Waktu Yang Menyembuhkan Aku

2129 Words
Melihat suaminya melamun seperti ini membuat Luruh mengusap-usap bahu Axton lembut dan ia menanyakan apakah ada hal yang mengganggu pikiran Axton sampai-sampai ia terlihat begitu sedih dan Axton seperti sedang banyak pikiran entah apa yang pemuda itu pikirkan saat ini. "Kok kamu melamun, Axton? Sepertinya ada banyal hal yang menggangu pikiranmu, tenanglah kamu pasti bisa melaluinya dan kita akan mencari solusinya bersama-sama agar kamu tidak seperti ini ya? Jadi sebenarnya ada hal apa yang mengganggumu? Coba ceritakan masalah yang kamu pikirkan sampai seperti ini! Soal Laninna lagi ya?" tanya Luruh lembut. Axton memandang wajah khawatir istrinya dan ia hanya tersenyum kemudian menenangkan hati Luruh sebab ia tidak ingin membuat Luruh ikut memikirkan masalah yang mungkin bisa saja menggoyahkan hubungan pernikahan mereka sedangkan Luruh terus menatap mata Axton lekat dengan serius. "Aku hanya memikirkan pekerjaanku bukan melamun kok sayang, aku baik-baik saja jadi kamu juga harus tenang ya? Aku bukan terganggu akan masalah seperti yang kamu pikirkan, Luruh! Mungkin wajah lelahku sslama seharian bekerja ini membuatmu khawatir ya? Maaf sayang! Aku hanya lelah dan besok pasti aku akan seperti biasanya kok," tutur Axton lembut. Rasanya Luruh bisa merasakan bila suaminya berusaha memendam rasa sakit dan masalahnya sendiri dan gadis itu meminta Axton untuk membagi masalah dan lukanya pada Luruh sebab ia percaya bahwa semua masalah tidak melulu diselesaikan sendiri terlebih mereka adalah suami dan istri yang resmi. "Bagaimana bisa aku tenang di saat kamu seperti sibuk memikirkan sesuatu? Kita ini telah resmi menikah jadi kalau memang kamu ada masalah sebaiknya bilang padaku dan kamu tidak melulu menyelesaikan masalahmu sendiri toh aku juga pasti akan memikirkan dirimu kok, Axton! Katakan saja padaku apa masalahmu? Hm?" ucap Luruh serius. Sayangnya Axton benar-benar tidak ingin melihat Luruh sedih karena masalahnya, jadi pemuda itu lebih memilih mengingatkan istrinya untuk tidur saja sebab mereka berdua sudah lelah selama seharian ini dan mau tidak mau Luruh menuruti suaminya karena matanya juga sudah cukup mengantuk sejak sampai di rumah. "Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan diriku, Luruh! Hanya saja aku benar-benar tidak memiliki masalah apapun jadi tak banyak hal yang ingin aku katakan padamu dan sebaiknya kita tidur saja yuk sayang! Sebab pasti kamu juga sudah merasa lelah selama seharian in kan? Ayok sayang kita tidur dulu untuk beristirahat," tutur Axton lembut. "Kamu tidak perlu berterima kasih begitu, Axton! Sudah sewajarnya kita saling mengkhawatirkan satu sama lain! Baiklah ayok kita istirahat saja kebetulan aku juga sudah mengantuk pas datang di rumah ini? Padahal hari ini aku tidak melakukan hal berat apapun cuma kok badanku rasanya lelah banget sih ya," ucap Luruh lelah. Tak lama keduanya berjalan ke arah kamar untuk beristirahat hingga perlahan-lahan waktu berganti menjadi matahari yang menyilaukan membuat siapapun bangun untuk beraktifitas begitu juga Lara yang bangun dari tidurnya dan Lara langsung terduduk di jendela dengan tatapan sendu sebab tidurnya masih terasa tak nyenyak bahkan menyakitkan untuk hati Lara. "Hari terus berganti dan waktu terus berjalan, tetapi aku masih belum juga merasa tenang dan rasanya waktu yang masih berusaha menyembuhkan diriku walaupun hidupku masih belum jelas akan seperti apa bahkan tidurku masih terasa tak nyenyak dan menyakitkan untuk hatiku! Padahal harusnya semua perasaan macam itu tak lagi terasa sakit ya," batin Lara sendu. Sementara tanpa gadis itu sadari dari sofa Rajan memandang Lara dengan tatapan sedih sebab lagi-lagi rasa sakit masih belum juga pergi dari hati Lara dan gadis itu menyimpan kesedihannya sendirian seperti ini, padahal Lara memiliki dirinya untuk meluapkan rasa sakitnya dan Rajan hanya bisa memberi ruang demi perasaan gadis itu bisa lebih membaik dari ini. "Wajahnya terlihat begitu muram? Seperti Lara menyimpan banyak kesedihan di hadapanku padahal Lara bisa mengandalkanku untuk mengeluarkan rasa sakitnya hanya saja gadis itu lebih memilih sendirian dan satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah memberi ruang demi perasaan Lara agar ia bisa lebih membaik dari saat ini," batin Rajan sendu. Di tengah-tengah perasaan sedih yang di rasakan Rajan dan Lara tak lama ponsel pemuda itu berdering membuatnya menyahuti panggilan masuk yang ternyata dari Ruy yaitu tangan kanan Rajan di restorannya, sebenarnya Rajan masih ingin menemani Lara hanya saja Ruy bilang di sana sangat membutuhkan bantuan bosnya. "Assalamualaikum, bos! Keadaan darurat nih! Kami membutuhkan bantuan dari bos soalnya hari ini restoran kita di pesan orang penting terus ada bahan makanan masuk banyak sekali dan dekorasi restoran serta menu untuk hari ini diminta sesuai aturan bos! Pemesan juga minta untuk bertemu dengan bos loh! Bagaimana ini?!" ucap Ruy serius. "Waalaikumsalam! Hah? Siapa yang menerima pesanan ini? Kenapa tidak bicara dengan saya dulu? Kamu pikir menyiapkan menu dan dekorasi itu macam buat candi yang di bantu jin? Kalau dia mau bertemu saya itu tidak masalah, tapi kalau menyiapkan keinginan pemesan dalam waktu kurang dari sehari? Saya repot juga! Kelakuan siapa ini?" sahut Rajan bingung. "Aduh bos ini kan bos sendiri yang terima, deadlinenya hari ini dan pemesan sudah memesan dari minggu lalu jadi semua persiapan sudah aman hanya tinggal pemeriksaan terakhir sebelum tamu datang! Tolong bos ke sini dan bantu kami ya? Beberapa staff harus mengurus bahan masuk jadi sisanya menjalankan pesanan ini dan selain bos kami kewalahan," ujar Ruy panik. "Astagfirullah, kok aku bisa lupa sama pesanan ini ya? Terus kalau aku pergi nanti Lara wama siapa? Di satu sisi rasanya aku masih ingin menemani Lara hanya saja Ruy bilang mereka butuh bantuanku! Lalu aku harus bagaimana ini sekarang? Aku tidak ingin mengecewakan pesanan yang sudah di lakukan! Cuma bingung juga ya ini tuh," batin Rajan dilema. Melihat Rajan yang terdiam membuat Lara memahami jika pemuda itu mungkin sedang bingung dan tak lama Rajan mengiyakan permintaan Ruy dan dengan berat hati Rajan meminta maaf karena ia tidak bisa menemani Lara padahal tanpa Rajan ketahui Luruh juga mengirimkan pesan pada Lara bahwa adiknya juga tidak menemani Lara. "Baiklah, kalau begitu aku akan pergi ke sana dan tolong urus beberapa hal yang bisa kalian lakukan dulu selebihnya nanti akan aku usahakan! Selama aku berada di perjalanan tolong kabari aku ya, Ruy! Pemeriksaan terakhir nanti biar aku urus saja pokoknya kalian harus pastikan semua keadaan bersih dan aman ya," ucap Rajan pasrah. "Sepertinya hari ini bukan waktu keberuntunganku ya? Rajan harus pergi karena pekerjaan dan Luruh juga tadi mengirim pesan padaku kalau hari ini ia tidak bisa menemaniku karena Luruh ada acara dengan Axton jadi mau tidak mau aku harus sendiri dan aku juga tidak mungkin bilang hal ini sama Rajan sebab khawatir ia kepikiran pada aku yang sendirian," batin Lara sendu. "Aku minta maaf ya Lara, maaf karena aku harus ke restoran dan tidak bisa menemani dirimu hari ini! Aku juga masih ingin di sini hanya saja pekerjaanku sedang tak bisa aku tinggalkan jadi dengan berat hati aku pergi dulu ya, Lara! Kamu tenang saja nanti Luruh akan datang ke sini untuk menemanimu! Sekali lagi maafkan aku ya? Aku duluan ya Lara," tutur Rajan lembut. Lara tidak bisa menahan Rajan yang memiliki kesibukan di usahanya begitu juga Luruh yang harus menemani suaminya juga tidak bisa Lara tahan jadi satu-satunya hal yang bisa Lara lakukan adalah menikmati waktunya sendirian karena Lara tidak tau harus ke mana ataupun melakukan apapun di saat seperti ini. "Kesibukan yang dimiliki Luruh dan Rajan tidak bisa aku tahan sebab mereka juga memiliki dunia mereka sendiri dan aku hanya bisa menikmati waktu sendirian ini karena aku tak tau harus ke mana ataupun melakukan apapun di saat seperti ini kan? Ya sudahlah sendirian juga mungkin bukan hal yang buruk ya? Ini sudah jalan hidupku kali ya," gumam Lara sedih. Kalau gadis itu boleh jujur rasanya Lara bosan memandang langit dari jendelanya jadi dengan langkah kecilnya Lara membawa tiang infus dan dirinya berjalan ke arah taman rumah sakit hanya untuk mencari angin yang bisa sedikit menyegarkan pikiran Lara yang sedang merasa hampa karena ia sendirian. "Rajan sudah pergi sejak tadi ternyata terus-terusan memandang langit seperti ini bosan juga ya rasanya? Kalau begitu aku pergi ke taman rumah sakit saja deh! Sepertinya mencari angin segar di taman bukanlah ide yang buruk, mungkin dengan berjalan-jalan sebentar aku bisa sedikit menyegarkan pikiran! Aku suka sepi, tapi merasa hampa itu bukan kesukaanku," ujar Lara lelah. Tak lama sesampainya di taman gadis itu memandang ramainya orang-orang yang di temani keluarga dan orang terkasihnya sementara Lara hanya bisa terdiam dengan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya, ia ingin seperti pasien lainnya yang telah berhasil disembuhkan oleh waktu tidak seperti dirinya yang masih berbeda jauh dengan mereka. "Jadi taman bisa seramai ini ya? Mereka pasti bahagia karena ditemani orang yang berarti di hidup mereka dan aku? Aku hanya sendirian bahkan waktupun enggan menyembuhkanku seperti pasien-pasien ini ya? Rasanya waktu masih belum menyembuhkanku dan antara mereka dan aku jelas berbeda jauh dan kasihan sekali aku ini ya," lirih Lara sendu. Perlahan-lahan langkahnya Lara mulai bergerak menuju sebuah kursi taman yang membuat Lara teringat dengan kebiasaannya dengan Rajan dan satu teman dekat mereka yakni Geo Barchivand atau pria yang akrab di sapa Geo oleh dirinya dan Rajan, tetapi Lara cukup sadar bahwa ingatannya tentang Geo tak akan membuat temannya itu hadir di sisinya. "Kursi taman ini mirip dengan tempat pertama kali aku, Rajan dan Geo bertemu! Dulu sekali aku juga pasien dari rumah sakit ini dan saat itu Geo dan Rajan ikut duduk denganku seolah-olah mereka teman akrabku dan dari sanalah aku menjadi teman baik mereka walaupun sekarang Geo entah ada dimana ya? Aku bersyukur mengenal mereka," ucap Lara santai. Ketika Gadis itu terduduk di bangku taman dengan tiang selang infus yang berada di sisinya, Lara lebih memilih menikmati waktu sendiriannya sambil ia memandang langit sendu sebab rasanya Lara ingin mencari angin segar agar ia lupa dengan rasa sakit yang masih belum juga sembuh sampai hari ini. "Suasana ini, angin ini? Rasanya aku hanya bisa mengandalkan waktu untuk kesembuhanku dan mungkin Allah ingin aku menikmati waktu sendirian agar suatu saat aku paham bagaimana rasanya mereka tanpaku? Kalau boleh jujur rasanya ternyata tak nyaman," gumam Lara sendu. Sementara tanpa Lara sadari tiga orang pria memandangnya sendu dan mereka mulai berjalan menghampiri Lara yang masih sibuk dengan sapuan angin di pagi hari ini, tak lama samar-samar Lara mendengar ada suara yang terdengar akrab di telinganya membuat gadis itu tanpa sadar menolehkan wajahnya ke sumber suara. "Kak Lara! Lama tidak berjumpa ya? Bagaimana hari kakak? Hm? Danuel dan yang lainnya sangat merindukan kak Lara dan Luruh loh! Tak terasa ya waktu bergulir dengan cepat bahkan saking rindunya aku sampai tidak tau harus bertanya apa dulu karena ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kak," ujar Danuel santai. Seketika Lara berhambur ke pelukan teman baiknya sementara dua orang yang gadis itu kenal mengusap-usap punggung Lara lembut sebab menurut Danuel Leonindra Agung dan Rafael Louis Arya, Lara sudah di anggap seperti kakak mereka karena kedua pemuda itu adalah teman Luruh saat adiknya sekolah di salah satu SMA. "Ya Allah, Danuel! Eh ada Geo sama Rafael juga?! Kapan kalian pulang? Ih kenapa gak telpon aku dulu! Ya ampun rasanya aku tidak pernah menyangka kalau suatu hari kalian akan datang menemui aku? Bagaimana kabar kalian? Ini aku bermimpi atau tidak ya?!" gumam Lara terkejut. Pemuda yang dipeluk erat oleh Lara hanya berusaha menenangkan gadis itu sambil ia bertanya mengapa Lara sendirian dan bagaimana keadaaan Lara selama ini, sebab terakhir kali mereka bertemu adalah saat Rajan membuka restorannya dan sejak itu Geo selalu mengkhawatirkan keadaan Lara dari jauh. "Ahahaha! Kamu masih tidak berubah ya, Lara? Tentu saja bukan mimpi? Kamu bisa memelukku bukan? Sudah tenanglah dulu, kami akan menetap di sini lama kok jadi kamu bisa menanyakan kami apapun dan sudah pasti aku dan yang lain akan selalu mengunjungi dirimu! Rasanya waktu bergulir dengan lama sebab baru sekarang aku bisa bertemu denganmu," tutur Geo lembut. Gadis itu tersenyum dengan lembut kemudian ia bercerita bahwa waktu yang menyembuhkan Lara dan ia balik bertanya kenapa Geo, Danuel dan Rafael bisa ada di rumah sakit ini karena kalau Lara tidak salah ingat Geo berkuliah di luar negeri dan Rafael juga melanjutkan pendidikan di luar negeri seperti kakaknya yakni Geo. "Satu-satunya yang aku inginkan untuk berubah adalah penyakitku dan walaupun aku masih seperti ini setidaknya waktu yang menyembuhkan perasaanku bahkan memberikan kesempatan lagi untuk bertemu kalian! Tadinya aku pikir waktu akan segera berakhir dan aku tidak akan bisa bertemu kalian lagi, eh ternyata sekarang aku bisa memeluk kalian bertiga," ucap Lara serius. Geo tersenyum sekilas dan ia hanya berniat memberi kejutan pada Rajan dan Lara sebab Geo mendengar kabar dari salah satu rekan bisnis ayahnya bahwa Giran memutuskan Lara bahkan menyakiti gadis itu jadi Geo ingin menjenguk Lara terlebih sejak awal teman baiknya menjadi pacar Giran, rasanya Geo selalu khawatir pada gadis ini. "Jangan berbicara seperti itu, Lara! Kamu pasti akan pulih, oh iya kabarnya Giran si payah itu sudah memutuskanmu bahkan ia membuatmu terluja ya? Di mana dia? Ada bogem mentah yang harus aku berikan padanya nih, Lara! Sejak awal aku merasa dia tak baik untukmu eh kamu malah menerimanya, ya sudah sekarang aku perlu memberinya pelajaran!" ujar Geo serius.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD