“Kita harus paham kalau manusia itu memiliki hasrat tak terbatas untuk memenuhi kebutuhannya.” Kata Bhanu yang duduk bersandar di bawah pohon mangga bersama Yura. Keduanya menatap orang-orang berlalu-lalang di koridor sekolah, ada yang berkegiatan di lapangan seperti anak-anak dari ekskul basket dan cheerleader, dan beberapa lagi seperti bola voli. Meskipun saat ini sedang minggu UTS, nyatanya kegiatan di luar jam pelajaran ini masih aktif dilakukan. Yah, apa daya jika sepertinya yang merasa susah payah hanya Bhanu seorang, yang berjuang dengan disleksianya. Dan, sungguh beruntung UTS fisika kemarin dia bisa melalui dengan baik-baik saja, berkat hafalan rumus hampir setiap hari.
Tangan keduanya memegang roti sisir yang Yura sengaja beli untuk keduanya. Menjadi teman untuk perbincangan—berbobot nan menyenangkan—sepulang sekolah. “Ya, itu kayak definisi ilmu ekonomi sendiri, kan? Ilmu yang mempelajari tentang memenuhi kebutuhan manusia yang tak terbatas dengan sumberdaya yang terbatas.”
“Iya, makanya pemenuhan kebutuhan manusia itu harus seimbang dan efisien. Sebenarnya penerapan ilmu ekonomi juga mudah diterapkan, misal lo punya uang 10 ribu tapi gimana caranya bisa dapet 5 item berbeda yang bisa mengenyangkan perut? Caranya banyak, kan? Lo bisa beli 1 nasi bungkus, lo bisa beli 5 biskuit, lo bisa beli 2 roti lapis. Banyak cara.” Kata Bhanu.
“Gue juga heran sebenarnya, kenapa anak-anak itu selalu merasa kesusahan untuk belajar matematika atau pelajaran lainnya. Apa mungkin mereka nggak bisa menganalogikan bagaimana cara aplikasi pelajaran-pelajaran itu? Yang gue lihat di NatGeo adalah orang belajar matematika digunakan untuk membuat sistem seperti sistem antrian, sistem robot-robot otomatis di pabrik, atau paling sederhana adalah menghitung takaran jumlah resep-resep produksi makanan dalam skala besar atau industri, kurang nonton tivi apa ya?” jelasnya panjang.
“Lo lihatnya NatGeo, Bhanu. Yang lain lihat apa? Indosiar, Net, CartoonNetwork? atau nggak nonton sama sekali?”
“Haha, makanya gue penasaran. Lo kalo lihat tv suka channel apa, Ra?” tanya pada Yura.
“Nggak suka lihat tv, tapi gara-gara lo ngomong barusan, mulai nanti gue coba nonton NatGeo.”
Bhanu tersenyum kecil, “Oh iya, soal sumberdaya juga manusia mengambil semuanya dari alam.Nggak terkecuali juga bahan-bahan kimia sintetis yang kandungan dan fungsinya juga mirip dengan ekstrak dari bahan alam. Yah, itu tujuannya untuk tidak menggunakan ekstrak bahan alam dalam skala besar karena hasil ekstrak itu biasanya sedikit.”
Yura mengedip tak paham, “Begini, lo pernah liat komposisi makanan di bungkus atau kaleng? Apakah mereka menggunakan bahan asli? Pasti ekstrak, kan? Dan, berapa kadar persen ekstrak itu? 0,1%? 1%? Sedikit, kan? Ambil contoh adalah penyedap rasa kaldu ayam, nggak mungkin hanya dicampur dengan kaldu ayam, bukan? Pasti ada bahan tambahan makanan lain yang membuat rasanya jadi umami banget. Coba deh, lo ngerebus ayam terus kaldunya lo icip. Rasanya nggak akan seenak lo makan masako, percaya deh.”
“Iya juga sih, terus apa hubungannya dong? Maksud gue, gue mau tahu mengapa ada upaya eksploitasi alam. Bukan proses masak-masakan dan produksi skala pabrik, Nu.”
“Tapi, emang ada hubungannya, Yura. Gue ambil contoh lagi kelapa sawit. Semua orang berpikir bahwa kelapa sawit digunakan untuk bikin minyak goreng, ya nggak?” Yura hanya mengangguk, “Padahal, kelapa sawit itu juga digunakan untuk obat, kosmetik, dan pelarut bahan kimia. Jadi, emang bisa memenuhi kebutuhan industri lainnya juga. Karena pertumbuhan populasi manusia semakin hari semakin banyak, maka kebutuhannya juga semakin banyak. Ketika kebutuhan banyak, sedangkan pasokannya nggak ada, gimana dong? Tersendat juga kan proses pemenuhan kebutuhannya?”
“Jadi, manusia akan memilih untuk mencari alternatif dengan bahan lain?”
“Nggak senaif itu. Mereka nggak berpikir bahwa mencari bahan alternatif bisa menghasilkan produk sebaik dan sebagus ketika memakai kelapa sawit. Butuh bertahun-tahun penelitian juga untuk memastikan produknya masih sama bagus dengan ketika memakai sawit.” Jawab Bhanu.
“Banyak perusahaan yang mendorong perusahaan lain untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka pada ketersediaan barang itu. AKhirnya, mendorong perusahaan kelapa sawit untuk membuka lahan-lahan hutan menjadi perkebunan sawit. Hutan yang tadinya udah punya fungsi kayak penghasil oksigen untuk dunia malah dialihfungsikan buat memenuhi kebutuhan manusia yang lain kayak barang-barang yang bisa dikonsumsi, misalnya. Gue nggak bisa semata-mata menyalahkan perusahaan kelapa sawit itu soalnya dia juga ingin meraup keuntungan dari pemenuhan kebutuhan manusia terhadap suatu barang. Lo paham maksud gue?”
“Bingung, haha. Tapi, lanjutin deh. Bahasa lo cukup text book banget. Lo dengerin berapa kali bacaan itu?”
“Umm, 10 kali. Ketika abang gue bacain, gue pasti rekam dan gue puter terus sambil tertidur. Tapi, cara ngomong gue nggak sebagus ketika gue menuangkan itu ditulisan. Masalah yang sangat-sangat klasik.” Bhanu mengeluh lalu menenggak minuman kalengnya.
“Manusia melakukan eksploitasi seperti penebangan hutan dan alihfungsi lahan itu memiliki tujuan untuk menguasai pasar barang dan jasa yang mereka miliki beserta mencari keuntungan semata. Mereka tidak peduli pada dampak lingkungan setelahnya. Padahal, dampak lingkungan itu bisa menyerang mereka juga, loh. Lo tahu, kalo bumi juga bisa marah.” Bhanu merasa bangga akan dirinya yang bisa membagi pengetahuan ini kepada Yura. Meskipun cewek itu kerap menggeleng tidak paham, sama seperti dirinya yang sering tak paham dengan zodiak-zodiak penjelasan Yura.
“Iya, gue mikirnya juga suatu hari alam bisa saja nggak memberikan lagi hasil-hasilnya kepada manusia dan membiarkan kita kelaparan.”
“Nah, itulah makanya, Ra. Ada juga tuh kayak istilah ekonomi lingkungan. Membahas mengenai green product, process, dan market. Yah, pokok yang cinta alam dan lingkungan begitu deh. Konsepnya tidak lagi eksploitasi alam tetapi ada upaya pelestariannya juga. Yah, meskipun pemerintah kadang masih suka ngawur soal perijinan pembukaan lahan besar-besaran di hutan sampai menimbulkan kurangnya lahan hutan.” seru Bhanu masih mendominasi dengan sesekali menatap balik Yura. Ah, cewek itu ternyata belum mengalihkan pandangannya dari Bhanu. Membuatnya menggaruk dagu kikuk seraya bibirnya memuntahkan kata-kata dari rekaman suara buku bacaannya waktu itu.
“Kalo mama gue pernah cerita tuh, beberapa hutan itu bisa dibakar secara sengaja. Terus, kalo udah kebakaran baru deh mereka masuk berdalih ingin memulihkan hutan yang gundul dan terbakar dengan membuat perkebunan di lahan itu.”
“Ihhhh, jahat banget.”
“Yah, gitulah kecurangannya. Sukanya KKN.”
“Tapi, Nu. Gimana caranya kita bisa stop mereka sedangkan kita sendiri masih mengonsumsi produk-produk itu. Nggak mungkin dong diboikot?”
“Pemboikotan produk untuk diri sendiri? Terserah, tapi lo mau memboikot produk yang sangat-sangat penting untuk kebutuhan lo sendiri emang bisa? Logikanya sih mana mungkin lo goreng ikan pakai minyak wijen atau olive oil ketika lo mau goreng kering ikan itu? Nggak, kan? Kalo mau memboikot juga harus skala besar. Masalahnya, masyarakat lebih banyak acuh, Ra.”
“Hmm, nyebelin juga.”
“Itulah gue bilang bahwa hasrat manusia sebenarnya pasar paling menggiurkan untuk dikapitalisasi. Selama bisa memenuhi kebutuhan masyarakat sebagian besar, pasti perusahaan itu semakin punya kekuatan untuk memegang kendali pasar. Memegang kendali harga dan pasokan barangnya. Yah, namanya juga kapitalis. Selalu bisa memegang kendali untuk mendapat keuntungan.”
“Serem juga, lo belajar kok bisa sampai segitunya, Nu?”
“Penasaran dan denger doang, jangan ngeledek gue dong. Gue kalo disuruh baca kadang suka pusing tau, Ra.” Bhanu tertawa lirih diikuti oleh Yura. “Manusia itu si perusak, tapi manusia juga yang menjadi penyembuh alam. Gue pernah dengan ada gerakan pelindung hewan, yang mana mereka menjadi seorang vegetarian dan sukanya menyerang restoran yang memakai produk hewani kayak McD dan KFC, tapi ini di luar negeri.”
“Loh, kenapa?”
“Ya, karena menurut mereka memakan hewan-hewan itu salah satu bentuk pembunuhan yang membuat alam menjadi tidak seimbang. Mereka mengatakan bahwa peternakan adalah sebuah tindakan yang sangat tidak menghargai hewan sebagai penghuni alam juga. Mereka dibesarkan, dipaksa makan, lalu disembelih untuk dikonsumsi manusia.”
“T-tapi, kan manusia juga butuh protein.”
“Gue juga nggak paham sama pergerakan mereka. Makanya, mereka itu hanya makan sayur-sayuran aja sepanjang hidupnya.”
“Ckck. Banyak juga yang belum gue ketahui. Sekompleks itu yah.”
“Iya, semua ilmu itu komplek. Kita nggak akan belajar matematika doang. Pasti ada kesinambungan satu sama lain.”
“Iya, gue juga pernah baca tentang bagaimana sebuah dongeng itu memrepresentasikan kondisi budaya masyarakat pada era itu. Lo pernah dengar cerita dongeng-dongeng klasik, Nu? Kayak, Alice in Wonderland atau Gadis tudung merah? Atau buku-buku Jane Austen, William Shakespare, Victor Hugo.”
“Pernah dengar, tapi gue nggak pernah paham ceritanya. Dulu gue lebih suka nonton ketimbang liat buku. Haha.”
“Ya gitu deh pokoknya, baca buku-buku tua itu rasanya kayak lo dibawa ke jaman itu. Dipaksa memahami pola pikirnya yang bikin gue ikut gregetan sih. Kenapa orang dulu kayak begitu yah? Haha. Aneh banget gue pertanyaannya, karena dengan sangat jelas jaman gue itu berbeda sama mereka.” Kata Yura. “Berarti, energi dan bahan alternative itu belum bisa fungsi, Nu?”
“Nggak tahu, tergantung masyarakat lagi mau mengonsumsi apa. Cara mainnya tuh cuma melihat, manusia lagi butuh apa. Udah, gitu aja, Ra.”
“Ohhhh gitu.” Sahutnya. “Lo pinter, Nu. Kenapa nggak ikut lomba debat aja.”
Bhanu yang sedang meminum minumannya langsung menyemburkan. Tersedak sampai terbatuk-batuk. Ih, lomba debat? Siapa mau bikin materi buat gue, kalo nyari sendiri sih ogah, batinnya.