[16] 010000: Bunga Merah

1109 Words
“Kalian hati-hati di jalan pulang,” komentarku kepada mereka setelah kami selesai dengan makan-makan dan percakapan kami. “Kamu gak pulang juga?” tanya Ismail kepadaku. Aku menggelengkan kepalaku. “Oh, ada yang mau dibeli dulu. Duluan saja,” jawabku datar. “Ya sudah, sampai jumpa bro!” balas Ismail. Latifah dan Zahra lalu pamit kepadaku sebelum meninggalkanku sendirian di Mall Antariksa. Tidak lebih dari setengah menit semenjak mereka menghilang, sebuah telepon masuk kepadaku. Aku membuka ponselku, dan sebuah nomor yang sangat familiar terlihat di sana. “Masih di Antariksa?” tanya Kak Rahman dengan nada santai. “Iya kak, kenapa?” tanyaku. “Bagaimana hasilnya, sudah selesai?” tanya kakakku dengan tenang. “Sudah, tapi aku tidak tahu mereka akan benar-benar berpihak padaku atau-” “Hush, pasti kok. Percaya diri lah Sar. Sans saja,” sela kakakku dengan santai. Aku menyorot tajam ke ponselku. Jika sorotan bisa mengirim listrik lewat ponsel, aku pastikan kakakku akan kena setrum dari sorotanku. “Enak sans sans buat Kakak! Kalau-” “Gini ya, Assar Nurrahman,” sela kakakku yang tiba-tiba tinggi itu mengejutkanku. Dia tidak bisa marah dengan nada tinggi kepadaku maupun ke orang tua. Dia selalu marah dalam diamnya, sebagai isyarat ketidaksukaan. Hanya ke orang asing dia akan marah dengan nada ke-Suroboyo-an atau ke-Banjar-an dia, alias cok! atau tambuk! akan keluar. “Kamu harus tahu kenapa kakak kasih uang itu. Dalam negosiasi, lingkungan berpengaruh. Kakak kan tanya mereka itu secara ekonomi bagaimana, dan karena itu kakak rekomendasikan tempat seperti itu. Kakak tahu perhitungan emosi akhiran ada pada Allah, dan Assar juga tahu hal yang sama, tapi ini usaha, dan kita harus berharap ada hasilnya dengan izin-Nya.” Sekarang, aku kena ceramah, tapi aku anggukkan kalimat itu. “Baik Kak.” “Oke. Kakak rasa itu saja dulu,” ucap Kak Rahman, “Assalamu’alaikum. Jangan malam-malam, nanti kebiasaan kek kakakmu ini.” Dia memutus telepon sebelum aku membalas salam itu. Aku menahan diri untuk tidak memaki. “Wa’alaikumussalam,” gumamku pelan menjawab salam yang dia tinggalkan. Aku menutup ponselku dan menyimpannya kembali. Seseorang menabrakku tepat saat ponsel itu sudah masuk ke dalam saku, membuat aku mundur sekitar setengah meter. “Aduh, maaf maaf,” ucap suara wanita itu. Aku yang terempas mundur membalas dengan sedatar mungkin. “Tidak apa-” ucapku diikuti dengan terkejut kala melihat wanita di hadapanku. Aku yakin suara yang aku dengar persis dengan suara Fatimah, tapi wanita di depanku ini sangat kontras dengan Fatimah dari penampilan. “Assar?” ucapnya terkejut kala mata itu dengan mataku. Itu. Penampilan Fatimah kontras dengan apa yang aku lihat sewaktu di kampus. Di hadapanku kali ini, dia mengenakan makeup, dengan pakaian blouse berwarna hitam. Pakaian yang dia kenakan jauh lebih terbuka daripada pakaian yang dia kenakan kala aku bertemu dengannya di kelas Etika Profesional. Kalau membandingkan dua penampilan itu, seperti melihat dua sisi yang berlawanan. “Kita bicara lain waktu saja ya, sampai jumpa!” teriak Fatimah seraya berlari terburu-buru. Aku ingin berteriak memanggilnya, tetapi akhirnya aku hanya menggelengkan kepalaku. Sepertinya, kelengahan kecil yang aku lakukan berakibat dengan aku tidak bisa menggali informasi yang aku yakin bahkan Ismail pun tidak ketahui. Aku menatap wanita itu pergi menyatu menuju keramaian, lalu kembali ke tempat kami berbenturan tadi. Dia menjatuhkan satu cincin berwarna silver dengan ukiran ‘Fatimah’ di sana. Sepertinya, ini cincin yang berharga bagi wanita itu. “Kenapa dia selalu terburu-buru?” gumamku heran. Aku memutuskan untuk menyimpan cincin itu, dan berencana mengembalikannya di kelas Etika Profesional. Aku pun berjalan pergi dari mall itu. Masih ada banyak pekerjaan kampus yang perlu diurus lagi. Saat keluar dari Mall Antariksa, aku melihat sebuah mobil melaju cepat kala aku menyeberang jalan dan nyaris membuatku celaka. Hampir seribu satu sumpah keluar dari mulutku, namun mataku menangkap samar bayangan seorang wanita dengan blouse hitam, serupa dengan penampilan Fatimah. Aku menggelengkan kepalaku, tidak mungkin. Aku hanya membuat asumsi saja. “Cih, menyebalkan,” celetukku kesal saat tiba di lampu merah dekat kejadian nyaris tabrakan itu. Bagaimana tidak, jelas tabrakan tadi nyaris tak terelakkan, jadi tentu aku jengkel karenanya. Kejengkelanku bertambah karena saat itu lampu pedestrian sedang berwarna hijau, yang berarti siapapun k*****t itu bisa digugat hukum. Saat aku tiba di apartemen, aku mendapatkan pesan dari Ismail. Ismail: Bro, sudah sampai kan? Ismail: Aman ‘kan bro? “Ini anak paranoid atau apa sih?” celetukku heran. Aku segera memberikan balasan sebelum dia khawatir. Assar: Aman. Ismail: Soal tadi, makasih sudah dijelasin ya. Assar: Sama-sama. Aku menutup ponselku dan berjalan menuju lift. Tombol naik aku tekan di lift dan segera benda itu datang ke lantai dasar ini dan membuka pintunya. Aku pun naik menuju lantai unit apartemenku. “Satu selesai, satu yang baru muncul,” komentarku setelah berganti pakaian seraya melihat ke arah cincin silver itu. Cincin ini biasanya jenis cincin pernikahan, namun yang aku ketahui dari sikap Ismail, Fatimah sepertinya bukan wanita yang sudah menikah. Selain itu, aku tidak mendapatkan impression seorang Fatimah telah menikah, terlepas dari pakaian tertutup yang dia kenakan. “Usia dia sendiri saja bahkan aku ragu sudah 19 tahun. Bukannya UU terakhir yang disahkan menuntut 19 tahun sebagai persyaratan? Entahlah. Banyak tanda tanya belum terjawab terkait sikap Fatimah selama dua kali pertemuan tidak sengaja kami. Bahkan, ada satu kontradiksi antara informasi Ismail dan lokasi Fatimah pada pertemuan pertama kami. Entahlah, tapi aku merasa aku sebaiknya jauh-jauh dari apapun yang dia rahasiakan. Atau, aku harus mencari tahu dan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. “Sebenarnya, kalau aku memaksakan diri untuk memahami sekarang, yang ada aku semakin kesulitan menemukan jawaban. Dia mungkin akan hati-hati di sekitarku, mengingat dia langsung kabur dalam dua pertemuan singkat itu,” ucapku kepada diriku sendiri, seakan memformulasikan rencana. Aku perlu berpikir- “Oh, aku sudah ada senjata tersendiri.” Mataku kembali melihat ke arah cincin itu. Benda berkilauan itu bisa mencoba sebuah senjata negosiasi. Aku harap Fatimah benar-benar memberikan nilai lebih pada cincin itu. Tidak bisa dikatakan cincin murah. Tentu ini bukan cincin sembarangan. Mungkin dia berada dari kalangan berada? Iseng, aku menggunakan memoriku untuk mengetikkan akun Fatimah yang aku lihat di ponsel Ismail waktu kami olahraga bersama. Namun, yang aku temukan sangat minim, dan tidak ada informasi yang berkaitan dengan finansial. Ah tentu saja, ini media sosial, semua orang bisa menjadi semua orang. “Tidak ada informasi berguna di sini. Oh, ada nama lengkap sih ... apa bisa aku pakai?” gumamku seraya iseng menuliskan nama lengkapnya. Informasi dari internet tentunya tidak banyak yang membantu terkait pembongkaran identitas. “Jalan buntu. Sepertinya aku perlu sumber lebih bagus untuk mencari informasi,” gumamku lagi. Aku menggelengkan kepalaku.  “Tidak perlu terburu-buru. Lebih baik pikirkan Matematika 1 dan Bahasa Inggris besok. Fatimah bisa menunggu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD