Aku menahan diri untuk tidak ketiduran karena bosan oleh penjelasan dosen Bahasa Inggris terkait hal-hal yang berbau grammar. Bagi mereka yang memiliki masalah dengan kemampuan bahasa asing satu ini, kelas Bahasa Inggris adalah sebuah jalan untuk mereka belajar. Bagi orang yang sudah mahir, kelas ini adalah kebosanan atau tiket gratis untuk nilai A, mungkin keduanya. Setidaknya, aku melihat nilai IP bagus semester ini.
Aku memainkan pulpen seraya menuliskan tulisan acak di satu buku kecil yang aku beli di jeda antara kelas Matematika dan Bahasa Inggris. Apa yang sebenarnya aku tulis? Hanya ke-random-an yang berlalu di benakku, seperti kenapa perusahaan besar mudah melakukan bypass terhadap birokrasi, apakah benar Azhar EduTech di desain untuk ‘mengedukasi bangsa’ seperti slogannya sekarang, kenapa Indonesia tidak seimbang dalam pemerataan ekonomi, dan lain sebagainya.
Bonus poin pertama adalah semua aku tulis dalam Bahasa Inggris yang kompleks untuk menyembunyikan dari mereka yang bodoh dengan bahasa tersebut. Bonus poin kedua adalah aku terlihat seperti memperhatikan dan mencatat. Lebih tepatnya, aku hanya mendengarkan dosen dan tidak mencatat.
Dosen di depan kelas akhirnya menutup pelajaran hari itu, dan dia pun keluar dari kelas. Kami para mahasiswa tentunya hanya berlagak seakan patuh, dengan memberikan jawaban salam dan ucapan terima kasih, yang tentunya bagian kedua hanya satu atau dua yang mengatakan, kepada beliau. Setelah beliau menghilang dari pintu, hal pertama yang bisa ku dengar adalah sorak kemerdekaan para mahasiswa.
“Akhirnya kelar!”
“Waktunya makan siang!”
“Woi, uang gue balikin!”
“Ayo ke Mall.”
Keramaian mahasiswa dan mahasiswi di kelas tentu masuk ke dalam telingaku. Namun, aku tidak terlalu ambil peduli. Mereka bisa saja sibuk dengan urusan mereka sendiri, sementara aku akan sibuk dengan urusanku sendiri.
“Woi, Sar, lo hari ini mau ngapain setelah ini?” tanya Ismail. Ya, pria itu sekelas denganku.
“Paling balik, lalu tidur,” jawabku malas. Ismail menggelengkan kepalanya.
“Gak mau jalan-jalan sama anak jurusan gitu mungkin?” tanya Ismail heran.
“Gak amnesia kalau aku ini nyaris dihabisi kan?” tanyaku datar, dan Ismail sepertinya menyadari kesalahannya. Dia terlihat kikuk.
“Ah, Fatimah bilang dia sibuk hari ini sih, jadi aku sendirian. Aku masih gak terlalu akrab sama anak-anak di jurusan. Ada sih beberapa anak, tapi ya mereka beda jadwal,” komentar Ismail lagi. Sebenarnya, aku ingin membicarakan tentang Fatimah, dan tentunya terkait cincin yang aku dapatkan dan pertemuan tadi malam, tapi aku putuskan untuk membuang pembicaraan itu. Selain itu, sepertinya Ismail mencoba akrab dengan semua orang.
“Bukan waktunya,” celetukku, yang membuat Ismail heran.
“Waktu apa?” tanya Ismail.
“Waktu santai,” balasku secepat mungkin, “ini sudah Zuhur, Assalamu’alaikum,” komentarku lagi seraya menutup percakapan.
“Apa sih yang sebenarnya terjadi antara dua orang itu?” celetukku kala mengenakan sepatu pasca salat zuhur di masjid kampus. Perkara Ismail dan Fatimah cukup mengganggu bagiku, namun di sisi lain ada perkara Latifah dan Zahra yang perlu bantuanku. Lebih tepatnya, aku terpaksa membantu mereka.
“Mungkin bukan ranahku untuk ikut campur di urusan mereka,” gumamku seraya bergegas pergi dari masjid. Mungkin, aku bisa melepaskan semua permasalahan ini setelah pulang ke apartemen. Sebuah pesan datang ke ponselku kala aku berjalan ke parkir perpustakaan.
[Kak Rahman]: Sibuk?
[Assar]: Nggak.
