Bab 4 - Dia Itu James

605 Words
"Sepertinya kamu juga sudah nyaman dengan kaos kakiku." James tersenyum jail. "Oh, hai James!" Nadya menyambutnya. "Hai, Nad. Pada mau kemana ini?" Sementara Tasya sedang sibuk melepaskan kaos kaki tersebut. "Kami mau ke perpustakaan." Jawab Nadya. "Ini kaos kakimu, terima kasih!" Tasya memberikannya kepada James. "Sama-sama. Jadi, kita akan makan siang dimana?" "Ha? Makan siang? Kalian berdua ada janji makan bersama?" "Arggh, ini karena aku sudah memakai kaos kaki orang ini, Nad!" Tasya menunjuk ke arahnya. Kelihatan sekali kalau dia tidak mengetahui namanya. Nadya langsung melihat kesal kepada James dan menumbuk lengannya.  "Pelit amat jadi orang! Baru juga pinjam kaos kaki." "Lah, kan traktir makan siang doang, Nad. Berapalah harga makan siang. Kamu tadi menghubungiku saat aku sedang ada di kelas, untungnya aku diperbolehkan izin keluar saat itu. Kalian juga tau kan, bagaimana jarak dari gedung 12 ke gedung 19 ini, apalagi harus ke lantai 3 nya." "Oke, oke, fine! Ayo makan siang!" Seru Tasya kesal. "Btw, namaku James, jurusan fisika!" James menjulurkan tangannya ke arah Tasya. "Tasya." Tasya menangkis tangannya, menolak untuk berjabat tangan. "Kamu tidak familiar dengan wajah James, Sya? Kita satu sekolah waktu SMA, kelasnya ada di sebelah kelas kita. Aku dan James sama-sama ikut ekskul musik waktu itu, sama seperti sekarang juga. Sepertinya aku juga pernah memperkenalkan kamu dan Tere kepada teman-teman ekskul musik dulu."  James dan Nadya memang kenal karena kami mengikuti ekskul musik dari SMA. Nadya anak yang ramah dan cepat bergaul dengan semua orang. Bisa dikatakan, ia dan Nadya merupakan teman dekat saat di ekskul.  "Hahaha, kamu tau kan Nad kalau aku tidak akan mengingat orang yang tidak penting dalam hidupku?" 'Hmmm, menarik! Baru kali ini ada orang yang tidak mengenalku dan terang-terangan tidak menyukaiku.' ~ ~ "Ehmmm, ternyata benar apa kata orang. Makanan yang awalnya enak akan terasa lebih nikmat jika ditraktir." James menunjukkan ekspresi makan dengan lahap kepada Tasya. Kami bertiga akhirnya makan bersama di kantin fakultas. James memperhatikan cara makan Tasya yang terkesan apa adanya, dia tidak merasa jaim makan di tempat umum apalagi di depan lawan jenis, sedangkan Nadya makan dengan berhati-hati. James tidak tau, apakah Tasya memang sedang lapar atau sedang diburu sesuatu." "Lahap bener makannya, Sya. Lapar atau doyan?" Sindir James. "Bukan urusanmu! Nad, buruan dong!" "Bentar, Sya!" Nadya mulai makan terburu-buru. Tiba-tiba meja kami dihampiri oleh 3 orang mahasiswi dari kelas James. "James! Tumben makan siang disini?" Tanya salah seorang diantara mereka. James memang hampir tidak pernah makan siang di kantin fakultas. Ia lebih memilih untuk makan siang di luar kampus atau kembali kerumah jika masih sempat. Ia tidak suka jikalau ada mahasiswi yang mengerumuninya dan memberinya terlalu banyak pertanyaan tidak jelas saat istirahat makan siang. "Iya, sesekali ingin juga makan di kantin." James tersenyum ramah kepada mereka bertiga. Mereka bertiga langsung salah tingkah.  "Uhmm, iya. Lain kali kamu harus makan bersama dengan kami." Katanya lagi. "Tentu." Jawab James asal. "Kyaaaaa..." mereka bertiga teriak kegirangan. "Bisa jangan teriak-teriak, gak?" Tasya terlihat kesal, lalu bangkit berdiri dari kursinya dan membentak mereka. "Kamu kenapa sewot begitu? Kita gak lagi bicara sama kamu." Salah seorang dari mereka mendorong pundak Tasya. Tasya terdorong ke belakang dan menubruk orang yang berdiri dibelakangnya. James dan Nadya spontan berdiri mengkhawatirkan keadaan Tasya, sementara Tasya langsung melihat orang yang ditabraknya. "Maaf, kak!" Dia terlihat merasa bersalah. Orang yang ditabraknya tersebut mengambil buku-bukunya lalu bangkit berdiri. Orang itu sedang bersama seorang teman perempuannya yang terlihat kesal kepada Tasya. "Tidak apa-apa!" Jawabnya kemudian keluar dari kantin. "Lain kali hati-hati!" Kata perempuan itu sinis kepada Tasya kemudian mengikuti laki-laki itu pergi. "Kalian.." James hendak menegur 3 orang dari kelasnya, namun sepertinya mereka telah pergi keluar diam-diam, menghindari keributan yang telah mereka buat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD