[3] 000011: Pandangan Kehidupan

1188 Words
[Latifah]: Permisi teman-teman, apakah ada yang belum saya undang? [Aris]: Kalau dari absen sudah pas sih bu komting. [Latifah]: Terima kasih Aris. [Latifah]: Sudah ada yang selesai dengan tugas Pak Bayu? [Aris]: Aku belum. [Assar]: Belum. Aku menutup chat grup itu dengan malas. Tidak ada yang menarik di grup pemograman. Aku kira sudah ada yang selesai sehingga aku bisa mendapatkan informasi. Kelas Matematika I dan Bahasa Inggris baru saja selesai. Jam digitalku menunjukkan waktu saat ini adalah 14:08. “Ah capek, pulang saja deh,” komentarku malas. Ada tugas dari dosen Matematika I dan Bahasa Inggris, jadi aku akan sibuk untuk hari ini. Mari simpan tugas-tugas aneh dosen jurusan untuk berikutnya. Apartemen selalu menjadi tempat persembunyian yang nyaman. Tidak terlalu besar, namun lebih dari cukup untuk menjadi tempatku beristirahat dari perkuliahan. Selain itu, tempat bagus untuk bersembunyi dari satu hal menjengkelkan di kampus ini: Regenerasi. Kalau kalian bingung itu apa, hal itu punya banyak nama, tapi intinya sama: perpeloncoan. Aku melihatnya demikian, dan aku akan kukuh dengan pandangan itu. Sejauh yang aku lihat, kegiatan itu belum aktif. Grup angkatan, yang Latifah masukkan aku tanpa minta izin kemarin malam, tidak terlihat membahas apapun. Lagipula, aku mengaktifkan mode mute untuk grup tersebut. “Membosankan. Tugas kelar. Apa sebaiknya aku jalan-jalan dulu ya?” gumamku malas. Saat ini adalah 20:22. Aku memutuskan untuk bangun dari tempat tidurku dan mengambil kunci motor. Sebuah pesan masuk ke ponselku, membuatku membuka ponsel dan menghentikan langkah di depan pintu apartemen. [Kak Rahman]: Bagaimana perkuliahan? [Assar]: Biasa Kak. Oh ya, dosen jurusan emang aneh-aneh ya Kak? [Kak Rahman]: Dapat siapa saja? [Assar]: Pak Bayu, Prof Ayyubi. [Kak Rahman]: Pak Bayu memang aneh begitu, tapi enak kok ngajarnya. Prof Ayyubi aku gak pernah diajar beliau, tapi kata teman-temanku horor. Cuma ada yang bilang berubah sih belakangan ini, tapi ya aku gak tau. [Assar]: Makasih infonya Kak. [Assar]: Oh ya Kak, Kakak kenal Mas Rasyid dan Mba Mutiara? [Kak Rahman]: Angkatan? [Assar]: Tahun ke-4. [Kak Rahman]: Tahun ke-4 ya? Keknya aku tau deh. [Kak Rahman]: Bentar, benar gak ini? [Foto] [Assar]: Benar Kak. [Kak Rahman]: Lovebird JTK itu gelar mereka dari anak-anak jurusan. [Assar]: Hah? Kok bisa? [Kak Rahman]: Lengket banget soalnya wkwkwk. Oh ya, jangan ganggu si Mutiara, Rasyid kalau ngamuk wassalam wkwkwk. [Assar]: Telat kak -_ [Kak Rahman]: Emang kenapa? [Assar]: Sudah ada yang catcalling Mba Mutiara tadi di kelas. Mereka gantiin Prof Ayyubi. [Kak Rahman]: Oh, mampuslah kalian. Minta maaf gih sama Mas Rasyid. Dia ngurus praktikum kalian juga, nanti keserempet ke nilai matkul Kompetensi Teknologi Komputer kalian. [Assar]: Hah? Kan belum ambil. [Kak Rahman]: Nilai praktikum masuk ke sana semua. Pekan 3 harusnya ada TM sih, ada kabar belum? [Assar]: Belum. [Kak Rahman]: Waduh. Hilih emang arek-arek kadang. Aku tanyain di kepengurusan lama. [Assar]: Makasih Kak. [Assar]: Oh ya Kak. [Kak Rahman]: Opo? [Assar]: Hubungan kuliah sama kehidupan apa Kak? [Kak Rahman mengirim stiker] [Kak Rahman]: Cari sendiri yo. Itu asyik kok, kan situ sering main game kehidupan kek aku. [Assar]: Oh, tapi kan gak ada hubungan sama kuliah toh. [Kak Rahman]: Pak Bayu ngomong kalimat sakral gak? Kalimat sakral? Emang ada beliau- oh. [Assar]: Kampus ini, bisa dibilang sebuah miniatur daripada kehidupan bermasyarakat. [Assar]: Itu kan Kak? [Kak Rahman]: Precisely! [Assar]: Teorinya gampang sih ... [Kak Rahman]: Cari buktinya. Coba catat hal-hal yang kamu temukan satu pekan ini. Aku yakin nanti kuisnya “tunjukkan contoh yang merefleksikan kampus sebagai miniatur masyarakat.” [Assar]: Kakak yakin? [Kak Rahman]: Kalau salah kamu Kakak traktir waktu Kakak ke sana. [Assar]: Steak 21. [Kak Rahman]: Bangke emang kalau sudah traktir adikku yang satu ini. Kek Yusuf dong yang baek [Assar]: Canda. Gak perlu Kak. Kan taruhan haram. [Kak Rahman]: Hehe. Iya iya. [Assar]: Kalau soal resep? [Kak Rahman]: Kalau soalnya “Tuliskan resep telur dadar” kamu tulis saja, kasih keterangan “diasumsikan semua bahan tersedia”. [Assar]: Siap Kak. Emang itu kuis tahunan Pak Bayu? [Kak Rahman]: Kuis tiap angkatan itu. Jawabannya turun-temurun, tapi biasanya ada soal foll-up nya. [Assar]: Yang benar? [Kak Rahman]: Benar. Biasanya foll-up suka berubah-ubah. Intinya kamu coba pahami tips Kakak tadi buat soal pertama. [Assar]: Oke Kak. Assar makan malam dulu. [Kak Rahman]: Iya. Aku menutup ponselku dan membuka pintu apartemen. “Ini pesanan Mas,” ucap sang pelayan seraya menyerahkan makananku. Restoran kecil yang merupakan cabang pertama restoran ibuku di kota ini, dan juga cabang pertama di luar daerah asalku, menjual berbagai macam menu makanan. Meskipun tidak seenak masakan ibu langsung, setidaknya ini masih cukup menggantikan rasa di rumah. “Terima kasih,” balasku. Aku melihat ke arah pelayan itu dan menyadari siapa yang melayani pesananku. Plat nama yang ada di pakaiannya menjelaskan semuanya. “Zahra?” ucapku pelan. Zahra tampak terkejut, namun dia menjaga profesionalitasnya. “Ada yang bisa saya bantu, Mas?” tanyanya dengan senyuman profesionalitas. “Ah, tidak ada,” jawabku mengurungkan niatku bertanya. Sebenarnya, mungkin informasi ini akan berguna jika berurusan dengan sikapnya yang tidak sopan di kampus, tapi kalimat Kak Rahman teringat di benakku dan aku memutuskan untuk mencatat peristiwa ini ke ponselku dulu. Teleponku berdering, dan tulisan ‘Ibu’ terlihat di layar ponselku. Aku mengangkat telepon itu. “Iya Bu?” tanyaku. “Sar, kamu dimana Nak?” tanya beliau. “Di restoran cabang kota sini Bu,” jawabku sekenanya. “Oh, rindu rumah ya? Kamu sehat saja kan Nak?” tanya beliau dengan nada khawatir. “Assar sehat saja Bu, jangan khawatir,” jawabku menenangkan. Aku tidak seperti Kakakku yang sedikit-sedikit flu. “Iya. Kalau uangmu habis makan saja di restoran ibu, nanti ibu kabarin ke tim di sana. Tunjukin KTP mu kalau makan di sana biar dapat gratis,” ucap ibuku. Aku menganggukkan kepala sebagai refleks. “Siap Bu. Makasih banyak,” jawabku. Meskipun aku tidak berniat memanfaatkan fasilitas itu, aku akan menyimpan untuk kondisi darurat saja. Satu hal yang Kak Rahman akan sangat iri dengan aku. Oh ayolah, dia akan membayar mahal untuk fasilitas yang ku dapatkan cuma-cuma ini. “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam.” Aku pun menikmati makan malamku. Saat tiba di kasir, aku iseng terpikir untuk mencoba fasilitas yang dimaksud oleh ibuku tadi. Tidak, aku tidak ingin menggunakannya setiap saat, bisa bangkrut restoran ibu. Aku hanya ingin tahu apa ibu ingat atau lupa, karena beliau kadang lupa. “Permisi Mas, meja berapa ya?” tanya sang kasir saat giliranku tiba. Suaranya cukup familiar namun bukan Zahra. Aku memperhatikan lebih jeli kasir yang melayani dan menyadari bahwa dia adalah Latifah. Pelat nama yang dia gunakan hanya menuliskan nama Annisa, tapi aku tahu dia adalah Latifah. “Latifah?” tanyaku. “Assar?” Latifah tampak terkejut. Aku meminta dia untuk menurunkan suaranya dengan isyarat. “Maaf,” cicitnya pelan. “Meja 22,” ucapku lagi, setenang mungkin. Aku menyerahkan KTP-ku. Apakah Latifah mendapatkan instruksi dari atasannya? Maafkan. Aku bukan bermaksud untuk sombong kepada teman sendiri. Latifah memproses transaksi. Sepertinya ibu tidak lupa kali ini. “Terima kasih banyak Mas. Selamat datang kembali,” ucap Latifah dan aku pun berlalu. Itu adalah dua kejutan dalam satu malam. Tapi, mengapa mereka perlu bekerja? Aku tidak melihat mereka bermasalah secara ekonomi, atau penampilan mereka waktu di kelas menipuku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD