Arka tengah kelimpungan memapah seorang wanita cantik yang mabuk berat ini. Ia banyak meracau tak jelas membuatnya kesulitan membawanya keluar dari diskotek.
Beruntung sekali saat tiba di pintu keluar, ia bertemu dengan Yolanda yang tengah duduk-duduk santai di bangku depan.
“Hey, buruan cepat bantu!” pekik Arka yang membuat Yolanda menyadari kedatangannya.
“Eh, cewek mana yang kau bawa itu?— Dudukkan dulu di sini, Ar!” sahut Yolanda ikut panik.
Ia berdiri untuk membantu Arka mendudukkan wanita yang teler itu di bangku. Saat sudah memastikan wanita itu tidur nyaman di bangku panjang, Yolanda langsung mendelik pada Arka. Tanpa babibu ia melayangkan tempeleng mautnya ke kepala Arka.
“Kenapa kau pukul aku, Yol?” protes Arka sembari mengelus kepalanya yang ditempeleng Yolanda kuat barusan.
Yolanda mendengus. “Kau apakan wanita ini, hah? Dia sampai mabuk berat begitu. Apa ini caramu untuk bisa menggaet wanita dan memenangkan taruhan kita, ya? Wah, tak kusangka kau selicik ini,” sindirnya dengan delikan menuduh.
Arka menganga tak percaya atas ucapan Yolanda. Ia tidak se-rendahan itu hanya untuk memikat wanita sampai mau tidur dengannya. Dirinya juga perjaka tingting yang tidak semudah itu mengobral tubuhnya.
“Aku ini menyelamatkannya dari tangan pria b******k yang mau mengambil kesempatan dari mabuknya wanita ini, Yol. Oh, kau ingat aku pernah cerita soal wanita yang menumpahkan vodka padaku? Entah bagaimana bisa, tapi wanita ini adalah orang yang sama,” adu Arka menggerutu pada Yolanda yang terkekeh geli mendengarnya.
Dunia sempit itu ternyata memang benar adanya. Yolanda lalu mengambil duduk di sebelah wanita itu lalu memangku kepalanya.
“Cepat belikan air minum dan obat pereda pengar di dekat sini! Biar aku yang jaga dia, Ar.” Yolanda berucap sembari menatap wanita itu lalu mendongak ke arah Arka sebentar.
Arka yang dapat perintah itu langsung bergegas mencari apa yang diminta Yolanda di swalayan terdekat.
Ditinggal berdua dengan wanita yang bahkan Yolanda tak tahu siapa namanya, membuat ia penasaran. Pasalnya, Yolanda merasa wanita itu akan jadi sosok spesial bagi Arka nantinya.
“Hey, siapa namamu?” tanya Yolanda sembari menoel pipi wanita itu.
“Untuk apa kau tahu namaku? Jangan macam-macam denganku, ya!”
Yolanda tertawa kecil mendengar sahutan wanita mabuk itu. Wanita ini mengingatkannya pada sosok Yolanda sendiri yang punya mulut pedas. Ia jadi membayangkan bagaimana jika semisal wanita ini akan jadian dengan Arka. Sudah pasti teman lelakinya itu akan setengah gila karena harus menghadapi 2 Yolanda yang punya sikap barbar.
“Aku perlu tahu namamu serta alamatmu. Kau mau diantar pulang ke rumah dengan selamat atau tidak, hah?” ungkap Yolanda lalu tanpa aba-aba malah menuding jidat wanita itu dengan jari telunjuknya cukup kuat hingga sang wanita mengaduh terduduk.
“Kau kasar sekali. ‘Kan bisa katakan untuk apa namaku tanpa harus menyakitiku begini! Kau tahu ini namanya kekerasan pada orang mabuk, bukan?” sungut sang wanita membuat Yolanda mendelik saja dengan bersedekap.
Yolanda sudah mencoba bersikap baik pada wanita yang dibawa Arka ini, namun mendapat balasan tak menyenangkan membuatnya sebal. Ia lalu berdiri menjauhi bangku.
Sang wanita langsung merengek saat mengira Yolanda ingin menelantarkannya.
“Iya-iya aku akan jawab. Namaku Livia–sudah puas, kan? Sekarang duduk kembali di sebelahku! Bagaimana nanti jika ada pria c***l menjahatiku? Kau mau tanggung jawab, hah?”
“Kau benar-benar dramatis sekali. Sudahi mabukmu dan bersikaplah waras! Aku jamin watak aslimu itu akan berbanding terbalik dari apa yang kau tunjukkan sekarang,” sindir Yolanda dengan bersedekap d**a menatap sinis Livia.
Tak lama kemudian Arka datang dengan membawa sebuah kantong kresek berisikan apa yang Yolanda minta.
“Cepat kemarikan! Aku sudah tak betah menghadapi Livia yang hilang akal begini,” sungut Yolanda sembari merampas kresek itu dari tangan Arka.
Arka terbengong menatap bagaimana Yolanda mencekoki Livia yang sekarang tengah berontak tak mau minum obat pengar dan minum air.
“Yol, pelan-pelan saja, dong! Kau membuatnya sampai tersedak begitu,” cegat Arka menahan tangan Yolanda yang membukakan botol kedua obat pengar bagi Livia. Bisa-bisa Livia malah keracunan akibat Yolanda.
“Halah, aku begini biar dia cepat sadar. Kau bahkan baru tahu namanya Livia dariku, bukan? Percaya padaku dan aku akan buat dia sadar!” sentak Yolanda yang lalu mencekoki Livia obat pengar botol kedua.
Arka meringis ngilu melihat Livia yang terbatuk keras dengan wajah memerah kesakitan. Ngeri sekali jika berhadapan dengan Yolanda begini. Arka rasanya sama sekali tak ingin mabuk di hadapan Yolanda jika harus merasakan dicekoki obat pengar seperti Livia begitu.
“Sebaiknya kita langsung antar dia pulang ke rumahnya. Kau saja yang tanyakan di mana alamatnya! Karena jika aku yang tanya, aku tak yakin bisa sabar,” titah Yolanda yang berjalan ke pinggir jalan untuk menyetop taksi.
Arka menepuk pelan pipi Livia. “Di mana alamatmu, hem? Biar aku dan Yolanda mengantar,” ucapnya lembut.
Livia membuka matanya sipit lalu terkekeh senang melihat wajah Arka yang berjarak dekat di depannya. Tampan sekali Arka, batinnya.
Livia mengelus wajah Arka perlahan dengan senyum yang belum memudar. Ia menggumamkan sebuah alamat yang beruntungnya Arka tahu arahnya.
“Hey, kalian malah asyik bermesraan. Mau diantar pulang atau tidak, nih?” teriak Yolanda membuat Arka langsung berdiri tegak dan menggendong Livia di pundaknya.
“Mau jadi pacarku, tidak?” celetuk Livia saat dirinya diturunkan dari punggung Arka dan disuruh masuk ke dalam taksi.
Belum sempat memberikan jawaban karena terlalu kaget juga atas pertanyaan gamblang Livia, Arka kembali dikejutkan dengan sikap Yolanda yang menutup kasar pintu mobilnya.
“JANGAN BAHAS ASMARA DULU! Kau menghargai keberadaanku, bukan?” sengat Yolanda menatap tajam ke arah Arka yang meringis malu setelahnya.
“Iya-iya aku tidak akan melupakan ada kau di sisiku, kok. Sudahlah Yol, ayo sebaiknya kita cepat antarkan dia!” sahut Arka yang paham mode posesif Yolanda keluar.
Yolanda itu memang tidak suka saat Arka mengacuhkannya. Bisa dikatakan ia akan cemburu jika nanti Arka punya pasangan di saat ia sendiri masih melajang. Bukan karena rasa cinta sebagai lawan jenis, Yolanda lebih ke rasa iri dan tak mau ditinggal. Arka sudah dianggapnya keluarga tanpa pria itu sadari.
Arka bergegas duduk di jok depan membiarkan Yolanda duduk bersebelahan dengan Livia di belakang. Bisa-bisa Yolanda mengamuk jika Arka duduk di dekat Livia sedangkan Yolanda di sebelah sopirnya.
“Wah, mewah juga rumah Livia. Eh, bagaimana jika kau dekati dia dan peloroti hartanya, Ar?” celetuk Yolanda terperangah menatap rumah besar yang megah.
“Jangan mengada-ngada! Kau lupa perlakuanmu pada Livia saat dirinya mabuk, hah? Kujamin malah dirinya akan menuntutmu jika sudah sadar dan ingat kau mencekoki obat pereda pengar seganas tadi,” seloroh Arka terkekeh mendengar desisan tak senangnya Yolanda.
Ketiganya lalu turun usai membayar biaya ongkos taksi yang tidak mahal itu. Yolanda sudah muring-muring meminta Arka mengganti balik uang yang ia keluarkan saat membayar iuran ongkos tadi.
“Aku tak mau tahu, kau yang harus ganti rugi balik uangku!” sungut Yolanda menggerundel.
Arka mengiyakan dan berjanji mengganti uangnya besok usai pulang kerja. Untuk itulah Yolanda lega dan mau memapah Livia sampai depan pintu rumah megahnya. Ia mengetuk pintu cukup keras dan bahkan berteriak agar pemilik rumah segera membukakan pintunya.
“Sabar dikit, dong! Jam segini orang rumah pasti sedang lelap tidurnya, Yol,” tegur Arka menepuk tangan Yolanda yang ingin kembali menggedor pintu.
Yolanda mendengus dan tak lama terdengar orang berjalan mendekati pintu. Daun pintu terbuka dan menampakkan seorang pria yang mengagetkan bagi Yolanda maupun Arka yang melihatnya.
“Ada apa ribut-ribut di luar, Ayah?” ucap seorang bocah kecil yang ikut menyembulkan kepalanya dengan tangan yang sibuk mengucek kedua mata khas orang bangun tidur.
“Naik ke kamarmu lagi Leta! Ayah urus dulu tamu di sini.”
Gadis bernama Leta itu mengangguk menurut dan pergi. Tersisa para orang dewasa yang kini kaku sekali suasananya.
“Yardan?” ujar Livia terkekeh geli dan langsung memeluknya.
Yolanda dan Arka makin memelototkan kedua mata mereka melihat interaksi Livia dan Yardan.
Arka menarik tangan Yolanda dan berbisik. “Mereka suami-istri?”