01 - Kelahiran dan Kepergian
Malam ini terasa sangat dingin, ditemani oleh embusan angin. Awan Atmadja, pria itu sudah lama menanti kedatangan malam ini. Istrinya kini tengah mengandung, setelah penantian mereka selama dua tahun pernikahan.
"Akhirnya, aku akan segera menjadi seorang ibu." istrinya tampak begitu senang, begitupun juga dengan Awan, seorang pria muda yang sudah menginginkan seorang anak sejak awal pernikahan mereka.
"Aku senang sekali saat mendengar kamu tengah mengandung anak pertama kita. Aku jadi semakin penasaran, apakah anak kita seorang perempuan atau laki-laki." ucap pria yang tidak akan lama lagi akan menjadi seorang ayah itu, ia tampak begitu senang malam ini.
"Apakah kamu menginginkan seorang anak perempuan?" tanya istri Awan.
"Baik perempuan ataupun laki-laki, yang penting mereka lahir dengan sehat, itu sudah cukup membuatku bahagia. Terlebih lagi, ini adalah anak pertama kita." Ia sesekali tersenyum kepada istrinya untuk menunjukkan rasa bahagianya.
"Aku pun begitu." ucap istri Awan dengan senyuman tampak menghiasi wajah cantiknya.
***
Beberapa bulan telah berlalu, kandungan istri Awan Atmadja kini sudah membesar, ia seperti akan melahirkan.
"Mas, kenapa perutku sakit sekali?"
"Perut kamu sakit? Kamu salah makan?" tanya Awan sambil mencoba menenangkan istrinya yang tengah merasakan sakit pada perutnya.
"Aku nggak salah makan kok." jawab istrinya.
Tak lama, ia juga mulai merasakan basah pada pakaiannya. Dan, air ketubannya pecah. Kini, pakaiannya benar-benar basah karena tetesan air ketuban yang mengalir di kakinya.
"Kamu sudah mau melahirkan?"
Tanpa berpikir panjang, Awan segera membawa istrinya menuju ke rumah sakit terdekat. Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk melihat anaknya lahir.
"Akhirnya, sebentar lagi anak kita akan lahir. Aku benar-benar sudah tidak sabar menantinya. Kamu bertahan ya." ucap Awan mencoba menenangkan istrinya.
"Semoga anak kita sehat ya. Aku sudah tidak sabar untuk melihat wajah anak kita saat lahir ke dunia ini."
"Iya, aku pun juga begitu." sambung Awan.
"Mas, apakah aku masih bisa melihat wajah anak kita saat lahir nanti?" tanya istri Awan secara tiba-tiba, hal itupun membuat Awan bingung.
"Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Aku hanya khawatir." jawab istrinya.
"Kamu tidak perlu khawatir. Semua pasti akan berjalan dengan lancar, kamu tidak perlu takut ya?"
"Iya, aku akan mencoba untuk tetap tenang saat ini." jawab istrinya.
Setelah lama berbincang-bincang, Awan dan istrinya pun akhirnya sampai di rumah sakit terdekat, tanpa perlu berlama-lama mereka segera memasuki rumah sakit. Tak lama, mereka akhirnya bertemu dengan seorang Dokter yang bertugas untuk menangani seseorang yang akan segera melahirkan.
"Mas ...,"
"Dok, istri saya akan segera melahirkan. Saya mohon agar Dokter menanganinya dengan baik." ucap Awan yang tetap terlihat khawatir, meskipun sudah mencoba untuk tidak memperlihatkan rasa khawatirnya.
"Baik, kami akan menangani istri Anda dengan sangat baik. Anda pun juga harus bersikap tenang saat ini, karena itu adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh istri Anda."
"Saya akan tetap tenang. Kamu pasti baik-baik aja, kita sebentar lagi akan menjadi orang tua." ucap Awan yang tengah dikelilingi oleh rasa bahagia.
Akhirnya, Dokter segera membawa istri Awan menuju ruang bersalin. Perasaan Awan kini tengah bercampur aduk, rasa khawatir dan rasa bahagia menjadi satu.
"Bapak Awan Atmadja?" seseorang tiba-tiba saja menghampiri Awan, wajahnya terlihat sangat asing.
"Iya, ada apa ya?" tanya Awan yang terlihat bingung.
"Bapak pasti sudah tidak ingat lagi dengan wajah saya. Coba ingat-ingat dulu."
"Maaf, tapi saya benar-benar tidak ingat dengan wajah kamu. Apa kita pernah saling mengenal?" tanya Awan yang masih heran.
"Tentu, kita berdua adalah teman semasa SMA, kamu sudah benar-benar melupakan aku?"
"Kamu?" Awan berpikir sejenak, ia tengah berusaha untuk mengingat siapa wanita yang sedang berada dihadapannya saat ini.
"Audrey."
"Audrey?" Awan masih mencoba untuk mengingatnya, "Audrey Bagaskara?" tanya Awan mencoba memastikan.
"Ternyata kamu masih ingat sama aku. Apa kabar, Awan?" tanya Audrey.
"Aku baik, kamu kenapa bisa di sini?"
"Aku cuma lagi cek kesehatan aja sih." jawab Audrey.
"Aku denger-denger, kamu sudah berhasil membuat perusahaan kamu sendiri. Bahkan, perusahaan kamu sedang sukses sekarang."
"Ya, begitulah. Bagaimana dengan perusahaan kamu?" tanya Audrey.
"Lumayanlah, tapi perusahaan aku masih sangat jauh dibandingkan dengan perusahaan kamu yang baru saja dirintis, namun sudah sangat besar."
"Enggak juga." ujar Audrey merendah diri, "Awan, aku harus pamit sekarang. Semoga kita bisa ketemu lagi ya." sambung Audrey.
"Iya, sampai ketemu lagi."
Setelah beberapa jam berlalu, Dokter segera datang menghampiri Awan yang terlihat tengah duduk di ruang tunggu.
"Bapak Awan Atmadja?"
"Iya?" sahut Awan seraya bangkit dari duduknya, "Apa anak saya sudah lahir, Dok?" tanya Awan yang terlihat sangat penasaran.
"Anak Anda sudah lahir dengan selamat. Namun, dengan berat hati, saya harus mengatakan ini kepada Anda." ucap Dokter, hal itupun membuat Awan menjadi bingung.
"Apa yang ingin Dokter katakan pada saya?" tanya Awan yang terlihat sangat penasaran dengan ucapan Dokter.
"Istri Anda meninggal dunia setelah melahirkan anak kembar kalian." ujar Dokter, seketika Awan terdiam dan tanpa ia sadari, air matanya mengalir membasahi pipi.
Awan benar-benar sedih, ia marah, kecewa, dan sudah tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya dapat meratapi takdirnya dan merelakan kepergian istrinya.
"Apa!? Dokter bercanda kan!? Ini semua hanya omong kosong, kan!?"
"Anda harus bersikap tenang sekarang. Istri Anda benar-benar sudah tidak ada lagi di dunia ini, jadi Anda harus merelakan kepergiannya." ucap Dokter.
"Tidak mungkin!"
***
"Kenapa kamu harus pergi secepat ini? Meninggalkan aku dan kedua anak kembar kita, aku tak sanggup merawat mereka tanpamu, istriku." Awan masih belum bisa merelakan kepergian istrinya.
Awan hanya dapat mengeluarkan segala kesedihannya, ia harus benar-benar merelakan kepergian istri tercintanya. Perhatiannya kini hanya tertuju pada kedua anak kembarnya, Gabriella dan Elizabeth. Hanya kedua putrinya yang kini ia miliki, ia harus benar-benar menjaga kedua putrinya itu.
Pada saat Awan tengah mengawasi kedua anak kembarnya, tiba-tiba saja ia mendengar suara-suara di luar rumahnya, tanpa berpikir panjang ia segera menghampiri suara itu untuk memastikan bahwa ada orang yang tengah bersuara di luar rumahnya.
"Siapa di sana? Apa ada orang?" Awan mencoba untuk tetap bersikap tenang, mungkin saja ada seseorang yang ingin bertamu ke rumahnya pada pukul sepuluh malam, namun hal itu tetap saja mustahil. Karena hari sudah malam, tidak mungkin seseorang akan bertamu ke rumahnya.
Suara itu tiba-tiba saja menghilang, Awan tak mendapat jawaban. Ini benar-benar aneh, ia segera kembali menemui kedua anaknya. Namun, saat ia sampai di kamar kedua anak kembarnya, jendela yang ada di kamar itu terlihat sudah terbuka, sepertinya seseorang baru saja masuk ke dalam kamar kedua anaknya secara sengaja.
"Kenapa jendelanya terbuka? Padahal, aku sama sekali tidak membuka jendela itu." heran Awan. Perhatiannya ia alihkan kepada kedua anaknya. Namun, ia sungguh terkejut saat mengetahui bahwa hanya tinggal seorang bayi perempuan di kamar itu, ke mana saudara kembar dari putrinya itu.
—Bersambung...