Bab 3

2049 Words
Saat makan Danish terlihat murung. Ia terus tertunduk lesu seakan tak menganggap sepiring nasi di depannya. Nindya yang awalnya asyik melahap makan langsung terkekeh melihat Danish yang dari tadi murung. Nindya pun terhenti dan meliriknya bingung, merasa tak enak juga. "Emm Nish?" Suara Nindya bernada ragu itu membuat Danish terkekeh. "Hm?" Danish hanya melirik lesu ke arahnya. "Di makan ituh makanannya," bujuk Nindya merasa tak nyaman. Danish termenung sejenak. Ia lalu menyeringai menahan air matanya. Melihat itu Nindya semakin merasa tak tega padanya. "Nish, duuh aku minta maaf ya sama kamu. Aku... Aku gak ada niat sama sekali buat kamu sedih begini kamu jangan sedih gitu dong," ucap Nindya merasa tak tega padanya. Danish yang mendengar Nindya berkata seperti itu langsung merasa terpana. Kedua keningnya terangkat terdiam dengan pipi mulai memerah. Gadis cantik itu selalu membuatnya merasa salah tingkah. "Ehmmm," Lelaki manis itu hanya menyeringai berusaha menahan tawanya sembari membuang muka ke samping, membuat Nindya langsung melotot mengerutkan alisnya merasa malu. "Naah, gitu dong. Suka gue liatnya," lirih Nindya menahan senyumnya sembari menyuap nasi itu melirik Danish merasa senang. Danish akhirnya tak bisa menahan senyumnya dengan menampakkan gigi rapinya, memandangnya tulus. Setelah di bujuk Nindya. Akhirnya pemuda itu mau memulai makannya dan mencoba membuang rasa sedihnya tadi. Danish mencoba menikmati kebersamaan bersama gadis pujaan hatinya itu. Setelah makan mereka pergi ke kebun teh milik Ayah Danish di atas bukit yang sangat indah. Nindya berlari kecil sembari menyentuh daun-daun teh segar itu tersenyum lebar menikmati pemandangan indahnya. Danish yang melihat Nindya terlihat begitu ceria hanya mengikutinya dari belakang ikut tersenyum bahagia. Mereka terus berlari kecil sembari sesekali bercanda, Danish sengaja menusuk pinggang Nindya dengan jari telunjuknya dari belakang hingga membuat Nindya refleks kaget berhenti menoleh ke arahnya. Pemuda itu tertawa seketika hingga memegangi perutnya sembari menahan pukulan bercanda Nindya. Nindya lalu berpura-pura berpaling darinya sembari cemberut imut menahan tawanya. Momen itu semakin membuat pemuda itu mengaguminya. Seketika Danish kembali terpana terdiam menatap Nindya tanpa Nindya sadari. Nindya lalu melangkah sembari mengindikkan bahunya mencibir menahan senyum tanda bodo amat dengan Danish yang tanpa dia ketahui terus memandangnya. Danish lalu membetulkan posisinya sembari salah tingkah. Ia lalu mengikuti Nindya lagi dengan langkah yang lebih semangat. * Tak terasa senja pun muncul. Nindya sudah sampai di depan rumahnya di antar Danish. Danish menatapnya sendu seakan tak rela jika Nindya pergi ke luar kota dan akan bertemu dengan lelaki lain yang lebih ganteng, keren, kaya di sana. Karena Danish tau, di kota lebih banyak bermacam model laki-laki juga perempuan di sana. Tidak seperti di desa mereka yang pencil. Ketika Nindya sudah berpamitan dengannya berbalik dan mulai melangkah. Danish langsung memanggilnya dengan nada berat. "Nindya," Seketika langkah Nindya terhenti karenanya. "Iyaa, ada apa lagii?" tanya Nindya berbalik lagi ke arahnya. Danish mengerutkan alisnya sedih. Nindya merasa sekarang. Danish pun melangkah mendekatinya. Kini mereka pun berhadapan. Nindya hanya menatapnya iba. "Nindya... Sebenarnya kamu udah tau kan perasaan aku ke kamu?" tanya Danish sembari menarik nafasnya berat. Nindya yang mendengarnya hanya terdiam dan pelan mulai tertunduk tegang, bingung sekaligus tak enak. Danish memang lebih tua darinya sekitar 3 tahun darinya. Maka tak salah jika pemuda ini tlah memiliki perasaan cinta yang mendalam kepada gadis cantik berusia lebih muda 4 tahun darinya itu. "Aku serius cinta sama kamu Nindya, Nindya... Aku benar-benar... Gak akan bisa, kalau kamu pergi jauh dari aku," lirih Danish serius sembari mengerutkan alisnya menahan air mata, dengan gemetar ia mulai meraih tangan Nindya. Nindya semakin merasa resah karenanya. Gadis itu langsung melotot melihat tangannya di genggam lelaki berwajah lembut itu. Nindya langsung memejamkan mata sembari pelan melepaskan genggamannya. "Danish... Aku udah jelasin kan sama kamu?" Perkataan yang dilontarkan Nindya membuat Danish membelalakkan matanya yang berkaca-kaca. "Aku..." ucap Nindya merasa sangat bersalah. "Aku jujur Nish, aku gak punya perasaan apa-apa sama kamu," jawab Nindya sangat berat sedih. Betapa teririsnya hati Danish mendengar penuturan itu. Jantungnya seakan di tusuk anak panah sangat tajam dan beracun, mendadak berhenti berdetak. "Aku udah anggap kamu kayak Kakak aku sendiri. Kamu itu selalu ngelindungin aku dari apapun, dan kita udah kenal sejak kecil. Kita sudah tumbuh besar bersama-sama di sini Danish, jadi... Aku serius, aku gak akan pernah bisa nerima perasaan kamu. Maafin aku..." jelas Nindya mengerutkan alisnya sangat tak tega. Sekarang Danish hanya bisa terdiam tak bisa menjawab sepatah katapun sembari menitikkan air mata di pipi kirinya. "Terimakasih banyak Danish," ucap Nindya tersenyum menahan air matanya. Danish semakin merasa terisak mengerutkan alisnya menatap wajah cantik gadis itu. Nindya melebarkan senyum dengan kedua bibir rapat terbungkam sembari membelai bahu Danish lembut. Nindya menarik nafas lalu berat hati dia berpaling. Danish seakan tak ingin membiarkan Nindya pergi begitu saja untuk terakhir kalinya. Ia kembali menarik jemari panjang Nindya hingga langkah Nindya terhenti tak bisa berlanjut. Nindya langsung menoleh ke arahnya terheran. Kini Nindya hanya melongo heran menatapnya dan pasrah saja tangannya tetap di pegang Danish. "Aku gak akan lupain kamu begitu aja Nindya..." Nindya hanya mematung tegang semakin membelalakkan matanya menatapnya. "Walau aku tau perasaan kamu sekarang sama aku begitu. Itu gak akan ngebuat aku menyerah..." ucap Danish serius menggeleng kecil dengan mata berkaca-kaca. Perkataannya sekarang membuat gadis itu menjadi patung. "Aku akan ngebuktiin... Kalau aku beneran cinta sama kamu... Nindya," sambung Danish lirih meyakinkan. Nindya hanya melongo mengerutkan alisnya sungguh tak percaya, kalau Danish memang benar-benar mencintainya. Danish kembali melangkah pelan mendekatinya masih erat menggenggam tangannya. Nindya sekarang hanya terdiam mendongak ke wajah lembut lelaki itu. Sekarang mereka berpandangan begitu dekat hingga membuat jantung Nindya berdebar kencang sampai Nindya meneguk air liurnya. Danish terus memandangnya dalam dengan raut yang sendu. Danish mulai memiringkan kepalanya hingga sekarang Nindya merasa pasrah saja dengan apa yang terjadi selanjutnya. Namun, tak di sangka. Ternyata Danish hanya membetulkan rambut di belakang telinganya. Sungguh lembut sentuhan lelaki yang memang berparas manis itu. Nindya sekarang hanya ternganga kecil merasa bingung, dia merasakan sentuhan lembut tangan berurat berkulit putih bersih dari lelaki itu. Danish terus memandang sendu telinganya masih membelai rambut indah Nindya. Di kebelakangkannya rambut indah itu tepat di belakang telinga kanan Nindya hingga membuat Nindya tertunduk murung. Danish lalu kembali menatap mata sipit cantiknya. "Kamu jaga diri baik-baik di sana nanti ya," pinta Danish tersenyum tipis menahan sedihnya. Betapa remuknya hati Nindya mendengar orang malang yang mencintainya tetapi tidak bisa dia cintai balik itu. Nindya mencoba tersenyum padanya. Gadis itu melihat ke arahnya. "Iya... Pasti, makasih ya," jawab Nindya seraya mengangguk kecil. Danish termenung sejenak lalu tersenyum dengan nafas yang berat. Nindya langsung pamit pulang agar suasana tidak semakin larut karenanya. Akhirnya Danish pasrah melepaskan Nindya yang sudah berjalan cepat menjauh darinya. Kini lelaki itu hanya bisa terdiam dan menunduk meratapi nasibnya. **** Waktu Nindya merantau ke luar kota akhirnya tiba. Sekarang terlihat Nindya beserta Aya juga keluarga mereka berkumpul untuk memberangkatkan kedua gadis mereka. Nindya dan Aya membawa koper-koper besar. Masing-masing terlihat sangat telah mempersiapkan keberangkatan mereka. "Periksa dulu.. di ingat-ingat apa yang ketinggalan," beritahu Mama Nindya yang terlihat juga berat hati melepaskan putri tercinta semata wayangnya itu pergi. "Iya bener, Aya juga udah di periksa bener-bener gak?" tanya Bibi Aya juga mengingatkan keponakannya. "Iyaa tenang kok Ma, semua udah aku siapin dari kemarin. Keknya udah sip deh," jawab Nindya tersenyum meyakinkan. Mamanya tersenyum mendengar perkataan anaknya sembari mengangguk membelai wajah cantik anak tercintanya. "Iya udah tenang kok Bi, Aya juga udah bawa semuanya," sahut Aya ikut meyakinkan Bibinya. Akhirnya Mama Nindya dan Bibi Aya merasa tenang. **** Danish yang terlihat tergesa saat masih sarapan bersama kedua orangtuanya. Ayahnya yang melihat kelakuan anaknya itu kini tersadar dan merasa heran padanya sembari menghentikan seruputan kopinya. "Loh, Danish. Kamu toh kenapa kek buru-buru gitu, mau ke mana?" tanya pria berkumis lumayan tebal yang terlihat berwibawa itu, karena memang keluarga mereka adalah orang yang kaya dan paling di hormati di kampung sana. Mamahnya hanya terdiam melirik anak kesayangannya heran. "Danish mau ketemu sama Nindya Pah," jawab Danish sembari terus menyuap sereal dan meminum s**u segar di cangkir yang telah di siapkan spesial setiap harinya untuk putra tercinta mereka itu buru-buru. "Yaa sabar atuh sayang makannya. Jangan buru-buru gitu ntar kesedak," tegur Mamahnya lembut karena memang Danish selalu di manjakannya. "Woh iya to Nish, emang kenapa jadi kek di kejar hantu gitu makannya. Emang ngebet banget ya kamu mau ketemu sama Nindya? Haa, hahaa," ledek Ayahnya sembari menyipitkan sebelah mata terheran sekaligus merasa senang melihat anaknya yang lagi kasmaran. "Ayaah," tegur Mamahnya lirih. "Yo gakpapa to Maah, Nindya itu anak yang baik juga kok. Dia gadis yang ramah, cantik juga. Gak salah Danish pilih cewek menurun Ayahnya hehe. Serasi aja kok sama anak kita yang ganteng juga pinter ini," tukas Ayahnya yang ternyata menyukai Nindya dan berharap Nindya menjadi menantunya kelak. "Nindya mau pergi kuliah ke luar kota Ayah," jawab Danish. Seketika Ayah dan Mamahnya langsung kaget mengerutkan alis mendengar hal itu. "Hah? Ooh, begitu?" tanya Ayahnya dengan ekspresi masih kaget. "Ooh, pantesan kamu buru-buru kek gini mau pamitan sama dia toh sayang. Emang katanya si Nindya mau kuliah di mana?" tanya Mamahnya. "Katanya sih di Jakarta Mah, ya udah Danish berangkat dulu ya Mah, Yah! Assalamualaikum!" Danish langsung berdiri setelah menghirup kuah s**u sereal di mangkuk itu sampai membuat Mamahnya ternganga melihat tingkahnya. Lelaki itu langsung menyalimi tangan kedua orangtuanya buru-buru lalu meloncat pergi berlari keluar mengejar Nindya. "WAALAIKUMSALAM! NISH! Hmmm," teriak Mamahnya yang sedikit panik. Namun akhirnya wanita itu hanya berdecak maklum seraya menggeleng sembari tersenyum tipis. Ayahnya hanya tertawa merasa lucu sekaligus bangga memandang Danish yang terlihat gentleman bagi pria paruh baya berbadan tegap itu. **** Nindya dan Aya sudah masuk ke dalam taksi colt milik Ayah Nindya. Semua bawaan mereka juga sudah di angkut ke dalam taksi colt. Nindya dan Aya juga sudah bersalam mencium masing-masing tangan Mama dan Bibi mereka. Saat perpisahan itu mereka sempat bersedih mengeluarkan air mata tanda begitu haru sekaligus berat meninggalkan keluarganya. Kini Nindya dan Aya sudah pasrah dan siap berangkat. Ayah Nindya yang dari tadi sudah siap di depan hanya tersenyum berat mencoba pasrah dan kini mulai menjalankan taksi coltnya. Taksi itu mulai berangkat sembari di iringi lambaian tangan Mama Nindya dan Bibi Aya yang terlihat begitu haru juga sedih melihat anak serta keponakan mereka yang telah menjauh pergi. Nindya dan Aya tak lupa membalas lambaian mereka dengan hati yang begitu berat. Kini perasaan Nindya campur aduk. Sekarang dia merasa bingung, sedih, dilema dan merasa takut menjalani kehidupan sehari-hari di kota metropolitan itu nantinya. Namun, perasaannya masih dia coba tepis sembari terus melihat ke belakang tempat Mamahnya yang kini sudah semakin jauh di pandangannya. Aya sekarang terlihat lebih rileks dan mulai memainkan handphonenya saja tanpa memerdulikan Bibinya lagi. Nindya yang tersadar dengan kelakuan calon teman se kostnya itu hanya merasa heran. Namun, Nindya berpikir, mungkin Aya sudah terbiasa terpisah dengan keluarganya sejak SMA dulu. Maka dari itu sekarang dia hanya rileks juga terlihat begitu santai tidak seperti Nindya rasakan saat ini. Nindya pun mencoba memaklumi. Dia akhirnya mulai duduk di sampingnya dan mencoba ikhlas dengan yang terjadi seperti Aya. Sebenarnya hatinya ingin menangis saja saat itu, tapi karena dia juga tak ingin di bilang Aya cengeng akhirnya dia menahannya dan sok cool. Nindya canggung, dia ingin mengajak Aya mengobrol tetapi Aya seakan asyik dengan dunianya saja. Akhirnya kini 2 gadis itu masing-masing saling sibuk mengutak-atik handphonenya. **** Danish terlihat terus berlari terbirit-b***t. Setelah berlari begitu kencang sampailah ia tepat di depan Mama Nindya dan Bibi Aya yang masih berdiri di sana. Mereka sempat terkaget saat melihat lelaki itu langsung berhenti mendadak di depan mereka yang nyaris menabrak mereka dengan nafas begitu ngos-ngosan. "Eh?! Aa Danish?! Kenapa A jadi ngos-ngosan beginii?!" panik Mama Nindya langsung prihatin melihat Danish yang bertekuk memegangi kedua lututnya terengal dengan keringat bercucuran. "Huh huh, m-maaf Tan. Saya... Saya terlambat ya?" jawab Danish ngos-ngosan mencoba mengatur nafasnya. Mama Nindya yang awalnya bengong tak paham akhirnya mengerti. Kalau Danish berlari cepat ke sini untuk menemui putrinya. "Ohh astagaa ya ampuuun. Jadi, Aa Danish ke sini mau susulin Nindya?" tanya Mama Nindya membelalakkan matanya kasian. Danish langsung mengangguk tanda benar. Betapa kasihannya mereka saat mengetahui hal ini. "Aduhh Nindyanya teh udah berangkat A sama Aya tadii barusaan aja," sedih Mama Nindya. Bibi Aya mengangguk sedih tanda membenarkan. Betapa kagetnya hati lelaki itu. Ia langsung membelalakkan mata ternganga. Akhirnya ia hanya bisa menjerit keras dalam hati lalu tertunduk kesal. "HAHH?" "Uuurgh, ARGH!" teriak Danish langsung merebahkan tubuhnya kasar hingga membuat Mama Nindya dan Bibi Aya kaget dan semakin kasian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD