Amora Glandire || Chapter 1 - Dark Forces

919 Words
Three thousand years ago On Panddande Seorang wanita cantik berjalan kearah tahta Raja Eddos, dia ingin keadilan bagi hatinya. Sudah cukup dia merasa jika hatinya selama ini dipermainkan. "Tidak Eddos, ini keterlaluan. Kenapa bisa kau menikahi dia, sedangkan aku disini menunggumu sudah sangat lama. Aku mencintaimu Eddos, aku sangat mencintaimu." pekik Pancracia "Oh s**l, mengertilah Cia aku tidak mencintaimu, hubungan kita cukup sebatas kakak dan adik sepupu." Mendengar jawaban Eddos membuat amarah Pancracia seakan bertambah, apalagi saat pria didepannya itu menggenggam erat tangan seorang wanita. "Aku dan Haidee saling mencintai, tidak salah jika kami menikah dan kau tidak berhak marah Cia." Pancracia maju dan menunjuk-nunjuk kearah wajah cantik Haidee, "Kau lebih memilih dia dari pada aku Eddos? Bahkan kau memilih dia yang baru kau kenal dari pada aku." "Cia, dalam cinta tidak ada kata lama dan tidaknya pengenalan, cinta itu takdir. Jika takdirku dengan Haidee, kau bisa apa?" Air mata Pancracia jatuh, ia merasa amat sangat sakit hatinya. Semua kata-kata yang keluar dari mulut Eddos mampu menerjang hebat hatinya. "Sekarang aku tanya, kenapa kau tidak bisa mencintaiku?" "Itu pertanyaan konkret Cia." "Jawab saja Eddos." "Karena aku tidak cinta." Pancracia memejamkan matanya menahan sakit yang dirasakan hatinya, "Lalu kenapa kau bisa mencintai Haidee?" "Karena aku cinta." "Cukup Eddos, kenapa Jawaban mu seperti itu." teriak Pancracia. Penyihir cantik itu menatap murka kearah sepasang suami istri didepannya. "Sejak kapan kalian menikah?" Eddos menaikkan alisnya, bingung dengan ucapan Pancracia, tapi tak urung ia juga menjawabnya. "7 bulan yang lalu, saat aku mengikuti perang di Madarze. Dan sekarang Haidee tengah mengandung buah hati kami." 'Hatiku semakin bertambah sakit Tuhan. Terkutuk lah anak itu' "Demi Tuhan sang pencipta alam, demi rasa sakit hatiku yang kau buat, demi cintaku yang kau sia-siakan. Aku Pancracia, dengan kekuatan sihir ku, aku mengutuk janin yang ada pada kandungan istrimu!" Prang Suara vas bunga jatuh membuat pandangan semua orang teralihkan, disana--vas bunga sudah pecah karena ulah angin yang tiba-tiba menjadi kencang. Bahkan awan biru menjadi keabuan. "Anak itu akan menjadi anak pembawa s**l, dia akan merugikan orang-orang yang berada didekatnya. Dia pembawa s**l!" Angin semakin kencang, bahkan mampu merobohkan hiasan patung yang ada, tak berselang lama hujan badai turun. "Eddos apa yang dikatakan Pancracia, anak kita." Haidee, wanita itu sudah ketakutan dan meremas dengan kuat jari jemari sang suami. "Stts tenanglah sayang." sama halnya dengan sang istri, Eddos pun ketakutan dengan perkataan Pancracia. "Cia apa yang kau katakan, tarik kata-kata mu itu Cia, aku mohon." "Tidak, kutukan itu tidak seberapa dengan rasa sakit ku Eddos. Coba kau ingat kembali, apa yang pernah kau katakan padaku 15 tahun lalu. Aku menganggap perkataan mu itu serius Eddos, aku berharap sampai sekarang." Deg Eddos baru teringat, 15 tahun lalu, dimana dirinya masih kecil dan begitu juga dengan Pancracia. Ia teringat telah mengatakan 'Kita akan seperti Atez dan Ateza, kita akan menikah jika kita besar. Mau kan kau menikah dengan ku Cia?' "Cia, itu aku katakan saat kita sama-sama belum dewasa. Saat itu aku hanya kagum dengan cinta Atez dan Ateza." ucap Eddos frustasi. Bagaimana bisa wanita didepannya ini, menganggap ucapannya dulu adalah bentuk keseriusan. "Maaf tapi aku menganggapnya serius Eddos." Setelah mengatakan kalimat itu, sosok Pancracia hilang dengan adanya banyak asap mengepul disekitar. "Eddos, kutukan itu. Anak kita Eddos." "Tenanglah, kutukan itu akan hilang. Percayalah Haidee." Off Panddande 1501 Kondisi kerajaan Panddande masih sama seperti 3000 tahun lalu. Hanya saya yang berbeda adalah sang pemimpi kerajaan, kepemimpinan kerajaan saat ini digantikan oleh Mercus--keturunan ke 59 dari pasangan Alte dan Helena, Alte sendiri adalah anak angkat Eddos dan juga Haidee. Seharusnya setelah wafatnya Eddos, Tansee lah yang menggantikan posisinya, namun karena kutukan yang Pancracia berikan membuat rakyat Panddande menolak jika Tansee yang akan menggantikan tahta kerajaan. Oleh karena itu para tetua di kerjaan mengusulkan agar Eddos dan Haidee mengangkat seorang anak laki-laki yang kelak akan menggantikan posisi Eddos. Selama ini, tidak ada yang berubah dari kerajaan Panddande kecuali satu hal, yaitu sejarah Panddande. Dimana, konon katanya Pancracia akan meninggal saat lahirnya Tansee, hal tersebut tidak terjadi. Pancracia meninggal saat berniat mengambil janin Haidee dan membunuhnya. Karena terobsesinya memiliki Eddos, Pancracia dengan nekatnya melakukan lah sejahat itu. Namun, semuanya sia-sia saat Atez--kakak kedua Eddos datang dan menyerang kembali Pancracia. Sihir yang digunakan untuk membunuh janin Haidee akhirnya kembali kepada pemiliknya, Pancracia meninggal karena sihirnya sendiri. Dan, hal yang baru diketahui dari sejarah adalah. Tansee akan hidup abadi dimasanya, rupa wajahnya tidak akan menua dan akan tetap muda seperti usia 17 tahun. Wajahnya akan tetap cantik, meskipun usianya ribuan tahun lebih. Dan Tansee akan tetap menjadi Tansee si pemilik kecantikan tiada tanding. Namun abadi yang dimaksud dalam buku sejarah adalah, Tansee akan tetap hidup ribuan tahun dengan wajah yang masih sama, akan tetapi dia akan tiada saat kutukannya hilang. "Aku mencintaimu Tansee, aku tidak akan membantumu terbebas dari kutukan Pancracia jika itu bisa membuatmu pergi dari hidupku." "Jangan bicara seperti itu Eros. Lagipula, kita ini berbeda, disaat nanti kau tua dan sudah tutup usia, aku akan tetap sama dan tidak akan menua. Semua ini sia-sia Eros, kau adalah pria ke sekian yang mengatakan hal yang sama. Cintamu itu akan sia-sia Eros, maka aku mohon bantulah aku terbebas dari kutukan ini." "Tidak, aku mencintaimu Tansee. Bagaimana kalau kita menikah saja." "Jangan melupakan fakta tentang kutukan itu Eros. Kau akan tiada jika menikah denganku." "Lalu aku harus apa Tansee." "Cari dia, dan bebaskan kutukan ini. Biarkan aku pergi untuk selama-lamanya, sudah terlalu lama aku menetap di dunia." "Dan kau tega meninggalkan diriku." "Dan jika kutukan ini dibiarkan, tega kau meninggalkanku?" "Ya, aku akan mencari dia. Demi dirimu Tansee."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD