Acara makan malam berjalan dengan beberapa perbincangan keluarga. Embun tidak banyak ikut menanggapi. Hanya sesekali ia tersenyum karena memang tidak ada obrolan yang melibatkannya. Setelah acara makan selesai, Barry bersiap segera menemui Awan di Bar yang terletak di rooftop restaurant.
Suasana yang hening membuat semua orang menatap Luisa ketika tiba-tiba ponsel Luisa berbunyi. Ia menatap cukup lama nama di ponselnya dan dahinya mengernyit.
“Dek, Lo dimana?” nada Luisa panik. Ia baru menyadari semenjak tadi Freya tidak kembali ke ruangan itu untuk ikut makan bersama.
“…”
“Baik, terima kasih sebelumnya. Maaf merepotkan anda. Saya akan kesana sekarang,” Luisa mematikan sambungan telepon dan langsung mengambil tas tangannya.
“Freya di Bar, Tante! Luisa susulin dulu. Semuanya, Luisa permisi dulu,” ucap Luisa dengan tergopoh.
“Mabok lagi tuh anak! Heran!" ucap Barry dengan santai lalu meneguk air mineral di hadapannya. "Yaudah aku sama Gavin duluan ya, kolegaku sudah datang. Mas sama Mbak pulang sama ayah, ibu kan?” ucap Barry kepada orangtua Luisa.
“Iya, Aku duluan ya,” ucap Papa Luisa sambil merengkuh Barry dan Keysa.
“Maaf ya Mbak, Mas. Nanti Biar Luisa balik sama sopirku,” ucap Keysa.
“Iya, Gak apa-apa. Kita duluan ya.”
Mereka saling berpelukan dan mencium tangan. Embun pun mengikuti untuk mencium punggung tangan mereka satu-persatu.
Setelahnya, Barry dan Keysa berjalan beriringan dengan Gavin dan Embun menuju lift.
“Mami sama Papi kamu gak marah tau Freya Mabuk?” Embun berbisik lirih.
Gavin mengedikkan bahu. “Mungkin mereka udah lelah sama tabiatnya bocah itu. Bebal banget kalo dibilangin. Kata Papi selama bisa dilacak berarti aman. Papi selalu awasin pake bodyguard di sekeliling Freya”
Embun hanya manggut-manggut. Gavin merengkuh pundak Embun. Ia membelai pundaknya dengan pelan dan tatapan kosong kedepan. Sebenarnya Gavin cukup memikirkan sikap Freya yang lumayan ketus saat mengenalkan Embun. Ia merasa aneh, tapi tidak mengerti apa yang salah dengan perkenalan Embun hari ini.
Belum lagi melihat tatapan matanya yang panik dan tangannya yang tidak berhenti bergetar. Sepertinya gejala serangan paniknya kambuh. Tapi, bagaimana bisa? Sudah agak lama Freya tidak terlihat menunjukkan gejala kecemasan. Walaupun sikapnya selalu meledak-ledak, tentu saja ini tidak sama dengan sifat tempramental yang biasa dia tunjukkan.
Di sisi lain, banyak pertanyaan di dalam kepala Embun. Apa saja yang disembunyikan oleh Gavin? Apa saja rencananya? Kenapa orang tuanya dan keluarganya tidak begitu ramah? dan bagaimana bisa ada Freya? Dari sekian banyak Pria, kenapa hatinya luluh oleh Kakak Freya? Bagaimana keadaanya? Apa dia sehat? Apakah Freya masih menaruh kebencian kepadanya atas masa lalu mereka?
Freya! Adik semata wayang Gavin yang sebenarnya tidak pernah disangka oleh Embun, bahwa akan ada hari dimana mereka akan kembali bertemu.
Belaian tangan Gavin dipundaknya membuatnya sedikit tenang. Mengenyahkan berbagai macam ingatan dan pikiran yang berseliweran didalam otaknya.
Mereka telah sampai di rooftop bar restaurant itu dan teralihkan dengan suara teriakan seorang wanita. Keluarga Gavin menoleh karena mengenali suara itu. Badan Embun mulai gelisah. Ia ingin berlari, tapi mencoba mengontrol pikirannya. Serangan panik yang sudah lama tidak dia rasakan, kembali muncul. Gavin bukan tidak mengerti bahwa Embun gelisah, tapi ia mencoba untuk mengabaikannya. Gavin mengeratkan pelukannya dan hanya menatap Freya dari jauh.
“Kenapa Kak?! Kenapa setelah sekian lama wanita itu muncul lagi?! Kenapa setelah laki-laki b******k itu muncul, sekarang giliran wanita itu muncul?! Hidup Gue rasanya cuma berputar disini-sini aja! Gue capek!” teriak Freya kehadapan Luisa.
“Sssttss… Yuk, pulang dulu!” Bujuk Luisa sambil merengkuh dan menuntun Freya karena jalannya sempoyongan.
“Mami bareng Luisa aja ya pulangnya, Pi Pasti kesusahan kalo Luisa bawa Freya sendiri,” ucap Keysa menatap suaminya.
“Oke! Hati-hati, Sayang! Maaf ya.. aku gak bisa ikut kamu pulang duluan malam ini.” Barry membelai pundak istrinya dan mencium pucuk kepala istrinya.
“Gak apa, Pi. Take your time. Maaf, Embun. Tante harus balik dulu.”
“I-Iya, Tante! Hati-hati” Embun langsung menggapai tangan Keysa dan mencium tangannya.
Pikiran embun sedang bercabang kemana-mana. Embun bahkan sudah lupa bahwa kedatangannya ke rooftop bar adalah untuk bertemu Papanya yang ada janji dengan Papi Gavin untuk membahas bisnis. Karena sedari tadi direngkuh oleh Gavin, Embun tidak sadar bahwa di depannya sudah ada Papa dan Mamanya.
“Tante!” Gavin menyambut uluran tangan Tyas dan menciumnya tapi tidak melepaskan rengkuhan tangannya sebelah kiri.
Tyas tersenyum membalas uluran tangan Gavin sambil membelai rambut Gavin.
Tentu saja Awan dan Barry heran dengan peristiwa yang terjadi, mereka saling pandang dan berakhir saling bersalaman dengan tersenyum.
“Apa kabar Pak Awan?”
“Baik, Pak Barry.”
Tyas tersenyum sambil mengulurkan tangan kearah Barry.
“Selamat malam, Pak Adnan.”
“Selamat malam, Bu Rahmat. Istri saya selalu mengagumi karya-karya anda. Padahal sudah ingin ikut. Tapi seperti biasa, Freya berulah. Anda pasti tahu!” Barry menjelaskan keadaan sebenarnya yang dijawab dengan anggukan oleh Tyas.
“Nak, kenapa?” Tyas membenarkan beberapa anak rambut dan membelai pipi putrinya.
Embun tersentak dari lamunannya, bahkan Gavin disebelahnya baru menyadari dari tadi bahwa Embun tidak fokus dan matanya kosong.
“Maa..?” Embun menatap mamanya dengan mata sendu. Ia menahan agar tidak terlihat berkaca-kaca karena ada papanya yang akan siap memberondong pertanyaan ke arah Gavin, bukan kepadanya.
“Sayang, apa kamu kurang enak badan?” ucap pak Awan dengan raut muka khawatir.
“Nggak, Pa. Gavin jagain aku dengan baik. Nih, buktinya dia kasih aku jasnya!” sejujurnya Embun juga bingung kapan jas ini berada di pundaknya. Pikirannya benar-benar kosong hingga tidak menyadari apa yang dilakukan Gavin.
Barry terkejut bahwa gadis yang dibawa oleh putranya adalah anak rekan bisnisnya.
“Haduh, kayaknya saya ketinggalan banyak berita nih, kita duduk dulu mungkin sambil ngobrol,” Barry berkata sambil merengkuh pundak Awan dan berjalan menuju tempat yang telah direservasi.
Tyas berjalan disamping suaminya dan mengeratkan jas yang memang dipakai untuk melengkapi penampilannya malam ini.
“Kamu gak apa-apa?” Gavin membelai pipi Embun dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya tetap merengkuh pundak Embun agar tetap hangat karena suasana diatas sana yang berangin.
“I’m okay, Vin!” Embun menatap mata laki-laki itu sambil tersenyum.
“Sorry, buat banyak kejadian yang terjadi seharian ini. Kamu pasti lelah banget.”
“It's, okay! Pokoknya kamu harus inget aja kalo kamu punya banyak utang penjelasan sama aku,” kata Embun sambil mencebik dan menyentuh hidung gavin. ia mencoba menetralkan suasana hatinya sendiri dengan menggoda Gavin.
“Siap, cantik!” Gavin berkata sambil tersenyum manis.
Mereka akhirnya bercengkrama bersama dan membahas banyak hal tentang keluarga daripada bisnis yang akan dijalani. Pertemuan hari itu ditutup dengan perebutan siapa yang akan membawa Embun pulang dengan tingkah jenaka Awan dan Gavin yang mengundang tawa.
Gavin merasa yang meminta ijin mengajak Embun pergi ke acara hari ini adalah dirinya, maka dirinya bertanggungjawab untuk mengantarnya pulang dan pak Awan bersikukuh untuk membawa anaknya, agar Gavin bisa segera beristirahat mengingat besok masih harus bekerja. Berakhirlah pertemuan itu dengan Awan yang bisa membawa anaknya pulang karena Barry mengatakan bahwa Embun masih tanggung jawab papanya. Gavin pun mengakhiri perdebatan dengan muka kesal, padahal sebenarnya dia hanya ingin melihat wajah Embun dengan lama.
-***-