[Kak Rahman]: Bisa minta tolong kerjakan ini? [Foto]
[Assar]: Kenapa harus aku? Itu ‘kan akibat kakak suka ikutan komunitas gak jelas.
[Kak Rahman]: ... oke deh.
“Kenapa harus menyusahkanku dengan pekerjaan dia yang gak penting begitu sih?” keluhku kesal. Aku menutup ponselku.
“Tugas Prof Ayyubi adalah membuat game bebas sebelum akhir semester. Sebenarnya, itu bisa saja sih aku lakukan sebelum tengah semester masuk. Namun, tentu yang masalah adalah bagian kerja kelompoknya,” gumamku kala aku melihat ke daftar tugas kampus di apartemen. Tidak banyak tugas untuk saat ini, mungkin karena masih awal semester.
“Perkuliahan itu membosankan. Satu-satunya yang menarik yang aku rasakan adalah kekacauan dari mahasiswanya,” keluhku seraya menyelesaikan tugas tentang angka Nol lebih jauh lagi. Mungkin sampai pekan ke-6 aku bisa mengungkap seluruhnya tentang angka Nol secara mendalam, dari berbagai sisi.
“Tinggal Fisika Listrik saja belum mulai kelas,” celetukku melihat ke daftar tugas. Aku terus menuliskan tentang angka Nol berdasarkan sejarahnya. Mungkin, aku bisa mencari salinan orisinil dari buku-buku referensi yang aku temukan dari Wikipedia untuk membuat semua ini jauh lebih menarik.
Ponselku mengeluarkan dering nada yang aku berikan untuk menandakan jam 10 malam. Aku meletakkan pulpen dan catatan dari tugas Nol milik Prof Ayyubi dengan rapi di mejaku.
“Sudah malam, waktunya tidur,” komentarku seraya beranjak ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan wudu.
Kala aku mengempaskan tubuhku ke kasur, ponselku mengeluarkan notifikasi pesan masuk. Ada sebuah pesan masuk dari Fatimah, membuatku sedikit penasaran.
Mungkin kesempatan untuk mendapatkan informasi.
[Fatimah]: Assalamu’alaikum.
[Assar]: Wa’alaikumussalam. Ada apa Fat?
[Fatimah]: Umm... kamu ada liat cincin silver sewaktu kita ketemu di Mall kemarin?
Aku bangun dari kasur, melihat ke arah cincin yang dimaksud oleh Fatimah. Sepertinya dia menyadari cincinnya hilang, setelah sehari berlalu. Itu, atau dia baru terpikirkan untuk menghubungiku.
“Apa aku berbohong saja, atau aku pantulkan saja?” gumamku mempertimbangkan opsi yang ada. Aku memutuskan untuk memantulkan pembicaraan dulu, menggali informasi.
[Assar]: Kenapa dengan cincin silver, Fat?
[Fatimah]: Apa kamu ada lihat? Soalnya aku kenakan tapi hilang sewaktu tiba di tempat tinggal pagi ini.
[Assar]: Kalau sewaktu kita tabrakan itu, aku gak ada lihat sih.
“Aku melihatnya setelah kamu kabur,” gumamku, mencoba membuang rasa bersalah dari sistem tubuhku. Aku harus bisa menggali informasi.
[Fatimah]: Ah, kalau begitu maaf mengganggu malammu ya.
[Assar]: Kenapa baru kasih kabar Fat? Mungkin kalau tadi malam bisa aku bantu cari.
[Fatimah]: Ada urusan tadi malam. Siang tadi juga kelas.
[Assar]: Oalah. Maaf ya. Kalau ada info aku kabarin.
“Sayang sekali, dia sangat evasive kalau membahas apa yang dia lakukan malam itu. Aku masih mempunyai kecurigaan tersendiri sih, tapi aku simpan di benak saja dulu,” ucapku kepada diriku sendiri.
[Fatimah]: Makasih ya Sar.
[Assar]: Sama-sama.
“Sepertinya aku harus lebih sabar. Tidak bisa terburu-buru untuk mendapatkan informasi,” keluhku. Aku melihat ke arah cincin itu, apa bisa aku jadikan sebuah leverage?
[Assar]: Kalau boleh tahu, siapa saja di kampus yang tahu kamu punya cincin silver?
[Fatimah]: Nggak ada yang pernah aku ceritakan soal cincin itu saat ini. Cuma aku saja.
[Assar]: Ismail?
[Fatimah]: Aku gak pernah cerita sih ke dia soal cincin silver itu.
“Dia bahkan menyembunyikan dari Ismail.”
[Assar]: Yang sudah kamu tanya siapa saja?
[Fatimah]: Cuma kamu doang Sar.
[Assar]: Oalah. Oke oke.
“Mungkin ada peluang untuk leverage, tapi aku harus berhati-hati mengambil momentum ini,” pikirku. Ada kesempatan untuk membuat seorang Fatimah berbicara dan memberiku jawaban atas semua hal-hal ganjil yang berkisar dengan dirinya.
“Mungkin aku harus mulai buka ruang negosiasi.”
[Assar]: Mungkin kamu belum terlalu tahu aku sih, tapi ya aku lebih suka kalau ada untung dari melakukan sesuatu. Apa untungnya bagiku?
[Fatimah]: Maksudmu Sar?
[Assar]: Kalau dapat nih, dapat apa buatku?
[Fatimah]: Ah iya, kita belum akrab ya ....
[Assar]: Aku gak minta uang kok kalau aku dapat cincinnya.
[Fatimah]: [Stiker Bingung]
[Assar]: Aku cuma mau dapatkan informasi tertentu, terkait dirimu.
[Fatimah]: Kok kek stalker kamu Sar?
“Aku creepy banget ya?” gumamku heran.
[Assar]: Ada yang mengganjal aja dari dua kali ketemu soalnya. Mau mastikan saja biar gak ada firasat aneh-aneh.
[Fatimah]: Kamu aja paling overthinking, Sar.
[Assar]: Kamu ketemu Ismail terakhir kapan?
[Fatimah]: Hari Ahad tadi.
[Assar]: Oke oke.
[Fatimah]: Serius Sar, kamu ada info kah soal cincin silverku?
[Assar]: Bagaimana kalau kita trading aja. Aku ada cincinmu, kebetulan aku ketemu setelah kamu kabur. Awalnya mau aku kembalikan, tapi kamu sudah keburu hilang jauh.
Aku mengarahkan ponselku ke arah cincin itu.
[Assar]: [Mengirim Foto: Cincin Silver]
[Fatimah]: Kembalikan Sar!
[Fatimah]: Ku mohon! Itu hasil kerja keras buat belinya!
[Assar]: Kerja?
Dia tidak menjawab untuk beberapa saat, sepertinya menyadari keteledorannya.
[Assar]: Jadi, mau kembali ‘kan? Ayo kita jual beli. Aku kembalikan cincinmu, tapi aku minta informasi tertentu darimu.
Fatimah tampak meluangkan waktu untuk membalas. Aku berharap, negosiasi ini bekerja ke arah keinginanku.
[Fatimah]: Baiklah. Setelah kelas Etika Profesional?
[Assar]: Kita sesuaikan situasinya bagaimana. Deal?
[Fatimah]: Setuju.
[Assar]: Sip.
Senyuman sinis terlukis di wajahku. Mungkin, ini tidak cukup untuk mendapatkan semua jawaban akan kejanggalan dari semua pertemuan kami. Setidaknya, cincin ini berguna untuk blackmail mendapatkan informasi.
Namun, dengan mendapatkan informasi first-hand source, aku bisa memahami lebih jauh tentang Ismail dan Fatimah. Sementara di sisi lain, keberadaan mentoring memungkinkanku lebih memahami Latifah dan Zahra.
“Memangnya kuliah akan menyenangkan kak? Sekolah saja menyebalkan orang-orangnya.”
“Oh, itu tergantung, Assar. Aku mengerti dengan rasa tidak suka terhadap sekolah yang mengabaikanmu sampai ibu turun tangan, tapi setidaknya, aku rasa kuliah di kampusku itu selalu dinamis. Banyak kejutan tidak terduga.”
Desahan kesal aku embuskan mendengar kalimat kakakku itu. Dia meletakkan toga yang berada di meja kamarnya ke dalam lemari.
“Lagipula, kalau kamu di sana, aku akan jaga kamu. Aku paham ketidaksukaanmu pada hal-hal otoriter, senioritas. I’ll do in my best of power.”
Aku mendecih kecil, sementara dia tersenyum.
“Mungkin tidak sia-sia juga berusaha keras masuk ke sini, sementara sekolah tidak terlalu peduli, bahkan mereka sepertinya masih tidak tahu,” komentarku lagi seraya menutup ponselku. Sepertinya perkuliahan ini semakin menarik.