasa itu juga mengamuk di sebuah event. Tetapi, ukurannya kali ini bisa dikatakan dua kali lipat. “Kenapa tiba-tiba event yang seharusnya tidak terjadi di rute Rafael, justru terjadi di sini?” dalam hati aku terus bertanya seperti itu. Rafael sendiri tahu jawaban dari pertanyaan itu. Dia menjelaskan apa yang sebelumnya terjadi pada Schwarlk dan seorang prajurit sihir kemarin. Dan dari penjelasan itu juga, aku menyadari bahwa Rafael sudah tahu identitas Schwarlk yang sebenarnya adalah salah satu dari tiga cerberus, binatang iblis penjaga pintu dunia iblis. Bodohnya, aku yang terlalu penasaran langsung mengkonfrontasinya begitu saja. Dan gara-gara itu, aku jadi harus menceritakan siapa aku sebenarnya setelah semua huru-hara ini selesai. “Aku serius tidak tahu. Bukannya kamu yang mengirimku ke sini? Harusnya tahu dong, kalau saya baru belajar sihir?” Dia malah curiga padaku dan menuduhku sembarangan. “Siapa yang mengirim Yang Mulia ke mana? Bahkan, sebenarnya saya yang paling menderita karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan saya dan cerita game sialan ini!!” Saking sebalnya, aku jadi terlalu bersemangat. “Saya akan menjelaskannya nanti, jadi tolong Yang Mulia fokus pada Nona Arabella sekarang!” bentakku. “Aku tidak tahu caranya mentransfer mana! Kenapa bukan kamu aja!?” dia balas membentakku. Hiiisshhh… kalau bisa, aku juga akan melakukannya sendiri. “Mana saya terlalu kecil! Kalau Yang Mulia kan tumpeh-tumpeh!” Masa bodoh, kalau keluar bahasa aneh dari mulutku. Paling dia juga paham. “Ya udah! Cepetan kasih tahu caranya! Hhhrrrh!” dia juga tidak kalah geram denganku. Pada akhirnya, aku pun mengajarkan caranya secara singkat. “Pegang tangannya, terus rapalkan mantera bla… bla… bla…” Awas saja kalau masih tidak bisa. Akan ku balas ini Pangeran g****k. Berani sekali dia memantik emosiku. Mentang-mentang pangeran AAAAAAAAAAAARRRGGHH!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD