09 - Rasa Cemburu

1038 Words
"Apa sebaiknya aku menemui Gabriella di kantor sekarang? Mungkin saja, aku cukup keterlaluan padanya, jadi aku perlu minta maaf. Dan, aku juga beharap agar Gabriella bisa menerima aku sebagai saudara kembarnya. Baik, aku akan pergi ke kantor sekarang!" ucap Elizabeth bersemangat. Dengan penuh semangat, Elizabeth segera berlari ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Ia berniat untuk meminta maaf pada Gabriella karena sudah berlaku cukup kasar padanya. Elizabeth juga berharap agar hubungannya dengan Gabriella dapat membaik. "Apakah permintaan maaf dariku akan secepatnya diterima oleh Gabriella? Namun, tidak ada salahnya kan meminta maaf duluan?" batin Elizabeth, ia merasa bersalah atas perlakuannya pada Gabriella. *** "Selamat pagi semuanya." sapa Elizabeth, seluruh karyawan tampak bingung. "Pagi, Ibu Elizabeth." ucap para karyawan. "Hm, Gabriella di mana?" tanya Elizabeth. "Ibu Gabriella? Bukannya sudah pulang ke rumah?" "Pulang ke rumah?" heran Elizabeth. "Iya, Ibu Gabriella baru saja pulang." "Begitu ya? Ya sudah, saya permisi. Kalian semua harus bekerja dengan baik!" titah Elizabeth. "Baik, Bu." ucap para karyawan. *** "Bagaimana ini? Kenapa bisa mogok sih mobilnya!?" keluh Gabriella. Saat Gabriella tengah mengendarai mobilnya cukup jauh dari kantor, tiba-tiba saja mobil itu terhenti dan tidak dapat berjalan lagi. Ia bingung harus bagaimana, bengkel masih sangat jauh dari tempatnya berada. "Gimana dong?" keluh Gabriella. Gabriella sudah lama sekali menunggu, namun tak ada seorangpun yang datang untuk menolongnya. Tak lama, terlihat beberapa pengendara sepeda motor menghampirinya, itu adalah beberapa pria bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam dan wajah yang cukup menyeramkan. Beberapa pria itu mulai berjalan mendekati Gabriella. "Kenapa, neng?" tanya salah seorang dari mereka. "Mobil saya mogok, bisa bantu saya nggak?" tanya Gabriella. "Mau bantu apa, neng? Sendirian aja?" "Hm, bengkel di dekat sini ada nggak ya?" tanya Gabriella. "Buat apa cari bengkel, lebih baik kita senang-senang aja, mau nggak?" "Maaf, tapi saya tidak mengerti dengan apa yang kalian maksud." Gabriella tampak bingung dengan perkataan beberapa pria yang ada di hadapannya. Semakin lama, beberapa pria itu semakin mendekatkan tubuhnya pada Gabriella. Saat Gabriella mencoba untuk menjauh dari mereka, beberapa pria itu malah semakin mendekatkan dirinya pada Gabriella. "Kalian sebaiknya jauh-jauh dari saya, kalian sudah mulai membuat saya risi." titah Gabriella. Namun, bukannya mendengarkan, salah seorang dari pria itu malah mencoba untuk menarik tangan Gabriella dengan kasar. "Sakit! Lepaskan tangan saya!" Gabriella mulai kesal, ia mencoba memberontak. "Mari kita senang-senang." "Lepas! Tolong!" jerit Gabriella, namun jalanan itu tampak sepi. Jadi, tak ada seorangpun yang mendengarkan suaranya. "Nggak usah sok jual mahal, neng." "Saya mohon, lepaskan saya!" Gabriella mulai meneteskan air matanya dengan perlahan. Dari kejauhan, terlihat seorang pemuda dengan pakaian rapi tengah mengendarai sepeda motor. Saat ia tengah mengemudi, ia lalu mendengar suara dari seorang wanita, itu adalah suara Gabriella. Tanpa berpikir panjang, pria itu segera menghampiri sumber dari suara yang ia dengar. Ia segera menghentikan sepeda motornya saat melihat ada beberapa pria tengah mengerubungi seorang wanita. Kemudian, ia segera turun dari sepeda motornya dan langsung memukuli salah seorang dari beberapa pria itu. Saat mengetahui temannya dipukuli, beberapa pria lain terlihat mulai bersiap untuk membalas. "Zendrick?" lirih Gabriella. Suara pukulan yang cukup keras mulai terdengar di telinga Gabriella. Saat mengetahui perkelahian itu semakin sengit, Gabriella segera masuk ke dalam mobil karena tak ingin menjadi sasaran dari perkelahian yang sedang terjadi. "Ternyata, Zendrick adalah seorang pria yang sangat baik, dia menyelamatkan aku dari para pria aneh ini? Kamu memang benar-benar hebat, Zendrick." batin Gabriella, sebuah senyuman mulai tampak di wajah Gabriella. Beberapa dari para pria itu tampak sudah berjatuhan di jalan. Dan, sisanya terlihat masih mencoba untuk memukuli Zendrick. Namun, Zendrick dengan cepat menahan pukulan itu. Ia dengan cepat melancarkan beberapa serangan hebat yang akhirnya mampu membuat semuanya terlempar ke jalan. Saat semuanya sudah merasa kalah dari Zendrick, mereka akhirnya melarikan diri dengan sepeda motor mereka masing-masing. "Kabur!" ucap salah seorang pria. "Zendrick benar-benar hebat!" batin Gabriella. Saat menyadari bahwa semuanya sudah aman, Gabriella segera keluar dari mobilnya. "Zendrick, kamu baik-baik aja? Nggak ada yang luka, kan?" Gabriella tampak cemas. "Nggak ada kok, aman. Kamu gimana?" "Aku juga baik-baik aja. Sebelumnya, aku boleh minta tolong nggak sama kamu?" tanya Gabriella. "Minta tolong apa?" "Kamu bisa antar aku ke rumah nggak? Soalnya, mobil aku mogok." ucap Gabriella. "Boleh, ayo naik." "Sekarang?" tanya Gabriella memastikan. "Mau besok aja pulangnya?" "Nggak sih, sekarang aja." ucap Gabriella. "Ya udah, buruan naik!" titah Zendrick, Gabriella pun segera menaiki sepeda motor Zendrick dengan cepat. Dari balik tembok yang ada di sebelah jalan itu, terlihat Elizabeth yang sedari tadi melihat serta mendengarkan kejadian barusan. Elizabeth terlihat sangat kesal dengan apa yang baru saja ia dengar. "Gabriella!" batin Elizabeth. *** "Sudah sampai." ucap Zendrick, ia segera menghentikan sepeda motornya. "Hm, terima kasih ya, Zendrick." "Iya, sama-sama." ucap Zendrick. "Kamu mau mampir ke rumah aku dulu nggak? Nanti akan aku buatkan minuman." tawari Gabriella. "Tidak perlu repot-repot, aku harus pulang sekarang. Sampai ketemu lagi." pamit Zendrick. "Baiklah, kalau begitu hati-hati ya." peringat Gabriella, Zendrick segera mengendarai sepeda motornya dan pergi meninggalkan rumah Gabriella. Saat Gabriella mulai berjalan memasuki rumahnya, terlihat Elizabeth langsung menarik bahunya dengan kasar. "Liza?" "Kenapa kamu tega banget sih? Aku salah apa sama kamu selama ini, Gabriella? Aku bahkan nggak pernah ganggu kamu sekalipun." ucap Elizabeth. "Liza, maksud kamu apa ya? Aku nggak mengerti." "Apa kamu benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku ini adalah saudara kembar kamu, Gabriella?" tanya Elizabeth. "Memangnya apa yang aku lakukan padamu?" heran Gabriella. "Kamu tidak perlu berpura-pura, Gabriella. Aku tahu bahwa kau tidak ingin melihat aku bahagia, iya kan? Kamu akan melakukan apapun untuk membuat aku menderita." "Liza, apa maksud kamu sebenarnya?" heran Gabriella. "Kamu harus menjawab pertanyaan aku dengan jujur, kamu mencintai Zendrick, kan?" tanya Elizabeth, seketika tubuh Gabriella membeku, ia tak dapat mengatakan apapun. "A .... aku .... baiklah, aku memang mencintai Zendrick. Lalu, apa salahnya?" tanya Gabriella. "Tentu saja itu salah, karena aku yang lebih dulu jatuh cinta padanya. Apakah kamu mencoba merebut Zendrick dari aku, Gabriella!?" bentak Elizabeth. "Aku tidak pernah merebutnya dari kamu. Lagi pula, dia pasti akan lebih memilih aku daripada kamu." "Apa!?" kesal Elizabeth, "Jaga bicara kamu, Gabriella! Kenapa kamu selalu merendahkan aku selama ini!?" "Sepertinya, kau memang pantas untuk mendapatkan hal itu!" ucap Gabriella, Elizabeth semakin kesal mendengarnya. "Beraninya kamu!" Karena sudah terlanjur kesal, Elizabeth langsung menarik rambut Gabriella dengan kasar, lalu Elizabeth mendorongnya hingga menghantam sebuah pintu. "Liza!" jerit Gabriella. —Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD