part 9

827 Words
Tepuk tangan dan sorakan beriringan bergema di aula, malam ini semua terlihat begitu berbeda. Bagaimana tidak? Mereka terlihat begitu rapih dan berkelas dengan setelan jas dan juga dress. Beberapa tatap mata tampak melirik dan memandangku, walau sudah terbiasa tetapi tetap saja aku selalu merasa malu. Tiba-tiba saja, galang menggenggam tanganku erat. "kau hanya boleh menatap dan memandangiku, tidak dengan yang lain" ucap galang. "baiklah tuan posesif" jawabku. Lalu aku tersenyum memandangnya, begitu tampan dan terlihat sempurna lelaki yang ku miliki ini. Tidak pernah sekalipun ia macam-macam dan bermain api dengan para wanita yang selalu menggodanya, aku selalu bersyukur akan segalanya. "sayang aku mau ke toilet" ucap galang. "apa aku harus ikut?" tanyaku. "terserah" jawabnya. "sepertinya aku disini saja, daripada nanti kamu khilaf dan dandanan aku jadi berantakan" ucapku. "hm baiklah" jawabnya tersenyum. Aku paham betul saat sedang berdua dengannya, ia sangat tidak bisa menjaga nafsunya denganku. Maka dari itu, bahaya jika aku ikut dengannya .Kemudian ia menyentuh bokongku sekilas lalu pergi, dasar m***m. Penghujung acara, tiba-tiba lampu menjadi gelap dan bergantikan dengan lampu disko. Kami semua dibuat terkejut, memakai dress code elegan harus menari dengan musik keras? Baiklah, sepertinya tidak begitu buruk. Aku tersenyum menatap sebagian siswa ikut ketengah aula dan menari, penuh kebebasan dan terlihat begitu menikmati,sepertinya para panitia berhasil menciptakan acara promnight ini. "hei! Caa ikut yuk" ajak dinda tiba-tiba. "ngga ah" jawabku. 'ingin sebenarnya ingin, hanya saja selama berpacaran dengan galang, kalau ingin melakukan segala sesuatu aku kan harus meminta ijin galang' batinku. "daripada sendirian disini, udah ayukk" ucap dinda yang berhasil menarikku dan kini berada ditengah aula, diantara mereka yang sedang menari dengan lampu disko yang sedikit kabur. Aku mulai menari, tubuhku seperti bergerak bebas dengan sendirinya. Aku menyukai ini, seperti terasa lepas dan aku semakin meliukkan tubuhku. Sama halnya dengan dinda, ia terlihat begitu menikmatinya. Seperti ada sesuatu yang mengeras menyentuh bokongku, refleks aku menoleh ke belakang dan menatap matanya yang menatapku tajam dan dingin. Sepertinya saat sedang asik menari, tidak sadar aku menyentuh sesuatu yang keras itu, yang tak lain adalah milik galang dan berdiri menatapku tajam. Aku membeku, dan ia menarik tanganku pergi dari keramaian. "sayang sakit" ucapku, kami berhenti dilorong yang sedikit gelap. "apa aku mengizinkan kamu buat menari?" tanya galang. "maaf, aku salah" jawabku. "apa aku mengizinkan kamu buat menari marsyaa?! Jawab!" bentak galang. "engga, aku minta maaf" jawabku merasa bersalah. "terus kenapa kamu disana?!" tanya galang. "aku ditarik dinda, aku udah nolak" jawabku. "terus kamu diem aja gitu gada pembelaan? Semua cowo liatin kamu! Aku gasuka kamu jadi bahan tontonan marsya, aku gasuka yang milik aku jadi bahan nafsu lelaki lain" ucap galang. "maaf, aku minta maaf" ya, aku hanya bisa mengucapkan kalimat itu. Kemudian aku memeluknya, tubuhnya yang tadinya tegang kini menjadi rileks. "jangan seperti itu lagi" ucapnya. Aku menganggukkan kepalaku dalam peluknya. "andai tadi yang tersentuh milik orang lain gimana? Dan ternyata aku gada dan kamu-" "sayang, udah jangan dibahas. Aku minta maaf, lagian untungnya orang itu kamu kan?" jawabku, aku menatapnya dan menciumnya sekilas. "aku menginginkan lebih" ucap galang. "hm mulai deh mesumnya" jawabku. Galang menarikku masuk ke dalam sebuah ruangan yang tak kalah gelapnya seperti dilorong, ia membuatku tersandar didinding dan mengunciku dengan kedua tangannya. Matanya menatapku lekat dan mulai menggelap. Cup! Bibir itu menyentuh bibirku, perlahan namun pasti, ia membuat tempo yang halus dan penuh rasa, pelan.. sangat pelan.. galang menjilat dan menghisap bibir bawahku, ia tarik lalu ia lepas, berulang-ulang. Aku menikmati ciumannya, ini sungguh nikmat, lalu temponya semakin cepat dan penuh nafsu, galang melahap bibirku habis seperti tidak ada hari esok. Aku mendesah pasrah akan permainannya. Tangan nakalnya pun mulai beraksi, dapat kurasakan ia menekan bokongku. Aku yang mengenakan mini dress diatas lutut tidak sadar akan keadaan dress ku kini sudah terangkat dan bahkan aku sudah berada digendongannya, dan kaki ini telah melingkar dipinggangnya. Ciuman kami masih saling bertautan dan menuntut, galang menurunkanku dari gendongannya dan menyenderkanku didinding, ciuman kami tak lepas namun tangannya sudah leluasa untuk mengelus kepunyaanku dibawah sana. Tangan yang satunya lagi telah lebih dulu mengelus dan meremas gundukan yang pas berada ditangannya. "Aaaahhh... " desahku Galang tak henti-hentinya untuk melakukan aksinya, tangan yang telah mengelus kepunyaanku kini beralih masuk ke dalam mini dress ku, ia mencari dan memutuskan tali kaitan bra ku. Galang melepas ciumannya, nafas kami saling memburu. Galang menciumku sekilas dan turun ke leherku, ia menciuminya dan meninggalkan tanda kepemilikannya tepat diarea payudaraku, sedangkan tangannya masih setia untuk meremas gundukan itu. Oh god! Ini begitu nikmat rasanya. Bibir galang semakin lama semakin jatuh mendekati kedua gundukan yang ia mainkan sedari tadi, dan.. Hap! Dress ku kini terjatuh kebawah menyisahkan tubuhku dan pakaian dalamku, bra yang tadi dibuka oleh galang kini menunjukan dua gundukan yang terlihat begitu jelas. Tidak butuh waktu lama galang menghisap putingku, dengan lahap namun pasti. Ya, ini memberiku sensai yang luar biasa. "Ohhh.... Galang ummhhh" "ahhhh..... " aku hanya bisa mendesah. Galang begitu liar dan nakal, tangannya kini mulai setia dibawah sana, jari-jarinya mulai menari didepan celana dalamku dan aku menikmatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD