Dara menatap bangunan dua lantai yang ada di hadapannya dengan tatapan menerawang. Wanita itu membayangkan apa saja yang telah Eva alami di rumah itu. Pasti sangat tidak mudah menjalani keseharian di tengah kebencian sang ayah mertua. Belum lagi Dara yakin, jika Bela pasti sering menindas sang adik ipar kesayangannya. "Sayang? kok malah melamun sih. Yuk masuk, anggap saja rumah sendiri." Dara melirik sang suami dengan tatapan tak bersahabat. "Wuidih! mama galak banget Al. Papa jadi serem lihatnya," ledek Mahendra namun Dara tak menanggapinya. Wanita itu melangkah dengan elegan menaiki undakan tangga menuju teras rumah. "Permisi... halo...di sini ada tamu..." seru Dara dari depan pintu yang sedikit terbuka. Mahendra meringis mendengar bagaimana istrinya menyerukan kalimat salam pada tua

