Beruntunglah makanan yang di inginkan Rinja masih ada jadi Luruh bisa menyajikan makanan itu agar Rinja dan kakak iparnya tidak kebingungan seperti ini sementara Terang yang melihat wajah adiknya terlihat lain membuat pemuda itu membisikkan hal yang ia rasa sedang dialami Axton.
"Aduh Rinja gak perlu mohon-mohon begini kok! Ini pilih makanan yang ada di lemari pendingin dan kebetulan ini yang Rinja mau ya? Ambil aja nanti Luruh bisa beli lagi dan sayang juga kalo gak di makan nanti jadi kebuang-buang! Silahkan dihabiskan makanannya," ucap Luruh lembut.
"Lu kenapa, Axton? Perasaan wajah lu kelihatan lain? Apakah ada sesuatu yang terjadi sama lu? Lagi marahan ya kalian? Coba sini ceritain sama abang! Gue dengerin kok," bisik Terang serius.
Sebenarnya Axton tidak ingin menceritakan masalahnya pada abangnya, tetapi bagaimanapun juga Terang lebih berpengalaman dibanding dirinya jadi ia berusaha meminta solusi pada Terang sayangnya Rinja yang merasa sudah mendapatkan makanan yang ia inginkan mengajak suaminya pulang.
"Namanya hidup mah gak selalu baik-baik aja bang! Jadi tadi tuh gue emang salah sih pergi nemuin orang gak bareng Luruh! Terus malah jadi salah paham dan ya gue agak butuh solusi dari lu sih kayaknya bang! Menurut lu gue harus gimana? Diam aja gitu atau harus gimana dah? Eh tapi tuh," ucap Axton terhenti.
"Akhirnya bisa mendapatkan makanan yang aku mau juga, ayok Terang kita balik! Punggung gue udah minta rebahan nih daritadi mana ke sana-sini buat nyari makanan gak dapat mulu kan! Aduh gak sabar pulang ke rumah dengan nyaman terus tidur yang banyak dah," ajak Rinja santai.
Butuh beberapa menit untuk Terang dan Axton terdiam sambil saling melemparkan pandangan bingung karena jika Terang pergi begitu saja yang ada adiknya merasa sedih terlebih tadi Axton sedang ingin mengatakan masalahnya, di lain sisi jika Terang tetap di sini yang ada Rinja hanya akan mengomel karena permintaannya tidak di kabulkan.
"Loh kok Rinja tiba-tiba minta balik di saat begini dah? Mana itu anak jarang banget mau cerita sama gue? Gak mungkin kan kalau gue pergi begitu aja di saat Axton merasa sedih begini? Cuma di lain sisi Rinja yang udah kelelahan begini pasti bakalan ngomel kalau gue suruh tunggu di sini dulu! Aduh gue jadi bingung harus gimana nih sekarang," batin Terang gelisah.
Melihat kakaknya seperti sedang kebingungan membuat Axton menghela nafasnya lelah dan ia meminta membicarakan masalah ini di lain waktu karena ini sudah terlalu malam juga untuk mereka mengobrol hal sepele seperti ini.
"Yaudah bang nanti aja gue lanjut ceritanya! Lagipula ini udah terlalu malam juga buat ngobrol, tenang aja masih ada lain waktu kok! Hati-hati ya kalian di jalannya! Oh iya bang lu jangan terlalu cepat nanti mengendarainya! Sampai bertemu lagi ya Rinja! Bang Terang," ucap Axton santai.
Terang yang mengerti dengan keputusan adiknya hanya tersenyum sekilas lalu ia mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti dan tak lama Terang menggenggam tangan Rinja pulang dan Luruh malah merasa ada yang di sembunyikan Axton dan kakaknya membuat gadis itu tanpa sadar menyindir Axton yang sibuk menonton salah satu program televisi.
"Bagus ya setelah melakukan kesalahan bukannya menjelaskan! Malah main rahasia-rahasiaan begitu! Lu pikir gue gak ngerti arti tatapan kalian itu! Hal apa lagi yang gak gue tau sampe lu harus repot-repot menyembunyikan dari gue! Heran sama orang model lu ini!" sindir Luruh sebal.
Ucapan gadis cantik yang terlihat marah itu membuat suasana ruang televisi itu seketika terasa hening dan tak lama suara tawa Axton terdengar lalu pemuda itu menjelaskan jika apapun yang sedang di pikirkan Luruh tidaklah benar.
"Jadi lu masih ngambek sama gue ya? Hahahaha! Maaf-maaf, gue gak bermaksud buat bikin lu kesal kayak gini kok! Pokoknya gini deh, apapun yang sedang lu pikirkan itu tidaklah benar dan gue gak pernah menyembunyikan apa-apa dari lu! Kita hanya belum terlalu saling mengenal jadi segala hal terasa asing dan sulit di pahami," tutur Axton santai.
Sayangnya Luruh bukanlah gadis yang mudah percaya dengan ucapan Axton bahkan ia masih merasa kesal dengan tingkah pemuda itu yang entah mengapa terlihat menyebalkan di matanya sedangkan Axton yang mengerti jika saat ini Luruh sedang cemburu membuatnya berusaha untuk menenangkannya.
"Mana ada gue ngambek! Bukannya bikin orang tenang malah di ketawain! Kalau memang soal masalah belum saling mengenal kenapa lu mau-mauan nikahin gue! Udah deh gak usah banyak alasan dan emang dasarnya lu aja pintar ngomong, tapi maaf aja gue gak percaya sama omong kosong gak jelas lu ini tau gak?!" omel Luruh kesal.
"Oh wow ternyata lu mau ditenangin gue ya? Gini loh Luruh gue tuh gak akan sembarangan dalam bertindak! Keputusan gue nikahin lu itu butuh pemikiran yang matang dan soal hal yang gue omongin sama bang Terang ya gue minta solusi dia atas kesalahan gue hari ini jadi kita ini tuh sebenarnya hanya salah paham aja Luruh! Maaf ya sayang," ucap Axton lembut.
Dalam diam Luruh akui jika hatinya sulit mempercayai ucapan seseorang terlebih ia sudah kesal dulu pada Axton, tetapi tatapan mata Axton membuatnya menyadari jika pemuda itu mungkin terlihat menyebalkan terkadang hanya saja ia bersungguh-sungguh dalam ucapannya.
"Kadang ucapannya terdengar menyebalkan, tapi entah kenapa tatapan matanya dan ucapannya selalu bersungguh-sungguh! Meskipun begitu hanya dia satu-satunya orang yang membantuku dan berada di sisiku di saat tersulit sekalipun jadi bersamanya agak membingungkan juga menyedihkan sebenarnya," batin Luruh sendu.
Tidak hanya gadis itu saja yang berusaha memahami ucapannya melainkan Axton juga terlarut dalam mata Luruh yang dahulu terlihat berapi-api saat beradu argumen dengan dirinya, tetapi kini tatapan mata itu terlihat begitu sedih dan Axton tak menyukai Luruh yang seperti ini.
"Kenapa dia terlihat sedih begitu ya? Kalau boleh jujur gue lebih suka melihat dia berapi-api saat beradu argumen sama gue di bandingkan dia begini!! Siapapun yang membuat Luruh menjadi sedih begini gue gak akan membiarkan hal itu terulang lagi! Pokoknya dia harus selalu bahagia lebih baik dari sebelumnya," batin Axton geram.
Jika boleh jujur rasanya Axton lebih menyukai Luruh yang memarahi dirinya di banding terlihat begitu sendu sampai mata itu dipenuhi genangan air mata yang terus menetes dan membuat hati Axton berdenyut perih melihat Luruh yang menangis seperti ini.
"Gue emang salah dan gak apa-apa kalau lu mau marahin gue silahkan, Luruh! Hanya saja lu jangan sampai menangis begini! Maafin gue dan tolong jangan menangis sayang! Gue bisa buktiin kok kalau gue sama cewek yang lu liat di foto itu cuma teman kok jadi jangan sedih lagi ya sayang," ucap Axton lembut.
Di saat pemuda itu berusaha menghapus air mata Luruh, gadis itu malah bergumam-gumam kesal karena ia tidak ingin di lihat di lemah oleh orang yang menyebalkan seperti Axton ini lalu tidak lama Axton memilih memeluk Luruh dan menjelaskan jika arti gadis itu di hidupnya tak bisa di gantikan orang lain.
"Udah dong jangan nangis terus, Luruh! Gue salah dan gue janji bakalan bahagiain lu bukan malah bikin lu sedih begini sayang! Bilang sama gue, gue harus apa supaya perasaan lu bisa membaik? Gue gak masalah melakukan apapun buat lu asal lu bahagia Luruh," ujar Axton santai.
"Mana ada ceritanya orang bahagia di bikin nangis begini! Gue kesel sama lu karena harusnya lu tuh gak perlu bikin gue marah! Gue gak suka terlihat lemah oleh orang lain apalagi orang itu tuh menyebalkan macam lu! Pengen banget gue ketok pala lu pake bantal dah!" gumam Luruh kesal.
"Iya gak apa-apa! Pukul dan lakuin apapun sesuka lu, Luruh! Gue akan selalu ada buat lu dan lu boleh mengandalkan semuanya ke gue! Ingat satu hal bahwa arti diri lu di hidup gue gak akan bisa di gantikan orang lain dan tidak ada kesempatan untuk gadis lain menempatkan hati gue Luruh," tutur Axton serius.
Keduanya hanya bisa saling melempar pandangan sebelum akhirnya Axton mengingatkan Luruh untuk beristirahat sebab ini sudah terlalu larut malam untuk gadis cantik itu bergadang lalu tanpa mengatakan apa-apa Luruh memilih melangkahkan kakinya untuk istirahat.
"Semudah itu ia mengatakan banyak hal ya? Semakin dia baik begini malah semakin bikin gue takut kalau suatu saat dia bisa ilan tau gak, Axton! Cuma yaudahlah mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah ini lebih lanjut jadi sepertinya untuk sekarang akan lebih baik untuk melupakannya dulu kali ya," batin Luruh santai.
"Tolong jangan melamun, Luruh! Sepertinya ini sudah saatnya lu untuk beristirahat jadi ayok jangan terlalu banyak memikirkan hal yang gak penting dulu ya? Gue gak mau lu kelelahan karena sibuk kesana-sini! Masih ada hari esok yang harus kita lalui sayang," ucap Axton lembut.
Hingga perlahan-lahan waktu berganti dari heningnya malam kini berubah menjadi pagi hari yang terasa menyilaukan, tetapi juga menenangkan setelah banyak hal yang di rasakan oleh Lara kemarin padahal gadis itu tidak melakukan hal yang mengusik Giran ataupun kekasihnya.
"Setelah luka yang ia torehkan untukku lalu ia masih-masih bisa-bisanya sesantai kemarin ya? Padahal selama ini gue gak pernah melakukan hal yang mengusik dia loh! Tidak bisakah dia menjalani hidupnya sendiri! Apakah kesabaranku masih tak di hargai oleh dia," batin Lara sendu.
Tanpa di sadari oleh Lara, di saat gadis itu larut dalam kesedihannya ada Rajan yang bersandar di pintu sambil menatapnya wajah Lara dengan tatapan sendu sebab rasanya ia tidak ada kesempatan untuk menjadi sandaran gadis itu mau sesabar bahkan sebaik apapun dirinya.
"Aku pikir kesedihan sudah tak akan menghampiri kamu lagi, Lara? Ternyata aku salah ya? Tanpa kehadiranku di dekatmu kamu meratapi lukamu dengan tatapan itu! Mau sesabar atau sebaik apapun aku padamu tetap saja pada akhirnya tidak ada kesempatan untuk aku menjadi sandaran atau seseorang yang berhasil menenangkanmu," batin Rajan sendu.
Namun meskipun begitu hati Rajan masih sulit beranjak dari Lara walaupun ia tau dihatinya tak akan mungkin ada nama Rajan, tapi setidaknya hanya cara ini yang bisa di lakukan Rajan untuk mencintai dan melindungi gadis yang ia cintai sepenuh hatinya.
"Ya sudahlah lagipula yang terpenting adalah kebahagiaanmu, Lara! Aku akan menahan semua pilu ini hanya untuk mencintai dan melindungimu jadi bagaimanapun perihnya menjadi aku maka aku akan tetap selalu di sisimu kok Lara," gumam Rajan sedih.