Cinta Tak Pernah Menciptakan Luka

1616 Words
Samar-samar Lara seperti mendengar ada suara yang terasa cukup akrab di telinganya lalu tak lama ia menatap ke arah mana suara itu dan di sana ada Rajan yang tersenyum seperti biasa yang Lara lihat, tapi sayangnya pertanyaan Lara tak mendapat jawaban seperti yang ia mau. "Apa? Kamu bilang apa tadi, Rajan? Maaf aku kurang mendengar ucapanmu, tetapi sepertinya aku mendengar kamu mengatakan sesuatu? Bisa tolong katakan lagi apa yang kamu ucapkan, Rajan? Bukan aku bermaksud apa-apa hanya tadi aku sedang tak fokus saja, jadi tadi kamu ngomong apa ya?" tanya Lara bingung. "Begitukah? Aku tidak mengatakan apa-apa kok, mungkin kamu hanya salah dengar karena kamu tadi kan sedang tidak fokus bukan? Sudah jangan terlalu di pikirkan toh wajar jika kadang kita keliru dalam beberapa hal, Ra! Oh iya bagaimana tidurmu? Nyenyak ya," sahut Rajan santai. Tatapan Lara terlihat lekat dan dipenuhi luka dan melihat Lara terluka seperti ini membuat Rajan tanpa sadar mengepalkan tangannya marah karena ia tidak pernah ingin melihat gadis yang ia cintai menderita seperti ini dan dalam diam Rajan merasa gagal melindunginya. "Lagi-lagi tatapan itu harus terlihat olehku, aku paling tidak bisa melihatnya menahan semua luka ini karena semakin aku melihatnya begini yang ada aku malah semakin merasa gagal untuk melindungimu! Aku tidak pernah sanggup melihatmu menderita, Lara?! Siapapun yang datang untuk menyakitimu maka aku akan berada di sisimu mulai sekarang!" batin Rajan geram. Lara yang melihat alis Rajan terlihat berkerut seperti sedang menahan kesal entah pada siapa membuatnya mengusap-usap lengan pemuda itu lembut bermaksud menenangkan Rajan, tetapi tak lama ia menasehati Lara untuk jangan bersedih lagi karena Giran. "Tenang saja aku baik-baik saja kok! Aku akan melindungimu jadi aku mohon tolong kamu jangan bersedih lagi karena Giran ya! Siapapun yang membuatmu bersedih akan menjadi urusan yang aku bereskan! Mulai sekarang tolong pikirkan dirimu agar lebih bahagia ya, Lara! Untuk kesedihanmu tak akan aku biarkan kamu melaluinya sendiri," ucap Rajan serius. Dalam diam Rajan berpikir jika Lara mungkin akan berpikir jika dirinya terlalu banyak bicara dan sayangnya Lara tidak berpikir demikian malah ia berterima kasih karena masih ada orang yang memperdulikan dan mengerti perasaannya di saat orang lain melupakan dirinya. "Sepertinya aku terlalu banyak bicara ya, Lara? Maafkan aku, aku tidak bermaskud untuk banyak bicara begini! Aku hanya ingin apapun yang kau cintai tidak lagi menciptakan luka di hatimu dan sesulit apapun hari-harimu, kamu tidak melaluinya sendirian! Maaf jika ucapanku terdengar cukup egois untukmu ya," gumam Rajan sedih. "Kamu tidak perlu berpikir demikian kok, Rajan! Aku berterima kasih padamu karena ternyata masih ada orang yang memperdulikan dan mengerti perasaanku! Kamu tidak terlalu banyak bicara melainkan hatimu memang tulus dan baik! Lagipula cinta menurutku itu tak pernah menciptakan luka jadi jangan terlalu khawatir ya," tutur Lara lembut. Mendengar ucapan Lara membuat Rajan berpikir bagaimana bisa ada hati yang begitu lembut dan naif seperti Lara sedangkan ia tak memperhatikan bahwa selama ini Lara melukai dirinya demi membahagiakan cinta yang terlampau besar di hatinya walaupun pada akhirnya ia harus di lupakan seperti ini. "Tak pernah menciptakan luka katanya? Apakah ia lupa jika selama ini Lara telah melukai dirinya sendiri? Apakah benar yang orang katakan jika cinta itu buta hingga semua rasa sakit yang ia tahan selama ini bahkan tak terasa apapun untuknya? Kenapa kamu harus sampai seperti ini hanya demi membahagiakan orang lain, Lara? Tidak sakitkah untukmu," batin Rajan sendu. Di saat pemuda itu larut dalam pemikiran yang tidak ia bisa pahami tidak lama Lara berjalan ke arah jendela lalu tidak lama Rajan tiba-tiba mempertanyakan mengapa Lara tidak menerima perjodohan yang di siapkan orang tuanya saja agar ia bahagia. "Mungkin pertanyaanku terdengar konyol ya? Hanya saja kenapa kamu tidak menerima lamaran dan perjodohan yang sudah dipersiapkan untukmu? Bukankah dengan menikah dan menjadi istri bisa membahagiakan dirimu? Mau sampai kapan kamu seperti ini?" tanya Rajan bingung. Lara terkekeh sejenak lalu ia menjelaskan alasannya bahwa kenapa ia memilih seperti ini di banding menikah dengan Axton sedangkan Rajan berusaha menahan kesedihannya saat ia dan Luruh yang terdiam di depan pintu menunggu penjelasan Lara yang masih tak berubah tetap memikirkan orang lain bahkan hidupnya sendiri bisa berakhir kapanpun. "Memang agak konyol sih hahaha! Karena aku mengerti hidupku akan menjadi beban untuknya lagipula waktu yang tersisa tidaklah banyak, Rajan! Suatu saat pada akhirnya aku akan berbeda dunia dengannya makanya aku memilih melakukan hal yang bisa aku lakukan yaitu memberikan Luruh untuk di jaga seseorang jika aku harus tiada setidaknya dia aman," ucap Lara santai. "Bagaimana bisa setelah semua luka dan waktunya yang terbatas ia masih saja memikirkan orang lain dibanding hidupnya? Sepertinya hatinya benar-benar bukan manusia! Lara terlampau baik dan meletakkan dirinya di paling akhir dan jujur aku semakin tak bisa membiarkannya hidup seperti ini terus menerus Lara," batin Rajan sendu. "Kakak, dari semua hal yang bisa ia lakukan kenapa ia harus mencari perlindungan untukku? Tidakkah ia lupa bahwa ia bisa sembuh meskipun kemungkinannya kecil setidaknya dia harus memikirkan hidupnya! Ia terlampau memberikan banyak hal untukku hingga aku sendiri bahkan tak ingat kapan terakhir kali ia memikirkan dirinya," batin Luruh sedih. Melihat ekspresi wajah Rajan yang terlihat begitu sedih membuat Lara menenangkannya bahwa setiap hal yang terjadi pada dirinya tak memiliki penyesalan apapun jadi Rajan tak perlu sedih sampai seperti ini. "Kok wajahmu terlihat sedih begitu, Rajan? Kamu tak perlu sedih begini lagipula untukku setiap hal yang terjadi padaku tidak ada penyesalan apapun jadi kenapa kamu sedih begini? Hm? Aku baik-baik saja toh hidup memang tidak pernah selalu berjalan mulus pasti selalu ada kesedihan sebelum akhirnya kebahagiaan menghiburmu! Tenang saja ya Rajan," ujar Lara santai. Sejenak Rajan menarik nafasnya dalam lalu ia mengusap wajahnya kasar untuk menguatkan dirinya di saat seperti ini, begitu juga Luruh yang memilih pergi ke kamar mandi karena ia tidak ingin kakaknya melihat dirinya yang habis menangis ini. Setelah merasa perasaannya lebih baik tak lama Rajan menanyakan lalu sekarang Lara akan memulai hidupnya darimana dan hal apa yang akan ia lakukan karena Rajan ingin menepati ucapannya dengan ia menemani setiap keinginan yang ingin di lakukan Lara. "Mungkin kamu benar lalu sekarang bagaimana? Kamu akan memulai hidupmu darimana? Hm? Atau ada hal yang ingin kamu lakukan? Katakan saja padaku maka aku akan menemani setiap keinginan dan hal yang ingin kamu lakukan, Lara! Apakah kamu ingin pergi ke suatu tempat? Ada rencana berlibur atau sesuatu tidak?" tanya Rajan lembut. "Wah sepertinya ini hari keberuntunganku ya? Aku ingin menghabiskan waktu duduk di pantai sambil menatap matahari terbenam dan mungkin jika masih ada waktu aku ingin melakukan banyak hal seperti gadis pada umumnya! Mengobrol dengan teman, pergi bermain atau nonton bioskop seepertinya menyenangkan ya," ucap Lara santai. "Di saat orang lain menginginkan hal mewah, Lara hanya ingin hal-hal yang umum dan untukku terlihat sederhana! Kalau begitu aku akan mewujudkan semua keinginanmu karena hanya ini satu-satu hal yang biasa aku lakukan untuknya mungkin sebatas ini saja ya," batin Rajan sendu. Dalam diam Lara mengerutkan alisnya bingung karena ia merasa Rajan jarang mempertanyakan hal-hal seperti ini, tetapi ketika Lara menunggu penjelasan Rajan tak lama terdengar ada suara ketukan pintu dan hadirlah Luruh yang tersenyum ceria menyapa kakak kesayangannya. "Kenapa tiba-tiba kamu berpikir untuk menemani keinginanku, Rajan? Rasanya seperti bukan kamu saja yang mempertanyakan keinginanku? Apa yang membuatmu berpikir begini? Hm? Seingatku hari ulang tahunku masih lama? Jadi apa alasanmu bersikap baik begini, Rajan? Aku senang kamu baik padaku, tapi tolong katakan alasanmu ya? Ada apa?" tanya Lara bingung. "Selamat pagi, kakakku yang cantik! Padahal aku hanya tak bertemu denganmu saat malam lalu kenapa aku rasanya sudah sangat merindukanmu ya? Bagaimana keadaanmu? Apakah tidurmu nyenyak kak? Oh ya ampun ada kak Rajan ternyata! Terima kasih sudah menjaga kakakku ya kak Rajan! Kakak sudah sarapan? Ini aku bawa bubur juga," ucap Luruh santai. Sebenarnya Rajan ingin mulai mengungkapkan perasaannya, tetapi mendengar perasaan Lara yang masih memulihkan diri membuat Rajan memilih untuk menunjukkan ketulusannya dengan tindakan dibandingkan ucapan yang mungkin akan melukai perasaan Lara lagi. "Untung ada Luruh! Sepertinya jika aku mengungkapkan perasaanku di saat seperti ini tidaklah tepat ya? Kalau begitu aku akan menunjukkan ketulusan dan bagaimana cintaku padanya! Akan lebih baik jika Lara merasakan sendiri perjuanganku di bandingkan ucapan saja yang mungkin hanya akan melukai perasaannya jika terlalu banyak berjanji padanya," batin Rajan serius. Di lain sisi Luruh mengerti jika teman baik kakaknya menaruh hati pada Lara dan ia mencoba menyarakan kakaknya untuk berjalan-jalan ke tempat yang ingin di kunjungi oleh Lara setelah nanti ia di izinkan pulang dari rumah sakit. "Sepertinya kalau kak Rajan sama kak Lara ingat-ingat lagi kalian belum pernah berjalan-jalan ke suatu tempat untuk berlibur begitu ya? Bagaimana kalau kalian memilih waktu untuk liburan berdua setelah nanti kak Lara di izinkan pulang dari rumah sakit kak? Bukankah dengan kakak pergi berlibur bisa membahagiakan dan bahagia itukan obat terbaik loh kak," ucap Luruh lembut. Lara terkekeh mendengar ide adiknya lalu tidak lama ia menyetujui saran tersebut Lara dan baru kali Rajan melihat senyuman Lara yang selalu berhasil membuat hatinya berdebar dengan cukup cepat dan tak pernah berhenti mencintai gadis itu. "Benar juga ya? Hitung-hitung kakak menghabiskan waktu yang tersisa ya hahaha! Untuk kakak pribadi kakak gak keberatan dan setuju-setuju saja dengan saranmu ini lagipula kita setidaknya perlu pergi mengenal dunia walaupun hanya sekali ya? Ayok kita pergi berlibur Rajan! Aku jadi tidak sabar untuk jalan-jalan hahaha," kekeh Lara santai. Rajan cukup mengerti jika ucapan dan tawa dari gadis yang ia cintai adalah bentuk manipulasi agar dirinya dan Luruh tak mengkhawatirkan dirinya dan seketika rasa sakit hati Rajan terasa menyakitkan saat ia menyadari jika dirinya tak bisa membahagiakan Lara dengan benar. "Semakin mendengar tawa dan melihat senyuman ini rasanya aku merasa menjadi pria yang tak berguna karena tidak bisa memberikan kebahagiaan yang nyata untuknya! Harusnya ia tidak perlu berpura-pura seperti ini! Harusnya aku lebih tangguh untuk membahagiakan Lara! Aku ini kenapa payah begini ya? Apakah cinta membuatku lemah ya," batin Rajan sendu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD