Rasa resah dan gelisah dalam hati Vega, membuatnya terjaga semalaman. Ia terus berpikir dan berusaha menenangkan hatinya yang kecewa. “Entah terlambat atau tidak... Tapi sepertinya pertemuanku dengan Gama adalah sebuah takdir... Apakah perasaan kami harus dipisahkan oleh takdir pula? Tak bisa aku bayangkan melihat Gama harus menikahi gadis yang sama sekali tidak ia cintai... Hanya demi berlangsungnya sebuah periode pemerintahan yang baru... Aku mencintaimu... Gama... Aku rela jika harus menjadi selirmu....” Vega berbicara dalam hatinya. Berkali-kali ia mengusap air mata yang sedari tadi membasahi pipinya. Pagi seakan menyiratkan perasaan Vega dan juga putra mahkota Argan. Hujan turun bersamaan dengan kabut temaram yang begitu lebat. Mentari pun enggan menampakkan senyumnya melihat Lady V

