CHAPTER EMPAT

3474 Words
Ruangan itu sama besar dengan ruangan ayahnya. Hanya saja ruangan ayahnya jauh lebih padat dan ruangan ini bisa dibilang masih seperti baru. Hanya ada sebuah meja dan ranjang periksa. Di atas meja ada seperangkat alat tulis lengkap dan sebuah vas bunga kosong. Anna kembali dengan segelas air putih dan meletakkan air putih di hadapan Jullian. Ia lalu mengambil vas di meja Jullian dan kembali dengan vas yang sama namun sudah diisi dengan bunga hidup dan air. Ia juga membawa sebuah pengharum ruangan dan menyantelkannya di pojok ruangan. Sementara Anna sibuk dengan ruangannya, Jullian hanya menatap tubuh Anna yang lincah bergerak membenarkan semua yang ada di ruangannya. Ia membenarkan letak timbangan dan tangga ranjang periksa. Ia juga mengganti seprei ranjang dengan yang baru yang diambilnya dari lemari kecil di belakang ruangan Itu. “Sudah berapa lama kau kenal ayahku?” tanyanya tiba-tiba. Anna yang sedang menempelkan sebuah poster kesehatan berhenti sejenak tanpa menoleh. “Dua tahun lebih.” katanya lalu melanjutkan kegiatannya. “Panggil aku melalui telepon kalau butuh apa-apa, dok.” Anna siap membuka pintu saat Jullian menyuruhnya duduk. “Jullian, panggil aku Jullian. Duduklah dulu, aku ingin sedikit mengenalmu.” Anna berbalik dan melihat kaki panjang Jullian mendorong kaki kursi melalui bawah meja. Membuat kursi itu bergerak. Ia mendekat dan duduk di depan Jullian. Melihat tatapan Jullian yang seakan mengulitinya. “Siapa namamu?” Pertanyaan pertama dari mulut Jullian dan Anna pikir ia sudah sempat berkenalan. Tapi mungkin perkenalan itu terlalu singkat dan Jullian bahkan tidak mengingatnya. “Annabel Carter.” katanya singkat dan tatapan Jullian masih terus melekat padanya. “Berapa umurmu?” “Dua puluh dua.” ia bergumam pelan sambil melipat seprei yang baru saja digantinya. “Muda sekali. Seharusnya kau masih kuliah.” Jullian menyandarkan punggungnya dan menumpukan satu kakinya ke kaki lainnya. “Aku drop out dari Columbia university.” Tiba-tiba saja hatinya terasa nyeri kala mengingat hal itu. “Kenapa?” tanyanya spontan dan ia menyesal kala melihat raut wajah gadis di depannya berubah muram. “Masalah keluarga. Aku pikir kau tidak perlu tahu. Permisi.” Ia berdiri, sedikit menunduk dan mulai berbalik. “Aku akan mulai tugas besok. Aku membutuhkan beberapa kemeja dan jas. Ikut aku ke mall.” Ia mendorong kursi ke belakang dan berdiri. Menyembunyikan kedua tangannya di saku celana dan berjalan mendahului Anna yang masih terdiam. Anna kembali berbalik dan mengambil jas Jullian yang masih tersampir di punggung kursi dan bergerak cepat keluar ruangan. Ia melihat Jullian sudah keluar dari klinik sementara dirinya mengambil agenda dan tas di tempat pendaftaran. Ia juga tidak lupa memberitahu Maria ke mana ia akan pergi. Sebelum benar-benar mensejajarkan langkahnya dengan Jullian, ia memastikan kembali kalau dompet Jullian yang ada padanya tersimpan rapi di tasnya. Ia melesak masuk ke dalam mobil mewah Jullian dan melirik Jullian yang menyelinap di balik kemudi. Biasanya ia yang membawa mobil. Tapi sepertinya Jullian tidak akan membiarkan ia menyentuh mobil mewahnya. Ia sibuk dengan ponselnya sementara Jullian mulai memutar lagu Jazz di mobilnya. Anna mengirim pesan ke Florist memastikan bahwa bunga papan pesanannya sudah dikirim. Setelah itu ia juga mengirim pesan kepada dr. Steve ke mana ia pergi dan memberi kabar kalau jam tujuh malam ia harus menghadiri pesta yang diadakan Mr. Drake untuk peresmian hotel barunya. “Sibuk?” Jullian masih menatap ke jalanan sementara Anna menoleh ke arahnya. “Aku hanya memberitahukan jadwal dr. Steve hari ini. Memastikan kalau ia tidak lupa.” “Apa ayahku sudah setua itu?” Jullian mendengus dan Anna melirik dengan sarkastis. “Tidak, aku hanya memastikan.” Dia menekankan kata yang tepat, yang membuat Jullian akhirnya mengangguk. Jullian mengetuk-ngetukan jarinya di stir dan menikmati musik yang mengalun. Sesekali ia bersenandung, tidak memperdulikan Anna yang berada di sampingnya. Pesan masuk ke ponselnya. Terima kasih Anna. Beritahu Jullian kalau aku menunggunya di sana. Pastikan kau juga ikut. dr. Steve Ia membaca pesan itu berulang-ulang untuk memastikan apakah dr. Steve menyuruhnya dan Jullian datang ke pesta itu juga. Setelah berhasil mencerna semuanya. Ia menatap Jullian dan menyampaikan pesan ayahnya. Pria itu diam sementara mobilnya terus melaju. Mobil itu memasuki basement sebuah mall. Anna mengulang sekali lagi mengenai pesan dr. Steve dan pria itu menatapnya tajam. “Aku dengar. Jangan bawel.” Ia berjalan selangkah di depan Anna dan gadis itu mengekorinya memasuki beberapa toko. Setelah keluar masuk dan tidak menghasilkan apa-apa. Julian menatap Anna yang sedari tadi membuntutinya dan bertanya. “Bagaimana yang ini?” Ia mengambil sebuah kemeja berwarna biru muda dan sebuah jas berwarna hitam. Anna yang tiba-tiba ditanya hanya diam sambil melihat Jullian yang sibuk memadu-padankan jas dan kemeja itu. “Kau dengar tidak?” katanya sekali lagi dan Anna mengangguk tanda setuju. Tidak mempertimbangkan terlebih dahulu. Jullian terlalu tampan dan semua pakaian akan terasa cocok untuknya. Ia mengambil beberapa kemeja dan jas lalu memberikannya kepada penjaga toko dan beralih ke tempat sepatu. “Yang mana menurutmu?” Jullian memperlihatkan dua pasang sepatu. Warna hitam dan cokelat tua. Kali ini Anna berpikir sejenak lalu menunjuk ke sepatu yang berwarna hitam. Ia kembali mengekori Jullian yang pergi menuju kasir. “Ayah menyuruhmu ikut juga?” Jullian mengangkat wajahnya dari ponsel. “Iya, tapi aku sudah menolak. Aku pikir aku sama sekali tidak ada urusan di sana.” Mereka melanjutkan perjalanan dan masuk ke beberapa toko yang ada di sana. Beberapa tas belanjaan yang ada di tangan kanan dan kirinya cukup membuat Anna repot karena tasnya juga bergelung di pundak kirinya. Ia menatap Jullian yang berjalan di depannya, melenggang santai dan dalam hati ia berharap kalau Jullian segera mengakhiri kegiatan belanjanya. Jullian melengkungkan senyum dalam hati melihat Anna sibuk dengan tas belanjaannya. Ini adalah pelajaran kecil untuk Anna. Ia tidak percaya kalau ayahnya menyuruh gadis itu menjadi asistennya dan yang lebih parah, ayahnya memberikan kendali kepada gadis itu. Kalau tahu akan begini. Mungkin ia akan menolak kembali ke New York. Anna bisa melihat beberapa wanita yang berpapasan dengan mereka berdua terlihat tersenyum kepada Jullian yang sama sekali tidak mempedulikannya. Tapi sampai saat ini ia bersyukur karena Jullian sama sekali tidak mengungkit kejadian memalukannya di bandara. *** Anna menautkan jari-jarinya yang terasa pegal saat mendudukkan diri di sofa ruang tamunya. Ibunya yang masih terjaga keluar dari kamar, masuk ke dapur dan duduk di depan Anna dengan segelas teh hangat. “Kau terlihat lelah?” tanyanya pada Anna yang kini sibuk menelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Anna menghela napas panjang kala mengingat perjalanan janggalnya di mall. Jullian terus menerus mengajaknya berputar-putar bahkan saat barang yang dicarinya sudah didapat. Ia bahkan berkali-kali mendatangi toko yang sama yang membuatnya geleng-geleng kepala. Ia mengelus pergelangan kakinya yang terasa pegal lalu menyesap teh hangatnya. “Aku lelah.” Hanya itu yang bisa terucap dari mulutnya. Ia berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Menjatuhkan diri di ranjang dan merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Dompet kulit Jullian. Ia mengeluarkan isinya satu-persatu. Sebuah tanda pengenal, sebuah kartu mahasiswa London university, beberapa lembar uang dollar dan poundsterling, beberapa kartu kredit dan tabungan. Ia memperhatikan tanda pengenalnya. Jullian Peter Haynsworth, lahir di New York dua puluh enam tahun silam. Anna mengernyit mendapati Jullian hanya berbeda empat tahun dengannya. Dua puluh enam tahun dan ia sudah menjadi seorang dokter. Jenius sekali, pikirnya. Ia tersenyum melihat foto tanda pengenal Jullian yang tampak kaku. Wajahnya dingin dan sama sekali tidak berekspresi tapi sorot matanya tajam. Seakan menyembunyikan berjuta sifat dan sikapnya. Saat ia ingin mengembalikan kartu-kartu itu. Ia menemukan sebuah foto yang terselip di bagian belakang tempat-tempat kartu. Ia mengambil foto itu dan mencermatinya. Dua anak laki-laki berdampingan sedangkan pasangan Haynsworth berdiri di belakang mereka. Salah satu anak itu bisa dipastikan Jullian karena tatapan tajamnya yang khas. Dan yang satu lagi terlihat tersenyum tulus ke arah kamera. Mengenakan kaos berwarna putih dan celana selutut. Ia mengembalikan foto itu dan menutup dompetnya rapat-rapat lalu menaruhnya di atas meja. Beralih ke kamar mandi, ia membasuh seluruh tubuhnya yang telanjang dengan shower yang mengucur. Merasakan butir-butir air menyesap di kulitnya dan mulai dingin *** Jullian tahu pesta ini pasti akan sangat membosankan dan buruknya adalah ia lagi-lagi harus menurut kepada ayahnya. Ia datang tanpa Anna, dengan setelan serba hitam dan sepatu kulit mengkilat dengan warna senada. Sekali ia mengarahkan pandangannya ke ballroom itu. Ia sudah bisa melihat keberadaan ayahnya di ujung ruangan yang melambaikan tangan ke arahnya. Ia mendekat dan menyaksikan tatapan-tatapan kagum dari orang-orang di sekitarnya. “Anna benar-benar tidak bisa datang?” tanyanya saat Jullian tepat berada di depannya. Jullian mengangkat bahu. dr. Steve mulai mengenalkannya dengan para sahabatnya. Sebagian berprofesi sebagai dokter dan sisanya adalah pengusaha. Cukup banyak wanita lajang di sana. Tapi tidak satupun yang membuatnya tertarik dan membuat pesta ini tidak membosankan. Ia meninggalkan ayahnya menuju taman belakang yang tidak kalah ramai. Dengan sebuah kolam renang berbentuk segi enam memanjang dengan puluhan lilin beralas piring plastik yang ditaruh di atasnya. Ia menghampiri sebuah meja besar dan mengambil segelas air berwarna merah di sana. Menyesapnya pelan dan menghabiskan dalam satu tenggukan. “Ternyata kau benar-benar sudah kembali?” Seorang pria tinggi berjas abu-abu menghampiri dan menepuk bahu kiri Jullian. “Samuel? Apa ini benar kau?” Jullian yang belum lepas dari rasa herannya hanya diam saat Samuel memeluknya sejenak. “Kabar terakhir yang ku dengar, kau sibuk berkeliling dunia menyalurkan hobimu?” Laki-laki tampan itu mengangguk dan sekilas menatap Jullian dari atas kepala sampai kaki. “Aku bahkan tidak percaya kalau kau adalah Jullian. Pria urakan, tukang mabuk, hobi berjudi dan mempermainkan wanita. Bagaimana mungkin kau bisa bertransformasi sehingga benar-benar terlihat seperti pria terhormat?” Laki-laki itu terkekeh geli sedangkan Jullian bersungut sebal. “Ternyata hukuman ayahmu benar-benar membuatmu jera ya?” “Tidak usah memujiku, aku belum sepenuhnya berubah. Aku hanya menjalankan keinginan ayahku. Selebihnya aku masih sama.” Samuel berpaling dan mengambil segelas air lalu meminumnya sambil mendengarkan cerita singkat Jullian dengan seksama. “Jadi kau sudah menjadi dokter sekarang?” Jullian dengan bangga merentangkan tangannya “Seperti yang kau lihat. Aku sudah seperti pria terhormat bukan?” Samuel dan Jullian pertama kali bertemu di sebuah bar terkenal di London, saat itu Jullian yang mabuk berat terlibat baku hantam dengan seseorang yang tidak dikenalnya dan saat itu, Samuel-lah yang membantu Jullian keluar dari bar tanpa luka serius. Ia sendiri mengalami luka memar di pelipis dan sudut bibirnya. Jullian dan Samuel berbicara panjang lebar. Samuel menceritakan hobinya yang mengantarkannya pergi ke berbagai penjuru dunia sedangkan Jullian menceritakan hidupnya di London sampai pada keputusannya untuk membiarkan Sebastian meninggalkannya ke Korea padahal anak itu masih ada di jenjang sekolah menengah. “Kau membiarkan Sebastian hidup sendiri di Korea?” Raut bingung nampak dalam wajah Samuel. “Aku sudah menjamin semua fasilitasnya. Rumah, biaya pendidikan, aku juga mengunjunginya tiga bulan sekali. Apa yang harus dikhawatirkan?” Semakin malam, suasana semakin ramai. Lampu-lampu berlomba mengeluarkan cahayanya. Denting-denting gelas beradu untuk bersulang makin terdengar di sekeliling mereka, bersamaan dengan tawa renyah dari tiap mulut. “Apa kau percaya kalau Sebastian tidak akan menyalahgunakan semua fasilitas yang kau berikan?” Samuel mengeryitkan dahi, bagaimanapun sifat Sebastian tidak jauh berbeda dengan sifat Jullian, sama-sama pembuat onar dan urakan. “Aku sudah bilang padanya kalau aku akan membunuhnya kalau sampai dia tidak menjadi orang sukses.” Mereka berdua terkikik sampai sebuah dering telepon memecah tawa mereka. Samuel merogoh saku celananya dan mengangkat ponselnya sambil agak menjauhi Jullian. “Maaf aku harus segera pergi sekarang.” Ia menyerahkan ponselnya ke Jullian dan menyuruh Jullian menyimpan nomor ponselnya di sana. Samuel kehilangan semua kontak teman-temannya karena ponselnya jatuh ke sungai saat sedang bertugas. “Ponselku hilang. Aku akan menghubungimu secepatnya. Sepertinya kita butuh waktu yang lama untuk mengobrol.” “Tentu saja, aku masih berutang banyak padamu.” Jullian tersenyum dan mengembalikan ponsel Samuel setelah menyimpan nomornya di ponsel itu. Sekali lagi mereka berpelukan sejenak dan Samuel menepuk pundak Jullian sebagai ucapan perpisahan. “Aku akan menghubungimu secepatnya.” katanya seraya menjauh. Sosok jangkungnya ditelan keramaian. Selama beberapa waktu yang Jullian lakukan hanya berkeliling untuk mencari ayahnya. Berpamitan lalu pulang. Tapi rupannya mencari keberadaan ayahnya tidak semudah yang ia kira. Semakin malam ballroom itu semakin ramai. Sulit sekali mencari sosok ayahnya di antara beratus-ratus orang dengan warna dan bentuk jas yang hampir sama. Suara ponselnya lah yang akhirnya membuatnya berhenti. Ia menemukan nama Freddy tertera dilayar ponselnya. Ia menjauh dari keramaian lalu menekan tombol 'answer'. “Yaa Freddy” Yang saat itu Jullian dengar hanyalah dentuman musik yang mengaduh dan suara tawa yang memecah. Ia sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melindungi pendengarannya. “Oke..baiklah.” Jullian menutup ponsel dan akhirnya membatalkan niatnya untuk mencari ayahnya, memilih untuk langsung pergi dari tempat itu. *** Ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Menuju sebuah rumah di pinggir kota. Steleah memastikna alamat dan nomor rumahnya benar. Ia menggedor pintu berwarna cokelat itu dengan keras, tidak memedulikan suasana hening yang sudah tercipta. Membuat salah satu penghuni rumah meruntuk dan secara spontan langsung terduduk di tepi ranjang. “Anna… keluar.” Kali ini Jullian mengetuk tanpa ampun. Ditambah dengan suara baritonnya yang dijamin akan membuat orang yang sudah tertidur langsung membelalakkan matanya seketika. Tapi Jullian tidak peduli, ia terus-menerus mengetuk pintu dan berharap pintu itu segera terbuka. Anna yang masih setengah sadar keluar dari kamarnya dengan langkah gontai dan menguap beberapa kali. Suara ketukan itu semakin keras saat Anna sampai di depan pintu. Tanpa pikir panjang Anna membuka pintu rumah. Anna tidak pernah berfikir siapa yang ada di luar. Orang jahat kah? Tidak, yang ingin ia lakukan adalah meredam suara jelek yang sudah mengganggu tidurnya dengan membuka pintu secepatnya. Ia langsung terkejut melihat sosok Jullian menjulang di hadapannya. “Apa yang kau lakukan di sini?” Ia melihat sekeliling lalu beralih ke kamar ibunya. Untung saja ibunya meminum obat tidur sehingga tidak mendengar suara gaduh barusan. Alih-alih menjawab pertanyaan Anna, Jullian malah mengamati gadis di depannya dari atas sampai bawah dan Anna tersadar kalau ia hanya memakai gaun tidur tipis selutut. Dengan refleks ia menyilangan kedua tangannya ke d**a. “Aaa..apa yang kau lakukan di sini?” Anna tergagap dan perlahan mencoba mendorong handle pintu hingga tertutup setengah. Menyembunyikan sebagian tubuhnya. “Berikan dompetku.” Sebelah tangan Jullian menepak di pintu, menahan pintu yang semakin tertutup. “Untuk apa?” Anna melihat mata bening Jullian menajam. “Untuk apa? Apa aku harus memberitahumu? Itukan dompetku.” “Iya, tapi aku tidak akan memberikannya tanpa persetujuan dr. Steve?” Dorongan tangan Jullian semakin kuat dan membuat pintu semakin terbuka. “Apa kau benar-benar harus menuruti semua perintah ayahku? Berikan atau aku akan mengambil paksa darimu.” Gadis itu beranjak menjauh saat Jullian mendekat. Ia melirik pintu kamarnya yang terbuka dan dalam sekejap Jullian melangkah cepat meninggalkan Anna menuju pintu ber-cat putih itu. “Heey tunggu” Secepat kilat Anna mengejar Jullian dan menarik lengannya tepat selangkah Jullian memasuki kamarnya. “Kau tidak bisa bertindak tidak sopan seperti ini. Lagi pula apakah kau tidak sadar jam berapa ini?” Anna menunjuk jam dindingnya. “Tengah malam dan kau membuat kegaduhan di rumahku. Aku bisa saja memanggil keamanan dan mengusirmu paksa.” “Berikan dompetku dan aku akan pergi. Bukankah itu mudah? lalu kenapa kau membuatnya begitu sulit?” Anna bergeming sedangkan Jullian melirik dompetnya yang tergeletak di atas meja kecil di samping ranjang. “Ini karena aku menghormati dr. Steve.” “Sebagai apa? Bos? Bukankah aku juga bosmu? Apa tidak bisa kau menghormatiku seperti kau menghormati ayahku?” Anna menelan ludah, terjebak dengan kata-kata pria di depannya. “Tidak bisa, aku sangat mengormati ayahmu dan kepercayaannya tidak akan pernah aku salah gunakan.” “Kalau begitu jangan salahkan aku kalau aku berbuat kasar padamu.” Tanpa pertimbangan apapun Jullian mengambil dompetnya di atas meja lalu menarik lengan Anna keluar dari rumah. Anna berusaha berontak sekuat tenaga tapi itu justru membuat cengkraman di lengannya semakin kuat. Anna mulai memaki lalu merasakan panas di pergelangan tangannya saat Jullian melempar tubuhnya ke dalam mobil lalu masuk ke belakang setir. “Apa yang kau lakukan?” Anna membenarkan gaun tidurnya yang sudah menyingkap dan memperlihatkan pahanya. Mesin mobil mulai menyala dan dalam hitungan detik rodanya berputar. “Bukankah ayahku bilang kalau kau harus selalu ada di sampingku dan kau sama sekali tidak mau menyalahgunakan kepercayaan ayahku. Kalau begitu, ikuti ke mana aku pergi.” Ia melempar dompetnya ke arah Anna dan membuat wajah itu memerah. “Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Ini sudah bukan jam kerjaku dan besok aku harus bangun pagi untuk mengurus semua kebutuhanmu. Tidakkah itu cukup?” Anna menggertakkan giginya kala melihat Jullian hanya mematung dan fokus pada setir. Ia memakai sabuk pengaman saat merasakan angka spidometer merangkak naik. Mobil Jullian merangsek masuk ke parkiran sebuah bar terkenal di kota itu. Setelah keluar dan membanting pintu mobilnya ia melirik kaca jendela Anna yg terbuka. “Untuk apa kita ke sini?” Jullian hanya mengisyaratkan kepalanya untuk menyuruh gadis itu keluar dari mobil. Anna menarik napas lalu membuka pintu mobil dan keluar. Sekali lagi ia menyadari bahwa ia tidak seharusnya berada di sini. Di parkiran bar dengan seorang pria tampan dan hanya menggunakan gaun tidur. Mungkin orang-orang akan menganggapnya w************n yang baru saja tidur dengan laki-laki di depannya. “Ikuti aku.” Jullian sudah mulai berbalik dan melangkah sementara Anna berteriak “Tidak mau, kalau kau mau masuk, masuk saja sendiri. Aku akan menunggu di sini.” Jullian berhenti dan menoleh. Memandangnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Dengan pakaian seperti itu kau lebih memilih tinggal di sini? Kau sama saja cari mati.” Jullian melepas jas hitamnya dan melemparkannya dengan kasar ke arah Anna. “Pakai dan ikuti aku.” Anna benar-benar berharap bahwa kejadian ini hanya mimpi dan esok hari ia akan kembali ke kehidupan nyata. Ia mencubit pipinya dan tersadar bahwa ini semua bukan mimpi. Yang berjalan membelakanginya benar-benar Jullian, dan dia membawanya paksa ke tempat ini. Ia mengenakan jas Jullian dengan terpaksa walau jas itu masih tidak bisa menyembunyikan kaki jenjangnya dan renda gaun tidurnya yang masih menjuntai hingga lutut. Ia tergopoh-gopoh mencoba mengejar langkah kaki Jullian di depannya. Bar itu ramai. Penuh sesak dengan gerombolan orang dan musik yang berdentam-dentam keras. Bau alkohol menyebar di mana-mana. Anna yang memiliki penciuman sensitif langsung menutup hidungnya rapat-rapat. Menahan napas sebentar lalu mengeluarkannya melalui mulut. Ia terus mengekori Jullian yang masuk ke bar lebih dalam. Melewati hiruk pikuk dan beberapa orang mabuk yang sudah tidak sadarkan diri. Ia mengetatkan jasnya. Menutup dengan benar bagian tubuhnya. Jullian menaikkan garis bibirnya kala melirik ke arah Anna yang terlihat risih di belakangnya. Kau harus tahu kau sedang berhadapan dengan siapa Anna. Mereka turun ke lantai bawah yang tak kalah ramai. Seorang pria berkulit hitam yang sedang memainkan piringan hitam berada di pojok ruangan dikelilingi beberapa wanita berpakaian minim. Jullian melihat Freddy duduk di sofa berwarna cokelat. Bersama beberapa teman yang ia kenal termasuk Jessica. “Aku pikir kau tidak akan datang?” Keanny yang melihat kedatangan Jullian langsung berdiri dan menjabat tangan Jullian. Matanya lalu beralih ke wanita di belakang Jullian. Menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Ooww… sepertinya kita menelepon di saat yang tidak tepat. Bagaimana mungkin kau bisa datang saat sedang menghabiskan waktu bersama seorang perempuan. Maaf karena telah mengganggumu kawan.” Jullian melirik Anna dengan sinis sedangkan Anna menampakkan wajah jengkel. “Tidak apa-apa urusanku yang lain bisa ditunda.” Anna tidak bisa untuk tidak menaikkan sebelah alisnya. Kenapa Jullian malah menjawab seakan membenarkan kata-kata temannya. Jelas-jelas itu termasuk penghinaan buat dirinya. Jullian duduk di sofa bersama teman-temannya sedangkan Anna entah harus berbuat apa. Ia masih berdiri di tempat sedangkan Jullian menatapnya sejenak. “Apa yang kau lakukan di sana sayang? Kemarilah.” Jullian mengisyaratkan tangannya kepada Anna dan Anna ingin muntah mendengar kata-kata Jullian yang menjijikkan. Ia memperhatikan tatapan-tatapan orang di sekeliling Jullian. Ada yang tersenyum sinis, menahan tawa hingga sampailah matanya pada sosok Jessica Jenner. Wanita itu menatapnya tajam seakan ia adalah makhluk yang harus segera dimusnahkan. Anna mendekat dan Jullian langsung menarik tangannya hingga Anna terjatuh di pangkuan Jullian. Untuk sesaat ia bisa merasakan cengkraman di lengannya begitu erat. Menguncinya agar tidak bisa bergerak tapi ia tidak akan pernah terima dengan perlakuan Jullian. Ia menyentak lengan Jullian dengan kasar lalu beranjak duduk di sebelah Jullian setelah berhasil menyuruh salah satu pria berbaju merah menyingkir untuk memberikannya ruang duduk. Aku berjanji akan membuat perhitungan denganmu Jullian. dr. Steve harus tahu apa yang kau lakukan malam ini. Mereka menghabiskan sepanjang malam di bar itu. Setelah Jullian memesan botol-botol minuman itu, ia menyuruh Anna mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar. Jullian dan teman-temannya entah sudah berapa gelas minuman yang ia habiskan. Beberapa teman Jullian sempat menawarkannya minum tetapi Anna bersumpah ia lebih baik kehausan dari pada harus menenggak minuman berakohol itu. Anna beberapa kali menguap karena merasakan benar-benar mengantuk. Dan Jullian? Entah sudah seperti apa rupanya. Kemejanya lusuh dan kesadarannya sudah tidak sepenuhnya. Ia tidak akan menyangka kalau Jullian yang seorang dokter bisa terlihat seperti ini. Berada di bar tengah malam dengan teman-temannya. Asik menenggak minum berakohol tanpa takut ada orang yang melihatnya. To Be Continue LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD