Bab 4

2028 Words
Waktu pun terus berlalu. Perjalanan lumayan menguras tenaga hingga terlihat Nindya dan Aya sekarang sama-sama sudah tertidur pulas di taksi. Namun, rem Ayahnya membuat Nindya terbangun sedikit kaget dengan mata yang merah lantaran tak sengaja terbangun dari tidurnya. Gadis itu langsung terlihat bengong melihat ke arah luar jendela. "Loh udah sampai Pa?" tanya Nindya planga-plongo menengok ke arah luar kanan kiri jendela. Aya yang dari tadi tidur akhirnya menggeliat karena mendengar pembicaraan Nindya bersama Ayahnya yang lumayan bising. "Iya, kita sudah sampai Nak," jawab pria itu sembari menggasnya santai taksinya kembali karena lampu merah di atas sudah berubah menjadi hijau. Betapa kagumnya Nindya ketika melihat ke arah luar. Gedung-gedung sangat indah menawan tinggi menjulang ke langit. Sungguh pemandangan yang memang sangat jauh berbeda dengan kampung halamannya sampai-sampai gadis desa polos itu ternganga melongo. Aya kini terbangun dan ikut duduk menegapkan badannya memandangi ke luar jendela juga dengan wajah yang masih setengah sadar sembari mengumpulkan nyawanya kembali. "Eh? Udah di Jakarta?" tanya Aya melongo seperti orang songong. "Iya, gw juga baru kebangun. Tau-tau udah sampai," jawab Nindya. Ayah Nindya hanya tertawa kecil mendengar mereka seraya terus fokus menyetir di jalan raya besar kota metropolitan sangat ramai itu. Mereka terus berjalan hingga akhirnya sampai ke tujuan dengan selamat. Ayah Nindya memarkirkan taksi coltnya di depan halaman lebar depan kost mereka. Pria itu tak lupa membantu mengangkat semua koper yang mereka bawa ke dalam dan merapikan rumah yang akan di diami anak semata wayangnya itu dulu sebelum nantinya di tiduri mereka malam ini. Mereka terlihat sibuk sekarang. * "Huhhh, akhirnya selesai juga," dengus Nindya seraya berkacak pinggang merasa puas melihat semuanya beres. Aya memang jago memilih tempat kost. Nindya terlihat langsung merasa nyaman di tempat tinggal barunya. Nindya melirik ke arah Aya yang ada tepat di sampingnya yang juga terlihat ngos-ngosan sembari tersenyum lebar. "Aya, lo emang gak salah pilih kost-an ya. Sumpah, gue gak akan nyesal bakal tinggal di sini juga," ucap Nindya senang. Ayah Nindya akhirnya ikut berdiri di samping Nindya seraya tetap memeriksa sekitar apakah masih ada yang belum ia bereskan. "Iya dong, kan demi kita juga. Ya harus nyaman dan bagus lah," jawab Aya menyeringai. Mereka hanya saling tersenyum puas seraya memandang semua sisi ruangan bercat putih pink manis itu. * Hari tak terasa sudah sore. Ayah Nindya akhirnya pamit pulang. "Bapa pulang ya Nak," kata pria paruh baya itu bernada berat sembari memegangi kedua bahu putrinya. "Iya Pa," jawab Nindya hanya tersenyum mengangguk mendongak menatapnya polos. Aya pun ikut keluar dan sekarang ada di samping Nindya. Pria itu mendengus menahan sedih. Ia lalu melepaskan kedua bahu Nindya berdiri di depan mereka. "Kalian jaga diri baik-baik di sini ya, Aya, Om tau kamu akan menjadi sahabat Nindya satu-satunya yang akan selalu menemaninya di sini. Om percaya sama kamu. Om harap kamu juga selalu aman di sini. Jaga diri kamu, karena ini kota besar Nak. Om tau Aya, kamu lebih berpengalaman tinggal di sini. Om harap, kamu bisa jadi contoh yang baik untuk Nindya sampai nantinya," ucap Bapa Nindya sedih. Nindya yang mendengarnya kini termenung dengan senyuman yang memudar pelan-pelan tertunduk. Wajar pria itu merasa sangat berat hati, karena baru kali ini ia terpisah dengan putrinya. "Iyaa Om tenang aja kok. Aya gak bakal ninggalin Nindya bagaimanapun di sini, dan Aya gak akan biarin ada orang yang mau macam-macam sama dia," jawab Aya tersenyum melipat kedua tangannya di d**a sembari bersandar di tiang teras kost mereka. Nindya terharu mendengar perkataan yang keluar dari mulut Aya. "Ahhaa makasih ya Aya. Ehmm, Nindyaa, kamu baik-baik ya sayang. Kalau ada apa-apa, kamu juga jangan ninggalin Aya apapun yang terjadi, kalian jangan berpisah, dan kalau langsung kabari Bapa. Bapa akan segera bantu kalian," ucap Ayah Nindya. Nindya mengangguk kecil sembari tersenyum. "Iyaa Pa, Nindya janji kok. Nindya bakal jaga diri Nindya di sini baik-baik, kuliah yang bener-bener biar gak ngecewain Bapa sama Mama di kampung yang rela banting tulang buat Nindya agar bisa ke sini sama Aya," jawab Nindya meyakinkan, Nindya mengerutkan alisnya menahan air matanya. Pria itu tak tahan menahan air mata, ia tersenyum haru sembari mengelus kepala putri tercintanya. Aya hanya menunduk menyeringai tanda ikut merasa sedih. "Hehh, yaa. Bagus, oke siap. Kalau gituu, Bapa pulang dulu. Kalian baik-baik ya?" pinta Ayah Nindya tersenyum berat sembari di salami Nindya dan juga Aya berpamitan pulang. Aya mengangguk mantap sedangkan Nindya hanya terdiam menatap Ayahnya sangat terisak dalam hatinya. Akhirnya Ayah Nindya berbalik dan melangkah pergi meninggalkan mereka. Sekarang ia sudah menaiki taksinya dan menutup pintu lumayan keras. Terlihat taksi colt itu sekarang tlah menyala siap meluncur pergi. Ia langsung mengundurkan taksinya dan berbelok pergi meninggalkan mereka seraya mengklakson untuk perpisahan. Nindya dan Aya melambaikan tangan mereka ke arah taksi yang sudah melaju pergi. Nindya lalu menarik nafas mencoba kuat menghadapi semuanya. "Huhh, yok masuk," ajak Aya mengendikkan kepalanya tersenyum miring lalu masuk ke dalam. Nindya hanya membalas senyumannya sembari mengangguk mengiakan tanpa menjawab sepatah katapun. Sepertinya gadis itu masih sedih atas kepergian Ayahnya tadi. Aya pun pergi masuk duluan dan meninggalkan Nindya saja di teras. Nindya sekarang merenung. Dia terbayang bagaimana nanti dia menjalani kesehariannya di sini. Hanya bersama Aya. Nindya lalu melihat ke depannya serius. Dia berpikir pasti bisa melewati semuanya dengan baik. Dia memantapkan dirinya sendiri menarik nafas seakan membusungkan d**a lalu mengangguk mantap. Akhirnya dia ikut masuk ke dalam mencoba menenangkan pikiran dan ketakutannya itu. **** Hari ini adalah hari pertama Nindya masuk kuliah. Gadis itu terlihat masih lugu dalam hal berpakaian. Namun, meski begitu kecantikannya masih terpancar jelas. Terlihat dia sudah siap ingin berangkat ke kampus dengan perasaan gugup, senang, sedih campur aduk. Aya yang tadi ke dapur sebentar dan juga terlihat sudah begitu modis siap berangkat ke kampus langsung melotot ketika melihat tampilan temannya yang begitu culun itu. Aya memang gadis yang lebih centil di banding Nindya karena dia sejak SMA sudah pandai merantau ke kota sendiri hingga dia sekarang menjadi gadis yang gaul dan keren bisa berpakaian modis seperti anak-anak kota di sana. "Eh eh?! Tunggu dulu!" seru Aya hingga membuat Nindya terkekeh. "Kenapa Ya?" tanyanya heran. Aya langsung melongo melotot lebar dengan bibir mencibir lalu mengendikkan kaki sebelah melihat tampilan konyol temannya itu yang seperti cabe-cabean kampung. Nindya memang masih belum tahu menahu soal gaya fashion yang ada di kota. "Lo yakin mau berangkat hari pertama dengan outfit kek gini?" tanya Aya dengan raut wajah tak yakinnya. Nindya hanya mengerutkan alisnya terdiam lalu melirik ke bajunya sendiri. "Eem, hm," Nindya hanya tersenyum miring berwajah ragu sendiri pada dirinya. "Ahhahaa, ya ampuun. Duuh sini deh gue ajarin," Aya tertawa renyah langsung mendekatinya dan menyuruhnya untuk berganti baju. "Ihh kenapa sih ya ini baju sopan aja bagus kok," gerutu Nindya merasa risih Aya menarik-narik bajunya untuk mencoba membantu mengganti pakaiannya. "Gaak ini gak bagus!" "Tapi ini adem Aya?!" "Lu jangan malu-maluin gue di hari pertama!" pungkas Aya. Aya tidak memedulikannya dan terus menyuruhnya untuk melepaskan baju yang dia pakai. Akhirnya Nindya pasrah. "DUUH YA UDAH DEH! IYA IYA?! Trus, gue pakai baju apa dong?" kesal Nindya. "Udaah. Lu pakai baju gue aja dulu?! Bentar?!" sahut Aya sembari berlari ke lemarinya. Nindya hanya mengerutkan alisnya mendengus kesal. Aya menyerahkan salah satu outfitnya itu ke Nindya. Nindya akhirnya menerimanya dan mengganti pakaiannya. Sekarang gadis itu terlihat lebih cantik. Aya yang terlihat sudah bosan menunggunya langsung terkekeh ketika melihat teman sekostnya itu keluar memakai outfit yang dia sarankan. Aya ternganga. Nindya terlihat begitu cantik feminim memakai kaos berlengan pendek biru tua dan celana jeans hitam milik Aya, meskipun simple tetapi Nindya yang memang memilik bentuk tubuh ideal malah membuatnya terlihat sangat cantik seperti itu. Namun, Aya terbuyar ketika melihat rambut yang masih dia kuncir membuat tampilannya masih belum sempurna di mata Aya. "Duuhh tunggu-tunggu sini!!" seru Aya mengerutkan alisnya langsung mendekati Nindya. Nindya yang dari tadi merasa kesal sekaligus tak nyaman dengan baju Aya yang dia pakai sekarang semakin menekuk wajahnya. "Apa lagi sih Ya?" rengeknya kesal. "Rambut looo. Jangan di kuncir?! Biarin aja dong jangan di apa-apain kek gue ini?!" terang Aya langsung melepaskan ikat rambut Nindya dan membantu membetulkan rambutnya hingga menjadi rapi meski Nindya terlihat begitu risih karenanya sampai-sampai dia mencoba menjauhkan tangan temannya itu dari kepalanya. Akhirnya rambut Nindya yang memang dari awal lurus sedikit bergelombang di bawahnya kini terlihat begitu memukai. Sungguh berbeda memang jika di bandingkan dengan yang awal tadi. Aya memang pandai dalam berpakaian. Betapa puasnya Aya setelah melihat hasil yang dia lakukan. "WOOW, Nnnaaah!! Gini dong!! Cantik ini baru temen gue!" seru Aya begitu takjub sangat puas sembari menjetikkan jarinya senang. Nindya hanya meliriknya kesal dengan raut wajah begitu malas. "Apaan sih Ya. Malah perasaan gue kek gini yang biasa banget. Masa cuman pake kaos polos begini doang?" gerutu Nindya merasa tak percaya diri. "Ya elaah elu kagak bisa ngeliat tampilan yang bagus di mata orang meski simple. Ya bagus malah daripada kek tadi ribet trus kayak cabe-cabean yang nongkrong di pinggir jalan," jawab Aya kesal. Nindya langsung melotot mendengarnya. "Ya tapi panaas, enak di kuncir aja nih rambut ntar keringetan lagi?!" pungkas Nindya sembari menggaruk lehernya begitu kesal. "Yaa biarin ajaa duluu iih?! Kan nanti kalo udah di sana bisa aja di iket lo itu gak percaya sama gue," kesal Aya menghalangi tangannya yang ingin merusak rambutnya sendiri. Akhirnya Nindya pasrah karena takut terlambat datang. "Huuh iya iya. Udah, ayo kita berangkat aja sekarang. Udah kan?" potong Nindya pasrah sembari membetulkan tas ransel cantiknya. Aya yang mendengar Nindya pasrah dan mau menurutinya langsung tersenyum lebar mengangguk mantap begitu senang. "Nah! Gitu dong nurut sama gue ya udah ayo!" sahut Aya langsung menggandengnya pergi berangkat ke kampus. * Nindya yang masih tak tahu menahu hanya mengikuti ke mana Aya membawanya. Semua siswa yang berselisih dengan mereka terlihat terpesona. Namun hanya Aya yang tersadar dengan hal itu. Aya langsung berjalan tegap bak peragawati dengan rambutnya yang terkibas indah dengan percaya dirinya. Nindya yang sebenarnya terlihat lebih cantik darinya haja merasa tidak pede dan menunduk malu melihat sekitar. Karena itu semua laki-laki semakin terpesona melihatnya. * Waktu terus berlalu hingga sekarang adalah hari di mana penentuan kelas di laksanakan. Nindya dan Aya akhirnya menemukan kelas mereka. Terlihat bagus kelas mereka untuk mendengarkan semua penjelasan Dosen itu nantinya. Nindya mendongak melihat sekeliling tersenyum merasa menyukainya. Nindya lalu menaruh tas di kursinya dan dia duduk bersebelahan dengan Aya. "Jadi, di sini kelas kita Ya?" tanya Nindya. "Iya, keknya. Banyak cogannya deh hihihi," jawab Aya merasa senang sembari menopang dagunya. Nindya hanya mendengus maklum pada kelakuannya. Hari pertama mereka habiskan hanya untuk mengurus semua yang harus di selesaikan hingga akhirnya mereka bertemu dengan teman-teman sekelasnya. Aya terkenal mudah bergaul dan mereka langsung akrab dan berteman dengan teman-teman yang lain. Karena Nindya selalu mengikuti Aya saja, akhirnya dia terikut berteman dengan yang lain. Sekarang Aya juga Nindya memiliki teman yang lumayan banyak. Ke mana-mana mereka selalu bertujuh dengan 1 laki-laki sederhana berkacamata yang sepertinya termasuk siswa pintar bersama mereka. "Ooh jadi kalian desa Ponorogo berdua?" tanya laki-laki berkacamata itu sembari terus berjalan beriringan bersama yang lainnya. "Iya, kami nge kost di jalan cemara berdua," jawab Aya. Nindya hanya tersenyum malu-malu sembari mengangguk tanda mengiakan saja. "Waah sama dong, aku juga nge kost soalnya aku juga asal Depok," sahut salah satu cewek yang juga sudah menjadi teman Nindya dan Aya. "Hah yang bener? Haha kirain orang sini aja," jawab Aya tersenyum lebar mengangkat kedua alisnya seakan tak percaya. Cewek itu hanya mengangguk mantap tersenyum. Mereka terus mengobrol bercerita sembari berjalan keliling santai. Mereka bersama-sama saling membantu mengurus semuanya hingga beres. "Oh iya, udah selesai kan semua urusan kita guys? Dan... Besok kita udah mulai masuk materi pembelajaran. Gimana kalo kita nongkrong-nongkrong aja dulu, buat kenang-kenangan? Ntar nanti kita sibuk lagi dengerin Dosen mulu," ajak lelaki berkacamata itu. Mereka yang awalnya ricuh bercerita satu sama lain langsung terdiam mendengarkan lelaki itu dan malah menyetujui ajakannya. Nindya yang memang dari dulu makhluk malas berkumpul banyak orang sekarang merasa sedikit kaget dengan mata melotot namun mulut terbungkam rapat, karena merasa tak enak pada Aya dan mereka semua. "Ke mana Do? Ke Cafe?" tanya Aya. "Nahh boleh itu," jawab lelaki berkacamata yang bernama Edo itu. Nindya semakin melotot saja mendengar Aya malah menyetujuinya. Akhirnya mereka semua setuju dan menerima dengan girang hingga akhirnya Nindya pasrah hanya mengikuti Aya pergi bersama mereka semua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD