suara ayam berkokok mulai berbunyi di mana ini merupakan hari terakhir Ria dan juga keluarganya berada di sini sementara besok mereka harus meninggalkan kenangan kenangan indah dan juga orang-orang yang telah mereka anggap seperti keluarga mereka sendiri.
Lili mulai menggandeng tangan Ria untuk beranjak dari tempat tidurnya Lily ingin mengajak Lia menghabiskan waktu sesuai dengan janji yang telah Ria berikan kepada Lili Dimana mereka akan memutar sawah yang ada di sekeliling mereka.
Mereka pun pergi dan mengelilingi sawah di mana udara di pagi itu begitu menghiasi tubuh mereka dan pemandangan sungai yang mengalir dengan deras membuat pria semakin takjub dan tidak bisa rela meninggalkan kampung nan indah tersebut.
Ria dan Lily terus saja berjalan kaki memutari Kampung tersebut dan lily tiba-tiba menghentikan langkah kakinya hingga membuat Ria semakin kebingungan. Ria pun bertanya kepada Lily Mengapa dirinya berhenti Dan Lily pun menarik tangan Ria untuk bersembunyi di balik tingginya tebu yang ada di sawah tersebut dan Ria pun bertanya kepada Lili mengapa mereka harus bersembunyi dan Lily mengangkat jari telunjuknya ke arah bibirnya dan dirinya berbisik kepada Ria bahwasanya ada Rio di depan mereka berdua, dan seketika Ria pun terkejut setelah melihat Rio ada di depan mereka.
"Tadi kayaknya aku melihat anak kota itu deh, terus kemana ya dia?" ujar Rio dengan melihat sekelilingnya
melihat hal itu Ria dan Lili pun merasa ketakutan dan menundukkan kepala mereka hingga mereka berpikir jika diri mereka tidak kelihatan oleh kedua mata Rio.
"Aduh bagaimana ini Li? aku merasa takut banget dengan Rio," bisik Ria
"Kakak tenang saja, ayah pasti akan segera pergi kok dari sini. Dan dirinya tak akan bisa menemukan kita." ujar Lily dengan meyakinkan Ria
mendengar ucapan dari Lily Ria pun mengangguk dengan pelan dan dirinya berharap ucapan dari Lily itu nyata jika Rio tidak akan menemukan mereka berdua sehingga mereka bisa pergi dari sana dengan aman.
Karena tak melihat siapa-siapa, Rio pun pergi meninggalkan mereka berdua. Hingga akhirnya seorang bapak-bapak mulai menghampiri Lily dan juga Ria.
"Siapa kamu? kenapa kamu ada di sini? emang kamu pikir ini mainan? kan bisa rusak tanaman saya kalau kamu buat main-main." teriak bapak tersebut ke Ria
Ria pun terkejut mendengar ocehan dari bapak tersebut. Karena begitu keras, Rio pun mulai berbalik badan dan melihat ada Ria di sana yang sedang dimarahi oleh pemilik tanaman tebu tersebut. Rio pun segera menghampiri mereka berdua.
"Maaf ya pak," ujar Ria dengan mengangkat kedua tangannya memohon kepada bapak tersebut karena dirinya telah merusak tanaman milik bapak tersebut
"Permisi pak, maafin anak saya ya yah. Kebetulan tadi dia lagi main kejar-kejaran gitu sama saya, karena takut tertangkap dia akhirnya bersembunyi ke sini." ujar Rio
Mendengar hal itu Ria pun terkejut mendengar pernyataan Rio yang mengaku jika dirinya merupakan anak dari Rio, karena takut Ria pun pergi dari sana namun kepergiannya dihentikan oleh Rio. tangannya keburu di cegah oleh Rio.
"Kamu mau kemana lagi sih nak? ayah sudah capek tahu main lari-larian lagi sama kamu. emang kamu nggak kasihan apa dengan ayah?" tanya Rio kepada Ria
"Apaan sih om. Saya tuh bukan anak dari om. Pak tolongin dong! dia ini penjahat. Bahkan saya tidak kenal dengan Dia." pekik Ria
"Maaf ya pak, anak saya emang suka gitu. Suka drama gitu. Soalnya kan dia besok ada pentas drama. Jadi ya gini, memaksimalkan tampilan buat besok." ujar Rio dengan menarik tangan Ria meninggalkan bapak tersebut
beberapa kali ia meminta tolong agar Bapak tersebut bisa membantunya, namun Bapak tersebut tidak memperdulikan dirinya bahkan tidak menolong dirinya, dia malah lebih fokus ke tanamannya padahal tanamannya tersebut tidak ada yang rusak maupun roboh.
Ria berusaha mencoba melepaskan tangannya dari gengaman Rio yang begitu kuat, sementara Lili berusaha untuk membantu Ria karena dirinya tak mau jika Ria disakiti oleh Rio Lily mencoba untuk menggigit tangan Rio karena merasa kesakitan Rio pun melepaskan tangan Ria untuk mengambil kesempatan Ria segera pergi dari sana. Dirinya pergi meninggalkan Rio dengan berlari sekencang mungkin ke arah rumah nenek dan kakek.
Sampai di depan rumah nenek dan kakek Ria berteriak sekencang mungkin memanggil kedua orang tuanya agar menolong dirinya dari Rio yang terus mengejar.
"Ayah, mamah. Tolong!" teriak Ria
mendengar teriakan Ria yang begitu keras membuat semua orang semakin khawatir dengan keadaan Ria dan mereka pun berbondong-bondong pergi ke depan rumah di sana. Mereka melihat Ria yang sudah di bekap oleh Rio
"Lepasin anak saya!" ujar Hendri
"Apa? ngelepasin? tidak semudah itu, mudah banget minta buat ngelepasin. Kalau anda ingin anak ini lepas ada syaratnya." ujar Rio
Mendengar hal itu Hendri pun menanyakan apa syarat yang di maksud oleh Rio agar dirinya mau melepaskan kan anaknya tersebut.
Mendengar pertanyaan dari Hendri, Rio pun tersenyum tipis..Dirinya ingin imbalan jika Santi mau ikut bersamanya dengan begitu dirinya akan melepaskan Ria.
Mendengar hal itu Hendri semakin bingung untuk memutuskan pasalnya kedua orang tersebut adalah orang terdekatnya. Hendri pun pergi menghampiri Rio dan berusaha untuk mengambil Ria dari tangan Rio pasalnya dirinya tak mau jika anaknya tersebut kenapa-napa setelah Ria terlepas dari pelukan Rio Ria pun segera berlari ke arah Cindy dan memeluk ibunya tersebut.
Hendri tidak seperti biasa, kini Rio jauh lebih kuat kekuatannya daripada Hendri. Hingga tubuh Hendri terbujur lemas dengan penuh darah di wajahnya, melihat Hal itu membuat Hendri semakin sedih dan ia mencoba untuk membantu Hendri dengan melukai ayahnya sehingga ketika tubuh Rio terpental kunci hidungnya ada sebuah darah yang mengalir.
merasa tidak terima, Rio mencoba untuk menantang Lily dengan ingin Lily menunjukkan Wajah aslinya dihadapan Rio.
mendengar ucapan Rio, Lili pun menunjukkan wajahnya kepada Rio tersebut, dengan begitu sekarang Rio bisa melihat wajah asli Lily yang penuh dengan murka ke arahnya.
"Aku ini ayah kamu Li, kenapa kamu malah membantu orang yang bukan siapa-siapa kamu? apa kamu sudah nggak waras?" teriak Rio
"Aku waras, Pak Hendri memang bukan siapa-siapa aku. Tapi dirinya jauh lebih baik dari pada Ayah." ujar Lily
"Siapa yang telah mengajari kamu seperti ini hah? Lily anak ayah tidak lah begini."
"Ayah bertanya siapa yang buat Lily seperti ini? Lily seperti ini karena Ayah. Lily tidak bisa terima dengan sifat ayah." teriak Lily dalam isaknya
"Apa kamu bilang? kamu berani sama ayah? kamu berani melawan ayah sekarang?" ujar Rio dengan mendekati Lily