Bab 3 - Praktikum Kimia Organik

781 Words
Tasya bergegas masuk ke dalam laboratorium dan langsung mengenakan sarung tangannya, kemudian menemui asisten lab tersebut yang terlihat sibuk memberikan arahan kepada praktikan di meja 1. "Kak, kaos kaki saya sudah ada. Bisa masuk, kan?" "Ya." Jawabnya singkat. Tasya berjalan kearah kelompoknya di meja 8. Hari ini judul praktikum mereka mengenai kristalisasi dan sublimasi. Untungnya di semester ini ia dapat 1 anggota laki-laki dan 3 anggota perempuan yang masih bisa diajak bekerja sama dan masih mau untuk turun langsung melakukan praktikum.  Terlihat Nadya sedang menuangkan air yang baru saja dipanaskannya ke dalam gelas piala yang sudah diisi asam benzoat kasar dan ditemani oleh Mira yang terlihat sibuk menuliskan sesuatu di bukunya, kali ini dia bertugas menjadi notulen. Sedangkan dua anggota lainnya yaitu Gadis dan Tama, melakukan percobaan sublimasi. "Hey." Kata Tasya kepada Nadya dan Mira, sambil mempersiapkan alat selanjutnya yang akan digunakan, sesuai dengan prosedur praktikum kali ini. "Hey." Jawab Nadya sambil menuangkan larutan asam benzoat ke dalam corong buchner yang sudah kurangkai. Terlihat filtrat mulai menetes ke dalam erlenmeyer buchner dan tersisa cukup banyak kristal putih di atas kertas saring. Mereka bertiga menunggu sampai filtrat tersebut tersaring seluruhnya. Setelah itu, ia mengambil kristal yang tersisa pada kertas saring dan meletakkannya ke gelas arloji, lalu memasukkannya ke dalam oven untuk menghilangkan air yang tersisa pada kristal. Saat sedang menunggu kristal tersebut kering, asisten lab tersebut datang menghampiri meja kami. "Ini sudah sampai di tahap mana percobaannya?" "Kami baru saja memasukkan kristal yang terbentuk ke dalam oven. Dua anggota kami yang lain sedang melalukan percobaan sublimasi." Jawab Mira. Kakak asisten lab tersebut memperhatikan cara kerja Tama dan Gadis. Tasya memperhatikan kristal yang ada di dalam oven, lalu mematikan oven tersebut dan mengeluarkan kristalnya. Terlihat bahwa sisa air tersebut sudah hilang. Asisten lab tersebut juga ikut memperhatikan kristal yang terbentuk. "Oke, ini sudah bisa untuk ditimbang." Katanya. Tasya dan Nadya pergi ke ruangan sebelah untuk menimbang, sedangkan Gadis mencatat hasil-hasil yang terjadi dari proses sublimasi yang dilakukan Gadis dan Tama. "Nad, teringatnya siapa nama as. lab kita?"  Nadya menuliskan hasil berat kristal milik kami. "Kak Christian. Kamu lupa lagi, kan?" Kami berjalan kembali ke ruang praktikum. "Hehehe, tau aja." Kataku. Nadya memang sudah mengetahui kebiasaanku yang susah dalam mengingat wajah atau nama orang lain. Tasya meletakkan kristal tersebut ke atas meja dan memfotonya untuk tambahan hasil laporan nanti. Gadis dan Tama juga sudah menyelesaikan bagian mereka, kemudian mereka membersihkan peralatan-peralatan yang mereka gunakan dan juga merapikan meja praktikum. Setelah semuanya tertata rapi, mereka kemudian menuliskan hasil dari percobaan yang sudah mereka lakukan di buku jurnal masing-masing. Hal ini mereka lakukan, supaya bisa membuat laporan praktikum untuk dikumpulkan minggu depannya. ---- "Haaa..., seru juga praktikum hari ini! Untungnya, praktikum pertama kita dapat bagian yang tidak terlalu sulit." Kata Nadya. Tasya dan Nadya menuruni tangga dan hendak keluar dari gedung ini. Masih pukul 12 siang, waktunya jam istirahat. Mata kuliah selanjutnya akan dimulai jam 3 sore.  Tasya dan Nadya sudah saling mengenal sejak di bangku SMP, letak rumah mereka juga tidak terlalu jauh. Itu terjadi ketika ia masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Orang tua Tasya mengalami kecelakaan saat pergi dinas keluar kota saat ia duduk di kelas 1 SMA. Nenek yang merupakan orang tua dari ibunya, tidak tega melihatnya hidup sendiri, beliau mengajak Tasya untuk tinggal dirumahnya dan menjual rumah orang tua Tasya. Namun, itu juga tidak bertahan lama. Nenek akhirnya meninggal, dua tahun kemudian sebelum Tasya menyelesaikan sekolahnya.  Ibu Tasya merupakan anak tunggal, sedangkan ayahnya memiliki seorang adik perempuan dan seorang adik laki-laki yang berada di kota yang berbeda dengan kami. Karena jarang bertemu, ia merasa kurang nyaman dengan keberadaan mereka. Akhirnya, Tasya memilih untuk tinggal sendiri di rumah nenek. Kini Tasya sedang berkuliah dan juga bekerja sambilan di sebuah cafe sebagai seorang waitress. "Hmm, kita nunggu dimana nih, Sya? Matkul selanjutnya dimulai jam 3. Rumah nenek?" Seru Nadya, mengingat jarak rumah nenek ke kampus hanya 15 menit, sedangkan rumahnya hampir memerlukan waktu 45 menit dengan kendaraan umum. "Oke, tapi temani ke perpustakaan sebentar yah? Nyari materi pendukung buat laporan tadi. Selagi ada jam kosong."  Tasya sebisa mungkin mengerjakan tugas kuliah di sela-sela waktu seperti ini. Tasya selesai bekerja sekitar jam 11 malam. Dia tidak sanggup untuk mengerjakan tugas kuliah sepulang kerja. Jika belum selesai di kampus, dia akan mengerjakannya di pagi hari sekitar jam 4 atau 5 pagi. Setidaknya ia bisa mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya sebelum mengerjakan tugas. "Oke, Sya! Aku juga ngerjain laporanku, ahh. Ngapain juga aku bengong di rumahmu, sedangkan kamu sibuk ngerjain tugas." Serunya. Saat hendak ke parkiran kereta, Tasya merasa tasnya ditarik dari belakang. Ia langsung menoleh ke arah orang itu. "Kamu tidak lupa janjimu kan? Sepertinya kamu juga udah nyaman dengan kaos kakiku." Orang itu tersenyum jail.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD