Chapter 3 Kesepakatan

1090 Words
Selin mengerjapkan matanya. Langit-langit kamar yang awalnya buram kini mulai terlihat jelas. Selin terpaku. Ia langsung teringat akan kejadian yang menimpanya. "Untung cuma mimpi," ucap Selin saat meraba kasurnya. "Apanya yang cuma mimpi?" Suara maskulin itu membuat Selin langsung terduduk. Matanya terbelalak saat melihat lelaki itu-si tampan nan seksi - sedang berdiri di dekat jendela. Menatap ke arahnya dengan kondisi kemeja putih yang menjadi lebih kusut dari semalam. "What the..." Selin kehabisan kata-kata. Kepalanya kini terasa sakit saat semua kilas kejadian semalam muncul dalam pikirannya. Kejadian yang menjadi alasan dirinya terbaring disini. Yang ternyata bukanlah sebuah mimpi. Selin kemudian menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Menjadi kembali menatap langit-langit kamar. Masih belum percaya dengan semua lelucon yang terjadi hanya dalam satu malam. Sungguh, bahkan ini hari ulang tahunnya dan baru hari pertamanya menginjak usia 30 tahun. Lalu Selin sudah diberikan kejutan segila ini? Kado ulang tahun paling mengerikan yang pernah ia terima. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Jelas itu si tampan, suaminya. Membayangkan dirinya kini sudah resmi menjadi seorang istri membuat Selin bergidik ngeri. Matanya membulat dan langsung meraba pakaiannya. Masih utuh memang. Tapi siapa yang berani menjamin kalau lelaki itu tidak melakukan apapun saat dirinya tidak sadar? Well, Selin akui lelaki itu tampan-dan seksi-. Akan tetapi tetap saja, dirinya tidak mau melakukan hubungan suami istri di atas ranjang. Mungkin kalau pernikahan mereka terjadi dengan cara yang lebih romantis, atas dasar cinta sama cinta. Maka Selin benar-benar bersyukur mendapatkan suami seperti lelaki itu. Bedanya pernikahan ini bagi Selin adalah sebuah musibah. "Are you okay? Kamu pingsan setelah kita ... berciuman." Lelaki itu bicara dengan hati-hati. Selin langsung tertawa hambar. Memangnya siapa yang akan baik-baik saja kalau tertimpa musibah seperti ini? Selin merubah posisinya menjadi duduk. Ia lantas menatap lelaki itu. "Menurut lo?" tanya Selin ketus. Ia tahu lelaki itu juga sama seperti dirinya, hanya korban. Masalahnya adalah lelaki itu nampak tenang dan seolah membiarkan ini semua terjadi begitu saja. Lelaki itu lantas menghela napas. Tangannya tiba-tiba terulur ke depan wajah Selin. Dengan posisi lelaki itu berdiri di sebelah ranjang dan Selin yang duduk, maka tidak heran tangannya berada di depan wajah Selin. "Satria," ucap lelaki itu. Selin pun terdiam meliriknya. Merasa sedikit bingung. Lelaki itu sedang mengajaknya berkenalan kah? Detik kemudian Selin kembali tertawa. Kali ini tawa yang lebih keras sampai perutnya sakit. Ia memegangi perutnya hingga tawa mereda. Lalu tawa itu terhenti seketika dan ekspresi wajah Selin langsung berubah menjadi tanpa senyum. "Lucu banget hidup ini," ucap Selin. Bisa-bisanya ia dan lelaki itu baru berkenalan sekarang. Pengantin mana yang baru berkenalan setelah melewati malam pertama? Benar-benar sangat menyedihkan. Selin tidak menjabat tangan lelaki itu. Ia bangkit dari posisinya dan melangkah mendekati jendela. "Udah selesai kan? Gue mau balik. Anggap aja yang semalem itu bukan apa-apa." Selin serius. Bukankah sudah cukup sampai ia menikah di hadapan warga lokal itu saja? Selin mengintip keluar. Tampak sepi dan aman. Kalau ia keluar dari sini, sepertinya akan baik-baik saja. Ia akan langsung kembali ke tempat semalam untuk mencari ponselnya. Ngomong-ngomong, Selin tidak tahu dimana dia sekarang. "Kita temui Kepala Desa dulu dan pamit ke yang lainnya. Setelah itu baru kita pergi dari sini." Satria mengatakannya seraya melangkah mendekati Selin. Selin langsung menoleh. "Kita?" tanya Selin. Satria tiba-tiba menyodorkan ponsel kepada Selin. "HP gue. Kok bisa?" tanya Selin terkejut. Ia langsung mengambil ponsel itu dari tangan Satria. Sayangnya tidak menyala. Entah rusak atau kehabisan daya baterai. "Kita sarapan dulu," ujar Satria. Merasa tidak perlu repot menjelaskan kalau anak buahnya yang menemukan ponsel itu di lokasi tempat Satria dan perempuan itu terjatuh. Satria memilih mengalihkan pembicaraan. "Kita?" tanya Selin lagi. Satria mengangguk. Selin berdecak sebal. "Sebentar. Jangan bilang lo suka sama gue?" tanya Selin. Satria pun langsung mengangkat satu alisnya. Menatap aneh ke Selin. Baginya, perempuan itu terlalu percaya diri. "Gue harus memperjelas ya. Gue paham kalau semalam kita sudah mengucapkan janji suci pernikahan. Tapi bagi gue itu nggak resmi karena kita sama-sama terpaksa. Sekarang warlok udah membebaskan kita kan? Jadi gue mau langsung pergi dari sini. Lo jangan menganggap kita nikah beneran. Jadi kita nggak perlu bareng-bareng, oke?" "Kita memang benar-benar menikah semalam," ucap lelaki itu santai. Seolah menganggap pernikahan ini serius. Padahal Selin hanya menganggap ini lelucon. “Lo suka ya dengan pernikahan ini? Kayaknya lo nggak sememberontak gue?” tanya Selin curiga. Satria menghela napasnya. “Mari buat kesepakatan,” tawar lelaki itu. *** Selin membungkuk sopan kepada Kepala Desa dan beberapa warga yang ada disini. Dirinya kemudian memberikan senyum kepada Mbak Rina yang juga ada disini. Ia kemudian mengikuti langkah Satria menuju helikopter. Ya, lelaki itu yang mendatangkan helikopter kemari. Katanya supaya lebih cepat kembali ke bandara. Mengingat menuju pulau ini jika menaiki kapal, butuh waktu berjam-jam. Setelah naik di helikopter dan duduk bersebelahan dengan Satria, Selin menghela napasnya. Ia memilih untuk diam saja. Helikopter itu terbang naik, meninggalkan pulau. Air mata Selin pun kembali menetes. Tadi ia sempat marah-marah pada Satria. Hanya lelaki itu satu-satunya yang bisa menjadi pelampiasan amarah Selin atas segala yang terjadi. Lalu kemudian Satria menjelaskan tentang bagaimana mereka menjalani hidup kedepannya. Yang mengejutkan adalah, Satria merupakan keturunan pemilik perusahaan tempat Selin bekerja. Dan sialnya, ia harus bertahan satu tahun dalam pernikahan ini. Satria juga tidak memiliki pilihan lain. Ayah lelaki itu sudah tahu mengenai kasus ini dan memaksa agar pernikahan setidaknya berjalan satu tahun. Lalu Selin. Tentu tidak bisa menolak karena ancamannya adalah ia dipecat dari perusahaan. Benar-benar lucu sekali. Karir yang sudah Selin bangun bertahun-tahun harus berakhir dengan alasan konyol? Tentu saja Selin tidak mau. Jadi satu-satunya jalan adalah terpaksa menjalani semua ini. Ia hanya perlu bertahan. Lagi pula sepertinya akan baik-baik saja. Ia sudah membuat kesepakatan dengan Satria tadi. Sehingga dirinya bisa menjadi lebih tenang meskipun tetap kesal. "Tidur aja kalo mau tidur,” ujar Satria. Selin mengusap air matanya dan kemudian menggelengkan kepala. Perempuan itu sengaja menatap pemandangan di luar agar tidak ketahuan menangis. Yang awalnya sedih, ia jadi terpukau melihat pemandangan di bawah sana. “Bagus,” gumam Selin yang bisa didengar Satria. “Suka? Nanti kamu bisa sering jalan-jalan naik ini kalau mau,” sahut Satria. Well. Entah bisa disebut keberuntungan atau tidak. Sepertinya Selin akan memiliki pengalaman menjadi orang kaya. Mengingat suaminya itu adalah orang kaya. Mungkin tidak akan terlalu buruk jika Selin melihat ini dari sisi yang lain. Selin menoleh. “Lo …” Selin ragu mengatakannya namun Satria sudah menatap dan menunggu lanjutan. “Kenapa pake aku kamu sih?” tanya Selin. Rasanya aneh bagi Selin kalau mereka berbincang dengan panggilan yang berbeda. “Mau dipanggil Sayang?” tanya Satria. Lelaki itu jelas hanya meledek bukan sedang bersikap romantis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD