Bab 2

1115 Words
*** Nindya sekarang sudah berpikir matang, dia benar-benar memikirkan hal itu seminggu terakhir ini. Dia pun berkaca di kamarnya dan melihat dirinya sudah yakin betul-betul mengambil keputusan itu. "Demi emak, bapak. Aku rela merantau untuk membanggakan mereka," ucapnya mantap percaya diri melihat dirinya sendiri di cermin. "EMAAKKK!" Teriaknya sembari lari meninggalkan kamar. Emaknya yang sedang asyik memasak sayur di dapur kaget mendengar teriakan anaknya itu. "Ehhh ya Allah! Ada apa to nak!" jawab emaknya sambil mempertahankan sayurnya agar tak tumpah. Nindya nyengir. "Hehh ngagetin orang tua aja! Kalau ini tumpah gimana? Eleuh eleuh." Rengek emaknya. "Hehehe maaf mak, mak. Nindya sudah buat keputusan buat emak." ucapnya nyengir. Emaknya terdiam dan penasaran. "Keputusan apa atuh," tanya emaknya. "Ituu... Kuliah ke luar kota kata emak," jawabnya Emaknya pun seketika ingat. "Oohh, kamu yakin? Emak nggak maksa kok. Itu hak kamu mau atau tidak nak," ujar emaknya. "Iya mak, aku bener-bener mau. Nggak kepaksa kok. Lagian kan ini memang demi kebaikan aku juga, jadi aku nggak mau nyia-nyia in kemauan emak sama bapak," jawabnya meyakinkan. Emaknya yang mendengar pun sangat tak percaya dan terlihat ingin tersenyum. "Lagi pula mak, ku pikir-pikir banyak kok orang yang lebih susah dari aku. Mereka pengen kuliah tapi nggak bisa. Sedangkan aku, orang tua ku malah sayang banget sama aku kaya emak." sambungnya sembari memeluk emaknya dari belakang. Emaknya pun tersenyum haru mendengar perkataan putri nya yang bersyukur itu. Dia sangat bahagia mempunyai anak seperti Nindya. "Hmm, yakin? Kalau emak serahkan sama Nindya aja. Emak janji kok kalau Nindya benar-benar mau kuliah, emak akan jenguk rutin Nindya tiap bulan." kata emaknya sembari mengusap rambut anak tunggal kesayangannya itu. "Kalau Nindya ada apa-apa juga emak langsung kesana. Toh sekarang enak ada wa ya kan?" sambung emaknya tersenyum lebar. "Iyaa mak, aku tau kok. Aku janji akan benar-benar kuliah nanti," jawab Nindya membalas senyum emaknya. Mereka pun sama-sama tersenyum dan berpelukan. Terlihat sangat hangat ikatan kedua orang tua dan anak ini. "Ya sudah, nanti sore kita bilang ke bibi Miyah ya. Biar keponakan beliau juga tau, kalau kamu jadi ikut sama dia ke kota." ucap emaknya tersenyum. Nindya pun mengangguk senang. "Ntar kalau berangkat biar bapak emak suruh nganterin ke sana. Sampai kost-kost an baru kalian biar aman," sambung emaknya meyakinkan putrinya agar tak merasa terbebani. "Iyaa mak, mantap deh." jawabnya cengengesan. Emaknya terus tertawa melihat kelakuan putrinya itu. ... Sore telah tiba. Sekitar pukul 16.00 mereka pun menghampiri bibi Miyah, memberitahukan bahwa Nindya sudah memikirkan keputusannya. Bibi Miyah pun tak percaya, dia juga merasa ada kebanggaan pada diri Nindya karena Nindya sebenarnya adalah anak yang lumayan manja dan ternyata mau saja untuk berpisah dengan kedua orang tuanya selama 3 tahun ke depan nantinya. "Wahh bibi juga senang loh dengernya sayang. Pasti Aya seneng kalau tau dia jadi punya teman buat pergi kuliah di sana," puji bibi Miyah sembari membelai bahu Nindya. Nindya tersenyum ramah, seakan setuju dengan perkataan bibi Miyah tadi. Akhirnya Nindya pun bertemu dengan Aya dan membicarakan rencana mereka ke depannya. Mulai dari berangkatnya, mencari tempat kost, dan mendaftar kuliah di sana bersama. Emak Nindya juga menjelaskan bahwa bibi Miyah tenang-tenang saja, karena besok lusa bapak Nindya libur tidak bekerja dan ia lah yang menemani dan mengantarkan mereka ke kota untuk pertama kalinya. Bibi Miyah pun senang mendengarnya dan sangat setuju dengan emak Nindya. Setelah semua mereka bicarakan, mereka pun berpamitan pulang. Jam juga sudah menunjukkan pukul 17.45 sore hari. . Saat di jalan menuju pulang, Danish tak sengaja bertemu dengan Nindya. Ia pun menghampiri Nindya karena memang dari kemarin ia ingin bertemu dengan pujaan hatinya itu. Nindya terlihat sangat kesal, namun dia mencoba bersikap ramah kepada Danish. "Hai Nindya," sapa Danish ramah sembari mengikuti langkah Nindya. "Ehhh nak Danish dari mana kamu teh," pangkas emaknya Nindya menyapa balik tersenyum ramah kepada anak RT tempat tinggalnya itu. Danish pun tersenyum sopan. Danish memang pemuda yang lugu, agak konyol, dan lumayan tampan, wajahnya begitu manis, badannya tinggi dan putih, matanya besar serta alisnya tebal. Maka dari itu ia termasuk idola gadis-gadis di kampung sana, sebenarnya banyak yang iri kepada Nindya karena Danish selalu mendekati dirinya. Namun, Nindya padahal tak suka baginya Danish adalah orang yang terlalu alay. Mungkin ini juga alasan Nindya agar terhindar dari Danish dan gadis-gadis desa menyebalkan yang mengiri-i dirinya. "Ehh iya tan, tadi saya dari kebun teh terus teh ke sini eh nggak sengaja ketemu sama tante, Nindy." jawabnya ramah. Nindya hanya menyeringai. Ia memandang Nindya, matanya penuh dengan kekaguman. Namun, Nindya tak memperdulikan nya. "Ooalahh hooh, memang subur banget dah kebun ayah mu itu nak. Teh nya selalu membuat seluruh warga seger dan semangat di pagi hari!" puji emak Nindya kepada Danish, ya ayah nya memang pemilik kebun teh di desa itu. "Haha, tante bisa aja." sahut Danis tertawa malu. "Oh ya Nin, kamu malam ini sibuk ya? Kita makan bareng yuk," tawar Danish malu-malu. Emaknya pun mendengar itu, dia tertawa melihat kelakuan pemuda polos itu. "Naah pas banget atuh Nindya! Sembari perpisahan." Bisik emaknya tertawa. Danish mendengar itu, dia agak heran. "Hah, perpisahan? Perpisahan apa tan?" tanya Danish penasaran. Nindya melototi emaknya agar tak ember. "Oh hee, gini nak Danish. Neng Nindya teh mau kuliah ke luar kota." jawab emaknya nyengir. Danish terkejut mendengar hal itu. Seakan tak terima, berarti sekarang ia akan terpisah dengan Nindya dan tak bisa melepaskan kerinduannya lagi kepada Nindya. Ia pun delima. "Ehehee soalnya di sini kan nggak ada kampus nak Danish, jadi terpaksa teh tante taroh di kota." sambung emaknya. Danish memanyunkan bibirnya. "Beneran ya Nin?" tanya nya masih tak percaya. Nindya pun terpaksa menjawab nya. "Ehhee iyaa Nish, aku mau kuliah di sana. Soalnya aku mau nge bahagiain kedua orang tua aku." jawab Nindya lirih. Danish pun tertunduk. Nindya pun tersadar akan hal itu, dia kelihatannya juga tak tega. Dia pun mencoba menghibur Danish agar tak terlalu mengingat hal itu. "Emm, ya sudah. Nanti malam kita makan ya? Aku nggak sibuk kemana-mana kok." ucap Nindya menghibur sembari memegang pergelangan tangan Danish. Danish pun menatapnya, dan terlihat ada raut kesenangan terlukis di wajahnya. Nindya pun mencoba tersenyum manis kepada dirinya, membuatnya semakin tersipu malu. Sebenarnya Nindya terpaksa melakukan ini tapi bagi nya ini yang terakhir untuk Danish agar dia tenang bisa menjauh darinya maka dari itu Nindya mau melakukannya dengan baik. Emaknya Nindya memandangi mereka, ternganga heran dan mencoba untuk tidak tertawa. Danish pun akhirnya tersenyum. "Beneran? Yess! Makasih banyak ya Nindya," ujarnya senang. Nindya pun merasa sangat lega ia tak lagi sedih dan cemas. "Tante, boleh kan kami malam ini keluar?" izin Danish merayu emaknya Nindya agar di bolehkan. Emaknya pun tersenyum lebar lalu tertawa. "Iya, nggak papa, cuman makan doang, kok. Ya udah nanti hati-hati ya? Jangan pulang terlalu malem aja," pesan emak Nindya. Nindya dan Danish pun menangguk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD