Pangeran Argan masih membujuk Vega dan meminta maaf padanya. Vega masih terdiam karena kesal dengan sikap pangeran Argan yang menggodanya.
“Ayolah... Maafkan aku! Kita berteman kan?” pangeran Argan tersenyum pada Vega.
Vega memutar matanya sembari cemberut karena masih kesal. Namun Vega juga membutuhkan teman untuk memecahkan masalahnya. Ia merasa Gama adalah pemuda yang baik, hanya saja dia tidak bisa kalau tidak meledek Vega.
“Baiklah... Aku maafkan!” Vega tersenyum pada Gama.
“Nah... Dengan berteman kita akan menjadi lebih baik dari pada bermusuhan.” Pangeran Argan merasa senang menemukan teman di luar istana selain Lean.
“Baiklah... Mulai sekarang kita berteman!” Vega tersenyum sambil mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking pangeran Argan.
Senja itu menjadi awal petualangan mereka. Senja yang hangat mampu menghangatkan hati mereka. Gama mengajak Vega menemui kakek Noah sebelum matahari terbenam. Mereka berjalan menuju rumah kakek Noah yang tidak jauh dari padang ilalang.
Mereka sudah tiba di sebuah rumah di ujung jalan. Rumah sederhana yang terbuat dari kayu dan terlihat asri serta hangat. Pangeran Argan mengetuk rumah itu, sedangkan Vega mengikuti pangeran Argan dari belakang. Seorang pemuda membukakan pintu dan menyapa mereka.
“Permisi... Apa benar ini rumah kakek Noah?” Pangeran Argan bertanya pada pemuda yang menemuinya.
“Iya benar, saya keponakan paman Noah... Maaf kalian siapa?” Pemuda itu menatap pangeran Argan dan Vega.
“Kami para pengelana... Beberapa waktu yang lalu, kami pernah bertemu dengan Kakek Noah... Lalu ada yang perlu kami bicarakan dengan beliau... Apakah kami dapat bertemu dengan Kakek Noah?” Pangeran Argan terlihat lancar berdiplomasi. Vega menatap pangeran Argan dan merasa ada sesuatu yang berbeda dengan pemuda yang satu itu.
“Paman tidak ada di rumah... Dia pergi ke rumah saudaranya, mungkin akan kembali tiga hari lagi... Jika kalian ingin menemuinya, lebih baik datang saat siang hari.” Pemuda itu terlihat ramah dan baik.
“Baiklah kami akan kembali tiga hari lagi... Tapi kalau boleh tahu, siapa nama Anda?” Pangeran Argan ingin mengetahui namanya.
“Panggil saja Herzack! Lalu siapa nama kalian?” Pemuda itu tersenyum pada pangeran Argan dan Vega.
“Panggil aku Gama dan temanku bernama Vega... Kami para pengelana... Pergi ke mana angin berhembus.” Pangeran Argan berlagak seperti pujangga. Hal ini membuat Vega merasa geli.
“Rasanya aku ingin tertawa tapi... Takut kena karma....” Vega menahan tawa dengan menatap langit senja.
“Baiklah... Akan aku sampaikan pada pamanku.” Herzack tersenyum pada mereka.
“Terima kasih... Kami permisi.” Pangeran Argan berpamitan. Lalu ia menoleh ke arah Vega, ia melihat Vega yang terpaku melihat langit senja.
“Heh... Ayo kita pulang!” Pangeran Argan berbisik pada Vega.
“Oh... Iya... Permisi.” Vega terkejut dan berpamitan pada Herzack.
Vega berjalan mengejar Gama.
“Bisa kan ya? Kalau panggil nama!” Vega melirik sinis pada Gama.
“Hah?” Gama merasa heran dengan ucapan Vega.
“Hah... Heh... Menyebalkan!” Vega menggerutu karena sikap Gama.
“Hahaha... Gara-gara itu?” Pangeran Argan merasa geli karena Vega yang kesal gara-gara ia panggil dengan sebutan “Heh”.
Pangeran Argan dan Vega berjalan menuju kuda mereka. Langit semakin petang, pangeran Argan sangat terburu-buru.
“Gama... Kenapa terlihat tergesa-gesa?” Vega merasa heran.
“Hari semakin petang, tidak baik gadis sepertimu ada di luar rumah... Cepatlah naik ke kudamu! Biar aku antar kamu pulang!” Pangeran Argan tidak tega membiarkan Vega pulang sendirian.
“Sudah kita berpisah di sini saja! Aku terbiasa bepergian sendiri.” Vega menaiki kudanya dan langsung melesat cepat. Hal ini membuat Argan semakin heran dengan gadis itu.
“Astaga... Cepat sekali dia berkuda? Baiklah aku akan kembali ke istana, karena matahari akan segera terbenam.” Pangeran Argan segera kembali ke istana.
Pangeran Argan telah kembali ke paviliunnya. Kali ini ia tidak mendapati ratu Alena menunggu pangeran Argan kembali ke paviliunnya. Begitu juga dengan dayang dan prajurit lainnya yang tampak tenang. Hal ini berbeda dari biasanya.
“Tumben mereka membiarkanku melenggang dengan tenang? Baguslah....” Pangeran Argan segera membersihkan tubuhnya. Sekarang ia sedang berendam air hangat di paviliunnya. Ia mencoba menenangkan pikiran dan menikmati air hangat yang bertabur kelopak bunga mawar. Ia membasuh badan dan wajahnya. Namun tiba-tiba ia teringat dengan Vega si gadis bar-bar.
“Haaassshhh... Kenapa aku mengingat tingkah si gadis bar-bar? Tampaknya otakku mulai keracunan senyumnya... Ah kenapa harus mengingat hal tadi?” Argan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia teringat saat Vega mengangkat kain yang membuat kaki gadis itu terlihat mulus.
“Astaga... Apa ini? Haaasssshhh... Aku tidak boleh mengingat hal itu! Dasar gadis bar-bar, mulai menggoda pemuda tampan sepertiku.” Pangeran Argan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah pangeran Argan selesai dan memakai pakaian yang nyaman. Salah satu dayang ratu Alena memanggil pangeran Argan, karena ratu Alena ingin bertemu dengan pangeran Argan di paviliun ratu.
Pangeran Argan bergegas menemui ibunya. Ia berjalan menyusuri setiap koridor dalam istana bersama beberapa pengawal dan juga Victor. Kali ini Victor tidak dimarahi oleh ayahnya, sebab ratu Alena sudah berbicara dengan Herzog louis Zorguch bahwa kaburnya putra mahkota Argan bukanlah kesalahan Victor. Sepanjang perjalanan menuju paviliun ratu Alena, Victor berbincang dengan putra mahkota.
“Hari ini tampaknya baik-baik saja? Apa kali ini ayahmu tidak memarahimu?” Pangeran Argan penasaran.
“Entahlah yang mulia, kali ini ayahku tidak memarahiku, sepertinya Ayah sadar bahwa semua memang keinginan dan kebiasaan putra mahkota yang melarikan diri dariku.” Victor merasa canggung dan melirik pangeran Argan. Ia sengaja menyentil sikap putra mahkota yang sering membuat Victor dimarahi ayahnya.
“Iya... Aku sangat memahami posisimu sebagai pengawal pribadiku yang sepenuhnya bertanggungjawab atas keselamatanku... Tapi ada hal yang ingin aku lakukan sendiri di luar, aku tidak ingin siapa pun terlibat kecuali jika aku merasa terdesak... Bukan berarti aku tidak membutuhkanmu... Aku sangat membutuhkan pengawal hebat, jujur, dan setia pada putra mahkota sepertimu, Victor.” Putra mahkota tersenyum sambil menepuk bahu Victor.
Victor hanya menunduk dan sedikit membungkukkan badan pertanda hormat pada tuannya.
“Ternyata pangeran Argan mulai bersikap dewasa... Apa aku bermimpi? Biasanya dia bertingkah menyebalkan seperti adikku, Vega.” Victor merasa lega walau bertanya-tanya dalam hatinya karena tingkah laku putra mahkota yang terlihat berbeda malam ini.
Putra mahkota meminta Victor dan prajurit pengawal menunggu di depan pintu masuk kompleks paviliun Rex Alexis Marlon dan ratu Alena. Putra mahkota berjalan melewati ruang pribadi Rex Alexis Marlon, tak sengaja ia melihat pintu ruang itu tidak tertutup dengan rapat. Sehingga jiwa ingin tahu pangeran Argan muncul dan melihat siapa yang sedang berada di dalam ruangan itu.
Pangeran Argan melihat Rex Alexis Marlon sedang duduk dan berbincang dengan Herzog louis Zorguch. Awalnya pangeran Argan tidak curiga dengan percakapan mereka, tapi sesaat sebelum pangeran Argan meninggalkan mereka, ia mendengar Rex Alexis Marlon membahas tentang Donkerwald. Seketika putra mahkota terbelalak dan menguping sedikit pembicaraan mereka.
“Setelah hari itu, apakah kamu masih mengunjungi hutan kegelapan Donkerwald?” Rex Alexis Marlon terlihat menatap Zorguch yang duduk di depannya.
“Maaf yang mulia, setelah malam itu, aku tidak pernah menginjakkan kaki lagi ke dalam hutan kegelapan Donkerwald....” Herzog louis Zorguch menundukkan kepala di hadapan Rex Alexis Marlon.
“Sejak senja itu, 27 tahun lalu, aku pun tidak pernah menginjakkan kaki ke sana lagi... Semua berubah seketika aku diangkat menjadi putra mahkota... Jujur saja, pada waktu itu aku tidak siap dengan semua takdirku....” Rex Alexis Marlon terlihat bersedih.
Pangeran Argan melihat ekspresi wajah mereka. Ia merasa ada rahasia antara ayahnya dengan ayah Victor. Pangeran Argan mengernyitkan dahinya, ia semakin penasaran dengan rahasia mereka yang berhubungan dengan hutan kegelapan Donkerwald.
“Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu? Kenapa Ayah begitu memikirkan hutan kegelapan? Lalu siapa Samantha? Kalau tidak salah dengar... Ayah dan Zorguch pernah membicarakannya.” Pangeran Argan terdiam. Ia segera berjalan menuju paviliun ratu Alena.
Sepanjang jalan menuju paviliun ratu Alena, pangeran Argan memikirkan percakapan ayahnya dengan Zorguch. Pangeran Argan semakin yakin ingin mengungkap misteri hutan kegelapan bersama Vega.
Pangeran Argan telah sampai di depan pintu paviliun ratu Alena. Ia sudah dipersilakan masuk dan menemui ibunya. Mereka duduk berhadapan sambil meminum teh. Pangeran Argan menatap ibunya yang terlihat masih awet muda.
“Ibu, kenapa tidak menunggu Argan di paviliun, seperti biasanya ketika Argan kabur dari istana?” Pangeran Argan merasa ada yang aneh.
“Mungkin karena Ibu sudah terbiasa... Yang penting kamu harus menjaga keselamatanmu, Nak! Karena keselamatanmu sangat dibutuhkan oleh rakyat Braden Kingdom.” Alena tersenyum pada Argan.
“Akan Argan laksanakan, Bu!” Argan merasa sedikit lega walau tetap saja ia tidak bisa seenaknya melenggang keluar istana. Ia tetap nyaman menyamar menjadi Gama dan keluar istana dengan mengendap-ngendap secara rahasia.
“Melihatmu bertingkah seperti itu, Ibu jadi teringat tingkah ayahmu sewaktu muda.” Ratu Alena tampak menahan tawanya.
“Memangnya... Ayah seperti apa, Bu?” Argan merasa antusias mengetahui cerita tentang ayahnya.
“Sebelum diangkat menjadi putra mahkota, ayahmu jarang berada dalam istana, ia lebih sering di luar istana dan berburu di hutan bersama Herzog Louis Zorguch.” Ratu Alena menceritakan sedikit masa lalu Rex Alexis Marlon.
“Memangnya... Ayah tidak dipersiapkan menjadi putra mahkota sepertiku?” Pangeran Argan merasa bingung.
“Tidak, Nak! Putra mahkota terdahulu adalah pamanmu, Marion yang kini telah tiada... Rex Alexis Leonard kakekmu, mempunyai dua orang putra, pamanmu Marion dan ayahmu Marlon... Karena keturunan pertama Rex Alexis Leonard adalah Marion, maka ia diangkat menjadi putra mahkota... Sedangkan ayahmu bebas melenggang menjadi putra bangsawan, seperti pangeran Morgan... Sering berkelana ke hutan bersama pengawal pribadinya Zorguch... Hingga suatu hari, pangeran Marion mengidap suatu penyakit, ia tidak bisa melanjutkan sebagai pewaris Tahta, sehingga Rex Alexis Leonard mengangkat Ayahmu menjadi putra mahkota, sejak saat itu Ayahmu berada dalam istana ini dan mengangkat Zorguch menjadi panglima perang.” Alena terlihat bersedih saat menceritakan sepenggal masa lalu.
“Dan Ibu dijodohkan dengan Ayah?” Pangeran Argan menatap sendu Ibunya.
“Iya, Nak!” Ratu Alena menahan air matanya. Pangeran Argan merasa Ibunya menyimpan rahasia di masa lalu.
“Oh, iya... Ada yang ingin Ibu bicarakan denganmu, Nak!” Wajah Alena kembali tersenyum walau sorot matanya masih terlihat menahan air matanya.
“Tentang apa, Bu?” Argan merasa cemas.
“Tidak lama lagi, kamu akan naik Tahta... Tapi sebelum Ayahmu menurunkan Tahta padamu... Ada banyak syarat lagi yang harus dipenuhi... salah satunya kamu harus menikah!” Ratu Alena tersenyum pada pangeran Argan.
“Ap... Apa? Menikah? Tap... Tapi Argan belum berpikiran ke sana, Bu.” Pangeran Argan merasa sangat terkejut.
“Secepatnya Ibu akan mengundang semua putri bangsawan untuk hadir saat ulang tahunmu pekan depan... Ibu harap kamu bisa menentukan siapa yang akan menjadi calon pendampingmu... Calon ratu Braden Kingdom... Dengan begitu kamu bisa memulai perkenalan dengan calon ratu pilihanmu!” Ratu Alena tersenyum pada pangeran Argan.
“Bu....” Pangeran Argan kehabisan kata-kata untuk membuat alasan lagi.
“Nak! Sebentar lagi kamu akan diangkat menjadi seorang raja... Mau tidak mau, kamu harus siap dan harus mempersiapkan segalanya dengan baik.” Ratu Alena kembali mengingatkan pangeran Argan.
“Baik, Bu!” Pangeran Argan menunduk.
“Bu, apakah dahulu Ibu dan Ayah juga merasakan seperti yang Argan rasakan? Menikah karena perjodohan atau memang saling mencintai? Maaf, Bu... Kalau pertanyaan Argan membuat Ibu merasa tidak nyaman.” Argan menatap ratu Alena.
Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu? Tunggu kelanjutan episode berikutnya ya! Terima kasih sudah mampir untuk membaca.