Carter dilahirkan sebagai anak tunggal. Di Torrance, salah satu kota di negara bagian California, Amerika Serikat. Ayahnya bekerja sebagai administrasi di sebuah kantor furniture. Penghasilannya tidak terlalu besar dan itu diperburuk dengan kebiasaannya berjudi dan hobi minum-minuman keras. Orangtuanya kerap bertengkar karena ayahnya selalu pulang larut malam dalam keadaan mabuk dan itu selalu menyulut emosi ibunya.
Setiap malam, Anna akan meringkuk di pojok kamarnya dan menutup telinganya rapat-rapat agar teriakan-teriakan itu tidak terdengar olehnya. Dan keesokan paginya, ia akan berangkat sekolah tanpa melihat kedua orang tuanya. Ayahnya sudah berangkat pagi-pagi sekali atau mungkin ibunya bahkan tidak mengizinkan ayahnya masuk ke dalam rumah. Sedangkan ibunya masih terlelap di bawah selimut hangatnya.
Pada pertengahan april lima tahun yang lalu. Ayahnya mendadak meninggalkan mereka berdua tanpa kejelasan apapun. Pagi itu, mereka kembali bertengkar dan tanpa disangka ayahnya langsung mengemasi barang-barangnya dan beranjak pergi tanpa mempedulikan teriakan ibunya. Anna melihat sendiri bagaimana ayahnya pergi dengan mantap membawa sebuah koper dan semenjak saat itu, Anna tidak pernah lagi mendengar kabar mengenai ayahnya.
Suatu kali, ia pernah menelpon kantor ayahnya dan salah satu teman ayahnya bilang kalau Cole Carter sudah keluar seminggu yang lalu. Dan ternyata penderitaannya tidak berakhir sampai di situ karena dua minggu kemudian seorang debt collector mendatangi rumahnya dan menagih utang ayahnya yang jumlahnya tidak bisa dibilang kecil. Biarpun ibunya, Lucia memiliki tabungan untuk biaya pendidikan Anna, ibunya sama sekali tidak memberikan uang itu untuk melunasi seperempat utang ayahnya. Bagaimanapun utang itu terlalu besar dan tidak akan bisa dilunasi hanya dengan uang yang ada ditabungannya.
Dan pada akhir tahun, Anna dan ibunya terpaksa ditendang dari rumahnya sendiri. Mereka akhirnya berangkat menuju New York untuk mengadu nasib. Untuk sementara mereka tinggal di kediaman Pamela. Salah satu kerabat lama Lucia. Pamela juga memberikan ibunya pekerjaan sebagai penjaga toko bunga.
Beberapa bulan kemudian, ia dan ibunya berhasil menyewa sebuah rumah kecil dan Anna memulai kuliahnya di Columbia university. Kehidupannya membaik setiap waktu. Tapi tidak untuk enam bulan selanjutnya. Ibunya kedapatan memakai narkoba dan ternyata hobi minum-minuman keras. Ia juga terlibat utang judi yang membuat hidupnya semakin sulit. Anna terpaksa keluar dari kampusnya dan mulai mencari pekerjaan sementara ibunya berada di panti rehabilitasi. Di saat itulah dirinya bertemu Steven Haynsworth. Kebetulan yang membuatnya akhirnya bisa melanjutkan hidupnya.
***
Sebelum benar-benar turun dari mobil. Anna berkaca di spion. Memastikan bahwa wajah dan rambutnya terlihat rapi atau setidaknya tidak berantakan seperti tadi pagi. Ia menenteng tas jinjingnya mengekori dr. Steve yang berada dua langkah di depannya. Ia terus melafalkan do’a semoga akhir dari semua ini tidak seperti bayangannya. Seorang pelayan menyambut mereka berdua dan menggiring mereka ke ruang makan yang dua kursinya sudah terisi oleh Liana dan anak laki-lakinya.
Mata Anna seketika membulat dan sama sekali tidak percaya dengan sosok yang ada di depannya. Seorang pria tampan dengan setelan kemeja itu kini menatapnya dan menyeringai jahat. Dan laki-laki itu adalah pria yang ditabraknya di bandara tadi pagi.
Anna tersadar dari lamunannya kala Liana menyuruhnya duduk dan dr. Steve sudah terduduk di ujung meja entah sejak kapan. Ia membalas senyum pria itu dengan lembut lalu duduk di samping Liana, tepat di depan laki-laki itu.
“Kenalkan Anna. Ini Jullian, Jullian ini Anna.” Kedua orang itu saling berjabat tangan dengan canggung.
“Jullian bilang kau telat menjemputnya tadi.”
Anna berdehem lalu menggumamkan maaf. Ia mengungkapkan alasannya dan pria itu terlihat mengangkat sebelah alisnya. dr. Steve mencairkan suasana dengan menyuruh memulai makan malamnya. Selama kurang lebih setengah jam yang terdengar hanyalah denting pelan suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Anna sesekali melihat wajah pria yang ada di depannya. Tampak serius dengan sesuatu yang ada di atas piringnya.
menenggak seluruh air dalam gelasnya. dr. Steve memandang anaknya lalu berkata. “Anna yang akan menjadi asistenmu, kau bisa mengurus izin praktik besok.”
Pria itu mengelap bibirnya dengan tisu lalu memandang Anna dengan datar. “Aku akan memberitahukan alamat klinik. Kita bertemu setelah jam dua.” sambungnya lagi.
“Anna, kau besok langsung ke rumah sakit saja. Tolong beritahu Clara apa-apa saja yang harus diketahuinya setelah kau pergi.” Anna tersenyum lalu mengangguk.
“Oia, bagaimana kabar adikmu?” Pertanyaan kali ini berhasil membuat Jullian mematung. Ia diam dan tidak menampakkan ekspresi apapun. Rasanya seperti tersentak saat kulitnya terkena percikan minyak panas.
“Dia baik-baik saja.” Jawabnya singkat.
“Di mana dia sekarang?”
“Tentu saja di London.”
“Jangan bohong.” dr. Steve nyaris menggebrak meja kalau saja Liana tidak menahan tangannya. “Kau pikir aku tidak tahu kalau dia pergi ke Korea?”
Anna merasakan keberadaannya di sini menjadi sangat tidak tepat. dr. Steve sepertinya sedang membicarakan masalah keluarga dan ia tidak seharusnya berada di sini. Tapi rasanya tidak sopan kalau menyela pembicaraan mereka.
“Di mana otakmu sampai mengizinkannya sekolah di Korea?”
“Bukankah aku sudah mengikuti keinginanmu untuk menjadi dokter. Biarkan Sebastian melakukan apa yang dia mau.”
dr. Steve mendengus dengan wajah merah padam. Selama perkenalannya dengan dr. Steve, baru kali inilah ia melihat dr. Steve benar-benar marah. Wajah putihnya berubah menjadi merah dan dadanya bergerak naik-turun seakan menyiapkan kekuatan untuk kembali meluapkan amarah.
“Siapa yang akan mengawasinya? Mau jadi apa dia di sana? Apa kau bisa memastikan dia tidak melakukan sesuatu yang salah.”
“Aku selalu mengunjunginya tiga bulan sekali.”
“Apa dia baik- baik saja?” Kali ini Liana yang bertanya atau lebih tepatnya melibatkan diri dan membiarkan dr. Steve berbaur dalam amarahnya sendiri.
“Dia baik.”
***
New York selalu padat sesuai dengan julukannya sebagai kota terpadat di Amerika Serikat. Udara dipertengahan bulan mei ini sangat bagus. Cerah berawan dan Anna sangat menyukainya. Ia keluar dari rumah dan berjalan menuju halte terdekat. Mendengarkan suara bising akibat perbaikan jalan. Melihat beberapa pekerja berseragam sama dan memakai helm berwarna terang berada di sepanjang trotoar, bergumul dengan lubang galian.
Anna sampai di fifth avenue. Melangkah lebar-lebar ke rumah sakit. Menyapa Anastasia yang berdiri di balik meja besarnya. Wanita itu memakai seragam lebih cerah pada hari kamis. Suasana rumah sakit masih sangat sepi namun tetap hangat oleh bau khas yang tidak akan pernah hilang sampai kapanpun. Beberapa petugas kebersihan terlihat di berbagai sudut. Sebagian dari mereka membersihkan lantai dan yang lain mengelap meja, menggeser sofa besar di ujung lorong dan dua orang terlihat mengangkat sebuah pot besar berisi tanaman hidup keluar ruangan dan beberapa menit kemudian kembali lagi setelah memotong beberapa lembar daunnya yang mulai berwarna coklat, memberinya pupuk dan menyiram tanaman itu.
“Kau datang lebih pagi dari biasanya? Bukankah jadwal praktek dr. Steve masih dua jam lagi?” Anna merangsek ke kursi di sebelah Clara yang seperti biasa, selalu sibuk dengan map-map plastik di hadapannya.
“Kau sudah bertemu dengan Jullian?” Kali ini Clara meletakkan pulpennya dan mengambil sebuah stabilo berwarna kuning. Menebalkan beberapa baris dalam kertas itu.
“Sudah.” jawabnya cepat sambil mengambil agenda dari tasnya.
“Lalu bagaimana menurutmu?” Anna mengangkat bahu.
Bagaimana menurut Anna, laki-laki itu bahkan lebih tampan dari yang berani ia bayangkan. Tubuhnya tegap dan tinggi, mungkin beberapa senti di atas Logan. Kulitnya putih namun tidak pucat dengan rambut berwarna coklat terang dan ketampanannya diperparah dengan mata birunya yang bening seakan ada berlapis-lapis kaca dibola matanya.
“Lupakan masalah itu, dr. Steve menyuruhku memberitahumu apa yang terbiasa aku lakukan untuknya.” Clara mengangkat sebelah alisnya. Lupa kalau sahabatnya itu melakukan semua yang terbaik untuk dr. Steve. “Yang pertama, kau harus mengumpulkan semua surat untuknya dan taruh di sisi meja sebelah kanan. Kalau keesokan harinya beberapa berada di sisi sebelah kiri, surat-surat itulah yang harus kau hancurkan ke mesin penghancur kertas.” Clara terlihat mengangguk walau tidak sepenuhnya menyimak. “Lalu dr. Steve tidak suka atau tak suka vetsin. Pesankan semua makanan tanpa vetsin untuknya. Jangan lupa mengganti seprei ruang periksanya minimal tiga hari sekali. Jangan lupa mengganti parfum ruangannya sebulan sekali.”
Clara tidak pernah menyadari kalau Anna melakukan banyak hal untuk dr. Steve. Bahkan untuk sesuatu yang seharusnya dilakukannya sebagai pegawai rumah sakit. Di akhir kata-katanya Clara tersenyum sambil mengangguk penuh.
“Aku akan melakukan semuanya sayang, berjanjilah kalau kau akan sering mengunjungiku.” Anna melengkungkan bibirnya.
“Tentu saja, kau pikir kau mau ke mana.” Tiba-tiba saja kesedihan menghinggapinya. Clara sudah seperti kakaknya dan mereka hampir setiap hari bertemu. Bercerita, makan siang bersama dan Anna tidak pernah mengenal seseorang sebaik Clara. Sosok wanita yang begitu baik dan hangat. Anna bisa bercerita apapun pada wanita itu bahkan untuk semua kesedihan mengenai keluarganya.
“Kau kenapa?” tanya Clara saat melihat air muka Anna berubah muram. Gadis itu menggeleng lalu berkata.
“Aku akan sangat merindukanmu.” Tepat saat itu sebuah gulungan kertas melayang ke kepalanya.
“Kenapa bicara seperti itu. Bodoh sekali. Kita masih bisa bertemu setiap hari kalau kau mau.” Mereka tertawa bersama sampai seseorang berdiri di hadapan mereka. dr. Steve tersenyum dan kedua wanita itu berdiri lalu sedikit membungkuk sambil mengucapkan salam.
“Sepertinya aku bersalah karena harus memisahkan kalian.” dr. Steve bergurau sambil melengkungkan garis bibirnya.
“Clara berkeras kalau kita bisa bertemu setiap hari kalau aku mau.”
“Bagus sekali, jadi aku tidak terlalu merasa bersalah.” Sekali lagi dr. Steve tertawa sebelum akhirnya masuk ke ruangannya.
***
Setelah memastikan semua urusannya selesai. Jullian pergi ke sebuah kafe untuk menemui sahabat lamanya. Ia mengemudikan mobilnya menuju fifth avenue dan sebenarnya hanya berjarak beberapa kilometer dari rumah sakit. Setelah memastikan kalau sahabatnya belum berada di tempat itu, ia mencari meja kosong di pojok ruangan. Mendudukkan diri di sofa empuk berwarna merah marun dengan meja berwarna senada di depannya. Sebuah vas kecil dengan tiga buah mawar hidup terlihat menghiasi setiap meja.
Jullian tidak percaya bahwa ia sekarang berada di sini sebagai seorang dokter. Seorang Dokter. Ia mendengus dan tersenyum sinis. Profesi yang bahkan tidak pernah terlintas untuk dijalaninya sejak kecil dan sekarang inilah yang terjadi. Ia berkorban demi adiknya, Sebastian. Sejak dulu ia tahu kalau ayahnya menginginkan salah satu dari mereka menjadi seorang dokter dan setelah perdebatan cukup panjang dengan adiknya dan adiknya terlihat jauh lebih keras kepala dibanding dirinya. Ia terpaksa mengalah dan bodohnya lagi, ia malah mengizinkan adiknya untuk bersekolah di Korea. Ia tidak bisa melupakan bagaimana ekspresi kemurkaan ayahnya saat tahu bahwa ia benar-benar mengizinkan Sebastian pergi Korea. Setelah lima tahun tidak membuat ayahnya marah, sebenarnya ia menyesal karena ia harus kembali membuat ayahnya murka karena hal ini.
Tapi mengingat dirinya tumbuh sebagai pembangkang, mustahil membuat dirinya berhenti membuat ayahnya marah. Tapi setidaknya ia bersyukur karena ayahnya tidak mati muda karena kelakuan ia dan adiknya. Ia melayangkan sebelah tangannya dan memesan minuman.
Ia menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Tidak terlalu merindukan kota kelahirannya. Ia lebih nyaman berada di London bahkan untuk melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Ia menyesali keputusan ayahnya yang menginginkannya bertugas di sini. Ia memang tidak berubah menjadi anak baik dengan kuliah di university of London. Ia bahkan tidak menyangka saat ayahnya bilang akan mendaftarkannya ke universitas itu dan kesalahan terbesar adalah keikutsertaan Sebastian. Ia pikir ayahnya main-main, tapi ternyata tidak. Tapi bagaimana mungkin ayahnya bisa percaya padanya. Percaya kalau ia tidak akan menilap uang kuliahnya dan memanfaatkan untuk pesta di bar-bar terkenal di London. Dan kata-kata ayahnya sebelum ia berangkat tidak akan pernah ia lupakan.
“Jaga adikmu baik-baik. Kau sudah waktunya belajar bertanggung jawab. Kau harus kembali sebagai seorang dokter lalu bertugas di sini. Kalau kau tidak berhasil atau berani-beraninya membangkang. Aku tidak akan segan-segan membunuhmu.” Mungkin sebagian anak lain akan merasa kalau kata-kata ‘membunuh’ itu sebagai gurauan, tapi tidak bagi ayahnya. Ia mengatakannya dengan kilatan tajam dan keadaan amat marah. Malam sebelumnya, dr. Steve mendapati Jullian berada di sebuah kantor polisi karena terlibat perkelahian di sebuah bar dalam keadaan mabuk dan mungkin itu adalah akhir dari kesabarannya.
Suara bising terdengar dan ia melirik ke arah pintu di mana dua sahabatnya datang tapi bersama seseorang yang sama sekali tidak ingin ditemuinya saat ini. Ia melambai dan tiga orang itu mendekat. “Jullian. Bagaimana kabarmu?” Pria jangkung berambut emas itu yang pertama kali menjabat tangan Jullian.
“Baik Keanny, aku harap kau juga.” Bertiga bergantian menjabat tangan Jullian tidak terkecuali wanita yang mereka bawa. Sedetik setelah wanita itu menyentuh telapak tangan Jullian ia berseru.
“Oohh tuhan, kau terlihat semakin tampan Jullian.” Jessica Jenner langsung melesak di samping Jullian dan membuat pria itu merasa risih. Melihat ketidaknyamanan Jullian, Freddy bergumam.
“Kau menelepon kami dan ada Jessica di sana. Dia mendengarmu dan meminta ikut ke sini.” Freddy memanggil pelayan dan memesan beberapa minuman.
“Kenapa kau tidak memberitahuku akan kembali dalam waktu dekat. Kalau kau memberitahuku, aku akan menjemputmu di bandara.” Wanita itu melingkarkan lengannya ke lengan Jullian dengan posesif.
“Jadi, kau sudah menjadi seorang dokter sekarang?” Keanny memperhatikan Jullian yang sama sekali tidak berubah. Image dokter sama sekali tidak merubah paras dan auranya.
Sahabatnya masih sama, aura seorang pemberontak dan anak berandalan. Jullian menyesap minumannya dan Jessica langsung berseru. “Aahh, apa kau benar-benar menjadi seorang dokter? aku pikir kau akan lebih pintar dan memakai uang kuliahmu untuk minum-minum.” Mereka semua tertawa sedangkan Jullian melemparkan tatapan kesal ke arah wanita itu.
“Di mana kau akan praktik?” Freedy mulai menyesap saat minumannya sampai di meja.
“Di klinik ayahku.” jawabnya singkat sambil berusaha secara halus merenggangkan tautan lengan Jessica yang entah kenapa semakin terasa menyesakkan.
“Aku pikir seorang dokter mengunjungi sebuah bar sekali-kali tidak masalah.” Keanny melirik ke arah Jullian yang melengkungkan senyum.
“Tentu saja, kau pikir aku akan seutuhnya menjadi dokter. Aku hanya akan melakukan kewajibanku. Selebihnya, aku seperti yang dulu.”
***
Anna masuk ke sebuah kafe untuk membeli beberapa roti panggang. Ia menghampiri pelayan dan memesannya. Setelah itu ia bergerak ke pojok ruangan dan mengambil dua buah kaleng soda dari kulkas dan duduk tak jauh dari sana. Sibuk dengan ponselnya, ia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengamatinya.
Jullian tersenyum melihat Anna saat teman-temannya sibuk dengan sendok dan garpunya. Ia tidak akan pernah lupa bagaimana gadis itu membuatnya menunggu di bandara dan karena saat bertemu di acara makan malam keluarganya ia tidak bisa berbuat banyak, ia berjanji akan membuat perhitungan dengan gadis itu.
Suara bel di atas meja terdengar dan seorang pelayan mengeluarkan pesanannya. Ia mendekat dan mengeluarkan uang dari saku mantelnya. Setelah mengucapkan terima kasih, ia menenteng plastik itu dan keluar dari kafe.
***
Anna masih terus mengingatkan apa saja yang harus dilakukan Clara saat dirinya tidak ada. Jangan sampai ada yang terlupa sedikitpun. “Ayolah Anna, kita tidak akan benar-benar berpisah. Kau boleh mengirimiku pesan kalau kau melupakan sesuatu. Jadi sekarang, hilangkan raut wajah seperti itu.”
dr. Steve keluar dari ruangan “Kita berangkat sekarang.” katanya pada Anna yang langsung dijawab dengan sebuah anggukan singkat. Ia tersenyum pada Clara lalu memeluknya singkat.
“Apakah pekerjaan ini begitu berarti untukmu?” Anna melirik pria yang duduk di sebelahnya. Mengeryit bingung karena tiba-tiba dr. Steve melontarkan pertanyaan aneh. Ia berdehem lalu mengurai senyum
“Tentu saja, aku pikir ini pekerjaan terbaik yang bisa aku miliki.” Pria di sebelahnya tersenyum penuh.
“Kalau begitu berjanjilah untuk bertahan apapun yang terjadi.” Senyum dalam wajah Anna mendadak menghilang, digantikan dengan anggukan kaku
“Tentu saja.” katanya, masih tidak mengerti maksud kata-kata dr. Steve.
Selama perjalanan, Anna sama sekali tidak berani melirik ke sebelahnya. Sepertinya dr. Steve sedang berada pada mood yang kurang baik. Mereka sampai saat Maria baru saja melangkah ke meja besarnya. dr. Steve memandang sekeliling dan menyadari Lamborghini Reventon anaknya belum terparkir di halaman kliniknya. Ia masuk dan melirik ke arah Maria sebentar dan sebelum benar-benar masuk ke ruangannya ia bergumam kepada Anna. “Kalau Jullian sudah datang. Langsung suruh masuk ke ruanganku.”
Ia mengangguk dan mengerling kepada Maria. Kurang lebih lima belas menit kemudian sebuah Lamborghini Reventon memasuki pelataran klinik. Maria spontan langsung mendongkak dan melihat pria berkacamata hitam keluar dari mobil. Ia menelan ludah menyadari bahwa yang dimaksud dengan Jullian adalah seseorang yang terlihat begitu tampan. Anna menyentak temannya dan langsung terduduk. “Itu Jullian?” tanyanya dan Anna mengangguk dengan cuek. “Dia bahkan lebih tampan dari bayanganku.” Anna tidak menjawab saat melihat tubuh jangkung Jullian berdiri di balik mejanya.
“Saya mau…”
“Anda sudah ditunggu di ruangannya. Pintu kedua sebelah kanan” kata Maria bahkan sebelum Jullian menyesaikan kata-katanya. Jullian melirik Anna sekilas yang nampak cuek lalu berlalu melalui sebuah lorong menuju ruangan ayahnya.
Sedetik setelah Jullian meninggalkan meja pendaftaran, Maria langsung mendekat ke arah Anna dan menggumamkan kekagumannya pada Jullian. Butuh waktu hingga kurang lebih seperempat jam sampai Maria benar-benar berhenti berbicara karena telepon di mejanya berbunyi.
“Kau dipanggil dr. Steve ke ruangannya.” Anna melirik Maria yang mengangkat bahu dan setelah menutup agendanya ia berdiri dan melangkah menuju ruangan dr. Steve. Mendekat ke pintu dan menyadari bahwa suasana di dalam sangat sunyi. Sama sekali tidak terdengar suara apapun. Ia mengetuk pintu dua kali dan melesak masuk saat terdengar suara dr. Steve mempersilahkan.
“Dokter memanggil saya?” Anna melirik dr. Steve yang mengangguk dan sekilas melirik Jullian yang tampak dingin dan muram. Anna tetap berdiri tak jauh dari mereka berdua alih-alih dr. Steve menyuruhnya duduk. dr. Steve menatap Jullian dengan sorot matanya yang tajam. Menghardiknya secara diam-diam.
“Tunggu apa lagi? Cepat berikan pada Anna.” Anna yang masih tidak mengerti hanya diam sambil memandang Jullian yang mulai merogoh saku celananya. Mengeluarkan dompet kulit dan dengan ragu memberikannya kepada Anna. Tatapannya beralih ke dr. Steve yang terlihat mengangguk dan dompet itu berpindah tangan.
“Atur semua pengeluaran Jullian.” katanya.
“Ayolah, apakah aku tidak bisa memegang satu saja kartu kredit-ku, STNK dan SIM.” Jullian merajuk dan raut wajah dr. Steve tampak tidak bisa diganggu gugat.
“TIDAK. Kalau kau ingin selamat. Pastikan Anna selalu ada bersamamu di manapun kau berada.” Ia melayangkan tangannya, menyuruh Anna menghilang dari pandangannya. Setelah menutup pintu, Anna mengangkat tangannya dan menatap dompet hitam di tangannya, setelah itu ia membawa kembali ke mejanya.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan, dad? bukankah aku sudah kembali seperti yang kau inginkan? Kenapa kau masih terus memperlakukanku sebagai tahanan seperti ini?” Jullian mendesah pelan tapi kata-katanya terdengar mantap. Ayahnya melepas kecamatanya dan meletakannya di atas meja. Meneguk segelas air di mejanya dan menatap Jullian dengan sinis.
“Menikahlah. Dengan begitu kau akan mendapatkan semuanya kembali.” katanya dengan suara rendah tapi cukup membuat Jullian terkejut. Jullian tertawa sumbang dan bergumam.
“Apa lagi ini?” Ia mengetuk-ngetukan jarinya di meja dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Carilah wanita yang bisa mengatur hidupmu yang berantakan.”
“Lelucon macam apa lagi ini?” Ia tidak mengerti apa yang kini ada dibenak ayahnya. Bisa-bisanya ia memintanya menikah seperti memintanya membeli seekor anak kucing.
“Pastikan saja Anna selalu ada di sampingmu. Ruanganmu ada di seberang. Minta bantuan Anna kalau kau membutuhkan sesuatu.” Kata dr. Steve dengan tarikan napas panjang. Jullian berdiri dengan tegas. Menegakkan bahunya dan berbalik.
“Jangan salahkan kalau aku tidak tahan dan lebih memilih kabur.” Ia menutup pintu, menyebabkan suara berdebam pelan lalu pergi ke seberang ruangan yang dimaksud ayahnya dan menemukannya masih terkunci rapat. Ia berbelok ke depan dan menemukan Anna sibuk dengan ponselnya dan beberapa pasien terlihat di ruang tunggu. “Bukakan ruanganku.” katanya setengah menyentak Anna dari kegiatannya. Anna mendongkak dan mendapati mata biru Jullian menatapnya tajam. Ia menelan ludah dengan tidak kentara saat sebelah tangannya membuka laci dan mengambil serenteng kunci dari dalam.
Ia menelik kunci itu satu persatu dan memegangnya dengan ibu jari dan telunjuknya. Memisahkan kunci itu dengan teman-temannya lalu melangkah menuju ruangan yang dimaksud. Setelah berhasil membuka pintu, ia menyingkir dan mempersilahkan Jullian masuk. “Ambilkan aku minum.” katanya sambil mendorong sedikit bahu Anna untuk masuk dan duduk di kursi yang ada di sana.
To Be Continue
LalunaKia