Tidak Pergi Kemanapun

2132 Words
Luruh dan Lara hanya bisa saling melemparkan pandangan mereka bingung saat mendengar pertanyaan tiba-tiba Rajan sedangkan dalam diam Luruh mengerti jika Rajan berusaha untuk menghibur kakaknya walaupun ucapan Rajan terdengar agak garing bahkan tidak lucu sama sekali, tetapi Luruh berusaha menyahutinya dengan santai. "Makanya kalau ada orang ngobrol itu di dengar bukan malah pergi biar gak ketinggalan topik kak Rajan! Ya aku sama kak Lara bebas aja mau bergabung atau pergi keluar bebas aja! Tumben sekali kak Rajan mau bergosip dengan kita? Awas nanti malah ketularan kami loh kak Rajan hahahaha," sahut Luruh santai. Mendengar ucapan adiknya yang terdengar agak omong kosong membuat Lara terkekeh lalu dalam diam Rajan juga ikut tersenyum dan tak lama Luruh memarahi Rajan yang bisa-bisanya pergi di saat Luruh ingin meledeknya kemudian dengan santai Rajan bilang bahwa ia tidak pergi kemanapun sebab tujuannya pulang adalah Lara. "Eh malah senyum-senyum lagi sekarang lu kak! Harusnya tuh tadi lu gak pergi keluar karena gue mau meledek lu tau kak Rajan! Bikin sebel aja pake acara pergi padahalkan kalau lu gue ledek jadi seru eh malah merusak suasana tau gak lu kak?! Yah jadi gak seru gara-gara lu pergi gitu aja sih kak!!" omel Luruh sebal. "Senyum tuh ibadah loh, Luruh! Lah kok gitu? Tadi aku hanya memberi kalian ruang agar bisa mengobrol dengan nyaman dan selebihnya aku tidak pergi kemanapun sebab tujuanku pulang adalah Lara! Mau sejauh apapun langkahku tak terlihat kalian pada akhirnya aku hanya mencari Lara sebagai tempatku pulang kok," ucap Rajan santai. Seketika wajah Lara terlihat berubah menjadi malu-malu sementara Luruh menepuk bahu Rajan senang sambil ia meledek Rajan dengan sebutan kakak ipar sebab dirinya senang jika kakaknya berada di orang yang tepat dan Luruh minta Rajan untuk jangan menyakiti Lara seperti Giran. "Duh, kak Rajan lagi gombalin kakak aku ya? Agak aneh cuma aku turut senang kalau kak Lara bisa berada di orang yang tepat kak! Tolong jangan menyakiti kak Lara seperti Giran ya! Kalau kakak baik pada kak Lara nanti aku akan memanggil kak Rajan sebagai kakak ipar! Syukurlah akhirnya kalian bisa menjadi sedekat ini ya," ujar Luruh serius. Rajan mengacak-acak rambut Luruh lembut dan ia berjanji bahwa dirinya tak akan pernah menghadirkan luka untuk Lara bahkan jika ada yang harus terluka dalam hubungan dirinya dan Lara maka dengan senang hati Rajan yang membiarkannya dirinya saja yang terluka di banding gadis yang ia cintai. "Tentu aku tak akan menyakiti kakakmu, Luruh! Aku janji pada kalian berdua bahwa selama aku ada di dekat Lara maka aku tidak akan pernah menghadirkan luka untuk Lara! Bahkan jika ada yang harus terluka dalam hubungan aku dan Lara maka aku memilih diriku saja yang terluka di banding seseorang yang aku cintai," tutur Rajan serius. Orang yang dibicarakan hanya bisa memandang Rajan dan Luruh sendu sementara Luruh yang ingin kedua kakaknya bahagia mengingatkan bahwa ia yakin mereka akan bahagia selama keduanya saling melindungi satu sama lain dan Luruh berpesan untuk jangan saling menyerah meskipun mereka lelah. "Terima kasih karena telah bersungguh-sungguh pada kakakku ya kak Rajan! Kita memang tidak pernah tau apa yang akan terjadi ke depannya, tapi aku yakin kalian akan bahagia selama kalian berdua saling melindungi satu sama lain dan apapun yang terjadi jangan saling menyerah walaupun hati kalian mungkin merasa lelah! Tetaplah kalian kuat ya," ucap Luruh lembut. Di tengah-tengah perasaan yang terasa hangat dan mengharukan itu tak lama Axton masuk ke ruang rawat kakak iparnya dan menatap mereka bertiga bingung sebab menurut pemuda itu rasanya suasana ruangan ini terasa begitu canggung dan Axton yang tidak mau salah menduga membuat pemuda itu menanyakan apa yang terjadi di sini. "Assalamualaikum, eh? Kenapa kalian diam seperti ini? Memang apa yang terjadi sebelum aku datang? Rasanya pas aku masuk ruangan ini seketika suasana kamar rawat Lara terasa begitu canggung ya? Apakah sejak tadi aku ketinggalan hal yang seru lainnya ya?" tanya Axton bingung. Luruh yang tidak ingin membuat kakaknya sedih membuat gadis menggenggam lengan Axton erat sambil membisikkan jika sebaiknya ia diam saja dan cepatlah mereka pamitan pulang karena Luruh tidak ingin kakaknya sedih lagi terlebih saat ini keadaannya harusnya terasa cukup manis dan membahagiakan untuk Lara dan Rajan. "Sebaiknya kamu diam saja dan cepatlah kita pamit pulang karena ada banyak hal yang terjadi dan aku tidak ingin melihat kak Lara sedih lagi terlebih saat ini keadaannya harusnya terasa cukup manis dan membahagiakan untuk kakakku dan kak Rajan! Sudah ayok pulang saja nanti kita bisa bahasa di lain waktu kok," bisik Luruh lembut. Mendengar ucapan istrinya membuat pemuda itu langsung memahami jika sebaiknya mereka pulang saja toh Axton juga sudah cukup lelah selama seharian ini dan setelah berpamitan tidak lama Axton dan Luruh bergegas keluar kamar rawat Lara sedangkan Lara hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkat lucu adiknya. "Barusan Luruh bilang kalau ini sudah terlalu larut untuk kami masih di sini jadi aku dan Luruh pamit pulang ya? Kebetulan seharian ini pekerjaanku cukup banyak di kantor untuk itu kami harus cepat pulang karena tidak baik berkendara dalam keadaan lelah dan mengantuk, khawatir ada apa-apa nanti di jalannya! Kalau begitu kami pulang dulu ya," ucap Axton lembut. "Iya soalnya memang sejak kamu datang tuh wajah kamu sudah seperti orang yang tertekan jadi makanya aku ajak pulang agar bisa istirahat yang cukup! Kami pulang dulu ya kak Lara! Kak Rajan! Oh iya, tolong kak Rajan jaga baik-baik kakakku ya? Aku percayakan kak Lara padamu kalau begitu kami duluan ya! Assalamualaikum," sahut Luruh santai. Dalam diam Rajan yang melihat senyuman itu terlihat begitu bahagia membuatnya mengusap-usap kepala Lara lembut dan menyarankan Lara untuk lebih banyak tersenyum seperti ini sebab Lara memiliki senyuman yang indah di mata Rajan dan gadis itu terdiam beberapa detik lalu ia meminta Rajan untuk menanyakan makanan kepada perawat karena Lara ingin minum obatnya. "Aku senang melihatmu sudah semakin sering tersenyum seperti ini dan menurutku senyuman kamu yang terlihat bahagia ini cantik kok! Jadi sebaoonya kamu harus lebih banyak tersenyum seperti ini agar aku bisa melihat senyumanmu yang indah setiap waktu, Lara! Jujur satu hal yang aku inginkan darimu adalah bisa melihatmu selalu bahagia seperti ini," ucap Rajan lembut. "Apa? Eh, daripada kamu memikirkan hal seperti itu lebih baik aku minta tolong padamu, Rajan! Tolong tanyakan pada perawat soal makananku karena sejak tadi belum ada makanan yang di antar ke ruangan ini padahal aku ingin meminum obat yang setelah makan itu loh, Rajan! Bisakah kamu menanyakan hal tersebut untukku? Aku baru ingat sekarang soalnya karena sejak tadi aku terlalu asik mengobrol dengan Luruh sampai lupa bilang soal ini," gumam Lara malu. Rajan yang tersadar jika makanan milik Lara belum di antarkan membuat pemuda itu bergegas keluar kamar rawat dan menanyakan soal makanan Lara sedangkan gadis itu hanya bisa melamun memandang punggung Rajan yang begitu cepat berlalu dari sisinya hanya karena ia mengkhawatirkan dirinya. "Aku tau apa yang aku katakan dan lakukan ini hanya hal payah yang harusnya tidak aku perbuat padamu, Rajan! Kekhawatiranmu, ketulusanmu bahkan kebaikanmu seperti cahaya baru untuk seseorang yang telah kehilangan harapan sepertiku! Maaf jika karenaku kamu malah jadi tidak bisa pergi kemanapun! Semoga kelak kamu akan lebih bahagia dari saat ini," gumam Lara sedih. Kepergian pemuda itu meninggalkan kehampaan dihati Lara hingga Lara hanya bisa memeluk lututnya erat sambil menenggelamkan wajahnya di antara lengannya, rasanya ia lelah dengan hatinya yang masih tidak pergi kemanapun padahal sudah jelas Giran tak pantas untuk berada di hatinya. "Awalnya aku pikir hal yang menakutkan adalah ditinggalkan Giran, ternyata kepergian Rajan malah meninggalkan kehampaaan dihatiku ya? Lalu bagaimana Rajan melanjutkan hidupnya jika hal seperti terasa menyakitkan? Di satu sisi aku merasa lelah dengan hatiku yang masih tidak pergi kemanapun padahal Giran bukanlah seseorang yang pantas aku ingat setelah luka yang ia tinggalkan untukku hanya saja hati ini masih berada padanya," batin Lara lelah. Entah kenapa nama pemuda itu masih saja berhasil menguasai seluruh ruang di hati Lara dan sejujurnya Lara sangat tak menyukai keadaan seperti ini sebab ia tidak ingin terikat pada masa lalu yang menyakitinya sementara ada seseorang yang memberikan seluruh hidupnya demi dirinya. "Sayangnya mau sebesar apapun luka yang Giran berikan padaku, namanya masih saja berhasil menguasai hatiku padahal aku sangat tak menyukai keadaan menyakitkan seperti ini sebab aku tak ingin terikat pada masa lalu yang menyakitkan! Terlebih ada Rajan yang memberikan seluruh hati bahkan hidupnya demi manusia payah yang bernama Lara ini! Maaf Rajan," lirih Lara sendu. Di tengah-tengah perasaan campur aduk yang di rasakan Lara, di lain tempat Luruh bergumam sebal dengan sikap penasaran Axton yang dirasa oleh Luruh tidak tepat sementara Axton yang melihat Luruh sudah lebih terbuka padanya membuat pemuda itu mengajak bercanda Luruh dan candaan suaminya malah disahuti Luruh oleh omelan yang semakin membuat Axton tertawa. "Kamu tuh kenapa sih menyebalkan sekali hah! Terkadang tidak tau apapun lebih baik daripada tau banyak hal tau gak?! Sikap penasaranmu ini tuh tadi gak tepat banget tau, Axton! Ya paham sih kamu cuma pengen basa-basi doang biar gak canggung cuma tuh aku sebel banget liat kamu begitu tuh!!" gumam Luruh sebal. "Jarang-jarang Luruh meluapkan perasannya padaku, syukurlah jika sekarang ia sudah melihat aku sebagai sandarannya! Itu artinya perlahan-lahan hatinya mulai menerima aku walaupun kedekatan kami harus soal perdebatan seperti ini setidaknya Luruh terlihat menggemaskan meskipun ia marah padaku hahaha," batin Axton senang. "Ih malah diam aja lagi kamu! Ini tuh aku lagi ngomong sama suami aku masa ia aku di cuekin begini woy! Telinga kamu di taruh dimana sih?! Masa ada orang yang lagi ngomong serius malah gak di tanggapin! Gak boleh begitu tau, Axton! Seperti itu tuh gak baik," ujar Luruh serius. "Wah-wah ada yang manggil aku suami nih hahaha! Biasanya kamu cuma manggil nama aku aja loh, Luruh! Aku mendengarmu kok sayang, namanya orang lagi pengen curhat ya aku dengarin baik-baik dong sayang! Tenang aja nanti saranmu akan aku ingat selalu seperti mengingat mantan terindah hahaha," canda Axton santai. "Bagus ya kamu dibilangin malah ketawa begitu! Ini tuh aku lagi serius! Harusnya kamu dengar baik-baik bukan malah bercandain aku begini tau gak?! Apaan itu malah bahas-bahas mantan kamu mau balik lagi sama mantan kamu yang namanya Laninna itu? Iya udah sana sama dia aja jangan urusin aku lagi!" omel Luruh kesal. "Ahahaha bukan begitu maksudku sayang! Aduh kenapa wajah marahmu ini menggemaskan sekali sih Luruh! Sepertinya aku harus sering-sering membuatmu kesal agar wajah ini terlihat ya hahaha!" kekeh Axton senang. Luruh yang mendengar suara tawa suaminya membuat gadis itu mencubit lengan Axton kesal dan ia menanyakan memang kalau tanpanya pemuda itu akan pergi ke mana sampai terlihat senang seperti ini, dalam diam Axton yang menyadari jika Luruh sedang cemburu padanya jadi ia menenangkan istrinya bahwa ia tidak pergi kemanapun. "Astagfirullah, kamu masih aja menertawakan aku hah! Udahlah diam gak usah ketawa-ketawa di atas penderitaan orang lain tau gak!! Jangan-jangan kamu terlihat senang begini karena mau pergi ke suatu tempat tanpa aku ya? Mau nemuin Laninna diam-diam ya kamu," ujar Luruh datar. "Ya ampun, istriku cemburunya menggemaskan sekali sih! Siapa yang bilang aku mau pergi tanpamu sih sayang? Aku tidak akan pergi kemana-mana kok! Kalau aku harus pergi maka tempatku untuk kembali adalah dirimu jadi tidak mungkin langkahku bergerak menjauhi rumah ternyaman yang aku miliki," tutur Axton lembut. Mendengar ucapan suaminya membuat Luruh hanya melirik Axton sekilas sementara Axton yang paham jika istrinya sudah sedikit lebih tenang membuatnya menggenggam tangan Luruh lembut hingga akhirnya mereka sampai di rumah kemudian Axton bergegas membantu istrinya keluar dari mobil dengan membukakan pintu mobil. Sesampainya di dalam rumah Luruh memijat betisnya yang terasa pegal dan Axton bercerita jika besok ia ingin Luruh menemaninya di kantor karena entah mengapa rasanya ia ingin Luruh di dekat dirinya terlebih Laninna sudah tak bisa datang ke kantornya pasti ia akan mencari kesempatan untuk melukai Luruh lagi. "Ya Allah, ini betis kenapa pegal sekali ya rasanya? Perasaan aku tidak melakukan hal berat apapun cuma kok rasanya kayak abis lari maraton jauh banget sih ya? Kayaknya aku kurang olahraga deh? Tumben banget betis sama kaki aku lelah sekali rasanya ya," gumam Luruh lelah. "Sayang, besok aku mau kamu menemani aku di kantor ya? Jangan lupa siapkan bekal dan beberapa camilan untuk bisa kamu makan selama menunggu aku sayang! Nanti soal kak Lara biar kak Rajan aja yang temani lagipula mereka juga biar bisa semakin dekat satu sama lain kan ya sayang? Sini aku pijitin kaki kamu Luruh," ujar Axton serius. "Lah tumben kamu minta aku temanin kerja? Kamu mau jadiin aku tameng biar gak di gangguin Laninna atau ada masalah lain sampai kamu sibuk dan gak bisa jemput aku kalau aku menemani kak Lara? Coba kamu jujur deh sama aku ada hal apa? Hm?" tanya Luruh bingung. "Bukan aku tidak ingin jujur padamu, Luruh! Aku hanya tidak ingin membebani pikiranmu hingga nantinya kamu malah jadi merasa khawatir dan tidak pergi kemanapun karena tau masalahku terlebih aku sudah melarang Laninna untuk datang ke kantorku jadi pasti dia akan mencari kesempatan lain untuk melukaimu lagi dan aku tak ingin hal itu terjadi," batin Axton khawatir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD