Mereka telah sampai di restoran yang mereka tuju. Keduanya berjalan beriringan dengan tangan Embun yang digenggam erat oleh Gavin. Mereka di arahkan oleh pelayan untuk masuk ke dalam ruangan dimana sudah banyak orang berkumpul dengan meja makan yang hampir penuh. Hanya tersisa satu bangku kosong. Sehingga Gavin membisikkan kepada pelayan itu untuk menambahkan kursi dan peralatan makan.
Keysa, Ibu Gavin, menatap anaknya dengan tatapan tajam. Ia sudah tidak sabar untuk memberondong Gavin dengan berbagai pertanyaan, tapi wanita paruh baya itu menunggu Gavin mendekat. Gavin yang masih menunggu kursi disiapkan, memilih berdiri dengan memegang pundak Embun dan tersenyum kepada seluruh anggota keluarganya seolah abai dengan tatapan keluarganya yang mengintimidasi laki-laki itu.
Diantara keluarga itu, ada Luisa yang menatap kearah Embun dari atas kebawah. Seolah menyiratkan keterkejutannya tapi dengan raut wajah meremehkan. Menyadari ditatap sedemikian rupa oleh Luisa, Embun enggan menunjukkan rasa terintimidasinya. Ia menatap percaya diri kearah keluarga Gavin. Menunjukkan senyuman terbaiknya agar tetap tenang.
Tenang aja Mbun, Chill.. Tapi ini sumpah serem banget! Apa ada yang salah sama penampilan gue? Apa ada yang kurang? Embun menyembunyikan kepanikannya dengan tetap tersenyum.
“Ngapain bawa dia?!” Freya berkata dengan agak berteriak.
Gavin dan Embun menoleh kearah Freya bersamaan.
Dia beneran anak itu? jadi yang gue denger di telpon beneran dia? Ngapain ada disini? Badan Embun menegang. Perasaan cemas yang sekian lama tidak pernah menyergap tiba-tiba hadir kembali. Ia mencoba mengendalikan dirinya. Beruntung banyak orang disana.
Gavin sendiri tidak mau ambil pusing atas adiknya yang memang selalu merajuk.
“Kenalin ini Embun Bening, Pacar Gavin,” ucap Gavin sambil menepuk pundak Embun.
Embun hanya menanggapi dengan senyuman tipis. Tubuhnya sudah sangat tegang.
Keluarganya bergeming, Freya dengan tatapan marahnya dan Luisa yang sedang mengernyit kebingungan. Kedua orangtua Gavin yang memijat kepalanya, sedangkan di sisi lain Om dan Tante Gavin yang hanya melongo, namun ada tatapan hangat dari kakek dan neneknya serta senyuman merekah kedua orang lanjut usia tersebut.
Gavin menuntun Embun menghampiri Kakek dan Nenek Gavin, Embun mencium punggung tangan keduanya.
“Ini Uti dan Akung aku.”
“Kamu cantik sekali Nak,” ucap Nenek Gavin.
“Terima kasih,” ucap Embun singkat dengan senyuman. Dia tidak bisa banyak merespon. Tubuhnya sendiri sepertinya menegang sedang kalut.
Mereka beranjak ke sebelahnya, “Kalo yang ini Om sama Tante aku, Mama Papanya Luisa.”
Embun mencium punggung tangan kedua orang tua Luisa. Ayah Luisa terlihat tersenyum ramah, sedangkan Ibu Luisa sudah memasang muka kurang bersahabat. Namun, wanita itu tetap memperlihatkan senyumnya. Walaupun lebih terlihat seperti seringai.
“Karena Mama Papanya Luisa itu Om dan Tante aku. Jadi kamu jangan cemburu lagi ya sama Luisa, dia sepupu aku,” ucap Gavin sumringah dengan belaian di pundaknya.
Luisa hanya tersenyum tipis kearah Embun dan dibalas dengan anggukan oleh Embun.
“Jadi tadi dari kantor, kalian mampir Butik Tante Tyas,” ucap Luisa pada keduanya.
Jadi dia kenal Mama? Batin Embun. Ia memasang senyuman manis ambil mengangguk.
“Iya dong! Dan..” Embun meremas tangan Gavin yang dibalas dengan tatapan ke arah Embun. Embun menggelengkan kepalanya pelan seolah tahu bahwa Gavin akan menjelaskan Bahwa Embun anak dari Tyas Mayasari. Embun tidak ingin identitasnya di buka dalam keluarga Gavin malam ini. Sepertinya akan sangat mengejutkan. Ia belum siap menjelaskan apapun.
Perasaannya masih campur aduk karena pertemuannya dengan Freya. Embun jadi memandangi Freya saat itu juga. Freya masih dengan raut muka ketusnya dan tidak menatap ke arahnya.
“Dan apa?” Luisa gemas menunggu kelanjutannya.
“Dan ya.. Look, she is stunning this night! By the way, how do you know, we just go to that place?” ucap Gavin.
“Gue punya baju dengan material yang sama. Gue rasa cuma ada di Butik Tante Tyas.”
“You're being really strict, Kak Lui,” ucap Gavin lirih.
“I can hear you!” Luisa mengucapkannya dengan nada lagu serial kartun spon kuning.
Gavin terkekeh dan beranjak ke samping Freya yang sedari tadi sudah tidak bersahabat.
“Nah ini tukang marah-marah. Namanya Freya Adnan. Dah gitu aja! Dia emang suka marah-marah, jadi gak usah banyak ditanggepin.”
Freya malas menanggapi dan tidak mau melihat ke arah keduanya. Amarah Freya ada di ubun-ubun. Sedang Embun juga memasang muka bingung. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan Freya.
“Hai..”
Freya tidak menanggapi dan hanya meminum air mineral digelasnya.
“Nih anak emang sombong, tapi tenang aja. Aslinya manja!” ucap Gavin memberi pengertian kepada Embun atas sikap cuek Freya. Gavin menuntun Embun ke arah Mama dan Papanya.
“Nah yang terakhir ini Mama dan Papaku.”
Embun kembali mencium punggung tangan keduanya dan tersenyum.
“Ayo duduk,” ucap Barry, ayah Gavin ramah.
Setelah duduk, Embun memberanikan diri untuk bersuara.
“Maaf, saya jadi mengganggu kegiatan makan malam anda sekalian.”
“Gak apa-apa kok, biasanya juga kalo pacar Luisa lagi kosong, mereka ikut makan juga. Iya kan Uti, Akung?” ucap Gavin sambil mengambil potongan kentang dihadapannya.
“Hahaha, Gavin suka usil Nak. Maafin dia ya, kalo misal suka seenaknya sama kamu,” ucap Akung Gavin yang hanya dibalas senyuman dan anggukan oleh Embun..
“Freya ijin ke toilet!” ucap Freya dingin dan segera berlalu.
“Kenapa sih dia Ma?” tanya Gavin penasaran karena rasanya Freya sangat marah.
Keysa hanya mengedikkan bahu. Ia sepertinya acuh dengan keadaan yang terjadi. Ia berpikir anaknya memang susah akrab dengan orang lain. Apalagi wanita-wanita yang dekat dengan Gavin. Jelas saja, biasanya wanita-wanita Gavin tidak terlibat sejauh ini.
“Tinggal dimana Embun?” tanya Ibu Luisa.
“Di Jakarta Barat Tante,” balas Embun.
“Kerja apa?”
“Dia kerja di tempat Luisa, Ma. Staf Luisa,” Luisa menjawab sambil memakan makanan yang ada di piringnya.
“Oh..” balas Ibu Luisa.
Embun hanya tersenyum kecut melihat interaksi mereka.
Luisa sendiri menatap heran pada Embun. Kenapa semua barang yang dipakai oleh Embun sangat mahal. Ia memang tahu selama ini Embun berpakaian sangat sederhana di kantor. Walaupun sederhana yang dimaksud adalah standar brand menengah seperti merek Zara, Mango, dan Marc Jacob.
Dia berpikir bahwa brand-brand itu dipakai karena memang sebagai pegawai HRD harus menjaga penampilan karena sebagai representasi perwakilan kantor saat melakukan perekrutan. Namun, hari ini dia merasa terkejut saat seluruh barang yang dipakai adalah barang mewah dengan penampilannya yang memang terlihat cantik. Apa semua ini ulah sepupunya yang mendandaninya agar terlihat mahal? Tapi terlihat berlebihan. Tentu bukan penampilannya, tapi harga dari semua barang yang dikenakan.
Keluarga Gavin tidak percaya semua barang-barang yang dikenakan Embun itu hasil ia bekerja. Apalagi dengan jabatan saat ini. Mereka juga ingat sangat loyalnya seorang Gavin untuk mentraktir pacar-pacarnya. Itu membuatnya sering dimanfaatkan oleh perempuan dan membuat mamanya atau tantenya murka karena banyak wanita yang hanya memanfaatkannya saja.
“Terus gimana ceritanya bisa saling kenal?” Ibu dari Luisa kembali bertanya.
Luisa yang terlalu kaget menjadi tersedak, sehingga semua mengalihkan pandangannya ke Luisa. Luisa jadi salah tingkah.
“Sering ketemu aja, kalo ngampirin Luisa ke Kantor,” ucap Gavin datar.
Embun melirik kearah Gavin dengan sorot bertanya.
Drama apalagi nih? kok Gavin gak cerita aja kalo dia ngelamar di kantor gue, tapi emang aneh sih kalo dia kerja ditempat sepupunya pake ngelamar segala? Atau dia mau jalur bersih?
Tiba-tiba ponsel Barry berbunyi, membuat semua makan dalam mode tenang.
Gavin mengambil tangan Embun sambil mengusapnya pelan dengan ibu jari dan menatap ke arah mata Embun dengan binar menenangkan.
“Gavin, habis ini temani Papi buat ketemu rekan Papi ya. Papi mau tarik dia buat ikut di perusahaan konsultan Papi. Papi pengen dia jadi mentor biar bisa ngajarin anak-anak baru di kantor kita,” ucap Barry.
Embun jelas mendengar bahwa ada kata 'Perusahaan konsultan Papi dan kantor kita' didalam ucapan Barry. Seketika itu ia menghentikan aktivitasnya dan memandang Gavin dengan lekat.
Gavin melihat raut muka Embun sudah berubah menjadi bertanya-tanya. Embun tentu tidak pernah tahu sampai dengan sekarang bahwa perusahaan konsultan yang dia ceritakan adalah milik Papinya. Gavin tidak bohong soal menjadi karyawan, bagaimanapun perusahaan itu akan selalu menjadi perusahaan Papinya dan dia hanya karyawan yang digaji untuk menjalankan perusahaan itu.
Setelah Embun yang memberikan kejutan tentang siapa orang tuanya sebenarnya, kini giliran Embun yang dibuat terkejut dengan kenyataan tentang keluarga Gavin. Keduanya kini tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Embun bertanya-tanya tentang alasan Gavin melamar diperusahaannya dengan posisi yang receh buatnya sedangkan posisinya, dia sendiri adalah pemilik perusahaan. Gavin sendiri berpikir bagaimana ia akan menjelaskan keadaan ini kepada Embun.
Saat tengah asyik dengan pikiran mereka masing-masing. Suara Papa Luisa, menjeda keheningan itu.
“Emang mau ketemu siapa Bar?” tanya Papa Luisa.
“Awan Rahmat, dia..”
“Pfffftttssh….” Embun dan Gavin yang terkejut hampir saja menyemburkan minuman yang ada dimulut mereka.
Semua orang menatap Embun dan Gavin heran melihat tingkah laku mereka.
-***-